"OTENTIK" dan "SAHABAT", DUA KATA YANG TERINGAT


Pertama kali mendengar kata otentik dan sahabat, saya dibuat tertegun dan takjub dengan kekuatan kata-kata itu. Kata-kata itu seperti menjadi pencerah dan penerang jalan saya untuk terus bisa ada di dekatnya. Kata-kata itu sangat indah sekali dan saya dibuat takluk untuk tidak menyangkalnya dan mempertanyakanya lagi. Selama saya masih mengingat kata-kata itu saya masih bisa nurut dan patuh pada petuah-petuah yang disampaikan dan nasehat yang diberikan secara tersirat, tapi setelah beberapa bulan terakhir mungkin saya sudah melupakan kata-kata itu dan terus memberontak dan meronta menyanggah banyak hal.

Ketika saya masih tergila-gila dengan kata otentik dan sahabat, dunia terasa damai dan tentram sekali, tetapi setelah saya semakin terus mengikuti kekuatan kata-kata itu, saya jadi mempertanyakan ulang dua kata yang saya anggap istimewa tersebut. Saya sudah seperti orang yang hilang kendali marah sana-sini, emosi meluap dimana-mana dan orang lain menjadi sasaran amuk saya. Saya merasa kekuatan kata itu juga menuntut saya untuk merubah kehidupan yang saya miliki, tapi saya merasa masih belum siap dan mumpuni untuk berubah secara cepat dan drastis. Saya masih perlu belajar yang lainnya juga dan saya merasa saya belum bisa sepenuhnya kalau harus tunduk dan patuh pada kata otentik dan sahabat itu. Saya masih belum merelakan dunia saya yang lainnya terenggut dan kebebasan saya dalam memahami banyak hal bisa tercerabut.

Semakin lama saya mencoba sekuat yang saya bisa untuk terus bertahan dan tidak memberontak, semakin saya gagal untuk tidak melawan. Untaian kata dan nasehat yang dulunya menjadi sumber pencerahan, kini saya lawan dan saya abaikan bagaikan angin lalu yang lewat saja, tapi entahlah kenapa saya hanya melanggengkan kebiasaan buruk yang pernah ada di dalam diri menjadi karakter yang mendominasi di dalam hidup ini. Bagaimana bisa kebiasaan buruk saya akan menghancurkan hubungan yang sangat susah saya bisa berada di lingkaran tersebut  dan saya dapat merasakan kenyamanan berada di dalamnya kalau saya tidak mampu untuk membenahi kebiasaan buruk yang sudah sepatutnya ditinggalkan. Mungkin dari situ saya perlu mengingat-nginat lagi bagaimana saya jatuh cinta dan tergila-gila pada kata-kata yang sangat sakral dan membawa kehidupan baru yang benar-benar berbeda dengan kehidupan saya sebelum-sebelumnya. Kekuatan kata-kata itulah yang sedikit membuat saya bisa bisa terbuka lagi melihat kehidupan yang lebih luas, kekuatan kata-kata itulah yang membuat saya bertemu dengan orang-orang baru yang mengisi warna-warni kehidupan ini lagi, kekuatan kata-kata itu jugalah yang telah membawa canda dan tawa bisa saya rasakan lagi. Lalu bagaimana bisa saya lebih memilih untuk meninggalkan sesuatu yang telah membawa kehidupan saya ke arah yang lebih baik? Apakah saya hanya akan menyesal saja di ujung akhir cerita karena saya lebih memilih untuk meninggalkan dua kata penting yang sudah sangat terpatri di dalam pikiran dan lubuk hati terdalam?

Sepertinya cukup itu dulu saja untuk membuat saya bisa belajar bersyukur atas nikmat yang telah saya dapatkan selama saya berada di area keotentikan dan persahabatan. Saya belum bisa menulis banyak lagi tentang otentik dan sahabat, saya hanya memohon doa supaya saya bisa merasakan bagaimana saya menjadi orang yang belajar bisa menghormati pada guru dan orang-orang disekitarnya yang telah memberikan ilmu pada saya  serta terhindar dari kesombongan dan kecongka'an dalam menuntut ilmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN