PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN
Malam takbir yang
berkumendang tadi malam dan membawa aura perdamian sepertinya hanya singgah
sementara waktu. Hari sudah kembali pagi, lalu siang lagi, senja lagi, malam lagi, lalu kembali saling
tegur sapa dengan sesama manusia.
‘’Manusia mana yang saling
tegur sapa?”
“ Manusia yang waraslah,
masak manusia edan?”
“Ah manusia kenapa harus
ditakdirkan untuk saling berbincang-bincang?”
“sepertinya memang mereka
terhibur dan tidak kesepian kalau berbincang-bincang, kenapa kamu jadi kembali
bertanya-tanya lagi? Apa yang salah dari manusia padamu?”
“Manusia mungkin tidak
salah, tapi akulah yang salah dan tidak bisa memahami manusia”
“kamu jadi aneh lagi
sekarang? Udah dong......!, ini kan waktunya lebaran, jangan buat perselisihan
lagi lah dengan pertanyaanmu yang tak seharusnya kamu tanyakan di lebaran kayak
gini pula!. Kok suka sekali kamu ini cari gara-gara di waktu yang tak tepat
pula”.
“Apa bedanya lebaran
dengan tidak lebaran kalau mulutnya manusia itu terus komat-kamit mengeluarkan
suaranya yang gaduh dan berisik? Berisik sekali bedebah manusia itu, cuma mengganggu
waktu melayangku terusik olehnya saja”.
“mulutmu itu yang
dijaga!!!!!, mulut kok susah sekali dikendalikan, makanya buanglah itu botolmu
jangan digembol terus, orang otakmu lagi gak waras kok nuduh manusia yang tidak,
tidak!!!!!”
“kamu gak berhenti bicara
juga, kulempar sekalian botol ini ke wajahmu, biar botolnya memecahkan kepalamu
dan membuat otakmu porak-poranda nanti, kamu mau botol ini kulempar sekarang
juga di kepalamu????”
Aku sudah terlanjur panas
dengan abab-abab manusia yang menguap. Kini ketika aku lagi ingin berdamai dan
bersyukur dengan karunia Tuhan, tiba-tiba orang-orang terdekatku mengusikku
lagi. Mereka hanya menambah beban pikiranku saja dan tak peduli lagi dengan
hidupku yang porak-poranda ini. Aku tak ingin marah-marah di bulan yang penuh
kemenangan dan bulan yang penuh pengampunan ini, tapi aku sungguh lebih kecewa
lagi kalau orang-orang terdekatku tidak memahami dan mengerti situasi yang
kuhadapi. Aku masih tak peduli apa kata manusia tentang hidupku, tetapi kalau
orang-orang yang kusayang dan orang-orang yang telah kulindungi tak mengerti
kondisiku, aku lebih suka untuk hidup bersama botol-botol minumanku yang
bergelimangan ini, jiwaku bisa bebas dan bebanku terasa ringan. Aku tak peduli
lagi apa kata manusia yang katanya memanusiakan manusia. Manusia-manusia itu
telah menelentarkanku hanya karena aku bergelimangan botol-botol minuman
kerasku ini.
“Hai manusia, kalau kau
tak juga berhenti berucap, rumah-rumahmu yang mulia itu ingin kubakar dengan
minuman kerasku saja rasanya, tapi mana bisa minumanku membakar rumahmu?”
“Ohhhhhh, lha orang mabuk
kok masih diterusin mabuknya, disini ini bukan tempatmu, wilayah ini cuma diperuntukkan orang-orang
terhormat dan orang yang mulia saja, kamu termasuk orang yang hina, jadi,
enyahlah kau dari sini, pemabuk nan hina rendah tak bermartabat”.
Rasanya ingin kuhajar
manusia-manusia yang otaknya di dengkul dan mulutnya di pantat. Tapi aku tak
mau tenagaku habis hanya mengurusi manusia yang akal dan mulutnya pindah semua.
Sepertinya, manusia-manusia itu yang waras atau aku yang terlalu waras sehingga
manusia tidak mewaraskanku, atau aku yang waras dan manusia-manusia itu yang
tak waras menjadi pertanyaan besarku yang selalu kupertanyakan pada botol-botol
minuman kerasku. Tapi botol minumanku hanya bisa diam membiarkanku terus saja
meneguk isi minuman keras di dalamnya. Bahkan pada isi botolpun aku bertanya,
kenapa air yang membahagiakan ini disebut minuman keras, padahal air di botol
kesayangku ini air-air yang sangat cair dan tidak keras dan tidak kaku seperti
yang dikenal orang-orang. Ahhhhh sepertinya aku saja yang mengalah, aku memang
sedang tidak waras dan aku pemabuk kelas kakap tapi harkat dan martabatku telah
dihina-hinakan oleh manusia.
“Oh manusia, kamu tega
sekali memperlakukanku seperti ini?, apa salahku padamu dan kenapa kamu begitu
membenciku?”
“Sekali kamu mabuk berarti
kamu melanggar agama, sekali kamu melanggar agama berarti kamu pantas disiksa,
siksaan ini adalah salah satu hukuman yang pas untukmu, ya untukmu si pemabuk
yang sudah merusak lingkungan kemuliyaan agama tuhan.”
“Aku cuma ingin tahu
kenapa kamu memandangku begitu hina dan rendah?”
“Sudah dibilang dari tadi
koooook.....,, kalau kamu itu hina, ya hina!!!!. Jadi, jangan banyak bertanya
terus!!!!, sudah mabuk nglantur kemana-mana pula kamu ini, yo mbok sadar dulu
baru ngomong, eeeee kok ngomongin sadar, lha sadar saja kamu tetep saja gak
sadar gitu lho, pemabuk kok bertingkah, yaaaaa...... sikat dan basmi saja lah
makhluk sepertimu ini!"
Aku terlalu lelah hidup
di dunia antah berantah yang membuatku semakin hina. Aku perlu makhluk lain
yang bisa membuat citra diriku yang hina menjadi mulia. Aku ingin menyewa
pengamat kewibaan dan kehormatan di muka bumi ini, berapapun biaya sewanya akan
kubayar padanya. Aku yakin ada salah satu manusia bedebah yang menguasai ilmu
semacam itu, ya aku membutuhkan manusia hina lain yang mampu merubah hidupku
semakin tak hina. Tapi bisakah dia kuandalkan bekerja padaku dan membelaku
menjadi manusia yang tak hina? Aku hawatir setelah menyewa dia dan membayar
dia, bisa jadi dia menghianatiku dan juga menghinakan aku sama seperti manusia
lain merendahkan harkat dan martabatku? Aku harus terus mengamatinya dan
berhati-hati pada dia meskipun aku sedang mabuk berat. Ya, orang itu harus
benar-benar kuawasi gerak-geriknya supaya kehinaanku tak semakin hina.
“apakah kamu bersedia
membantuku untuk terbebas dari kehinaan ini, pengamat kewibawaan?"
“Ya, aku bersedia
membantumu tapi tolong bersabarlah dulu!, dan tolong mabukmu juga perlahan kau
kurangi sedikit demi sedikit kalau kau bisa, kalau kau tak tahan untuk tidak
meneguk minuman itu juga tidak masalah, karena memang sudah menjadi tugas dan
kewajibanku untuk mengorek-ngorek kewibaan yang merendahkanmu, tapi pekerjaanku
menjadi tak terhormat dan terhambat kalau kau masih saja meronta kesepian
menghabiskan waktumu dengan botol-botol itu, aku perlu waktu untuk investigasi
dan melacak data kewibaan untuk kuamati, jadi tolong kerjasamanya juga”.
“Ok, aku percaya padamu,
tapi kalau kau sudah mulai melenceng dan berhianat pada kewibawaan manusia
terhormat maka tamatlah sudah riwayatmu, akan kubunuh kau secara hina juga.
MENGERTI KAU????
“tidak perlu membentakku,
aku sudah tahu apa yang harus kukejarkan, kalau kau tidak percaya padaku, sewa
pengamat yang lainnya yang bisa membantumu tidak terpuruk pada kehinaan yang
menyandangmu!”
“Ok, ok, ok maaf aku
hanya hawatir kau ikut-ikutan menghinakanku setelah kau berbaur dengan kelompok
manusia yang memiliki kehormatan yang tinggi”.
“Serahkan padaku untuk
kuurusi dan jangan lupa serahkan urusan sisanya diatur oleh Pengadilan Kewibawaan dan mudah-mudahan kamu
termasuk golongan yang mendapat kesempatan tak menjadi hina, mengerti kau?”
“Ok, mengerti, aku akan
mencoba mempelajari hukum di Pengadilan Kewibawaan kalau begitu”.
Selama aku menyewa
pengamat kewibawaan akhirnya aku merasa agak tenang. Di awal waktu, dia mampu
mencari data secara detail, tetapi dia saking detailnya membuatku semakin gerah
saja dibuatnya, kerjanya begitu lelet atau dia terlalu berhati-hati dalam
melakukan pengumpulan data, pekerjaan yang dilakukanya membuatku muak
berlama-lama digantung nasib kehinaan yang mendera. Akhirnya aku tak tahan
lagi, aku kembali menghampiri botol-botolku dan aku meminum sebanyak yang bisa
kuminum karena jengkel memperkerjakan pengamat yang tak bisa diajak cepat
menghapuskan kehinaan dalam diriku. Aku mabuk berat sampai teler dan sampai aku
mengamuk di jalanan pada setiap manusia yang ada di hadapanku yang mulai mengeluarkan
suara-suara menghinakan. Tak cukup kucaci maki saja, manusia yang berani
menghinakanku seketika itu juga kujotos dan kutendang sampai sekarat, biar dia
tahu rasa sakit terhina oleh setiap pukulanku dan tendanganku.
Aku sudah menunggu
terlalu lama pekerjaan pengamat yang menyebalkan itu, tapi sampai kini dia
tidak menampakkan wajahnya, bahkan tak ada pesan yang dikabarkan. Aku hanya
uring-uringan menunggu pengamat itu sampai aku menjadi penjahat kelas cetek
yang semakin dilebeli oleh manusia-manusia bedebah menjadi manusia totalitas
hina dan ada tambahan lagi keji, sehingga aku menjadi manusia hina dan keji di
hadapan manusia yang menyebut dirinya mulia dan terhormat. Aku tak percaya lagi
pada kerja pengamat apapun, pengamat itu hanya memeras uangku dan menghabiskan kekayaan
yang kumiliki. Aku sepertinya telah dihianati oleh pengamat tengil itu. Akan
aku cari dan aku kejar sampai kau mampus tak bernafas lagi kalau
berani-beraninya menghianatiku.
Kabar dari pengamat
kewibawaan yang hilang lenyap seolah ditelan bumi ini membuatku semakin panik
dan membuat emosiku terus naik dan naik. Kondisi kesehatanku semakin parah
karena aku terlalu banyak meneguk minuman keras, tapi aku juga tak jera dibuat
bahagia oleh minuman yang ada di botolku ini. Dokter dan rumah sakit tak sanggup
mengobati rasa sakit fisikku, berkali-kali aku diperiksa dan dirawat olehnya
tetap saja aku membutuhkan botol itu. Botol yang berisi air kenikmatan duniaku
harus terus ada disampingku, aku tak peduli lagi kata-kata pengamat sialan yang
belum memberikan tanda keberhasilannya sama sekali. Aku terus meminum dan
meminum dan sering kali aku lupa rasanya makanan itu bagaimana, karena aku
sudah kenyang dengan minumanku yang membuatku teler dan sekarat tapi
membahagiakanku. Ya meskipun sesaat saja, sesaat tidak bahagia lagi, sesaat itu
lagi aku meneguk kekasih hatiku itu.
Selama masa sekarat
pemabuk yang tak henti-hentinya meneguk minumannya itu, tiba-tiba pengamat
kewibawaan itu datang dan membawa kabar terbarunya, ternyata dia belum berhasil
menembus ruang kewibawaan manusia terhormat setengah dewa tersebut, sehingga
percuma saja membongkar kedok kewibawaan manusia terhormat itu, mereka terlalu
kuat sistem pengamananya sehingga kita tidak akan mudah menghancurkannnya
secara sendirian. Kalau terus dibongkar dan ditelusuri kebobrokannya tersebut
maka pemabuk dan pengamat kewibawaan itulah yang akan dihakimi dan dilindas
sendiri oleh tangan-tangan terhormat berwibawa itu. Mereka bersitegang untuk
mencari jalan keluar supaya terselamatkan dari kehinaan manusia bedebah di
dunia ini.
“apa lagi yang bisa kita
lakukan kalau kondisi yang harus kita lalui begitu pelik hanya untuk
menghapuskan kata hina?”.
“tenang dulu, kita
berfikir menggunakan kepala jernih dan hati yang luwes”
“aku sudah tak tahan akan
kehinaan yang menderaku, tolonglah aku, apakah aku benar-benar hina sekali?
Apakah aku tidak memiliki kemuliyaan sedikitpun di dalam diriku? Tolonglah aku
pengamat kewibaan!
“apa kau sudah pernah
berkomunikasi dengan orang-orang yang bekerja untuk Pengadilan Kewibawaan?”
“Oh iya aku sampai lupa
kau pernah berkata seperti itu, tapi aku malu untuk sekedar berkenalan
dengan-Nya, jangan-jangan Dia juga akan dengan gampanganya mengatakan padaku
kehinaan yang menderaku?”
“Tenang-tenang banyak
orang yang tak faham dengan Dia bahkan kehendaknya saja tidak bisa diprediksi,
keputusan yang dibuat oleh Dia sering di luar dugaan manusia hina maupun
manusia berwibawa, jadi kau percayalah pada Dia, Dia itu sungguh tak bisa
didefinisikan oleh manusia pengamat sejenisku maupun manusia sejenismu atau
manusia terhormat dan berwibawa lainnya lagi”.
“kalau kau telah memberikan
rekomendasi untuk bisa menemui Penguasa Pengadilan Kewibawaan, doakan aku
supaya tak mati kutu dilindas oleh-Nya dengan kondisi kehinaan bersanding
denganku.”
Pemabuk tersebut akhirnya
menemui Penguasa Pengadilan dan memohon bantuan-Nya tapi tetap saja dia masih
belum mendapatkan bantuan untuk bisa menghapuskan dirinya menjadi manusia tak
hina. Jelas saja penguasa itu enggan menghampiri pemabuk yang dekil, kumel, kucel
dan harapan hidupnya sangat rendah. Penguasa pengadilan kewibawaan mengabaikan
pemabuk yang dilanda kehinaan di kantornya yang megah tersebut. Pemabuk
tersebut semakin menjerit sedih terpuruk dan membanting semua botol minuman
kersanya yang ada di kamarnya dan memaki-maki botol-botol minuman yang terpecah
belah dan alkohol yang sudah membasahi kamar tersebut. Pemabuk tersebut
menangis kencang sekali dan seluruh isi bumi menjadi saksi keterpurukan yang
melandanya. Pemabuk tersebut tak kuat dan tak tahan lagi meminta tolong pada
siapa lagi yang dipercainya. Dia hanya menghabiskan waktunya dengan menangis
dan membanting setiap botol minuman keras yang dimilikinya dan Diapun belum
beranjak kemanapun setelah diabaikan oleh Penguasa Pengadilan Kewibawaan sampai
sekarang.
Semua usaha pemabuk hina
menghapus kehinaan yang disandangnya telah sia-sia. Uang telah ludes dihabiskan
pengamat kewibawaan untuk mengorek celah kewibawaan manusia terhormat. Dia
sudah letih mengumpat pada manusia lain yang menghinakan dirinya. Dia sudah tak
percaya pada Pengadilan Kewibawaan yang mencampakkannya. Kini pemabuk itu hanya
peduli pada hidupnya yang hina dan terus bertanya-tanya kenapa dirinya bisa
menjadi hina dan bagaimana dia telah menjadi hina yang tak henti-hentinya disampaiakan
pada dirinya yang hina tersebut. Kehinaan yang terus disandangnya tak lain dan tak bukan adalah sesuatu di luar dari dirinya yang hina yang semakin membuat dirinya mengetahui dirinya hina adalah puncak kehinaanya yang tak henti-hentinya dia komat-kamitkan kata hina pada dirinya secara terus menerus, dan Dia menangis sejadi-jadinya dan mati terkapar dengan kehinaan yang dibawanya tanpa peduli pada siapapun dan percaya pada apapun, dan hanya percaya kalau dirinya memang benar-benar hina di muka bumi ini.

Komentar
Posting Komentar