Berguru pada Peristiwa


Beberapa hari ini, saya  ingin berpuasa menggunakan internet dan sedikit menghilangkan candu saya pada sosial media, tetapi hari ini saya berfikir ulang atas keputusan yang saya pilih menjadi hal yang mustahil saya lakukan ketika di kepala saya masih antusias mengetahui kabar ini itu, perkembangan sana sini dan kondisi antah berantah lainnya lagi. Hampir satu hari saya tahan untuk tidak terlalu dekat-dekat dengan gajet saya, karena saya berkomitmen untuk kembali menelusuri jejak-jejak rutinitas saya dan menyesuaikan ritme untuk beradaptasi dengan kebiasaan lama saya untuk sekedar menambah pengetahuan melalui kegiatan seminar. Selama kegiatan tersebut berlangsung saya masih betah-betah saja menikmati acara tersebut, meskipun saya perlu adaptasi yang luar biasa untuk bisa konsentrasi secara penuh memahami materi yang disampaikan sampai selesai. Ya, disitu saya hanya menjadi peserta yang pasif saja, karena saya sedikit kewalahan memahami materi yang disampaikan dan pikiran saya belum totalitas ada di ruangan tersebut sehingga kebosanan melanda seketika itu sampai  saya tertidur di tengah acara yang dilangsungkan. Saat itu saya masih saja berkata pada diri saya sendiri, "gak papa kalau masih belum faham-faham sekali materinya, nanti bisa dipelajari lagi kok" sehingga saya masih kuat mengikutinya sampai selesai.

Selesai acara seminar saya harus tetap membuat diri saya sibuk dan mengingat-ngingat kebiasaan lama saya yang sudah lama sekali saya tinggalkan. Akhirnya selesai buka bersama di acara seminar tersebut saya mengelilingi area kampus dan kembali merasakan situasi dan kondisi yang pernah saya rasakan di awal-awal waktu ketika saya senang berlama-lama ada di kampus. Ketika saya melihat-lihat bangunan-bangunan, tanaman-tanaman, lampu-lampu, jalan yang ada di kampus saya masih belum bisa merasakan diri saya yang dulu. Akhirnya saya memutuskan berhenti sejenak dan memandangi jalanan kampus yang sepi sekali tidak seperti biasanya, saya agak merinding takut saja dan rasanya tidak menyenangkan sekali hanya sendirian saat itu. Waktu ketakutan menghampiri, saya berbicara pada diri saya sendiri lagi, "mungkin ini bulan ramadhan jadi wajar saja kalau waktu maghrib menjelang isya' mereka lebih memilih di tempat lain" yang membuat saya agak tenang sendiri. Selanjutnya saya memilih untuk sholat isya' dan tarawih di masjid kampus untuk kembali mendapatkan rasa yang pernah ada di dalam diri saya, tetapi ketika saya sholat sampai selesaipun saya masih saja belum bisa merasakan apa yang dulu pernah saya rasakan sampai selesai sholat saya tidak ingin pulang terlalu cepat. Saya duduk-duduk di masjid dan berharap bisa melihat bulan, tetapi saya malah melihat menara masjid kampus yang membuat saya kembali bertanya-bertanya kenapa begini dan kenapa begitu lagi sehingga membuat saya capek sendiri dan akhirnya saya biarkan begitu saja pertanyaan-pertanyaan itu dan saya memilih pulang setelah itu.

Waktu perjalanan pulang, tiba-tiba saya ingin membeli jus dan meminumnya di kontrakan tetapi setelah saya membeli jus itu, jus saya terjatuh dan pecah di jalanan sementara plastiknya masih saya pegangi. Di dalam hati, saya berkata lagi, "ahhhhh gak papa wes kalau pecah nanti beli minuman yang lain" sehingga saya membiarkan jus yang tidak bisa saya pungut lagi dan hanya memandanginya saja. Akhirnya saya memutuskan berhenti di indoxxxxx untuk membeli minuman, tetapi sebelum menuju tempat minuman, mata saya melihat jus yang sama jenisnya ada di indoxxxxx, akhirnya saya membatalkan membeli minuman dingin dan memilih jus yang sama dengan jus saya yang jatuh tadi, setelah itu saya melanjutkan perjalanan pulang. Ketika saya tiba di kontrakan, saya meminum jus saya yang rasanya agak beda dengan jus yang langsung di blender, tapi saya sudah terlanjur pengennya minum jus itu jadi ya itu saja yang saya pilih meskipun kekecewaan menghampiri saat meminumnya. Setelah beberapa hal yang saya harapkan tak kunjung saya dapatkan, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu untuk mengumpulkan tenaga supaya saya bisa bangun agak awal sebelum sahur.

Saya harus bangun awal untuk sahur, karena saya belum menanak nasi malam itu dan saya memilih menyalakan alaram pukul dua pagi. Setelah saya terbangun dan mencari-cari beras untuk ditanak, ternyata beras di kontrakan habis dan saya tidak menyadarinya. Saya agak bingung antara membangunkan senior saya yang baru saja tertidur karena begadang  hanya untuk membeli beras di indoxxxxx atau memasak mie instans saja. Kalau nanti tidak membeli beras itu tandanya lauk pauk dan sayur mayur yang sudah dimasak senior saya nantinya tidak termakan sehingga saya menunggu sampai mendekati pukul tiga untuk membangunkan senior saya dan dia juga memilih sahur dengan mie instans dan telur saja. Ketika saya hendak memasak air dan menyalakan kran air, ternyata air di tandon habis dan harus menyalakan sanyo dulu. Setelah sanyo saya nyalakan ternyata pulsa listrik di kontrakan habis dan padamlah sudah kontrakan kami tak bercahaya. Setalah tragedi yang tak menyenangkan datang bertubi-tubi akhirnya saya dan senior saya memilih tidak membeli beras dan memilih tidak memakan mie instan juga, tetapi memilih membeli pulsa listrik dan mencari makanan di luar menjadi satu-satunya pilihan yang bisa kami lakukan kalau kami tidak ingin kelaparan dan gelap-gelapan.

Kondisi dalam satu hari yang disertai dengan kejutan-kejutan tidak menyenangkan itu terus saja membuat saya bertanya-tanya apa maksud dari peristiwa-peristiwa yang saya alami ini. Terkadang saya mengait-ngaitkan dengan peristiwa hari-hari sebelumnya dan mencoba menganalisa versi pribadi untuk saya pahami. Terkadang sesuatu yang kita anggap menyenangkan di masa lalu itu menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dilakukan lagi di masa sekarang. Di masa lalu, saya sangat  antusias apabila ada seminar yang terlihat lumayan bagus tema dan konsep acaranya, sehingga seminar itu menjadi hal yang istimewa karena saya bisa konsentrasi penuh, tetapi mungkin di masa sekarang kesenangan saya sudah mulai berubah dan saya mendapatkan kesenangan tidak dari acara-acara itu lagi, sehingga seminar menjadi hal yang tidak istimewa lagi. Demikian juga ketika  saya di tahun lalu senang sekali untuk menyendiri dan sudah terbiasa sendiri, ketika saya sudah sedikit beradaptasi di keramaian dan mencoba manarik diri lagi untuk menyendiri rasanya sangat aneh dan sepi menjadi hal yang menakutkan.

Waktu saya menjalankan ibadah sholat isya' dan tarawih di kampus menjadi kegiatan yang seperti sangat kosong sekali dan tak menjadi tempat yang mendamaikan menurut saya, karena kedamaian saya mungkin sudah beralih ke tempat lain. Demikian juga ketika saya duduk-duduk di depan masjid, saya dulu pernah merasakan kedamiaan setiap merasakan angin dan melihat menara ataupun air mancur di depannya, tetapi saya masih belum bisa merasakan kedamaian itu saat saya ingin mengulangi kedamaian itu dan hanya kehampaan yang mengahampiri, malah saya mulai berfikir yang tidak-tidak dan kembali  berfikir  dan bertanya-tanya kenapa begini dan kenapa begitu sampai saya memutuskan untuk menutup dan mengakhiri pertanyaan-pertanyaan di benak saya lalu saya  memilih pergi saja dari masjid dan pulang ke kontrakan.

Peristiwa lain yang membuat saya berfikir dan menerka-nerka sendiri lainnya ketika saya menginginkan jus jambu tetapi jus jambu saya yang awal sudah terlanjur jatuh pecah, saya merasa jus jambu kedua yang saya beli rasanya tidak enak sekali. Ketika jus jambu saya pecah dan saya menggantinya jus jambu yang baru, saya seperti diingatkan akan kegagalan-kegalan saya dalam membangun hubungan-hubungan sosial. Kegagalan-kegalan seperti itu membuat saya memilih untuk menjadi pribadi yang antisosial dan sebisa mungkin menghindarkan diri terlibat dalam suatu perkumpulan. Kegagalan-kegalan saya dalam menjalin relasi selama ini juga disebabkan karena kecerobohan saya sendiri yang tidak bisa menjaga hubungan tersebut. Kalau saja saya bisa memprediksi kekuatan plastik dan berat jus jambu yang saya bawa, kemungkinan saya bisa melakukan tindakan pencegahan dengan meminta plastik dobel untuk keamanan jus tersebut, tetapi jus tersebut sudah tidak bisa diajak kompromi dan sudah tercerai berai di jalanan, sehingga satu-satunya pilihan adalah mengikhlaskan jus tersebut dan mengganti jus baru atau minuman lain. Demikian juga dengan hubungan-hubungan sosial yang pernah saya jalani di masa lalu yang dengan mudah pecah tercerai berai karena saya yang kurang mahir memprediksi dan menemukan alternatif-alternatif pilihan untuk bisa menjaga hubungan sosial tetap harmonis meskipun situasi dan kondisi di  dalamnya mengalami kekritisan.

Kejaadian yang tidak menyenangkan bertubi-tubi  menghampiri saya di saat sahur itulah puncak kebingungan saya dalam memahami kehidupan ini. Peristiwa yang melanda saya di saat sahur membuat saya memutuskan untuk mengurungkan niat saya yang hanya mau menulis untuk tugas akhir saja. Satu-satunya yang bisa membuat saya menulis saat ini hanyalah disini, bagaimana saya bisa tetap mempertahankan keinginan saya  untuk menulis tugas akhir kalau bahan, sumber ide dan semangat menulis di dalam diri mengalami kematian. Persis dengan peristiwa yang saya alami tadi malam, saya yang ingin menanak nasi tapi kalau berasnya habis, apa yang bisa saya masak dan demikian juga dengan keinginan saya yang ingin memasak mie dan memerlukan air, ternyata air di tandon habis dan di saat berbarengan pulsa listrik habis, jadi mau tidak mau suka tidak suka keluar dari kontrakan untuk bisa makan dan membeli pulsa listrik itulah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, alhamdulillah uang di kantong masih cukup sehingga saya tidak mengutuk diri sendiri dan mungkin bisa saja ketika kalap, saya bisa mengutuk tuhan karena kekurangjelian saya pada kebutuhan-kebutuhan yang saya pergunakan sendiri. Kondisi demikian tidak akan terjadi, kalau misalnya saya peka untuk mengontrol dan mengecek kebutuhan-kebutuhan yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Sejak adanya kejadian yang tidak menyenangkan menghampiri secara berurutan maka saya mulai mengurungkan niat untuk tidak banyak menggunakan gejet saya dan berehenti stalking sana-sini, akan tetapi mungkin saya merevisi kata-kata saya untuk bisa menggunakan gejet secara bijak dan memberikan manfaat. Bagaimana saya bisa jauh-jauh dari gejet saya kalau disitulah saya bisa mengetahui informasi dan sebagian dari situlah menjadi sumber inspirasi saya. Selaian itu, bagaimana saya berhenti stalking pada beberapa orang kalau orang-orang yang saya stalkingi adalah orang-orang yang memberikan suport dan dukungannya kepada saya serta gagasan-gagasan dan pemikirannya banyak memberikan pengaruh untuk keputusan yang saya pilih, meskipun tidak semua gagasan tersebut cocok dan legowo bisa saya terima.

Saya tidak tahu apakah saya hanya akan mengulangi pola-pola kesalahan saya di masa lalu dengan kegiatan-kegiatan saya di masa sekarang atau saya bisa bertahan disini semua tergantung pada saya dan bagaimana saya bisa beradaptasi pada lingkungan. Saya tidak ingin berekpektasi terlalu tinggi dari kegiatan saya sekarang, saya ingin menjalankan sesuatu yang membuat saya bisa sadar pentingnya suatu kesehatan jiwa, raga dan pikiran. Ketika pola-pola kesalahan lama saya mulai nampak di kegiatan saya di masa sekarang, saya mencoba sekuat tenaga untuk bisa menahan diri dan mencoba untuk bersandar pada kata intropeksi, tetapi itu sungguh tidak mudah bagi saya. Ketika saya sudah mulai mendapatkan kenyamanan maka sisi lain dari diri saya yang berupa keegoisan masih perlu dilatih sekuat tenaga untuk bisa memahami, menghormati dan menghargai sesuatu di luar dari diri saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN