Nenek Teladan Saya

Gambar : Khosama Media

Di bulan Agustus 2015 itulah bulan dimana saya dinyatakan diterima untuk bisa lanjut kuliah lagi. Bulan Agustus adalah bulan dimana saya resmi diterima menjadi mahasiswa di salah satu kampus yang ada di Jogja.  Akhirnya, impian saya untuk bisa lanjut kuliah lagi terjawab di Bulan Agustus 2015. Dimana sebagian keluarga saya juga merasa bangga kepada saya karena saya bisa berkesempatan untuk mnegenyam pendidikan yang lebih baik lagi. Tak banyak saudara dan teman yang bertubi-tubi mengucapkan selamat kepada saya sampai akhirnya saya merasa sedikit berbunga-berbunga melihat ucapan yang berjubel dan doa-doa yang diberikan kepada saya. Saat itu saya sungguh senang dan sangat lega setelah saya diterima di kampus yang sangat saya dambakan. Ketika saya diterima di kampus yang saya harapkan dan saya menyampaikan kabar yang membuat saya gembira pada nenek saya, ternyata kabar tersebut tidak disambut hangat oleh nenek saya. Nenek saya tidak begitu suka ketika saya melanjutkan kuliah lagi. Nenek saya menyuruh saya di rumah saja. Nenek saya tidak suka melihat saya yang sering tidak ada di rumah dan selalu merantau hanya untuk pindah tinggal di kota lain meskipun kota itu bersebelahan dengan kabupaten yang saya tinggali. Nenek melihat saya yang sudah pernah tinggal di Madura dan di Pare, Kediri dirasa sudah cukup untuk saya yang ingin sekedar bisa merasakan jadi anak rantau. Nenek tidak merelakan saya untuk kuliah lagi dan pindah tinggal di Jogja. Saat saya menyampaikan kabar gembira saya kepada nenek maka nenek tak lagi cerewet seperti biasanya. Nenek hanya berkata kepada saya, “nanti yang merawatku siapa?”. Saya masih bisa menjawab kepada nenek saya bahwa ada ibu, ada kakak dan ada dua adek saya juga yang akan menjaga nenek. Tapi nenek hanya diam saja setelah saya berkata seperti itu dan wajahnya penuh kecewa ketika saya dinyatakan diterima kuliah lagi. Saya mencoba merayu nenek saya supaya tidak marah karena saya harus kuliah lagi. Ketika saya terus memastikan kepada nenek saya betapa penting dan susahnya saya untuk bisa mendapatkan kesempatan kuliah lagi saat itu, nenek hanya kembali bertanya dan terus bertanya kepada saya. Saat saya menyampaikan berjuta alasan saya bisa kuliah lagi, akhirnya nenek kembali berbicara kepada saya, “Kuliah di Jogja berarti jaraknya juga tambah jauh dan kamu bakal tambah jarang pulang lagi?”. Lagi-lagi saya masih berusaha menyakinkan kepada nenek saya bahwa Jogja itu masih terlalu dekat juga dengan rumah dan saya bisa pulang kapan saja nantinya. Saya terus menyakinkan nenek saya untuk bisa merelakan saya kuliah lagi. Saya terus berbicara pada nenek saya alasan-alasan pilihan kehidupan yang saya pilih. Saya tidak bisa berkembang kalau hanya terus-terusan di rumah dan saya tidak mau karir saya ke depannya nanti akan semakin suram kalau saya hanya cukup berpuas diri dengan pendidikan saya yang sebelum-sebelumnya. Saya tidak akan mampu bersaing dan bertahan di dunia kerja yang lebih mapan kalau saya hanya mengandalkan ijazah pendidikan saya yang sebelumnya saja. Kuliah lanjut juga tidak terlalu lama waktunya seperti kuliah yang sebelumnya, jadi saya tidak terlalu lama untuk merantau ke Jogja nantinya, pikir saya saat itu. Saya terus saja menyampaiakan pendapat-pendapat saya tersebut kepada nenek saya, tapi nenek saya masih saja belum bisa kembali seperti sedia kala juga. Nenek hanya terdiam menatap kosong seperti memandang sesuatu yang saaaangat jauh dan jauh sekali saat itu. Tubuh nenek mendadak tidak bersemangat seperti sebelum-sebelumnya. Tapi, saya masih bersikeras bahwa saya hanya akan pergi ke Jogja sebentar saja dan akan sering pulang ke rumah juga. Dalam angan saya saat itu, saya akan mampu kuliah tepat waktu dengan jangka waktu masa tempuh studi dua tahun. Saya melihat nenek saya masih sangat sehat dan belum berusia sangat tua sekali. Apabila saya melihat saudara nenek-nenek saya yang lainnya, nenek saya termasuk yang lumayan cukup sehat meskipun nenek juga ada penyakit darah tinggi dan sering pegel linu dan sempat ada gangguan di mata nenek yang terkena katarak, tapi nenek tidak pernah sekalipun masuk rumah sakit seperti saudara-saudara nenek lainnya yang sering keluar masuk rumah sakit. Nenek masih kuat jalan kaki bolak-balik dari rumah nenek ke rumah kami, maupun jalan kaki dari rumah nenek ke beberapa rumah tetangga untuk sekedar menghibur kejenuhannya tinggal di rumah sendirian. Nenek juga tak jarang sering keliling muter-muter pinggiran kebun yang sudah tak terurus  tanamannya dan lebih mirip seperti hutan saja. Nenek juga masih kuat untuk mencuci dan terkadang masih sempat memasak lauk sendiri ketika lauk yang kami kirimkan dari rumah tidak cocok di lidah nenek, bahkan kalau menanak nasi masih dilakukan oleh nenek seorang diri juga. Nenek juga masih bisa membersihkan rumahnya sendiri sekedar untuk menghilangkan bau pesing di lantai rumahnya, karena nenek paling tidak bisa berjalan cepat sampai ke kamar mandi khususnya ketika nenek baru bangun tidur maka kencing bercecer sudah menjadi hal yang biasa dan susah dihindari oleh nenek. Hanya kencing bercecer itu saja yang menjadi masalah nenek yang tidak bisa dihentikan. Pernah suatu ketika saya meminta nenek untuk buang air kecil di timba saja kalau benar-benar tidak tahan harus berjalan ke kamar mandi secara cepat, tapi nenek menolak saya dengan mentah-mentah, karena dengan alasan kaki nenek yang masih kuat berjalan ke kamar mandi dan nenek saya belumlah jompo jadi alasan utamanya. Jadi ketika saya meminta nenek saya untuk buang air kecil di timba, berarti itu sama halnya dengan saya menghina nenek saya. Nenek saya marah-marah dan mengomel kepada saya ketika saya berkata seperti itu. Nenek juga menyiram air kencingnya yang tercecer di lantai dan di tanah supaya tidak terlalu semakin pesing. Nenek juga memesut kencingnya yang tercecer di lantai dan sudah disiram air dari timba kecil yang dimiliki oleh nenek. Nenek memesutnya dengan sapu, dan sapu itu nanti juga disiram air oleh nenek setelah dipergunakan memesut kencingnya yang tercecer tersebut. Masalah nenek hanya sering kencing berceceran setelah bangun tidur atau kalau tidak ketika nenek sudah sangat lama menahan kencingnya dan enggan untuk ke kamar mandi saja. Hanya masalah buang air kecil saja yang menjadi masalah nenek ketika nenek sudah berada di usia tuanya. Bahkan nenek tidak mau diajak tinggal bersama di rumah kami dengan alasan takut mengotori  rumah kami yang sudah berkeramik, sedangkan saya dan saudara-saudara saya yang lainyya enggan tinggal bersama dengan nenek, karena rumah nenek yang terlalu jelek dan membuat kami tidak betah ada di rumah tersebut. Saya dan saudara-saudara saya hanya datang ke rumah nenek setiap mengantarkan makanan atau sekedar menengok nenek sehari bisa dua kali atau bisa tiga kali saja. Bahkan kadang kami juga malas berkunjung ke rumah nenek dan meninggalkan makanan di pintu saja kalau misalnya nenek tidak ada di rumah. Nenek sering ada di rumah tetangga atau ada di toko dekat rumahnya dan tidak kunjung pulang. Kami sering jengkel dengan nenek yang lebih jarang ada di rumahnya sendiri dan lebih sering ada di rumah tetangga. Saat itu kami benar-benar tidak menyadari kalau nenek itu benar-benar kesepian seorang diri sedangkan kami semua tidak mau sedikitpun menemani nenek di rumahnya. Kalaupun di rumah nenek ada adek saya yang sedang mencoba belajar menemani nenek saya sepanjang harinya di rumah tersebut, adek saya hanya menemani nenek dalam bentuk fisiknya saja, tetapi adek saya jarang berkomunikasi dan berbincang-bincang pada nenek, kalaupun nenek mengajak adek saya berbincang-bincang, adek saya hanya sedikit merespon nenek, akhirnya nenek terkesan berbicara sendiri dan labih terkesan menjadi orang yang cerewet dan tidak henti-hentinya mengomel karena adek saya yang sibuk dengan dunianya sendiri bersama teman-temannya yang lain. Nenek saya lebih memilih pergi ke rumah tetangga dan pergi ke toko untuk bisa berbincang-bincang dengan ibu-ibu di toko tersebut. Nenek saya lebih senang berbincang-bincang dengan ibu-ibu daripada berkumpul dengan nenek-nenek lainnya yang seusia dengan nenek saya. Kami sering meledek nenek untuk bergosip bersama nenek-nenek lainnya daripada harus bergosip dengan ibu-ibu di toko sayuran milik tetangga kami. Tempat bergosipnya nenek saya yang satunya yaitu di rumah tetangga yang memiliki usaha jualan jamu yang dikelola oleh anak perempuan muda yang mungkin hanya berselisih sedikit usianya dengan saya. Nenek saya betah sekali ada bersama anak perempuan itu dan ini kadang membuat saya iri dengan anak perempuan tersebut. Nenek sering sekali menyanjung-nyanjung anak perempuan itu dan saya sering marah pada nenek kalau dibanding-bandingkan dengannya. Kebetulan jarak rumah nenek sangat dekat dengan rumah anak perempuan tersebut. Kadang kalau saya melihat nenek ada di rumah tetangga nenek tersebut dan tak kunjung mau pulang juga, saya langsung memilih untuk pulang saja. Saya merasa jengkel pada nenek saya dan pada anak perempuan itu yang sering dikunjungi nenek. Seharusnya saya tidak boleh marah pada nenek, karena nenek hanya kesepian di rumah tidak memiliki teman berbincang-bincang, sedangkan cucu-cucunya tidak ada yang mau menemani nenek sepanjang hari dan lebih memilih sibuk di dunianya masing-masing. Kalaupun saya ada di rumah paling lama hanya dua hari saja, karena saya masih bekerja saat itu. Seharusnya saya tidak boleh marah-marah dan jengkel pada nenek saya yang sering tidak ada di rumah, karena saya sendiri juga tidak mau menemani nenek saya dan lebih memilih bekerja di luar daripada harus bekerja di dekat-dekat rumah saja. Tapi, kalaupun saya marah pada nenek maka nenek juga selalu mencari alasan yang sedang perlu melakukan ini-itu, sedang ingin belanja kebutuhan ini-itu, sedang kehabisan jamu ini-itu dan masih banyak lagi alasan lainnya. Ya, itu dulu ketika saya dengan cemberut dan merengut mendapati nenek saya sedang ada di rumah tetangga sedangkan di rumah juga sudah ada adek saya yang menemani nenek di rumah. Nenek sudah seperti anak kecil ketika mencari alasan pembelaan yang tidak mau disalahkan karena tidak ada di rumah. Kalau nenek tidak sedang mencari alasan maka nenek sering kedapatan marah-marah. Apalagi kalau makanan yang kami bawakan tidak cocok dengan keinginan nenek. Kalau biasanya saudara-sauadara saya yang lainnya hanya membiarkan saja nenek kami yang sering ngomel-ngomel marah karena tidak cocok dengan apa yang dibawa, maka lain ceritanya kalau saya yang diomeli, saya lebih sering menjawab nenek saya yang sering marah-marah. Saya sering marah apalagi soal uang dan harus membelikan makanan dan jajanan nenek saya. Nenek saya jarang cocok dengan masakan ibu saya maupun masakan kakak saya apalagi  dengan saya yang tidak bisa diharapkan kalau urusan masak. Nenek saya lebih cocok dengan makanan yang ada di warung. Saya sering marah pada nenek saya kalau terus-terusan harus beli di warung. Meskipun saat itu saya sudah bekerja, tapi saya masih minta uang pada ibu saya juga. Ketika saya pulang dan harus ke rumah nenek maka lagi-lagi yang saya meminta uang pada ibu saya untuk sekedar membeli makanan nenek. Kalau saya pulang dan hanya membawa masakan ibu ataupun masakan kakak saya yang saya bawa ke rumah nenek, maka tak jarang nenek saya marah-marah dan berkata, “aku iki wayahe disembulih”. Lantas dengan entengnya saya menjawab, “mau disembulih pake apa mbah? Orang saya juga masih minta uang sama ibu apalagi saya kerjanya juga gajinya sedikit, kan mbahe uangnya lebih banyak daripada uangnya ibu, masak masih belum cukup juga?”. Saya kalau sudah disindir-sindir harus membalas jasa pada nenek saya, maka sewot saya langsung keluar semua. Bahkan tak jarang dari obrolan tersebut akhirnya memanas dan saya menuntut balik nenek saya yang tak mau sedikitpun membantu ibu dalam urusan pendidikan saya. Urusan pendidikan semua biaya sudah sangat dicukupi oleh saudara-saudara ibu saya. Saya sering membanding-bandingkan keluarga nenek saya dengan keluarga ibu saya. Kalaupun keluarga nenek saya membantu ibu saya dalam pendidikan saya maka biaya yang dikeluarkan tak sebanyak dengan keluarga saudara-saudara ibu saya. Kalaupun urusan materi yang diberikan keluarga nenek saya, itupun hanya satu tahun sekali, sedangkan dari keluarga ibu saya, uang terus ngelonyor begitu seringnya saya terima dan setiap saya membutuhkan sesuatu maka keluarga ibu itulah yang selalu bersedia membantu ibu saya. Saya terus menuntut nenek saya atas biaya pendidikan yang tak sedikitpun nenek memberikan sumbangsihnya pada ibu saya. Ketika nenek saya hanya tidak cocok soal makanan yang saya bawakan dan menuntut saya untuk membalas jasanya, maka saya tak jarang menuntut nenek saya atas apa yag sudah diberikan kepada saya setelah bapak meninggal. Tak jarang juga nenek membalas perkataan saya dengan harta kekayaan yang dimilikinya sudah diberikan semuanya kepada bapak saya dan sudah diganti oleh bapak saya dengan tanah yang sampai akhirnya hasil dari tanah itu bisa saya makan setiap harinya. Tapi, saya juga masih marah pada nenek saya ketika nenek menyebut bapak disinggung disitu. Maka tak jarang saya juga masih menuntut yang tak henti-hentinya pada nenek saya bahwa sesuatu yang diberikan nenek pada bapak itu adalah urusan nenek dengan bapak, sedangkan bapak sudah meninggal dan hanya ada cucu-cucunya saja yang semuanya belum mendapatkan apa-apa pemberian dari nenek, sedangkan nenek saya bisa-bisanya menuntut pada cucu-cucunya yang hidupnya semua masih bergantung dengan ibu saja. Dari urusan makanan saja, akhirnya pertengkaran saya dengan nenek saya terus menerus berulang tak henti-hentinya saya utarakan. Kalau ibu saya, kakak saya dan adek-adek saya memilih membiarkan nenek-nenek saya marah-marah sendiri ketika sesuatu yang dikirimkan tidak pernah cocok dengan nenek, tapi kalau nenek memarahi saya maka saya tak jarang membalas perkataan nenek saya dan berakhir dengan saling merengut saja ketika saya dan nenek saya sudah lelah dengan marah-marahan dan saling berselisih pendapat. Bahkan tak jarang juga kadang saya nakal dan meminta uang pada nenek saya setiap saya harus balik merantau lagi. Saya meminta uang saku tambahan dari nenek saya, tapi nenek saya sering sekali mengeluh tidak punya uang, padahal saya sering mendapati uang-uang nenek sering disimpan di mushola, di dalam bantal, di dalam guling. Uang itu berupa lembaran seratus ribuan segepok yang disimpan di tempat yang berbeda-beda. Uang itu hanya digepok dan diberi karet lalu dibungkus plastik hitam dan dimasukkan di dalam tempat rahasia nenek. Saat saya tahu uang nenek yang jumlahnya begitu banyak maka saya menjadi tambah benci pada nenek saya yang terus mengeluh tidak memiliki uang. Ketika nenek saya mengeluh tidak memiliki uang maka saya bocorkan juga kalau saya sudah melihat salah satu segepok uang yang disimpan nenek saya. Kalau sudah begitu, akhirnya nenek saya tidak bisa berkutik lagi ketika saya meminta uang dan saya tidak mempan lagi kalau nenek bilang tidak memiliki uang lagi sedangkan barang bukti uang yang wujudnya nyata sudah saya dapatkan. Itupun nenek hanya memberikan lembaran merah satu lembar saja kepada saya, tapi saya akhirnya jadi memiliki senjata pada nenek saya setiap nenek menuntut meminta dibelikan makanan yang enak-enak sedangkan nenek saya tidak mau mengeluarkan uang atau kebanyakan mengeluh tidak memiliki uang. Setiap saya ke rumah nenek dan nenek tidak cocok dengan makanan yang saya bawakan dari masakan ibu maupun kakak saya, maka uang nenek yang wajib hukumnya dikeluarkan ketika nenek hanya mau makan makanan yang enak-enak saja. Ibu saya sering marah-marah kalau makanan yang hanya mau dimakan nenek itu kalau ada dagingnya saja, sementara ibu tidak setiap hari memasak daging. Kalau ibu saya marah-marah pada saya ketika saya sering meminta uang sekedar membelikan makanan nenek dan nenek saya juga marah-marah pada saya ketika makanan dari ibu saya tidak dimakan maka akhirya saya marah-marah juga pada nenek saya yang begitu rewel hanya urusan makan dan saya langsung menodong nenek saya lagi meminta uangnya setiap nenek mau makan enak terus dan ibu tak lagi mau memberikan uang kepada saya. Kadang saya juga masih nakal kalau nenek saya menyuruh saya membeli makanan di warung maka saya juga masih minta jatah satu bungkus juga untuk saya. Saya meminta upah uang lelah pada nenek saya yang harus pergi ke warung. Saya juga tidak mau melihat nenek saya makan enak sendiri sedangkan saya hanya ngaplo ngiler pengen ketika saya melihat nenek saya yang makan enak. Kadang nenek saya lebih senang menyuruh kakak ataupun ibu saya untuk membeli makanan daripada harus menyuruh saya yang akhirnya membuat nenek saya mengeluarkan uang dobel. Saya merasa menang sekali kalau disuruh nenek saya membeli makanan dan saya sudah tidak mempan lagi kalau mendengar nenek mengeluh tidak memiliki uang. Urusan uang akan selalu membuat saya dan nenek saya sama-sama tidak mau saling kalah beradu pendapat. Apapun pendapatnya kalau harus berhadapan dengan nenek yang berurusan dengan harta maka saya tidak mau mengalah sedikitpun. Nenek saya terkenal sebagai orang yang sangat pelit padahal uang yang dimilikinya juga lumayan cukup banyak untuk ukuran nenek-nenek yang ada di sekitar rumah kami. Mendengar berita itu akhirnya saya hanya mencoba membuktikan benar-tidaknya praduga orang-orang terhadap nenek saya tersebut. Memang benar nenek saya itu benar-benar pelit sekali dan hanya kalah kalau sudah saya lengkapi dengan barang bukti untuk menyanggah pendapat nenek saya tersebut. Setiap tahun menjelang lebaran saya juga sering bertengkar dengan nenek juga sudah menjadi hal yang biasa. Kalau tidak bertengkar soal makanan dan jajanan persediaan yang kurang begitu cocok dengan selera nenek maka lagi-lagi nenek juga tak henti-hentinya mengomel. Saya sering jengkel sekali dengan nenek saya yang sudah dibelikan jajanan beranekaragam oleh ibu saya dan kakak saya masih saja tidak cocok juga. Tidak hanya jajanan saja, urusan rumah dan bersih-bersih selalu menjadi hal yang wajib hukumnya untuk diselesaikan. Saya dan ibu saya kalau musim lebaran sudah dekat, jarang bisa pulang siang hari, paling cepat biasanya pulang jam tiga sore dari pasar. Kadang pernah hampir sampai jam lima sore ketika pasar sedang lumayan ramai dan ternyata barang dagangan yang harus dirapikan jauh lebih banyak menghabiskan waktu yang lumayan lama. Kadang di tengah merapikan barang-barang dagangan sampai menjelang sore, masih ada pembeli yang kadang mereka berasal dari kota sedang mudik yang dan mencari barang-barang yang masih belum terpenuhi di tempat asalnya. Melihat pasar yang sudah mulai sepi dan ibu masih sibuk menata barang dagangan maka rejeki dadakan sering membuat jadwal pulang ke rumah jadi lambat sampai akhiranya di lebaran tahun 2015 itu saya dan ibu lupa menanyakan kondisi rumah nenek. Biasanya nenek sudah meminta tolong pada orang lain untuk mencuci toples, menjemur kursi dan membersihkan sawang-sawang di rumah nenek dan menyiram lantai-lantai di rumah nenek. Saat tahun 2015 tersebut, rezeki ibu di pasar lumayan lancar dan kerap saya dan ibu pulang sore menjelang lebaran tiba. Saya dan ibu benar-benar lupa menanyakan kabar rumah nenek. Baru setelah maghrib saya datang ke rumah nenek dengan kondisi yang lumayan sangat capek sekali setelah harus ada di pasar. Tepat di malam takbir di tahun 2015 itulah saya melihat rumah nenek saya masih sangat berantakan dan nenek saya akhirnya menyuruh saya membersihkan rumahnya, karena nenek ternyata belum mencari orang untuk bersih-bersih rumah nenek. Saat itu nenek juga baru sembuh setelah oprasi katarak dan semua keluarga meminta nenek untuk lebaran jadi satu di rumah kami, tapi nenek tetap tidak mau tinggal bersama kami lagi. Nenek sempat bersedia tinggal bersama kami di rumah sekitar satu bulanan setengah. Itupun karena nenek habis melakukan oprasi katarak, jadi nenek mau dirawat di rumah kami, tapi ketika lima hari menjelang lebaran akan datang di tahun 2015 itu, nenek tetap ngenyel untuk pulang ke rumahnya sendiri dan tidak mau lebaran di rumah kami setelah kondisi nenek membaik. Kami saat itu benar-benar dibuat geram dengan nenek yang tidak mau tinggal satu rumah lagi. Ketika nenek memaksakan diri untuk kembali ke rumahnya lagi, maka itu tandanya kami satu keluarga harus kembali bolak-balik antara mengurus rumah kami sendiri dan mengurus rumah nenek juga. Rumah kami itu sudah membuat kami capek untuk membersihkannya juga, ketambahan harus berhadapan dengan satu rumah lagi yang harus diurus segala bentuk kebersihan dan kebutuhan pernak-pernik kecil lainnya ketika lebaran datang. Malam takbir itu saya benar-benar shock melihat rumah nenek saya belum dibersihkan dan nenek tidak mencari orang untuk membersihkan rumahnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat itu saya setengah capek datang ke rumah nenek dan melihat rumah nenek yang masih berantakan membuat saya semakin ketularan penyakit nenek saya yang sering darah tinggi. Malam takbir itu saya harus mencuci toples di rumah nenek dan juga toples di rumah sendiri, serta saya masih harus menyiram rumah nenek dan masih harus mengepel rumah sendiri. Kebetulan malam takbir itu kakak sedang tidak ada di rumah dan masih ada di rumah mertuanya. Biasanya kalau urusan rumah selama masih ada kakak setidaknya tidak membuat saya punya darah tinggi yang parah. Saya harus membersihkan seluruh rumah nenek malam hari itu. Saya benar-benar tidak ikhlas bersih-bersih di rumah nenek saat itu. Kursi dan meja saya seret dengan kasar untuk menata tempat duduk yang berantakan. Saya menyiram air dengan bolak-balik mengambil air dari kran, karena saat itu selang di rumah nenek juga tidak ada. Saya mengguyur lantai-lantai di rumah nenek dengan sangat kasar dan membuang air sisa siraman dengan menyapunya sangat kasar juga. Saya tidak hanya kasar dalam membersihkan isi rumah nenek, tapi saya masih menggerutu dan mengomel sepanjang saya membersihkan. Capak menggerutu akhirnya saya hanya cemberut dan memasang wajah yang benar-benar sangat benci pada nenek saya. Saya benci pada nenek saya yang tidak mau lebaran jadi satu saja di rumah kami, sehingga tidak perlu membuat ribet kami yang ada di rumah harus kembali kerja dua kali lagi. Nenek saya hanya terdiam saja ketika saya marah-marah pada nenek saya. Sampai akhirnya saya membersihkan rumah nenek bagian dapur, nenek saya tiba-tiba menyeret kursi di rumahnya sendiri untuk ditata, seketika itu saya langsung membentak nenek saya untuk tidak ikut-ikutan merapikan rumahnya juga. Saat saya marah pada nenek saya, akhirnya nenek saya berkata-kata, entah kalau saya tidak salah dengar ketika saya ada di dapur saat itu nenek sempat berucap, “tak matiae timbang koyok ngene” saat itu saya tidak lagi menggubris omongan nenek dan saya masih membersihkan rumah nenek bagian belakang sambil melanjutkan mencuci toples. Saya benar-benar hanya marah terus ketika di malam takbir itu  saya ada di rumah nenek. Malam takbir itu malam kemarahan saya benar-benar menyeramkan dibandingkan kemarahan saya yang biasanya. Sampai saya pulangpun saya masih sangat jengkel dan dongkol pada nenek saya yang keras kepala tidak mau lebaran jadi satu di rumah kami. Sampai rumahpun saya juga masih ngomel-ngeomel pada ibu saya di rumah karena melihat rumah yang sama berantakannya dengan rumah nenek tapi tidak separah di rumah nenek. Ketika saya terus uring-uringan ibu yang selalu bilang kepada saya “kalau udah capek gak usah bersih-bersih, kamu tidur sana nanti aku yang bersihkan rumah”. Lalu pikir saya saat itu, “bagaimana ibu mau bersih-bersih rumah, orang ibu masih saja ngurusin dapur yang dipake buat makanan yang mau dibawa ke masjid?”. Saya tetap saja membersihkan rumah tapi saya hanya marah-marah terus sampai lebaran pagi harinya datang. Kebiasaan kami setelah sholat idul fitri maka kami langsung pergi ke rumah nenek terlebih dahulu. Ketika saya ada di rumah nenek saya, saya juga salaman seperti ibu dan saudara-saudara saya salaman dengan nenek saya, tapi saat itu saya masih saja sangat cemberut dan jengkel pada nenek saya. Saya terus saja jengkel dan marah pada nenek yang tidak mau lebaran di rumah jadi satu bersama kami. Saat lebaran pertama saya masih mau menemani nenek sampai sore hari saja. Saya hanya berpura-pura akur pada nenek saya ketika lebaran pertama di hadapan tamu-tamu yang ada sekedar untuk menyuguhkan air minuman saja. Saat itu saya berpura-pura akur pada nenek saya, karena saudara-saudara saya pasti akan menyalahkan kami satu keluarga yang membiarkan nenek kami tinggal sendirian di rumahnya. Saya benar-benar jengkel dengan nenek saya yang tidak mau jadi satu di rumah kami, padahal untuk urusan makanpun saya harus pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Lebaran kedua saya masih agak lama di rumah nenek dan masih berpura-pura akur dengan nenek saya. Ketika sudah lebaran ketiga saya sudah tidak mau lagi ke rumah nenek. Saya sudah kelayapan melipir bersama teman-teman saya yang satu SMA dengan saya. Lebaran keempat saya melipir bersama teman-teman main saya yang lainnya. Saya sudah tidak mau berlama-lama di rumah nenek saya. Toh, akhirnya ketika tamu sudah mulai sepi, nenek juga datang lagi ke rumah kami meskipun nenek tidak mau tinggal di rumah kami lagi. Saat nenek tinggal di rumah kamipun, nenek hanya ditemani TV. Ibu sibuk bekerja. Adek-adek saya jarang ada di rumah. Kakak saya juga baru ada di rumah siang hari. Saya sibuk di depan laptop dan internet saja. Semua satu rumah hanya diam-diaman saja. Mungkin dari situ akhirnya nenek kembali di kebiasaan lamanya untuk kembali ke rumahnya lagi dan hidup seorang diri saja. Meskipun nenek tinggal bersama kami satu rumah tapi nenek hanya ditemani TV saja, mungkin dari situ nenek lebih memilih kembali pulang dan hanya berkunjung ke rumah kami kalau satu hari saja tidak ada yang mengunjungi nenek di rumah. Kadang adek saya yang sering ada di rumah nenek saya juga tidak setiap hari ada disana, kadang adek saya masih sering main bersama teman-temannya yang tak pulang-pulang tapi juga tak ada di rumah nenek. Akhrinya ketika tak ada satu cucunya mengunjungi nenek maka nenek yang datang ke rumah kami dengan jalan kaki. Ketika nenek saya di lebaran ketiga tak ada satu cucunya yang datang sama sekali maka nenek di lebaran ke empat yang datang ke rumah, sayapun juga tak mau lagi berlama-lama ada di rumah, karena memang dasarnya saya suka keluyuran, jadi nenek saya tinggalkan di rumah saja dan saya pergi keluar bersama teman-teman saya yang lain. Dari pertengkaran di malam takbiran itulah saya mulai sering tidak akur pada nenek saya lagi. Saat lebaran tahun 2015 saat itu saya hanya ada di rumah sebentar saja. Karena, satu minggu setelah lebaran saya sudah pergi lagi ke Jogja mengurus beberapa hal yang masih belum selesai untuk  persiapan kuliah di Jogja. Saat itu saya tidak pamitan pada nenek saya, karena saya hanya sebentar saja mengurus keperluan di Jogja. Seiring berjalannaya waktu akhirnya saya dan nenek kembali biasa lagi dan saya kembali membiasakan diri dengan kebiasaan saya untuk datang ke rumah nenek lagi. Kebetulan sejak saya mengurus pendaftaran kuliah, saya tidak lagi bekerja di Pare. Saya kembali terbiasa dengan nenek saya yang lebih sering ada di rumah tetangganya daripada di rumahnya sendiri, lalu saya kembali marah-marah lagi dan nenek juga kembali sering mencari alasan-alasan seperti biasanya. Nenek juga masih sering datang ke rumah pagi-pagi, sedangkan saya dan adek-adek saya kadang suka sekali bangkong tidak bangun-bangun, maka akhirnya kami terbangun juga ketika suara nenek yang sangat berisik tak henti-hentinya memarahi kami. Setelah saya tidak bekerja dan saya ada di rumah, saya jadi sering malas-malasan sambil menunggu pengumuman kuliah. Setelah hari dimana penguman itu tiba tepat di bulan Agustus 2015 itulah saya benar-benar merasa sangat senang sekali ketika saya dinyatakan diterima di program yang saya ambil. Ketika hari dimana saya sudah menantinya jauh-jauh hari telah tiba, akhirnya saya menyampaikan kabar itu juga kepada nenek saya. Ketika kabar saya sampaikan itulah nenek benar-benar berubah sekali raut wajahnya yang biasanya suka cerewet, suka marah-marah dan suka berisik sendiri hanya terdiam dengan wajahnya yang benar-benar sangat kehilangan tenaga sama sekali. Nenek saya tidak lagi secerewet biasanya setiap saya datang ke rumah nenek sebelum saya benar-benar mulai pergi merantau ke Jogja. Nenek saya juga tak menolak sedikitpun dan tak mencela makanan yang saya bawa sedikitpun. Nenek saya benar-benar tak banyak berbicara sampai akhirnya hari dimana saya harus berangkat ke Jogja telah tiba, saya sedikit agak tidak enak berangkat ke Jogja, karena wajah nenek terus terdiam dan tak banyak memberikan nasehatnya ini-itu lagi kepada saya. Saya yang biasanya suka meminta uang kepada nenek saya juga tidak berani melakukannya lagi ketika saya berangkat ke Jogja di bulan Agustus akhir 2015 saat itu. Saya hanya menyalami nenek saya yang tampak tidak ikhlas dengan keberangkatan saya ke Jogja. Saya tidak mendapatkan uang dari nenek seperti biasanya. Saat itu saya tidak begitu memikirkan uang dari nenek, akan tetapi saya memikirkan nenek saya yang benar-benar terlihat sangat aneh. Kadang nenek secara tiba-tiba memberikan saya uang kalau saya harus berangkat ke Pare atau dulu waktu masih tinggal di Madura meskipun saya tidak memintanya. Tapi, ketika saya berangkat ke Jogja aura nenek benar-benar tidak enak dan saya benar-benar tidak berani meminta uang kepada nenek yang hanya terdiam tak banyak berbicara. Saya seperti bukan bersalaman dengan nenek saya. Nenek saya tidak merespon saya sama sekali. Nenek saya benar-benar hanya diam tidak banyak ekspresi. Tidak marah, tidak sedih. Tatapan nenek saya kosong saat saya berpamitan ke Jogja. Saat itu saya tidak mau mengambil pusing sikap nenek saya yang seperti itu. Saya sudah membulatkan tekad untuk berangkat kuliah ke Jogja. Saya mengatakan kepada ibu saya dan ibu hanya menyampaikan satu hal kepada saya, “urusan di rumah biar diurus orang-orang yang ada di rumah, urusanmu untuk kuliah kamu yang bisa mengurusnya, sudah kamu berangkat ke Jogja”. Dengan restu dari ibu akhirnya saya memutuskan berangkat ke Jogja dengan yakin dan mantab. Saya belajar di bangku kuliah dan mencoba sedikit mengenal beberapa organisasi yang ada di kampus serta saya juga belajar sedikit hal baru di salah satu komunitas di luar kampus. Saat masih awal kuliah saya masih betah berlama-lama ada di kampus, berkumpul bersama teman-teman dan menikmati hari-hari saya di Jogja sampai bulan November 2015. Saat itu saya benar-benar menikmati waktu saya ada di Jogja dan saya enggan pulang ke rumah. Saat itu saya tidak ada rencana untuk pulang sekalipun. Saya mengikuti salah satu kegiatan di kampus sampai akhirnya maghrib baru selesai. Saya masih ada di kampus sampai isya’ tiba. Saat itu entah kenapa saya sangat ingin pulang sekali ke rumah. Saat itu saya juga kepikiran untuk bisa ke Madura memberikan kabar kuliah saya secara langsung datang ke pesantren, karena saya tidak ingin memberikan kabar via telpon. Saat malam itu pikiran saya terus ke Madura dan saya ingin ke Madura dan hanya ingin pulang ke rumah sebentar untuk meminta uang saja.  Saat pikiran saya tidak tenang ada di Jogja dan kebetulan saat itu juga kuliah libur keesokan harinya maka malam ketika pikiran saya sangat kacau, saya langsung memutuskan untuk pulang seketika itu juga. Saya tiba di rumah menjelang subuh. Selama saya ada di bis saya tidak bisa tidur nyenyak. Saat saya ada di bis, saya berfikir untuk meminta uang kepada ibu saya dan kepada nenek saya juga. Saya ingin ke Madura dan memberikan kabar bahwa saya sudah kuliah lagi. Sejak saya mengurus pendaftaran dan surat rekomendasi di kampus dan saya menginap di pesantren, saya belum memberikan kabar sama sekali di pesantren. Saya hanya ingin memberikan kabar kuliah terbaru saya dengan datang secara langsung ke pesantren dan tidak ingin menelpon Bu Nyai. Hanya meminta uang yang saya pikirkan saat itu ketika saya ada di bis. Saya tidak memikirkan uang yang harus saya hemat untuk kebutuhan saya selama ada di Jogja. Ibu jelas akan marah kalau saya meminta uang terlalu banyak hanya untuk ke Madura sedangkan kebutuhan saya di Jogja juga sangat banyak. Satu-satunya yang bisa membantu saya ketika saya memiliki keinginan pergi ke Madura adalah nenek saya. Sudah lama sekali saya juga tidak meminta uang kepada nenek saya. Dalam benak saya saat itu, nenek pasti akan memberikan uang yang saya minta. Selama di perjalanan, saya hanya memikirkan uang dan uang, dan saya tidak bisa tidur terlelep di dalam bis. Saya tiba di rumah menjelang subuh saat itu. Saya menunggu subuh dulu dan menahan kantuk saya sampai terdengar adzan subuh. Tepat setelah adzan subuh selesai saya memutuskan untuk tidur. Saya sangat terlelap sekali tidur di rumah. Saya baru bangun tidur pukul 07.00 pagi lalu bebersih diri sampai akhirnya jam setengah delapan kurang sepuluh menitan saya mengantarkan kakak saya dan keponakan saya ke sekolah. Setelah saya mengantarkan kakak saya, saya ingin mencarikan makanan nenek saya. Biasanya kalau pagi hari, nenek saya suka sekali dengan nasi pecel. Tapi, saat itu langganan nasi pecel nenek sudah tidak ada lagi. Saya sudah telat dan kesiangan untuk membeli nasi pecel. Akhirnya saya linglung bingung mikir makanan apa buat nenek saya. Hanya ada bubur yang ada di dekat rumah. Tapi, nenek kurang begitu suka kalau saya membawakan bubur. Bubur itu sekedar selingan saja. Nenek jauh lebih suka dengan nasi pecel. Tapi karena saya telat bangun jadinya tidak kebagian nasi pecel langganan nenek. Akhirnya saya putar balik dari penjual nasi pecel yang ada di ujung perbatasan desa menuju ujung perbatasan desa berikutnya untuk membeli bubur. Selesai membeli bubur saya langsung menuju rumah nenek. Saya masih saja memikirkan uang yang akan saya minta pada nenek. Nenek biasanya kalau saya bawakan makanan dan setelah itu saya meminta uang biasanya akhirnya diberikan juga, meskipun banyak dimarahinya dulu. Ketika saya tiba di rumah nenek, saya langsung memanggil-manggil nenek saya sebelum pintu saya buka. Ketika saya memanggil nenek, tidak ada suara yang saya dengar. Biasanya kalau saya datang dan memanggil-manggil nenek saya, nenek saya langsung bersuara atau kalau tidak begitu, nenek langsung membukakan pintu meskipun pintunya tidak dikunci. Saat saya datang dan memanggil-manggil nenek saya tidak ada suaranya juga, pintu saya buka dan ternyata tidak dikunci oleh nenek saya. Saya tidak melihat nenek saya ada di ruang tamu. Saat saya datang ke rumah nenek, saya hanya mencium bau yang tidak sedap ada di rumah nenek saya. Saat itu saya langsung tidak karu-karuan berfikir yang tidak-tidak ketika saya mencium bau tidak sedap yang ada di rumah nenek dan saya memanggil-manggil nenek tidak ada suaranya juga. Saya berfikir yang tidak-tidak dan jangan-jangan nenek saya meninggal dari kemaren-kemaren dan tidak ada orang rumah yang mengetahui meninggalnya nenek. Saya masih saja sedikit gemetar ketika mencium bau tidak sedap itu. Saya memberanikan diri untuk terus melangkah pelan-pelan ke arah tempat biasanya nenek tidur. Di tempat tidur, saya juga tidak melihat ada nenek saya. Setelah itu saya melihat ke arah mushola juga tidak ada nenek saya. Lalu saya tetap melangkah dengan sedikit takut, cemas, gemetar dan merinding menuju arah dapur. Ketika tepat saya membuka pintu antara rumah depan dan rumah belakang nenek yang disitu adalah dapur dan kamar mandi, saya langsung kaget dan ketakutan melihat nenek saya yang satu sandal jepitnya ada di luar kamar mandi dan satunya ada di dalam kamar mandi. Ketika saya melihat dapur saya juga melihat kompor nenek saya menyala dan nenek saya merebus air di dandang. Berarti pikiran saya yang tidak-tidak terhadap nenek saya yang meninggal dan membusuk di rumah tidak terbukti. Bau tidak sedap itu adalah bau gas dari kompor yang terus menyala. Akhirnya saya langsung ke arah nenek saya yang terjatuh. Nenek saya terjatuh dengan posisi tengkurap di dalam kamar mandi dan sebagian kakinya masih di depan pintu kamar mandi. Saya melihat wajah nenek saya di bagian hidunganya ada darah dan di kepalanya sedikit ada luka lecetnya. Saya goyang-goyang tubuh nenek saya, nenek saya tidak bergerak sama sekali dan nenek saya tidak mengeluarkan suara apapun. Saat itu hanya panik saja yang saya hadapi. Saya langsung ke arah kompor nenek dan mematikannya, lalu saya pulang dengan sedikit gemetar menyalakan motor. Pikiran saya sudah kemana-mana, bisa jadi nenek saya hanya pingsan saja dan bisa jadi nenek saya juga sudah meninggal. Saat itu saya tidak berani memegang nadi nenek saya. Saya hanya ingin cepat pulang menemui ibu saya dan memberikan kabar pada ibu saya. Saya hanya memberikan kabar kepada ibu saya bahwa nenek jatuh di kamar mandi. Saya masih berkeyakinan bahwa nenek saya hanya pingsan saja. Ibu saya langsung cepat-cepat pergi ke rumah nenek saya dengan menggunakan motor lain sedangkan saya pergi ke tempat dua mantri yang ada di desa saya untuk mengecek kondisi nenek saya. Kebetulan mantri di desa saya sedang tidak ada di rumah dan sedang dinas. Akhirnya saya pergi ke sekolah kakak saya untuk mengabari bahwa nenek terjatuh dan saya masih yakin nenek saya itu tidak meninggal. Saat itu saya sudah tidak lagi ingat dengan ibu saya yang pergi ke rumah nenek saya seorang diri. Ibu saya memanggil tetangga nenek untuk meminta tolong dibantu mengangkat nenek. Ketika saya balik lagi ke rumah nenek yang juga tidak membawa mantri ke rumah nenek, ibu berkata kepada saya bahwa nenek sudah meninggal, seketika itu saya langsung kacau balau dan saya hanya ingin marah-marah pada diri saya sendiri yang memilih tidur-tiduran di rumah tidak bangun-bangun, sedangkan nenek saya sedang kesakitan meregang nyawa dan hanya bisa diketahui oleh nenek sendiri dan Tuhan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nenek menahan sakitnya ketika jatuh di kamar mandi tanpa ada pertolongan sama sekali. Saya juga marah pada diri saya sendiri yang bisa-bisanya saya hanya pulang untuk meminta uang saja kepada nenek saya.  Kepala saya benar-benar kacau balau dan saya tidak menangis juga tidak sedih. Saya hanya benar-benar merasa sebagai cucu yang kurangajar saja ketika saya pulang dari Jogja hanya ingin pergi jalan-jalan lagi lalu tidak mengingat nenek saya sekalipun. Saya benar-benar dibuat bingung dengan kejadian meninggalnya nenek saya tepat di depan kepala mata saya sendiri seketika saya pulang dari Jogja. Saya jadi teringat semua dengan kata-kata kasar saya pada nenek yang saat itu nenek tiba-tiba menyeletuk mau mati saja dan saya mengetahui kematian nenek tepat di depan mata saya sendiri. Saya jadi teringat kata-kata nenek saya yang kerap sekali marah-marah pada saya karena saya suka sekali tidur lagi setelah subuh dan tak jarang terlewat dari waktu subuh itu sendiri. Nenek saya meninggal tepat dimana saya sedang asyik terlelap tidur di rumah. Saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apalagi ketika saya melihat nenek saya meninggal ketika saya baru diterima kuliah dan nenek saya tidak begitu rela saya harus pergi meninggalkan rumah. Bahkan nenek saya juga meninggal dengan kesendiriannya tanpa sakit sekalipun dan tanpa ada perawatan juga. Nenek saya bahkan meninggalpun tidak pernah sekalipun merepotkan kami semua, lalu kenapa kami terus menuduh nenek kami yang terus menuntut pada kami. Saya tidak tahu lagi, cucu macam apa saya ini yang bisanya menuntut tapi tidak sekalipun bisa memberikan hal yang terbaik untuk neneknya sendiri. Bahkan kasih sayang dan perhatianpun tidak pernah saya berikan kepada nenek saya. Nenek saya pernah menangis dengan kata-kata kasar saya ketika saya bertengkar dengan nenek soal harta juga, tapi nenek saya menyembunyikan tangisnya dan membuang wajah sedihnya ketika saya berkata-kata kasar pada nenek. Saya tidak pernah sekalipun membuat nenek bahagia dan hanya mampu membuat nenek saya hanya kecewa saja dengan kata-kata kasar saya. Nenek saya sudah sangat kuat dan tangguh hidup seorang diri tanpa anak dan tanpa cucu sekalipun disampingnya. Nenek saya tidak pernah mau menunjukkan kesedihannya pada siapapun ketika saya maupun saudara-saudara saya tidak pernah bisa mengerti perasaan nenek saya dan hanya melukai dan melukainya terus-menerus tiada henti-hentinya. Bahkan sejak kecil kami sudah sangat tidak suka dan selalu benci pada nenek kami sendiri. Kami selalu mengungkit-ngungkit masa lalu nenek yang tidak mau mengurus bapak dan lebih memilih menitipkan bapak untuk di rawat orang lain setelah nenek bercerai dengan kakek kami. Kami tidak mau peduli bagaimana perasaan nenek yang harus bercerai dengan suaminya ketika bapak masih sangat kecil. Kami tidak memperdulikan itu, dan kami hanya menuntut kenapa nenek kami tidak merawat bapak seorang diri saja daripada harus diasuh oleh orang lain? Lalu salah siapa kalau bapak meninggal dan kami tidak bisa dekat dengan nenek dan tidak bisa merasa nyaman ada di dekat nenek? Selalu itu saja yang kami tuntut dari nenek kami setiap nenek ingin dimanja seperti cucu-cucu orang kebanyakan yang bisa sayang pada neneknya. Kami hanya bisa marah pada nenek ketika kami mengingat bagaimana nasib kami yang juga tidak akur dengan saudara-saudara tiri bapak yang lain. Sedangkan nenek juga memilih untuk menikah lagi lalu pernikahan kedua nenek juga gagal karena harta nenek hanya dihabiskan suami nenek yang kedua. Bagaimana kami bisa dekat dengan nenek kalau bayang-bayang itu terus menghantui kami sepanjang kami hidup. Bahkan nenek juga lebih memilih memanjakan anak bawaan dari suami kedua nenek daripada memanjakan bapak atau memanjakan cucu dari nenek sendiri. Setiap kali kami mengingat itu, kami selalu dilanda rasa benci yang sangat mendalam pada nenek meskipun nenek yang telah melahirkan bapak kami. Bagaimana bisa nenek menuntut kami bisa seperti cucu-cucu yang lain sementara nenek sendiri juga tidak bisa menjadi nenek yang kami damba-dambakan? Selalu itu saja yang lebih banyak kami ingat daripada kebaikan nenek yang tidak kelihatan di mata kami. Kami tidak melihat bagaimana jalan hidup kami bisa tercukupi tanpa adanya bantuan dari kakek dan nenek angkat kami yang rela merawat bapak meskipun bukan anak kandungnya. Kami tidak melihat itu pada nenek kami. Bagaimana akhirnya bapak bisa merasakan kasih sayang dari kakek dan nenek angkat kami yang tidak bisa diberikan oleh nenek ketika sudah bercerai dengan kakek kami. Kami tidak melihat bagaimana terlukanya nenek kami yang saat itu diceraikan oleh kakek kami lalu kakek kami hanya bisa menikah lagi lalu menceraikan istri keduanya, lau menikah lagi dengan istri ketiganya. Sedangkan nenek juga baru menikah lagi setelah nenek tidak lagi muda dan sudah hampir separuh baya ketika bapak sudah dewasa. Kami tidak melihat bagaimana nenek yang harus hidup seorang diri dan diceraikan oleh kakek saat nenek masih sangat muda sekali. Bahkan kami juga tidak melihat bagaimana terlukanya nenek setelah diceraikan kakek kami dan masih menyaksikan kakek kami terus menikah lagi. Kami tidak melihat bagaimana goncangan kehidupan nenek yang sudah harus hancur ketika baru menikah dan melahirkan bapak lalu diceraikan oleh kakek kami. Kami tidak melihat betapa terlukanya nenek saat masih sangat muda dan harus dihadapkan pada perceraian. Kami tidak melihat betapa nenek sudah memberikan kehidupan yang terbaik pada bapak dengan menitipkan pengasuhan bapak pada kakek dan nenek angkat kami. Seharusnya kami bisa bersyukur karena kami telah mendapatkan banyak kasih sayang dari banyak orang dan bukan malah membenci nenek yang sudah menitipkan bapak dan menyalahkan nenek atas keputusan yang sudah nenek buat. Kami hanya bisa membenci nenek saja atas kasih sayang yang tidak bisa kami rasakan. Kami tidak bisa melihat bagaimana terluka dan sedihnya nenek yang harus terus-terusan hidup seorang diri meskipun nenek memeliki cucu. Nenek tidaklah merepotkan sama sekali dan kami yang hanya bisa nakal dan tidak bisa pengertian pada nenek sekalipun. Bahkan saat nenek meninggalpun nenek menunjukkan betapa hebat dan tangguhnya nenek dalam bertahan hidup sekalipun nenek sudah hancur berkali-kali sejak nenek masih muda. Nenek maafakanlah kami yang sudah sering kurangajar dan tidak sopan pada nenek sekalipun nenek tidak pernah menunjukkan tangis nenek kepada kami. Maafkan kami yang suka berkata kasar dan menuntut sesuatu di luar batas kemampuan nenek. Maafkan kami yang tidak bisa memahami nenek yang saat itu kebingungan merawat bapak seorang diri ketika nenek masih sangat muda. Maafkan kami yang hanya tega merelakan nenek terus-terusan hidup seorang diri meskipun nenek memiliki cucu sekalipun. Maafkan kami yang sering menyakiti perasaan nenek dengan sikap kami  yang sangat kasar yang hanya kami berikan kepada nenek. Maafkan kami yang tidak bisa merasakan betapa sayangnya nenek dengan bapak ketika nenek membiarkan bapak mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kakek nenek angkat kami. Maafkan kami yang hanya bisa membuat nenek bersedih hati tak henti-hentinya memikirkan nasib kami yang tak juga faham dengan kasih sayang nenek. Maafkan kami yang hanya bisa salah paham atas kebaikan nenek yang sudah diberikan kepada kami tapi kami hanya bisa membenci nenek saja. Maafkan kami nenek, maafkan kami. Bahkan setelah nenek meninggalpun nenek telah memberikan segala-galanya kepada kami, khususnya kepada saya yang tak henti-hentinya nenek berikan segala yang nenek punya untuk pendidikan saya. Ketika saya marah pada nenek atas biaya pendidikan yang sering saya tuntut pada nenek, nenek telah menghidupi saya sampai sekarang ini. Nenek telah memberikan segala-galanya untuk hidup saya. Saya hanya bisa menuntut dan menuntut menyalahkan nenek saja. Bahkan setelah saya kuliah lagi, tanpa saya meminta pada nenek, nenek telah memberikan segala-galanya yang nenek miliki pada saya dan saya hanya bisa menghambur-hamburkan dan menyianyiakan pemberian dari nenek. Saya bahkan tidak bisa berfikir masa tua nenek yang seharusnya jauh lebih membutuhkan segala-galanya yang nenek miliki, ternyata tidak bisa nenek nikmati sendiri. Semua telah nenek berikan kepada saya. Betapa jahatnya saya pada nenek yang sering menuduh nenek tidak memberikan sumbangsih atas pendidikan yang saya tempuh. Betapa jahatnya saya yang hanya memikirkan uang dan uang dan tidak mau melihat bagaimana susahnya nenek mengumpulkan uang di masa muda nenek yang harus hidup seorang diri. Betapa bodohnya saya yang sering menuduh nenek yang tidak-tidak karena tidak bisa memberikan apa-apa di hidup saya. Nenek maafakan saya yang sudah lalai dan sering tidak mau mendengarkan nasehat nenek. Nenek sudah meninggal tepat di depan mata saya sendiri ketika saya tak henti-hentinya membuat nenek terus tertekan memikirkan saya yang tidak juga bisa sadar-sadar atas jalan hidup saya yang salah yang sudah saya tempuh. Maafkan saya yang lebih memilih meninggalkan nenek daripada saya menetap ada di rumah dan tidak mau merawat nenek. Maafkan saya yang tetap berangkat ke Jogja tanpa restu sedikitpun dari nenek saat itu. Maafkan saya yang saat itu tak kunjung mau pulang ke rumah dan lebih memilih bermain-main di Jogja daripada harus pulang ke rumah. Maafkan saya yang sekali pulang, langsung ingin pergi lagi meninggalkan nenek jalan-jalan ke lain tempat. Sekali saya pulang ternyata nenek sudah lebih dulu meninggalkan saya tepat di depan mata saya sendiri. Maafkan saya nenek yang sering nakal dan kurangajar dan tidak hormat pada nenek. Maafkan saya nenek sudah membiarkan nenek meninggal sendirian di kamar mandi tanpa pertolongan sekalipun. Maafkan saya yang hanya pulang untuk meminta uang saja pada nenek dan nenek lebih rela memilih pulang menghadap-Nya dan memberikan segala yang nenek miliki kepada saya. Maafkan saya yang terus-terusan membandingkan nenek dengan yang lain, sekalipun nenek sudah memberikan segala-galanya untuk saya. Maafakan saya yang tak kunjung bisa percaya pada pengorbanan nenek yang sungguh sangat besar yang sudah nenek berikan kepada saya. Maafkan saya yang hanya sibuk mengejar cita-cita akan tetapi saya mengabaikan nenek dan membiarkan nenek terlunta-lunta hidup sendirian. Maafkan saya yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain saya daripada harus menemani nenek di rumah. Maafkan saya yang sudah merusak lebaran terakhir nenek di malam takbir itu. Maafkan saya yang sedikitpun tidak mau menurut pada nasehat nenek dan lebih memilih hidup bermalas-malasan. Maafkan saya yang tidak bisa menjadi cucu yang berbakti dan hormat pada nenek. Maafkan saya yang tidak bisa peduli dan perhatian pada nenek. Maafkan saya yang hanya membuat nenek terus meneteskan air mata dan menyembunyikan kesedihan nenek setiap saya mengungkit masa lalu nenek dengan bapak. Maafkan saya yang sudah sangat jahat pada nenek. Maafkan saya yang tidak bisa menjadi cucu yang baik sesuai harapan nenek selama ini. Maafakan saya nenek. Maafkan saya yang hanya mampu membuat nenek bersedih hati tiada henti dan hanya bisa melukai perasaan nenek. Nenek sungguh benar-benar telah menjadi nenek yang sangat tangguh dan hebat lebih dari apapun, saya tidak lagi menginginkan nenek bisa seperti nenek lainnya. Nenek sungguh benar-benar telah menjadi nenek yang patut kami teladani. Maafkan kami yang hanya bisa menyalahkan nenek tiada henti-hentinya. Maafkan kami yang nakal nenek. Nenek adalah nenek terhebat yang kami miliki. Nenek sungguh sangat mulia dan berhati sangat lapang meskipun kami hanya bisa menyakiti nenek dan membiarkan nenek hidup seorang diri, bahkan ketika nenek meninggal, nenek juga dalam kesendirian. Maafkan kami nenek. Maafkan kamiiii. Nenek adalah nenek kami yang tidak pantas kita banding-bandingkan dengan siapapun dan apapun. Nenek telah sangat berjasa dalam hidup kami semua. Terimakasih sudah menjadi nenek yang sangat baik untuk kami meskipun kami tidak baik pada nenek. Terimakasih telah mengajari kami kemandirian dan kekuatan nenek dalam bertahan hidup selama ini, meskipun nenek seorang diri. Nenek adalah pahlawan kami. Nenek adalah satu-satunya yang kami miliki setelah Bapak meninggal. Nenek telah berjuang sekuat mungkin setelah nenek harus melalui hari-harinya yang begitu berat sejak nenek masih muda, bahkan ketika nenek meninggal juga nenek telah mengajari kami kematian yang begitu terhormat dengan kemandirian nenek. Maafkan kami nenek. Maaafkan kamiiiii. Nenek benar-benar pahlawan kami yang sungguh sangat tangguh menghadapi hari-harinya seorang diri. Maafkan kami nenek. Maafkan kami. Nenek adalah teladan kami dan telah menjadi guru maha guru kami selama ini. Terimakasih nenek. Terimakasih dan terimakasih. Nenek teladan saya dan nenek teladan kami semua.

Komentar

  1. Hello, tulisannya bagus-bagus, kisah2nya menarik sekali, tetap menulis ya. Itu semua kisah nyata kah? Salam kenal..
    :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN