Terang Gelap Redup Kuliah di Yogyakarta


Hampir dua tahun saya ada di Yogyakarta dan saya masih saja belum betah dan nyaman tinggal di kota ini. Disini saya merasa agak susah sekali beradaptasi dengan sebagian penghuninya dan budaya penghuninya yang beragam. Ya, kita tahu di Yogyakarta merupakan kota pendidikan sehingga banyak para pendatang singgah dan tinggal di kota ini untuk menuntut ilmu. Demikian juga keberadaan saya ada di Yogyakarta adalah untuk mempelajari hal-hal baru lainnya, khususnya kajian-kajian di bidang sosiologi. Tetapi setelah hampir dua tahun saya mempelajari sosiologi saya seperti lupa kalau saya tidak hanya hidup di bidang tersebut dan saya banyak mengabaikan keluarga, teman dan saudara.

Saya begitu ambisus untuk mengejar ketertinggalan saya dalam memahami bacaan-bacaan yang sebelum-sebelumnya saya meliriknya biasa-biasa saja. Sebelum saya ada di Yogyakarta saya adalah orang yang suka ada di lapangan dan benar-benar tidak terlalu menyukai teori dan saya lebih nyaman menjadi praktisi atau sekedar ikut kegiatan yang membuat saya bisa belajar secara bebas di alam.  Tetapi setalah berada di Yogyakarta dengan budaya membacanya yang tinggi membuat saya kalangkabut bisa bertahan lama-lama membaca buku. Enam bulan pertama ada di Yogyakarta saya masih bisa belajar dengan nyaman dan masih bisa berpartisipasi juga di salah satu kegiatan sosial. Bacaan-bacaan dan kajian saya masih bisa saya ikuti karena kajian-kajian pedesaan, kajian perindustrian, kajian perekonomian kerakyatan menjadi kajian yang lumayan bisa saya pahami.

Kuliah di enam bulan pertama terasa menyenangkan sekali dan saya membaca buku tidak terlalu tertekan, kuliah yang terkadang membuat saya faham  dengan materi yang disampikan dosen adalah cara penyampaiannya seperti mendengarkan dongeng. Saya bisa kuliah tanpa beban dan nyaman dengan dosen serta teman-teman yang ada di dalam kelas dan saya merasa agak mudah mengerjakan tugas meskipun kadang dalam menganalisis kerap sekali masih ada hal yang perlu diperbaiki. Enam bulan pertama saya belajar di Yogyakarta setidaknya bisa memantik saya dengan bacaan-bacan baru lainnya dan bisa beradaptasi untuk tetap bertahan dengan buku-buku yang harus saya pahami. Hal yang paling saya ingat dari kuliah awal saya yaitu nasehat dari salah satu profesor yang selalu memberikan nasehat kepada para mahasiswanya untuk bisa belajar secara sabar membaca buku-buku. Nasehat beliau yang selalu saya ingat yaitu "bacanya pelan-pelan saja yang terpenting kalian bisa memahaminya". Nasehat itu yang selalu saya jaga selama enam bulan pertama selama mengikuti mata kuliah beliau dan semua terasa sangat ringan dan menyenangkan.

Nasehat yang pernah melekat di ingatan saya hanya bertahan di awal enam bulan pertama saja. Di semester kedua saya tidak bisa mengambil kuliah yang ada nama profesor yang sering memberikan nasehat kepada kami di tengah-tengah menjelaskan teori. Sedih juga waktu itu sudah terlanjur nyaman dengan kajian yang diajarkan oleh beliau dan akhirnya saya perlu belajar kajian-kajian yang lainnya lagi dengan dosen yang lainya. Di semester dua saya menjalani hari-hari saya di bangku kuliah secara biasa-biasa saja sama seperti di semester satu, tetapi lama kelamaan saya tidak menjaga nasehat yang saya pegang untuk belajar secara bertahap. Di semester dua saya memaksa tubuh saya untuk terus belajar, belajar dan belajar dan tidak perlu kegiatan sosial, tidak perlu berhubungan sosial dengan teman atau bahkan lingkungan sekitar saya tinggal, karena mereka semua hanya menjadi penghambat saya untuk belajar. Saya tidak menyukai ada hal yang menghalangi saya dalam belajar dan saya mulai sedikit berubah menjadi anti sosial dan hanya ingin menghabiskan waktu saya dengan buku-buku yang saya miliki.

Semenjak saya menjadi antisosial saya mudah sekali berselisih dan bersitegang dengan lawan bicara saya ataupun bahkan dengan dosen pengampu mata kuliah yang saya pilih. Apa yang saya inginkan seperti tak terpenuhi dan bodohnya saya juga, saya tak mencoba memenuhi kehampaan hidup yang saya alami saat itu dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Saya hanya menambah list daftar pertikaian saya yang semakin hari semakin menumpuk dunia perkonflikan semakin kompleks. Saya benar-benar kacau dan hanya menjadi sampah dunia akademisi yang tak bisa lagi berfikir dan bertindak secara tenang. Bacaan-bacaan yang saya baca semua menguap begitu saja dan saya tidak memahaminya sama sekali di semester dua dan saya kuliah seperti orang linglung. Saya tidak bisa belajar dengan tenang dan saya berubah sangat membenci lingkungan di dunia akademisi, tetapi saat itu kebencian saya masih tertutupi dengan tekad saya untuk bisa bertahan dan bertahan dan terus bertahan dengan  kondisi yang sudah terjadi dan menjaga kestabilan dalam belajar lagi sampai saya merasakan kenyamanan dalam diri saya sendiri.

Semester dua mampu saya lalui meskipun harus terganjal dengan sedikit pertikaian dan saya harus tetap bertahan untuk menjalani hari-hari saya di semester tiga yang sudah tidak ada mata kuliah lagi, tetapi saya harus menyusun tugas akhir dan melakukan penelitian. Ya, disini saya semakin kacau balau karena sudah tidak ada ruang untuk saya bisa berbincang-bincang dan harus benar-benar bertanggungjawab pada penelitian yang saya pilih. Ya, saya di semester tiga masih mampu menyusun proposal penelitian meskipun di tengah penyusunan saya mengganti kajian saya dan mendadak saat itu saya sangat tergiur dengan kajian yang sangat baru menurut saya tetapi jadul menurut dosen pembimbing saya. Tetapi saya masih bersikekeh melakukan penelitian tersebut meskipun saya harus memahaminya dari nol lagi sehingga proposal saya sangat tersendat-sendat karena saya suka sekali banting setir dan bosan dengan apa yang saya pelajari. Semester tiga saya masih betah dengan bacaan dan kajian penelitian yang saya pilih dan kestabilan tubuh dalam belajar masih bisa dikontrol, sehingga saya masih merasa ada manfaatnya kuliah dan mempelajari sosiologi dan memilih kajian penelitian yang menurut saya baru tersebut.

Kondisi saya yang mencoba untuk terus bertahan di bangku kuliah mulai berubah saat saya berada di semester empat dan saya berubah ingin memberontak dan ingin menyerah pada kajian penelitian saya sendiri. Saya merasa sangat bosan dan bosan sekali, rasanya saya tidak bisa menulis sama sekali di semester empat dan tak ada tulisan tugas akhir dan laporan hasil penelitian yang saya tuliskan, karena saya masih saja terjebak pada kebingungan dan kerisauan saya yang tidak jelas dan berdampak pada kemalasan melakukan apa-apa. Saya lebih tertarik membaca bacaan lain di luar kajian penelitian dan lebih memilih meninggalkannya dan saya sangat muak sekali melihat bacaan-bacaan yang seharusnya saya selesaikan. Kebetulan bacaan yang saya pilih adalah sedikit bacaan kajian kritis dan kajian postmodern yang menjadi daya tarik saya, tetapi saya dibuat kilaf menyukai bacaan ini tanpa disertai pondasi pengetahuan lain, saya semakin mudah sekali menyakiti orang dengan kemampuan saya yang sangat minim. Lagi-lagi saya memilih untuk menepi dan menyendiri untuk menghindari perselisihan yang terus saya lakukan selama semester empat ini. Bacaan yang saya baca di semester empat tidak ada kaitannya sama sekali dengan tugas akhir saya tetapi bacaan itulah yang menjadi daya tarik saya saat itu dan bacaan tersebut menjadi penghibur sekaligus petaka bagi saya ketika saya tidak bisa menempatkan pada tempatnya.

Sudah empat semester kuliah saya semakin hari semakin berantakan. Kini, semester empat kuliah saya telah berada di ujung tanduk dan saya belum menyusun tulisan akhir saya juga. Saya sempat berfikir untuk menyerah dan mengakhiri kuliah saya dan mencukupkan kajian saya sampai disitu saja, tetapi setelah saya menulis curhatan di blog ini sepertinya saya harus berfikir ulang untuk meninggalkannya lagi atau tetap berusaha menyelesaikannya lagi. Tadinya saya ingin menulis hal-hal yang membuat saya tidak betah di Yogya dan ingin segera meninggalkannya. Melihat kehidupan saya yang terus terjebak di putaran kelam, sepertinya menyerah hanya akan membuat saya menjadi orang yang tidak bertanggungjawab atas tindakan-tindakaan yang saya pilih dan bahkan saya termasuk golongan orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan untuk bisa saya perbaiki.

Mengingat kembali masa belajar yang pernah saya rasakan sepertinya membuat saya rindu untuk bisa belajar dengan tenang dan tetap menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar saya. Saya merindukan masa itu, masa dimana saya benar-benar sangat tertarik untuk belajar tetapi saya juga memiliki teman sekedar untuk berdiskusi atau menggosipkan susah senangnya materi kuliah yang diberikan. Masa lalu itu sudah lewat dan sekarang itu masa yang harus saya jalani dan saya hadapi. Saya harus mencari jalan keluar untuk bisa menemukan kenyamanan saya dalam belajar, baik itu di wilayah akademik atau non akademik, ketika saya masih memiliki harapan itu maka saya masih bisa merasakan betapa menyenangkannya belajar itu. Ya, masa itu, masa-masa dimana saya rindu...., rindu...., rindu...... sekali untuk bisa belajar dengan tenang.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN