Saya Terjajah Saya




Konyol sekali menurut saya kalau diminta untuk mengenalkan diri ini siapa. Bagaimana tidak konyol kalau kehidupan kita terus berubah dan saya menuliskan diri saya ini siapa di usia sekarang sementara dulunya diri saya seperti apa, sekarang bagaimana dan belum lagi diri ini siapa di masa depan. Saya ya adalah saya yang terus mengalami perubahan, ya istilah yang agak keren dikit tentang identitas yang gak fiks katanya.

Saya suka terheran-heran dengan diri saya sendiri, kenapa saya di masa sekarang masih saja dihantui saya di masa lalu. Saya ingin totalitas hidup di masa sekarang, tapi kebiasaan saya di masa lalu itu seolah menjadi penghambat saya bisa merasakan nikmat masa sekarang. Padahal diri di masa sekarang itu hanya sebagian kecil dari diri yang jauh lebih luas lagi tentang diri tersebut. Intinya saya juga tidak bisa menyalahkan diri saya di masa lalu, karena diri saya di masa lalu itulah fase yang mampu membentuk karakter saya sehingga saya bisa sampai menulis di blog ini. Ya, masa lalu itu menjadi salah satu pembelajaran untuk bisa melakukan intropeksi pada diri saya di masa sekarang dan syukur-syukur masih memberi manfaat untuk diri ini di masa depan. Oleh sebab itu, saya terus belajar untuk mengidentifikasi diri ini yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. 

Saya sudah hidup melewati masa anak-anak, remaja dan kalau berdasarkan kategori sudah seharusnya dewasa tapi ya beginilah saya ini. Dengan adanya fase yang sudah saya lewati seharusnya saya bisa menandai pola-pola kehidupan asem manis pahit saya di masa lalu untuk saya jadikan panduan menjalani kehidupan di masa sekarang dan masa depan, tapi pola itu ternyata tidak bisa diandalkan. Kalau mencoba menjadikan tanda-tanda di masa lalu maka diri ini juga hanya fotocopian saja bahkan bisa jadi diri ini semakin konservatif mempertahankan pola lama yang mungkin saja sudah tidak relevan untuk dijadikan pedoman masa sekarang. 

Diri ini ngakunya sebagai diri yang tidak mau tunduk, patuh, dikuasai oleh apapun dan dimanfaatkan oleh apapun. Harapannya sih sok yes menjadi diri yang merdeka dan terbebas dari penjajahan apapun bentuknya, eh tapi pada faktanya diri ini malah jadi penindas tubuh, pikiran dan hati itu sendiri. Diri ini telah menjadikan mereka itu sebagai mesin produksi untuk meladeni hasrat atas nama pengetahuan, kemajuan, kemapanan serta janji kehidupan yang menjanjikan lainnya lagi deh. Ternyata diri ini sudah menjadikan tubuh menjadi tubuh yang tak bertulang menurut saya atau istilah Gilles Deleuze adalah Tubuh-tanpa- Organ dan terbius oleh hasrat dan nafsu semata yang nantinya akan menjadi pengalaman schizofren, manusia hasrat.

Diri yang melupakan hakikat diri ini hanya melanggengkan yang namanya kapitalisme terus meraja lela sampai titik terlemah diri itu sendiri. Dengan demikian diri sepenuhnya sudah terjajah oleh diri itu sendiri dan bukan terjajah atau dikuasai oleh orang lain lagi. Diri sudah dikuasai oleh hasrat gila untuk mencapai kenikmatan diri dengan rela mati-matian mengorbankan dirinya menjadi diri yang unggul, berprestasi dan maju sehingga diri ini rela dan tahan menanggung derita untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan sebuah capaian tertentu. 

Kejam sekali diri ini sudah menindas hal terintim dari diri. Tubuh sudah dijamah kapitalisme dan tubuh sudah dikuasai penuh menjadi objek pemenuhan kepentingan dan tujuan-tujuan tertentu untuk menyandang status sosial tertentu. Diri ini sudah menjadi diri yang kesepian kalau mau meminjam istilah Baudilard. Pemujaaan pada tubuh dan pemujaaan pada jiwa menjadi hal yang saling melengkapi untuk menjadikan diri ini semakin dikuasai dan dikontrol penuh oleh kapitalisme. Jiwa-jiwa dari diri terus meronta kesepian tetap saja mempertahankan kesepiannya untuk pencapaian janji kemakmuran yang jadi iming-iming kapitalisme. Urusan kesepian saja menjadi hal yang lumrah dikala kuasa diri atas diri bisa menjadi jembatan untuk mencapai kesuksesan hidup ala kapitalisme.

Tak heran bila diri ini menjadi diri yang mati-matian terus menahan dan tidak bisa melakukan ini itu, tidak bisa mengekspresikan ini itu, tidak bisa menikmati ini itu, tidak bisa tersenyum seperti ini seperti itu, tidak bisa berpenampilan begini begitu serta masih banyak aturan diri yang menindas diri itu sendiri. Kapitalisme yang sudah diberi ruang di dalam diri untuk menguasai diri ini benar-benar kapitalisme biadab dan tak bermoral. Diri ini harus terus melakukan penahanan diri yang kejam untuk mencapai kenikmatan hidup yang sepatutnya disyukuri atas nikmat-nikmat hidup yang sudah didapatkan. 

Ya sementara cukup dulu perkenalan dengan diri ini siapa. Mudah-mudahan setelah sedikit mengidentifikasi diri ini siapa, kamu termasuk orang yang beruntung bisa merasakan kehidupan yang tidak terjajah oleh dirimu sendiri. Kalaupun kamu mengetahui dirimu terjajah mudah-mudahan ada kesempatan untuk bisa mendapatkan kemerdekaan atas dirimu sendiri. Semoga bahagia selalu mengiringi langkahmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN