MEMALUKAN MEMILIKI ADEK PEMABUK SEPERTIMU
Mengawali menulis disini
sangat terasa berat, dan berat sekali. Ada banyak hal yang terasa sulit sekali
untuk dijelaskan dan bahkan juga dituliskan. Ada banyak identitas yang ingin
saya gantikan dan saya samarkan dengan identitas lain. Menulis disini berarti
mengobrak-abrik kehidupan yang tidak ingin saya miliki dan saya rasakan.
Tetapi, kehidupan yang sangat tidak saya inginkan telah menghampiri saya dan
saya belum bisa berbuat banyak pada kehidupan yang sangat tidak umum dilakoni
oleh masyarakat yang memiliki tingkat kereligiusan yang tinggi. Keluarga saya
menjadi keluarga yang gagal menjalankan nilai dan norma yang ada di masyarakat
dan kami termasuk orang-orang yang menyimpang dari aturan-aturan umum di
masyarakat sehingga pencibiran dan pengucilan menjadi hal yang biasa bagi
keluarga kami.
Moment lebaran tidak
seharusnya saya menuliskan dan memaparkan kebobrokan hidup yang ada di keluarga
saya. Tapi ketika saya pulang dari Yogyakarta dan mendapati keadaan rumah dan
kondisi keluarga yang sedang dirundung masalah, membuat saya semakin berat
melakukan aktivitas berbagai hal. Saya pulang ke rumah, ada banyak cerita dan
peristiwa yang membuat saya tidak bisa berkata-kata banyak lagi. Setelah saya
pulang ke rumah, saya mendapatkan cerita dari ibu dan kakak saya bahwa adek
bungsu saya terlibat perkelahian dengan temannya di dekat makam, selain itu
adek saya juga kembali dibuat kalap dengan minuman beralkoholnya dan setelah
itu adek saya tengah malam sampai menjelang pagi tubuhnya tak terkendalikan dan
tak terkontrol lagi, adek saya kesurupan kata ibu dan kakak saya. Saya tidak
tahu apakah adek saya kesurupan benar atau dia terlalu banyak minum-minuman
beralkohol masih menjadi hal yang saya bingungkan.
Adek saya sudah seperti
orang gila di tengah malam sampai menjelang pagi. Dia terus meraung kencang dan
berteriak sangat keras, bahkan dia juga meloncat-loncat layaknya kera.
Tangannya menggenggam kaku dan susah sekali untuk dibuka genggamanya supaya
bisa dilemaskan oleh teman-teman yang memeganginya. Tubuhnya meronta dan
mencakar-cakar tanah tembok dan mencakar apapun yang ada di sekelilingnya. Di
saat tubuh adek saya tidak terkontrol dan terkendalikan, banyak tetangga rumah
yang datang menyaksikan saja dan membiarkannya begitu saja. Adek saya menjadi
tontonan di tengah kerumunan warga sekitar rumah kami. Mereka hanya beranggapan
bahwa adek saya itu tengah mabuk berat dan hanya mengganggu tidurnya mereka
tengah malam hari saja. Ibu saya meminta tolong pada saudara dan tetangga
sekitar rumah tetapi diabaikan begitu saja, hanya teman-teman dari adek saya
yang mendekatinya untuk sekedar memeganginya dan mengangakat tubuh adek saya
yang mulai tak berdaya setelah lelah meronta-ronta.
Keponakan saya yang masih
kelas satu SD juga terbangun kaget melihat om yang suka menjahilinya mengamuk
dan meraung tengah malam. Keponakan saya ketakutan setengah mati dan menangis
kencang melihat tubuh adek saya tak terkendalikan dan akhirnya keponakan saya
dibawa masuk untuk tidak melihat tubuh adek saya di luar rumah yang masih belum
terkendalikan.
Cerita-cerita itulah yang
saya dapatkan ketika saya tiba di rumah. Saya miris mendengar musibah yang
dialami adek saya. Kejadian adek saya yang mengamuk tak terkendalikan terjadi
H-5 sebelum lebaran. Setelah itu adek saya hanya diam di rumah dan tak keluar
kemana-mana lagi, karena sebagian tubuhnya lebam dan kaku akibat tindakan yang
dilakukan sendiri olehnya. Ibu selalu menjelaskan kepada saya bahwa adek saya
itu kesurupan, dia menggila tak terkendalikan bukan disebabkan oleh alkohol.
Memang adek saya masih belum menghindari alkohol secara penuh, tapi ibu selalu
menjelaskan adek saya kalau mabuk tidak sampai teler dan bicaranya masih
terkendalikan. Ibu saya sangat yakin bahwa adek saya yang sedang kalap tetap
saja kesurupan namanya. Sampai detik ini saya masih belum faham betul dengan
kesurupan itu benar adanya atau tidak, yang saya fahami atas kejadian yang
menimpa adek saya itu penyebabnya, ya karena ulah yang diperbua oleh adik saya sendiri
yang tak bisa dikendalikan dirinya, hanya itu saja sebatas pemahaman saya. Saya
tak mau berdebat lagi dengan ibu saya dan adek saya, karena bagaimanapun tindakan
adek saya salah dan memang dirinya perlu belajar mengendalikan jiwa dan
pikirannya bisa stabil. Ibu selalu menutup-nutupi kesalahan yang diperbuat adek
saya, tapi bagaimanapun adek saya juga harus mengetahui kalau tindakannya itu
sudah kelewat batas sampai tindakannya menjadi petaka untuk dirinya sendiri.
Di kondisi seperti itu,
ibu mendatangi orang pintar, katanya. Oleh orang pintar tersebut, Ibu diminta
untuk menyebar abu dan garam yang dicampur di dalam rumah kami dan abunya tidak
boleh dibuang keluar rumah dan ibu diharapkan juga tidak bertindak kasar pada
adek saya. Waktu awal saya pulang, saya belum tahu kalau itu salah satu ritual yang
dilakukan ibu saya dan setelah saya memegang sapu dan ingin membersihkan rumah,
ibu berkata pada saya untuk mengumpulkan abu yang ada di dalam rumah di pojokan
pintu, karena abunya tidak boleh dibuang di luar rumah. Saat itu saya cuma terheran-heran
saja mendengar perkataan ibu yang seperti itu. Kalian bisa membayangkan
bagaimana abu dan garam disebar di lantai rumah sementara kami di dalam rumah
tidak memakai alas kaki untuk berjalan. Kaki kami terasa sangat risih, karena
garam yang disebar di lantai itu mengganggu sekali, garam tersebut berubah
menjadi air dan abu yang tadinya kering semakin membuat hiasan rumah di lantai
rumah kami semakin tak karu-karuan. Abu terakhir disebar di dalam rumah ketika
sebelum sholat idul fitri dan akhirnya setelah abu terakhir disebar, saya
memutuskan untuk tidak menyapu bekas abu dan garam yang ada di lantai rumah, tapi
saya memilih mengambil kain pel untuk membersihkan jejak-jejak abu yang dibuang
sembarangan di lantai rumah kami dan mencuci kain pel yang sangat hitam pekat
itu dengan air dan deterjen supaya abunya juga terbuang secara terhormat dan
rumah kamipun juga bersih kembali. Untuk urusan abu dan garam ya sudahlah saya
maklumi dan saya masih saja memikirkan ritual-ritual seperti itu dan
relevansinya dengan kejadian yang dialami adek saya supaya bisa kembali waras
lagi.
Urusan rumah sudah beres
ganti urusan yang berkaitan dengan hubungan antara kami sekeluarga dan adek
bungsu saya yang belum beres. Setelah dia kalap sebelum lebaran datang, dia
hanya istirahat di rumah saja dan tidak banyak keluar lagi seperti hari-hari
sebelumnya. Kakak menjelaskan bahwa adek bungsu kami perilakunya menjadi aneh
dan berubah menjadi pemurung dan dia tidak suka lagi mengganggu
keponakan-keponakanya yang ada di rumah. Dia kerap didapati melamun dan bengong
sepanjang hari dan lebih sering menyendiri dan berbicara sendiri setelah
kejadian kesurupan yang katanya menimpa adek saya tersebut. Setelah saya
mendapatkan cerita dari kakak saya, akhirnya saya perhatikan sedikit
gerak-gerik adek saya itu. Ketika dia berbicara di dekat saya, saya pikir di
awal waktu dia mengajak berbicara dengan saya, tetapi setalah saya pastikan berulang
kali, dia memang berbicara sendiri dan dia benar-benar tidak waras betulan dan
saya hawatir adek saya mendekati gila kalau kelamaan seperti itu. Tapi ini
belum saya sampaikan pada adek saya bahwa dia memang sudah hampir gila dan bisa
jadi dia sudah gila beneran.
Kami satu keluarga masih
bingung melihat kondisi adek saya yang semakin hari semakin tidak waras ini,
kami akhirnya membiarkan dia menenangkan dirinya sejenak dengan dunia yang
tidak bisa kami pahami. Ketika kami tak bisa berkomunikasi dengan adek saya,
kami dibuat tercengang dengan tindakan keponakan saya yang di awal waktu sangat
ketakutan dengan omnya ternyata mencongkel uang dicelengannya untuk dibelikan
bakso dan dihidangkan pada omnya tersebut. Keponakan saya mengaku membelikan
bakso dua kali pada omnya dan keponakan saya sudah tidak ketakutan lagi
mendekati omnya tersebut. Bahkan adek saya merangkul lemas tak berdaya pada
keponakan saya yang masih kelas satu SD itu. Tidak hanya berhenti disitu saja,
kami dibuat tercengang dengan tindakan keponakan saya yang mengembalikan senyuman
pada adek saya, kebetulan di malam takbir keponakan saya baru saja dibelikan
mainan baru, mobil remot kontrol oleh ayahnya, tak disangka dan tak diduga
omnya itulah yang diajak main pertama untuk mengendalikan mobil mainan barunya
tersebut. Tindakan keponakan saya tidak hanya mengembalikan senyum pada adek
saya tetapi juga sudah mengembalikan kejailan adek saya untuk sekedar iseng dan
enggan mengembalikan remot kontrol mobilnya sehingga suara di rumah kembali
ramai lagi dengan merengeknya keponakan saya karena mainannya tak juga
dikembalikan padanya, dan sayapun ikut tertawa
melihat keponakan saya merengek dan ibu sayapun juga kembali menegur
adek saya untuk mengembalikan mainannya. Yaaaa, itu peristiwa yang sungguh
membahagiakan di malam takbir ketika komunikasi di dalam rumah kembali seperti
sedia kala dan yang lebih membahagiakan lagi adalah, adek saya sudah sedikit
agak waras.
Setelah letih menjaili
keponakan saya, akhirnya adek saya sempat keluar rumah lagi. Kami berfikir dia
sudah mulai sehat lagi, karena sudah bersedia keluar rumah dan ternyata
keesokan harinya kami mendengar kabar bahwa adek saya lagi-lagi membeli minuman
beralkohol lagi setelah beberapa hari hanya mendekam di dalam rumah. Di awal
waktu sebelum kami mengetahui bahwa dia kembali mabuk, seharusnya dia perlu
dibiarkan tidak waras saja supaya tidak ada kesempatan baginya untuk keluar rumah
dan dibiarkan hanya di dalam rumah saja. Di pagi hari menjelang sholat idul
fitri saya berusaha berkali-kali membangunkanya tapi diabaikan oleh adek saya,
saya tidak bisa memaksa dia untuk sholat, karena dia sudah baligh jadi tidak
perlu saya paksa-paksa. Akhirnya saya cuma mengelus-ngelus kepalanya supaya
lekas sadar dan kembali normal dan kalau bisa, segera bertaubat itu sangat baik
untuknya. Akhirnya dia mengabaikan saya dan sayapun kembali dengan kesibukan
saya sendiri dan berkata dalam hati “terserah kamu saja, lelah aku
membangunkanmu” dan diapun juga masih enggan beranjak dari kasurnya dan tetap
saja tidak mau sekedar membuka matanya.
Ketika orang-orang selesai
menjalankan ibadah sholat ied, barulah adek saya bangun dari tidurnya dan pergi
ke kamar mandi. Di awal waktu saya berfikir dia akan tidur sepanjang hari saja
waktu lebaran seperti ini, dengan kondisinya yang belum benar-benar waras, tapi
ternyata dia bersedia untuk pergi ke rumah nenek sebelah rumah dan bertemu
dengan paman kami juga, setelah itu kami juga sempat pergi ke salah satu Kyai
yang ada di dekat rumah dan adek saya masih bersedia ikut keluar bersama dan
masih bersedia sekedar mendengarkan doa dari beliau. Sepulang dari rumah Kyai
yang ada di dekat rumah, kami satu keluarga belum sempat keluar dan kami sudah
didatangi tetangga terlebih dahulu dan beberapa kerabat juga. Di awal waktu
kami merasa nyaman-nyaman saja berbincang-bincang dan saling memohon maaf dan
meminta maaf tetapi di tengah kerumunan banyak tamu, salah satu kerabat kami
berkata kepada ibu saya untuk meminta adek saya juga seharusnya diajak untuk
berbincang-bincang dan sayapun juga memanggil adek saya supaya bersedia
berbincang-bincang. Ketika saya meminta dia untuk menuruti apa kata kerabat
tersebut, dia langsung membentak saya dan kembali dia marah atas ungkapan yang
saya sampaikan. Dalam hati saya berkata pada kerabat tersebut, “sudah untung
dan syukur alhamdulillah adek saya sudah bersedia salaman dengan sanak famili
dan tetangga, tapi kenapa orang itu mengatur-ngatur hidup adek saya dan
keluarga saya”. Dari situlah saya merasa jengkel pada adek saya yang
berani-beraninya membentak saya, ketika ada banyak tamu di rumah, dan dari situ
juga saya merasa sangat jengkel pada kerabat saya yang berniat baik untuk
kebaikan keluarga saya tapi dia masih kurang tepat menyampaikannya kepada
keluarga kami. Kata-kata kasar dari adek saya membuat ibu saya sedih lagi dan
kata-kata dari salah satu kerabat itu juga yang membuat ibu saya seperti orang
tua yang gagal mendidik anaknya. Lengkap sudah paket kecewa di lebaran pertama
kami yang akhirnya hanya murung di rumah dan tidak keluar sama sekali satu
harian untuk bersilaturahmi dengan tetangga-tetangga.
Lebaran pertama yang
lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sangat berdampak pada lebaran kedua
kami satu keluarga. Seharusnya kami segera bersilaturahmi ke tetangga-tetangga terdekat
terlebih dahulu baru setelah itu ke tempat famili yang lainnya. Di lebaran
kedua, adek saya tak kunjung bangun dari tidurnya, padahal dia sudah cukup
tidur dan lebih tepatnya kelebihan tidur. Awalnya saya juga malas untuk
melakukan apa-apa, tapi tidak tega melihat ibu yang sibuk sendirian melakukan
pekerjaan rumahnya. Akhirnya dengan tenaga yang belum penuh semangatanya,
pekerjaan saya terasa sangat membosankan tapi tetap saja saya paksakan untuk
mengerjakan beberapa pekerjaan fisik yang bisa dikerjakan dan ibu kembali
dengan kesibukannya sendiri juga. Hanya kakak dan anak-anaknya yang keluar
untuk bersilatuhami dengan keluarganya sendiri di rumah mertuanya.
Siang hari ini sekitar
pukul 13.30 adek saya baru mau bangun dari tidurnya, itupun juga karena ada
teman SMAnya yang datang ke rumah, kalau tidak ada tamu untuknya mungkin saja
dia hanya menghabiskan waktunya terkapar dan bengong melamun sepanjang hari.
Temannya yang datang ke rumah, gerak-geriknya juga satu dua dengan adek saya,
sehingga saya memutuskan untuk bercakap-cakap sebentar dengan teman-temannya,
tapi seperti biasa, kalau saya terlalu asyik berbincang-bincang dengan
teman-temanya saya langsung diusir oleh adek saya di depan teman-temanya. “Sakit
kan kalau kalian digituin???” Tapi karena saya kakak yang baik jadi saya cuek
bebek saja dikata-katain adek saya, dan saya kembali bertanya-tanya pada mereka-mereka yang bisa saya tanyai dan
bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya juga tidak hanya
bertanya-tanya pada teman-teman adek saya, tapi saya juga berani mengumpat
kelakuan adek saya yang kepalanya lagi soak dan akalnya sedang tidak sehat.
Saya katakan kejengkelan saya beberapa hari ini pada teman-temannya dan
merekapun juga geleng-geleng kepala melihat kelakuan adek saya yang sedang
dalam bahaya ini, dan adek sayapun juga sempat tersenyum malu di depan
teman-temannya atas kelakukan yang dibuatnya sendiri. Dari situ, saya sudah
agak lega sedikit, adek saya sudah sedikit agak sadar kalau tindakanya itu
memang salah, ya tapi itu masih sedikit sadaranya belum totalitas sadar kalau
tindakannya itu benar-benar salah. Mengerti kamu?
Setelah saya puas
berlama-lama berbincang-bincang dengan teman-teman adek saya dan menghina adek
saya, akhirnya saya meninggalkan adek saya berbincang-bincang dengan teman-temanya,
dan saya sibuk memikirkan hal lain yang membuat saya bisa semakin tenang.
Setelah saya menepi sebentar dan mengecek gajet
dan mencari petuah-petuah dan jejak peradaban kisah-kisah lampau yang bisa saya
pelajari maka sekuat mungkin saya coba untuk pahami kata demi kata secara
bertahap. Saya masih tetap akan terus belajar sesuatu yang perlu saya pelajari
dan saya tidak boleh kalah dilindas kekalahan itu sendiri. Demikian juga dengan
kisah tragis yang melanda adek saya, akan saya bantai habis adek saya yang tak
juga berhenti meminum alkohol yang menjadi kekasih hatinya itu. Saya jengkel kalau
dibuat kesal oleh adek saya yang lebih sayang pada alkohol daripada sayang pada
manusia yang menyanyanginya. Bagaimana bisa adek saya ini jatuh cinta pada alkohol
padahal alkohol saja tidak peduli pada nasibnya dia? Ahhhhhh namanya adek saya
sedang tidak waras jadi bagaimana saya bisa menjelaskan ini padanya coba?
Ketika saya terus
bertanya-tanya pada diri saya sendiri terkait kondisi adek saya yang bikin pening
satu rumah, tiba-tiba dia menghampiri saya dan berkata pada saya bahwa
teman-temannya mau pamitan. Saya rasanya ingin sujud syukur saja, setelah tadi
diusir dan tiba-tiba adek saya meminta saya untuk menemui teman-temannya lagi.
Bagi saya, ini petunjuk baru, karena adek saya masih menganggap saya masih ada dan
ini pertanda adek saya masih waras dan dia memiliki harapan kewarasan yang
tinggi juga dalam angan-angan saya. Setelah saya berharap-harap cemas tentang kewarasan
adek saya, akhirnya saya menemui teman-temannya dan lagi-lagi saya bertanya-tanya
pada mereka yang katannya mau keluar bersama. Saya menanyakan kemana mereka
akan keluar, dan katanya, mereka ingin ke tempat sebagian guru SMAnya mereka
untuk bersilaturahmi. Akhirnya sayapun berpesan kepada mereka ketika keluar
nanti untuk tidak menerima suguhan sebotol alkohol dari pihak-pihak yang
dikunjungi oleh mereka untuk bersilaturahmi dan merekapun ketawa terbahak-bahak
mendengar itu.
Saya bersyukur ada
teman-teman adek saya yang berkunjung ke rumah untuk bersilaturahmi dan kembali
membuat adek saya tertawa lagi setelah satu hari dia kembali murung dan sedikit
mengeluarkan kata-kata kasarnya lagi. Saya berharap pada adek saya setelah
pulang bersilaturahmi bersama teman-temannya tidak kembali membuat orang rumah
ikutan menjadi tidak waras juga. Setelah adek saya ketahuan masih meneguk
minuman beralkohol ibu saya hari ini kembali menebar abu dan garam di dalam
rumah. Ini yang paling membuat sedih hidup saya daripada saya harus melihat
adek saya yang mabuk gak jelas itu. Ibu saya dibuat aneh juga dengan ritualnya
itu, dan saya baru tahu juga bahwa ada ritual tambahan mengelilingi halaman luar
rumah untuk disiraminya dengan air. Sungguh miris nasib kelurga saya satu rumah
dan saya lebih miris lagi ketika menuliskannya disini.
Saya berharap pada adek
saya untuk hari ini dan untuk hari-hari berikutnya kalau masih kedapatan dan
ketahuan meneguk minuman beralkohol dan saya masih melihat ibu menabur-naburi
lantai rumah dengan abu dan garamnya, maka garam dan abu yang disebar oleh ibu
saya akan lebih etis, kalau saya jejalkan ke mulut adek saya sebagai pengganti
minuman beralkohol. Lebih baik adek saya mati makan abu dan garam itu daripada
saya tambah gila melihat ibu saya yang setiap hari menabur garam dan abu di lantai
rumah, dan saya bisa gila setiap hari karena harus mengepel abu-abu dan garam
yang bikin risih kaki melangkah di rumah sendiri.
“Tindakanmu yang kurang
waras itu membuat langkah gerak keluarga kita menjadi tidak normal semua, dan
itu ME-MA-LU-KAN, ME-MA-LU-KAN, Yaaaa...... MEMALUKAN!!!!!!!! Apa kau faham
dengan kata-kata itu???? Apakah kau tidak punya rasa malu????? Aku MALU DODOL
punya adek PEMABUK SEPERTIMU!!!!!!!! Kalau kau tak ingin membuat keluarga ini
jadi tontonan lagi, segeralah pulang dengan kondisi yang WARAS dan memohonlah
pada ibu untuk menghentikan tindakannya yang aneh seperti tindakanmu yang TAK
WARAS dan aku juga akan berhenti menuliskan tindakanmu yang TAK WARAS ini,
FAHAM KAU!!!!!!!!”
“INGAT ITU DAN CAMKAN
INI!!!!!
KALAU KAU MASIH PULANG
DENGAN KONDISI MABUK, GARAM DAN ABU AKAN KUJEJALKAN KE MULUTMU, KALAU SAJA KAU
MASIH MEMBENTAKKU BOTOLMU ITU YANG AKAN KULAYANGKAN DI KEPALAMU SEBELUM KAU
MELAYANGKAN DI KEPALAKU!!!!!!!!!
FAHAM KAU!!!!!!!!!!"

Komentar
Posting Komentar