PEMABUK YANG TAK LAGI MABUK
Jengkel sekali hari ini
ketika saya sedang bahagia sedikit, dan bisa sedikit ketawa ngakak, ibu
langsung marah-marah pada saya. Kata-kata ibu yang menyinggung pendidikan yang
saya miliki, dan dikaitkan dengan ketawa saya yang ngakak ini membuat saya mati
kutu tak bisa banyak membantah. Tadi pagi saya merasa bahagia sekali, karena
saya sedikit membaca petuah Sang Guru di salah satu buku yang disunting oleh
beliu. Buku yang saya baca ini benar-benar membuat saya yakin dan benar-benar
yakin adek saya yang pemabuk itu benar-benar memiliki kemampuan yang diluar
nalar manusia normal. Tapi, bagaimana saya menjelaskan pada ibu yang dari kemaren tidak bisa tidur karena
terus-terusan memikirkan putra kesayangannya tapi putra kesayangannya itu entah
dimana rasa sayangnya pada ibunya tercinta itu.
Adek saya yang diberi
kesempatan untuk keluar bersama teman-temannya kemaren itu tak kunjung pulang
juga sampai pukul 22.00 malam. Ibu kepikiran terus dan tak henti-hentinya
menanyakan kondisi adek saya, yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya, karena
nomor handphonnya juga tidak bisa dihubungi. Ibu semakin menjadi
kehawatirannya, ketika saudara kembar adek saya pulang ke rumah sekitar pukul
21.30. Adek saya yang satunya ini pulang sambil marah-marah dan menjelaskan,
bahwa dia malu mendampingi saudara kembarnya yang juga berbicara ngelantur
ketika bersama teman-temannya. Adek saya yang satunya ini terus saja nyerocos kepada
kami untuk segera memeriksakan saudara kembarnya ke rumah sakit jiwa dan juga
segera diungsikan untuk tidak tinggal di desa tercinta kami ini, karena tingkah
laku saudara kembarnya semakin hari semakin tidak waras meskipun tidak sedang
mabuk dan sedang tidak meminum minuman beralkohol.
Adek kembar saya yang
terus marah-marah pada kembaranya mengatakan bahwa dia juga kadang masih mabuk
tapi mabuknya tidak sampai membuat dia kehilangan akalnya secara penuh dan dia
masih bisa mengendalikan akalnya. Adek saya satunya yang lebih dekat
kembarannya menjelaskan bahwa saudaranya itu sedang tidak kuat mikir
permasalahan hidupnya. Dia juga berspekulasi bahwa kembarannya bisa jadi juga
pura-pura gila untuk menutupi rasa malunya yang pernah dilakukan ketika kalap
di H-5 lebaran saat itu. Adek saya yang satunya ini, kemaren keluar bersama
dengan saudara kembarnya dan teman-temannya, tapi setelah diajak pulang tak
kunjung mau pulang, akhirnya adek saya yang sedang mendekati gila ditinggal
pulang duluan dan dibiarkan begitu saja bersama teman-temanya yang lain. Ketika
adek kembar saya berangkat bermain bersama tapi pulangnya tak berbarengan
semakin membuat pikiran ibu kemana-kemana, dan semakin hawatir adek saya akan
mabuk lagi meneguk minuman keras. Ibu terus bertanya pada adek saya yang pulang
duluan ini terkait keberadaan saudara kembarnya tersebut, tapi diabaikan begitu
saja oleh adek saya, karena dia sudah marah-marah duluan untuk meminta ibu
mengungsikan kembarannya ke lain tempat karena dia malu menemaninya bertamu
dengan teman-temannya yang sedang tidak mabuk dan tidak pesta minuman keras
tapi adek saya sendiri yang bicaranya ngelantur dan terus saja berbicara
sendiri ketika bersama teman-temannya.
Kabar terbaru kondisi
adek saya yang semakin parah membuat ibu tidak bisa tidur, tapi saya tidak mau
ambil pusing seperti ibu. Saya harus mengumpulkan tenaga juga untuk mencari
strategi lain supaya dia tidak semakin gila beneran dan saya memilih tidur
dengan tenang. Tapi ketenangan tidur saya terusik ketika saya terbangun sekitar
pukul 02.30 pagi hanya untuk ke kamar mandi. Ketika saya terbangun dan menuju
arah kamar mandi, saya melihat adek saya sedang ada di dapur dan dia sedang
menggoreng tempe. Setelah saya selesai dari kamar mandi rasanya ingin kembali
tidur lagi, tapi akhirnya saya batalkan dan memutuskan untuk basa-basi dengan
adek saya bercakap-cakap sebentar. Ternyata dia baru pulang main dan nongkrong
bersama teman-temannya. Saya bercakap-cakap dengan dia dan saya yakin,
benar-benar yakin, bahwa dia berbicara dengan waras dan menjawab pertanyaan
saya dengan wajar. Akhirnya saya biarkan saja dia makan duluan dan saya
meluangkan waktu sejanak membuka buku yang saya bawa dari Jogja yang sudah saya
berikan pada adek saya tapi tidak dibacanya sama sekali dan dibiarkan
tergeletak di kamarnya. Saya memutuskan untuk mengambil buku tersebut dan saya
membacanya sebentar di dekat ruangan meja makan sambil saya mengamati
gerak-gerik adek saya juga.
Ketika saya sedikit agak
tenang kondisi adek saya yang sudah mulai agak waras lagi, akhirnya setelah
saya sedikit mebaca buku, dan adek saya kembali ke kamarnya, saya ikutan ke
kamarnya untuk numpang melihat TV juga. Ketika saya berbaringan di
kamarnya dan asyik melihat TV dan mensabotase kamarnya, dia tidak bisa bergerak
bebas dan hanya bisa duduk di pojokan dan saya langsung diusir olehnya untuk
disuruh kembali tidur di kamar saya sendiri. Di saat saya diusir oleh adek
saya, berarti dia masih waras, dan itu tandanya dia memang benar-benar tidak
mabuk dan akhirnya dengan suka rela saya keluar dari kamar adek saya dan
memilih makan camilan di ruang tamu dan saya kembali membuka buku yang masih
sepintas saja saya buka di awal waktu.
Ketika saya membaca buku
ini, ternyata buku yang saya baca sungguh sangat membantu saya untuk semakin
yakin, bahwa adek saya ini manusia pilihan yang tidak semua orang bisa
melakukan sesuatu yang dilakukan oleh adek saya. Di buku yang saya beli di
Yogyakarta teryata disunting oleh Sang Guru juga, di salah satu halaman buku
tersebut ada senandung cinta yang dipersembahkan untuk pemabuk. Saya sungguh
kaget membaca tulisan tersebut yang menjelaskan kondisi orang mabuk yang sudah
gila sebagai pertanda penyerahan akal dan hatinya. Ini semakin memberi petunjuk
kepada saya dan keluaraga saya untuk tidak boleh menyerah dengan upaya penyerahan
diri adek saya pada Yang Berkuasa. Kalau adek saya belum sempat membaca buku
tersebut saya tuliskan ulang tulisan yang disunting oleh Sang Guru di buku yang
berjudul “Maulana Rumi Rubaiyat Senandung Cinta” sebagai berikut :
Dalam keadaan mabuk, kulemparkan
diriku dengan bara api.
Agar kulihat kekasih tercinta yang
ada disana.
Kadang-kadang kakiku ini
mengantarkan kepada tujuanku.
Kadang-kadang kuserahkan kepalaku
sebagaimana sudah kuserahkan hatiku.
Mudah-mudahan adek saya
faham dengan tulisan ini dan bisa memahami tulisan-tulisan di buku yang belum
dibacanya sama sekali. Karena saya terlalu yakin membaca tulisan tersebut, saya
hanya ketawa-ketawa saja melihat ibu saya yang terus resah dan gelisah. Ketika
saya berkata pada ibu saya untuk tidak terlalu serius menganggap ulah adek saya
yang membuat orang satu rumah pusing, seketika itu juga saya dimarahin
habis-habisan, dan selalu kalau seperti ini senjata pendidikan saya yang jadi
jurus untuk memaki kelakuan saya yang tak berpendidikan. Sungguh merusak sekali
omelan dari ibu yang membuat suasana hati saya yang terlalu berbunga-bunga
menjadi manusia yang hancur lebur, tak berguna dan tak bisa memahami perasaan ibu. Tapi karena
saya masih susah menjelaskan keyakinan saya ini, akhirnya saya cuma
cengar-cengir sendiri asyik di dunia keyakinan saya sendiri, sampai kakak saya
terheran-heran dan meledek saya, bahwa saya sudah ikutan gila seperti adek saya.
Saking bahagianya saya mendapatkan bacaan baru yang menguatkan keyakinan saya,
sampai saya lupa, bahwa saya telah berlaku tidak sopan kepada salah satu utusan
Sang Penguasa dengan cara meminta maaf masih disertai dengan kenyiyiran.
Mudah-mudahan utusan Sang Penguasa tersebut memaklumi kebahagiaan saya yang mungkin terlalu cepat
saya rasakan dan benar-benar memaafkan tindakan saya yang mungkin kurang
berkenan.
Saya terus saja
cengar-cengir meskipun ibu memarahi saya dan berkali-kali juga saya menengok ke
kamar adek saya yang belum tidur sama sekali dan hanya berbaringan di kasur
melihat TV. Ketika saya melihat adek saya yang belum bisa tidur juga, saya
semakin yakin bahwa penyerahan akal dan hatinya semakin menuju titik terang
benderang dan dia akan menjadi manusia yang mungkin lebih bijak dan lebih
dewasa dari saya ataupun saudara-saudara saya yang lainnya, mudah-mudahan dia
masih bisa bertahan dan diberi kekuatan untuk bisa menyerahkan dirinya secara
penuh untuk bertemu tujuan hidupnya. Ketika ibu saya terus-terusan marah dengan
kelakuan saya yang dianggap tidak bisa menghargai perasaan adek saya yang
sedang kesusahan, ibu terus saja menghampiri adek saya dan menyentuh kening,
tangan dan kakinya. Ibu merasa sedih melihat kondisi tubuh adek saya yang
terasa anyep (suhu tubuh yang agak
kedinginan tetapi tidak sampai menggigil). Adek saya juga berkata pada ibu saya
bahwa tubuhnya sudah seperti abu, dan ibu saya semakin tidak karu-karuan, dan
saya semakin cengar-cengir melihat adek saya yang memalingkan wajahnya dari
saya. Itu semakin menunjukkan pertanda bahwa adek saya juga membaca tulisan
saya ini, dan mudah-mudahan dia bisa kuat menghadapi ujiannya ini dan bisa
bersabar mengontrol pikiran dan hatinya tetap mengingatNya.
Melihat adek saya yang
terus memalingkan wajahnya dari saya, akhirnya saya memutuskan untuk memutar
lagu-lagu Raihan secara kencang-kencang di pagi hari supaya hidup adik saya
semakin terusik dan mau terbangun dari keterpurukan yang melandanya. Sepanjang
pagi sampai pukul 08.00 pagi, lagu itu terus saya putar berulang kali, tetapi
setelah saya melihat adek saya yang awalnya tak menggunakan headset di telinganya, ketika saya
kembali menengok kamarnya, adek saya langsung tidak mau menatap wajah saya dan
dia berpura-pura membenarkan headset di telinganya tersebut supaya
tidak terganggu dengan lagu-lagu Raihan yang saya putar kencang-kencang. Setelah
saya jenuh mengganggu ketenangan adek saya, akhirnya saya mematikan lagu-lagu
Raihan yang saya putar kencang-kencang di pagi hari dan membiarkan dia
menikmati waktu istirahatnya yang belum dia rasakan sejak dia main sampai pagi
hari.
Pagi ini, ibu mengajak kami
satu keluarga untuk bersilaturahmi ke beberapa kerabat dan ibupun juga mengajak
adek saya yang juga belum istirahat di pagi tadi. Tetapi, tetap saja dia tidak
mau beranjak dari kasurnya, padahal dia tidurpun juga tidak segera tertidur.
Saudara kembarnya juga merasa agak jengkel karena dia harus ke tempat kerabat
tetapi tidak lengkap dengan kehadiran kembarannya tersebut. Akhirnya, kami
menjelaskan kepada kerabat yang kami kunjungi bahwa adek sedang sakit dan perlu
istirahat, itu satu-satunya alasan yang paling tepat untuk disampaikan kepada
kerabat-kerabat kami. Awalnya saya juga enggan untuk keluar bersilaturahmi,
tapi lagi-lagi ibu selalu jadi pawang untuk kami tetap berangkat meskipun adek
saya satunya tidak berkenan ikut. Ibu tidak mau hanya karena satu anak yang
tidak mau bersilaturahmi semua anak-anaknya jadi membenci silaturahmi, jadi
akhirnya kami berangkat bersilaturahmi meninggalkan adek saya sendiri di rumah
yang ternyata adek saya keluar juga bersama temannya. Dalam hati saya cuma
berkata, “mau sampai kapan keluar terus sama teman-temannya tapi tetap menutup
pintu hatinya mengunjungi tempat kerabat???”. Yaaaa..... tapi mungkin masih
perlu bersabar dulu menjelaskan ini pada adek saya dan mudah-mudahan besok adek
saya sudah mau bersilaturahmi dengan kerabat-kerabatnya yang lain.
Saya kalau melihat
tingkah adek saya ini, jadi ingat dalil yang dulu pernah disampaikan kepada
saya ketika sedang bandel-bandelnya tidak bisa memahami hubungan sosial yang
dijelaskan melalui ayat Al-Qur’an yang ada kata “Buta, Tuli, Bisu”. Saya
berharap adek saya jangan sampai seperti orang yang buta, tuli dan bisu, karena
adek saya adalah adek yang mungkin pernah menjadi pemabuk dan sedang berproses
ingin mengenali dirinya sendiri tetapi ketika ingin mengenali dirinya sendiri
dan ada saran dan masukan dari pihak-pihak yang menyanyanginya jangan sampai
diabaikan begitu saja. Ketika mereka pihak luar masih memberikan saran kepada
adek saya, tandanya mereka masih peduli dengan hidup yang dimiliki adek saya.
Saya tidak berharap
banyak untuk besok adek saya berkenan bertemu dengan saudara-daudara yang lainnya
atau tidak, mudah-mudahan adek saya bisa merasakan kelapangan dadanya dan bisa
sedikit merasakan bebannya yang berkurang setelah kehilangan akal dan diberi
kesempatan merasakan kesadaran yang dimilikinya sekarang ini. Ada dalil yang
begitu mendamaikan hati yang juga perlu diketahui adek saya. Ada salah satu
guru di desa kami yang juga mengikuti perjalanan lika-liku adek saya, sekaligus
menitipkan surat ini untuk disampaikan
kepada adek saya. Saya hanya menuliskan terjemahannya saja dan mudah-mudahan
adek saya masih berkenan membuka Al-Quran setelah ini untuk mengecek ulang
terjemahan yang saya tuliskan disini dengan melihatnya secara langsung akan
semakin menguatkan jiwa dan pikirannya bisa kembali merasakan dirinya sebagai
insan yang mulia di sisiNya. Berikut ini terjemahan dari surat Ash-Sharf (melapangkan)
yang ada di Juz 30 :
1.
Bukankah
kami telah melapangkan untukmu dadamu?
2.
dan
kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3.
yang
memberatkan punggungmu?
4.
Dan
kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
5.
karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6.
sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka
apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
8.
dan
hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Itu dulu yang ingin saya
sampaikan pada adek saya yang sempat dilanda mabuk yang berat dan juga kondisi
pikiran dan hatinya yang belum tenang, padahal sedang tidak mabuk.
Mudah-mudahan setelah ini adek saya bisa memahami apa yang saya tuliskan disini
dan bisa memahami kondisi ibu yang masih terus resah dan gelisah, sehingga kita
tidak terjebak di fase ini terus, dan bisa berlapang dada dan sama-sama saling
memperbaiki. Kami merindukan putra kebanggan keluarga bisa kembali pulang dan
memberikan kehangatan di dalam rumahnya lagi.

Komentar
Posting Komentar