Berguru pada Pemabuk





Malam ini saya tidak bisa tidur melihat adek saya yang belum tertidur juga. Saya coba pejamkan mata tapi tetap saja saya tidak bisa tidur. Kepala saya sakit sekali, dan ini mengganggu sekali ketika saya mencoba untuk sekedar bisa tertidur. Saya memikirkan kesalahan yang terlalu banyak saya amati dan perhatikan sampai saya sendiri lupa pada kesalahan-kesalahan yang sudah saya perbuat sendiri. Sekitar pukul setengah satu malam, saya melihat adek saya di kamarnya, dan dia masih gelimpungan di kasurnya belum juga tertidur. Saya melihat jendela kamar adek saya masih terbuka separoh, dan ketika saya menutup jendelanya, adek saya meminta saya untuk membiarkan jendela itu terbuka dan akhirnya saya turuti permintaannya.

Melihat adek saya yang belum tertidur dan kepala saya yang sangat sakit, akhirnya saya mencari minyak kayu putih untuk sekedar saya oleskan di kepala saya. Ketika saya mengoleskan minyak kayu putih di kepala saya, saya langsung teringat pada adek saya yang mungkin sakit kepalanya jauh luar biasa daripada yang saya alami dan saya memutuskan untuk sekedar mengoleskan minyak kayu putih di kepalanya juga. Di awal waktu saya mengoleskan minyak kayu putih di kepalanya dia menolak, tapi tetap saja saya tuang minyak kayu putih di kepalanya agak banyak biar kepalanya rata dengan minyak kayu putih dan kepalanya bisa hangat. Sambil saya meratakan minyak kayu putih yang saya tuang sedikit demi sedikit di kepala adek saya, saya pijat-pijat kepalanya. Ketika saya pijat-pijat kepalanya, dia baru berkata di bagian kepalanya bagian kiri dan sekitaran bawah telinga kepalanya itu yang terasa agak sakit. Saya agak hawatir dan saya tidak berani sembarangan memijat kepala adek saya, akhirnya, cuma saya tekan-tekan sedikit sambil saya elus-elus saja kepalanya dan sedikit saya pijat bagian lengan dan telapak kakinya yang masih agak dingin itu sekaligus saya oleskan juga minyak kayu putih. Setelah sedikit saya olesin minyak kayu putih di kepala adek saya dan sambil saya elus-elus kepalanya, adik saya akhirnya tertidur juga dan saya kembali ke kamar saya lagi dan mencoba untuk tidur malah terasa sangat sulit untuk tidur.

Ketika saya memaksakan mata saya untuk tertidur, saya teringat malam-malam ketika adek bungsu saya ini mengantar jemput saya ketika pulang dari Yogyakarta ataupun berangkat ke Yogyakarta lagi ketika tengah malam selama hampir dua tahun ini. Adek bungsu saya inilah yang paling rajin mengantar jemput saya. Satu tahun pertama di Yogyakarta, saya sering pulang dua bulan sekali atau kalau saya sudah benar-benar tidak betah di Yogyakarta saya bisa pulang satu bulan sekali. Satu tahun pertama di Yogyakarta saya masih ada kuliah hari jum’at dan hari senin, sehingga kalau saya pulang dari Yogyakarta pada hari jum’at sore yang saat itu, kuliah saya selesainya sekitar pukul tiga sore maka saya tiba di rumah biasanya sekitar pukul dua belasan malam, sehingga adek bungsu saya ini yang merelakan dirinya untuk menjemput saya. Demikian juga ketika saya harus balik lagi ke Yogyakarta pada hari minggu malam, kadang saya berangkat dari rumah sekitar pukul sebelas malam atau kadang pukul duabelas malam, kerana senin paginya saya ada kuliah juga. Lagi-lagi yang mengantarkan saya ke tempat pemberheentian dan pemberangkatan bis jalur Surabaya Yogyakarta adalah adek saya lagi.

Ketika saya berangkat ke Yogyakarta tengah malam, adek saya juga tidak langsung meninggalkan saya sendirian di tempat penungguan bis berhenti, tetapi juga menemani saya sampai saya benar-benar naik bis tersebut. Kadang bis tengah malam jaraknya agak lama antar bis satu dengan bis berikutnya dan adek saya masih tetap bersabar menemani saya berdiri dan membantu saya memberhentikan bisnya tersebut. Ketika melihat adek saya yang kadang suka mabuk ataupun kadang suka membandel dan suka hidup sesuka hatinya dia masih bertanggungjawab pada hidup saya. Ketika saya pulang dan dijemput adek saya, saya merasa bangga sekali memiliki adek yang hebat seperti dia, dan saya merasa senang sekali, karena adek saya bersedia menjemput saya tengah malam. Ketika saya berangkat ke Yogyakarta saya merasa sedih sekali, karena saya membuat adek saya terus menerus repot mengantar jemput saya tengah malam dan terkadang membuat air mata saya suka menetes sendirian ketika saya tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk adeknya, tetapi malah sebaliknya.

Saya sering ditegur ibu untuk tidak pulang atau berangkat malam-malam terus, karena kadang adek saya suka menggunakan waktu dan kesempatan untuk menjemput saya sambil diselingi minum-minuman beralkohol. Pernah suatu ketika, saya di jemput adek saya sambil bicaranya agak kedel (bicara tapi lidahnya mungkin sudah agak kaku sehingga bicaranya mulai agak kesusahan) karena adek saya mabuk. Saya mencium bau nafasnya sudah seperti bau alkohol pindah di mulut adek saya. Kondisi adek saya yang sudah seperti itu masih saja dia yang mengemudikan sepeda motornya dan saya tak henti-hentinya menegur dia untuk saya gantikan membonceng dia, karena saya hawatir dia nabrak dengan kondisinya yang mabuk seperti itu, tapi dia tetap saja meneruskan laju sepeda motornya sambil berbicara yang tidak begitu jelas saya dengar. 

Itu pertama kali saya dijemput adek saya sambil mabuk dan rasanya sangat miris sekali, demi sebuah keinginan pulang sesuka hati saya, akhirnya adek saya memberikan pelajaran kepada saya untuk tidak berulang kali pulang tengah malam dengan melihatnya sendiri seorang pemabuk yang masih bersedia menjemput kakaknya yang sedang mati rasa dan hanya menjadi mayat hidup untuk sekedar pulang ke rumah meskipun di rumah juga tidak melakukan apa-apa. Di saat saya melihat di depan kepala saya adek saya mabuk ketika menjemput saya, saya menangis menyesal tidak menuruti nasehat ibu untuk tidak terus-terusan pulang malam, kalaupun saya harus terpaksa pulang malam akhirnya saya memilih naik becak setelah turun dari bis untuk menuju rumah untuk menghindari adek saya menjemput saya sambil mabuk lagi.

Ketika saya mengenang kebaikan adek saya yang sedang terpuruk dengan kabar yang begitu cepat menyebar di desa, bahwa adek saya sudah menjadi pemabuk berat dan menjadi sebagian individu yang menyimpang di masyarakat, saya jadi teringat tulisan yang pernah saya baca dari Tulisan Reza Nufa yang berjudul “Dua Pemabuk Mengazani Mayat” yang sepertinya perlu saya baca ulang dan dibaca juga oleh adek saya dan orang-orang yang memandang rendah para pemabuk yang ada di muka bumi ini.  Dari tulisan Reza Nufa itulah saya juga terinspirasi untuk menuliskan tentang sedikit dunia permabukan yang masih sangat sedikit sekali saya pahami. Dari tulisan dan juga dari kejadian yang dialami oleh adek saya, saya menjadi perlu belajar banyak hal yang tidak saya lihat dari dampak negatif dari mabuk itu saja, tetapi sisi-sisi positif dari seorang pemabuk kerap sekali saya lupakan. Dengan begitu, meskipun adek saya meminum-minuman beralkohol dan sempat kehilangan akalnya, tetapi masih banyak kebaikan-kebaikan lain yang dilakukan olehnya yang mungkin tidak saya sadari telah banyak diberikan kepada saya maupun kepada yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN