Menyiram Percik Api
Ibuuuuu, saya pulang,
tapi saya masih takut untuk berbincang-bincang secara lebih serius dengan ibu.
Beberapa hari ini, kehidupan saya terasa sangat aneh sekali. Jiwa dan pikiran
saya terasa dibenturkan sana-sini. Kondisi yang saya alami ini, sungguh sangat
menyedihkan sekali. Sekuat tenaga saya menjaga dan mengamankan benteng
pertahanan diri saya, sekuat tenaga itu juga serangan dan hantaman kanan kiri
terus menyerbu dan merobohkan benteng tersebut. Sesuatu yang sangat ingin saya
tutupi selama hampir dua tahun ini, saya hanya mampu menyimpannya di dalam hati
saja, dan saya tak ingin menorehkan kisah tersebut disini. Menorehkan kisah
disini, sama halnya dengan saya menghancurkan diri saya untuk bisa mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Tapi, untuk saat ini, sepertinya apa yang ingin saya
sembunyikan hanya akan menjadi hal yang menambah beban hidup saya semakin berat
saja, apabila saya tak juga menuliskannya.
Saya sudah pulang di
rumah, tapi saya masih merasa sangat linglung sekali. Kembali pulang, berarti
kembali dihadapkan pada realitas kehidupan yang harus saya terima keadaanya.
Saya melihat diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu sangat berbeda
sekali. Hampir dua tahun ini, setiap saya pulang, saya hanya terdiam di dalam
kamar, cuma banyak melamun di depan TV, dan terkadang saya menghabiskan waktu bengong
sambil memandangi pepohonan sekitar rumah, tanpa melakukan aktivitas apapun
yang membuat saya bersemangat menjalani hari-hari saya di kampung halaman. Saya
yang biasanya sangat gemar bersosialisasi dan tegur sapa dengan teman,
tetangga, saudara dekat maupun saudara jauh di tahun-tahun sebelumnya,
kebiasaan itu mendadak saya tinggalkan begitu saja. Dua tahun terakhir ini,
setiap saya pulang, saya tak ingin pergi keluar kemanapun dan bertemu banyak
orang, saya hanya ingin menghabiskan waktu di rumah, di dalam kamar, dan tidak berhasrat melakukan kegiatan
apapun, bahkan saya tak mau pergi menemani kegiatan ibu yang biasanya saya
lakukan di tahun-tahun sebelumnya dengan riang gembira, kalaupun saya mau pergi
keluar bersama ibu, saya hanya diam dan memasang muka yang sungguh tak enak di
pandang. Saya menjadi sangat pemurung dan malas berbicara dengan siapapun, saya
pulang ke rumahpun lebih memilih membawa buku yang seharusnya saya tinggalkan
di perantauan, tetapi sebagian buku-buku itu masih saja saya agung-agungkan, dan
tetap menjadi prioritas utama saya untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Ya, saya diberi
kesempatan menempuh pendidikan lagi di jenjang strata dua oleh keluarga saya. Tetapi,
setelah saya menjalani hari-hari saya sebagai kaum akademisi, yang rata-rata
dari mereka berasal dari kalangan menengah ke atas status sosial ekonominya,
serta melihat lingkungan yang begitu beragam budayanya dan teman yang
beranekaragam karakternya membuat saya sedikit ciut untuk bisa beradaptasi di
bangku kuliah. Saya cenderung sangat tertutup dan membatasi pergaulan saya
dengan teman-teman saya di bangku perkuliahan. Saya berusaha sebisa mungkin
untuk menyamakan kedudukan saya dengan kedudukan teman-teman saya di kampus supaya
bisa sepadan. Dengan memaksa diri saya untuk bisa berbaur dengan teman-teman
yang beragam, maka seiring berjalannya waktu gaya hidup saya juga sangat banyak
mengalami perubahan. Ketika gaya hidup saya mulai terkontaminasi dengan gaya
hidup di lingkungan di luar kebiasaan saya, maka untuk memenuhi standar gaya
hidup itu, saya terus memaksa keluarga saya untuk mengupayakan bisa mencukupi
kebutuhan saya, sesuai standar kaum akademisi di bangku perkuliahan di jenjang
strata dua.
Diantara saudara-saudara
saya yang lain yang ada di rumah, saya yang selalu mendapatkan kesempatan dan diberikan
kesempatan untuk bisa mengembangkan pendidikan yang lebih baik. Saya bisa
mendapatkan kartu paling istimewa untuk bisa mengakses pendidikan paling tinggi
di antara saudara saya yang lainnya. Harapan dari ibu saat itu, ketika saya
diberikan restu untuk melanjutkan pendidikan saya adalah, supaya saya bisa
menghormati keluarga dan memiliki kepedulian yang lebih tinggi juga. Tetapi,
dua tahun terakhir ini, setiap saya pulang, saya hanya memperparah kondisi dan
keharmonisan di dalam rumah menjadi tercerai-berai. Sedikit keinginan saya tak
terpenuhi, seketika itu juga saya selalu marah dan tidak mentoleransi suatu
kata TIDAK maupun kata PENOLAKAN dari ibu maupun dari saudara-saudara saya.
Hanya kata IYA dan tak ada kata TIDAK atas suatu keinginan saya yang harus
terpenuhi seketika itu juga. Upaya kanan-kiri, terjang sana-sini, hantam
ini-itu menjadi tindakan yang dipilih keluarga saya untuk bisa memenuhi kemauan
saya yang harus dituruti. Berkata TIDAK pada keinginan yang saya miliki,
berarti kata MENYERAH seketika itu dan KEGAGALAN melanda saya seketika itu
juga. Saya tidak mengampuni diri sendiri dan orang lain yang tak bisa diajak
berkompromi untuk menyelesaikan misi dan mendapatkan capaian terbaik yang harus
terus diperjuangkan.
Berulang kali ibu sering
berkata pada saya untuk hidup sesuai batas kemampuan saya sendiri dan belajar menahan diri dan jangan terus-terusan
bertindak sesuatu yang nekat di luar batas kemampuan diri saya. Tetapi nasehat
itu selalu saja saya abaikan, tetap saja ambisius untuk bertahan di persaingan
dunia akademisi saya pertahankan dan saya kejar terus, supaya saya tidak
mengalami ketertinggalan dengan teman-teman saya yang lainnya. Berbagai cara
dan upaya saya halalkan untuk bisa mencapai apa yang ingin saya capai dan
menutup rapat-rapat jalan penempuhan yang sudah saya pilih di lingkungan saya
berbaur. Untuk menutupi ketertinggalan saya di bangku akademik, maka
keluargalah yang selalu saya usik ketenangannya, supaya bisa terus membantu
mencukupi kebutuhan saya serta gaya hidup sesuai standar kalangan akademisi.
Saya terus menerus memeras perekonomian keluarga saya, sampai keluarga saya
sendiri merasa susah untuk bisa bernafas menikmati hidup. Saya menjadi orang
yang paling tega dan paling jahat menuntut keluarga untuk bisa mempermudah
langkah saya mencapai capaian terbaik yang bisa saya kejar dan saya upayakan.
Tindakan saya sudah
sangat melampaui batas. Keluarga menjadi korban kegarangan saya untuk bisa
menyesuaikan kehidupan kaum intelektual di bangku perkuliahan. Ibu hanya ingin
melihat saya bahagia dengan apa yang saya perjuangkan selama ini di dunia
pendidikan, sehingga ibu dan keluarga di rumah, sangat merelakan seluruh tenaga
dan kekayaannya dikorbankan hanya untuk pendidikan saya. Tapi saya belum
memberikan kabar kepada ibu, bahwa saya telah hancur dan gagal di bidang
akademik. Saya tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang ingin saya
perjuangkan. Saya bukan lagi berjuang untuk perjuangan, tetapi saya telah
membabi buta dalam menuntut ilmu yang mengatasnamakan pendidikan sebagai kedok
untuk capaian dan hasrat saya pada kepentingan-kepentingan di luar dari hakikat
menuntut ilmu itu sendiri.
Ibuuuuuuu......, saya
telah menyelewengkan amanah yang telah diberikan kepada saya dalam menuntut
ilmu. Pendidikan yang saya miliki tidak mampu mengarahkan saya untuk bisa
menghormati ibu dan keluarga yang ada di rumah. Saya hanya menjadi sosok mayat
hidup yang berjalan di muka bumi ini, hanya untuk mencapai tarjet optimal dan
maksimal bisa bersaing di bangku perkuliahan. Pendidikan yang saya
damba-dambakan selama dua tahun terakhir ini, ternyata belum mampu saya pahami
secara dalam ibuuuuu. Sekarang saya dalam kehancuran yang nyata ibuuuuu.
Ibuuuuu......., saya
tidak tahu lagi, bagaimana saya bisa lepas dan mengikhlaskan semua keambisiusan
itu tidak menjadi raja di dalam hidup saya lagi buuuuu’. Ketakutan kerap
melanda, ketika saya berhenti dan membiarkan keambisiusan tidak ada di samping
saya, karena bisa jadi, dialah yang
mengantarkan saya sampai mencicipi banyak hal, serta mendapatkan banyak hal darinya juga, dan
bahkan, bisa jadi, darinya juga saya banyak belajar kenekatan dan keberanian yang
kelewat batas. Ibuuuuu....., apakah saya bisa dengan legowo dan ikhlas melepas
semua belenggu dalam diri saya ini untuk istirahat sejenak atau mungkin
membuangnya jauh-jauh dari hidup ini? Beraaaaat sekali rasanya ibu, untuk bisa
meninggalkan sesuatu yang sudah pernah melekat kuat di dalam diri ini.
Ibuuuuuuu....., apakah ibu nanti akan kecewa kalau saya tidak mampu menuntaskan
apa yang sudah saya kejar-kejar sebelumnya buuuuu’??????? Ibuuuuu....., apakah
ibu nanti akan malu kalau saya tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang sudah saya
tekuni dan saya usahakan buuuu’???? Ibuuuuuu...... apakah ibu akan marah dan
menyesal pada saya karena telah memperjuangkan orang yang tidak bisa diandalkan
buuuuu???? Ibuuuuuuu...... tolong jawab pertanyaan-pertanyaan saya buuuuu’!!!!!Ibuuuuuu saya mohon jangan berdiam diri terus menatap saya seperti itu terus ibuuuuu.
Ibuuuuuu maafkan putrimu yang telah gagal ini buuuuuuu’. Ibuuuuuuuu..... saya
tidak berani menjelaskan kehancuran yang saya alami ini buuuuuuu’. Saya harus
bagaimana lagi buuuuuu’? Maafkan putrimu yang telah membuatmu kecewa buuuuuuu’.
Maafkan putrimu yang telah banyak lalai dan telah mengabaikan nasehat-nasehat
yang telah ibu berikan pada saya buuuuuu’. Ibuuuu....., saya tidak kuat lagi
berkata-kata lagi pada ibuuuuuu atas semua kesalahan yang sudah saya perbuat
buuuuuuu’. Saya ingin pulang bu, pulang yang benar-benar pulang bertemu dengan
ibu dan menemani ibu di rumah.
Ibu saya telah gagal
kuliah bu’. Tenaga saya sudah habis. Kerisauan melanda saya setiap hari bu’. Tak
ada hal yang lebih membahagiakan untuk saya saat ini buuuu’, kecuali bisa berada
disisimu dan menghabiskan waktu bersamamu, Buuuuu’, hanya ini yang
bisa membuat saya bahagia saat ini Buuuuu'. Masih bisakah saya sedikit merasakan tenang
di tengah kehancuran yang saya alami ini bu’? mohon doanya bu’, untuk kelunakan
hati ini bisa menerima kondisi kehancuran yang sudah saya alami ini bu’. Mohon doanya
bu’, diri ini masih bisa menjaga ketegaran dan bisa melangkahkan kaki ini di tengah kegagalan
peperangan yang pernah saya alami ini bu’. Mohon doanya bu’ untuk bisa
melepaskan teman yang harus dilepaskan dan bisa menyiram percik-percik api
kerinduan yang apabila dia datang menghampiri di pertemuan yang tak terduga dan
tak disangka Bu’.

Komentar
Posting Komentar