DUA HARI BELAJAR JADI MURID SD
Pertemuan dua hari yang pernah berlangsung saat itu telah
banyak memberi warna kehidupan baru. Pertemuan itu sebagai pencerah jalan, yang
sebelum-sebelumnya gelap gulita, sunyi dan sepi. Pertemuan dua hari itu telah
mengembalikan rasa yang telah lama tidak bisa dirasakan. Pertemuan itu juga
yang mengantarkan keberanian bisa kembali tegak gagah berani menyampaikan
sesuatu yang memang pantas untuk disampaikan. Tapi itu dulu ketika masih
hangat-hangatnya pertemuan dua hari berlangsung yang masih susah untuk
dilupakan dan diusir pergi begitu saja. Pertemuan dua hari itu hanya berlaku
untuk orang-orang yang bersedia menjadi murid SD selama dua hari saja.
Awal mengikuti pertemuan itu, ada Bapak-bapak tapi masih
belum tua-tua sekali untuk dipanggil bapak-bapak, tapi sepertinya menjadi hal
yang kurang sopan juga kalau dipanggil Mas karena usianya jelas tidak masuk
indikator pemuda lagi. Akhirnya saya lebih nyaman kalau memanggil beliau dengan
nama Pak ala murid SD yang memanggil gurunya dengan riang gembira. Beliau
itulah yang di awal waktu menyapa saya, ketika saya bingung sendirian di luar
tidak ada teman. Saya hanya celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati
orang-orang yang mungkin ada salah satu dari orang-orang yang mulai berdatangan
di gedung pertemuan itu yang juga yang
saya kenal. Setelah saya perhatikan sebagian orang-orang yang ada di sekitar
gedung pertemuan, tak ada seorangpun yang saya kenali. Di tengah kesendirian
saya yang sebenarnya saya sedang tidak sendiri, tiba-tiba ada suara yang
memecahkan lamunan-lamunan saya pada pertemuan yang akan saya ikuti, “ayo dek
segera masuk ruangan”.
Mendengar suara yang menghampiri saya, saya masih belum
membalas teguran itu. Saya langsung masuk ke ruang acara dan masih bertanya-tanya
siapakah orang tersebut. Setelah acara di mulai, ternyata orang yang menyapa
saya di awal waktu adalah orang yang memiliki kharisma yang luar biasa tapi
dari luar sungguh sangat terlihat biasa-biasa saja. Isi detail materi pelajaran
dari pak guru tersebut masih belum bisa saya dengarkan secara khidmat. Saya
masih belum bisa fokus mendengarkan beliau menyampaikan apa saja di ruang
belajar tersebut. Yang saya ingat dari sambutannya hanya keheranan beliau pada
orang-orang yang datang ke sekolah SD, akan tetapi murid-murid yang ada disitu
berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar daerah jawa yang jauh-jauh tapi merelakan dirinya datang
kesitu sebenarnya sedang mencari apa, padahal sekolah SD itu sudah jelas banyak
terdapat di daerahnya sendiri-sendiri.
Saat itu, saya sendiri juga tidak tahu, saya sedang mencari
apa di pertemuan yang khusus diselenggrakan untuk murid-murid Sekolah Dasar
selama dua hari, sementara saya masih belum rela kalau saya harus jadi murid
SD. Saya rela mengikuti kelas itu, karena, yang jelas, saya hanya ingin
mengikuti jejak petunjuk dari orang yang sepertinya menorehkan perjuangannya
disitu juga, tapi saya masih ingin menjadi saya yang bukan anak SD. Sosok
pejuang itu belum juga terlihat di kelas yang saya ikuti, akhirnya materi yang
disampaikan oleh guru-guru lainnya di dalam kelas saya abaikan begitu saja,
karena sosok pejuang itu tak juga hadir menghampiri. Sepanjang pagi hari sampai
sore hari, saya hanya mengumpat karena
memaksakan diri untuk mengikuti pertemuan yang menurut saya bukan tempat yang cocok
dan nyaman untuk saya. Sebisa dan sekuat mungkin saya menahan diri untuk tidak
berputus asa hanya karena saya tak bisa bertemu tokoh pejuang tersebut.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya bertemu seseorang
yang sepertinya dia juga asyik dengan kesendiriannya. Saya tidak tahu apakah
saya menghampiri dia duluan atau dia yang menghampiri saya duluan saya tidak
mau lagi memperdebatkan itu, yang jelas dia sudah bersedia berbincang-bincang
dengan saya dan saya tidak terasa semakin asing di kelas itu. Seseorang yang
pagi harinya sempat tegur sapa dengan saya, saya biarkan perkenalan itu
sebatas perkenalan biasa, karena saya kesitu hanya ingin bertemu pahlawan di
tengah maraknya dunia kamuflase. Seorang yang baru saya kenal tersebut membuat
saya semakin minder ada di pertemuan khusus sekolah Dasar. Dia cerdik sekali
dan saya semakin tertekan ada disitu. Ketika jam istirahat berlangsung dia
memilih menemui sosok-sosok inspirasinya dan saya masih diam membeku bingung
mau mengerjakan apa lagi di kelas yang membuat saya tak ingin melanjutkannya.
Kelas itu berlangsung sampai malam hari dan ketika satu orang yang baru saya
kenal memilih berbincang-bincang dengan orang lain, akhirnya saya mencari cara
untuk tetap bisa mengikuti pertemuan malam harinya. Saya menghubungi
teman-teman saya di luar sekolah dasar untuk bisa sekedar menemani saya
mengikuti acara malam harinya. Sungguh sial nasib saya, mereka tidak berkenan
menemani saya di acara malam hari yang ingin saya ikuti. Saya masih ketar-ketir
tak memiliki teman di dunia yang saya ikuti itu. Saya juga tak tertarik
berkenalan dengan siapapun. Saya terus saja sibuk dengan smartphone saya untuk mencari seseorang yang bisa dicari dan
bersedia menemani saya di acara malam harinya. Saya sudah berputus asa untuk
bisa bertahan mengikuti pelajaran di malam hari hanya karena teman-teman di
dunia saya tak ada yang menemani. Akhirnya saya biarakan HP saya tergeletak begitu
saja dan mencoba mengikuti acaranya sampai selesai. Di sesi pertemuan setelah
istirahat, saya memilih duduk di pojokan dan malas bercakap-cakap dengan
siapapun dan mendengarkan sesuatu yang tak begitu ingin saya dengarkan secara
jeli. Saya kembali mengingat-ngingat dunia saya yang bukan lagi dunia anak
sekolah dasar. Saya membiarkan begitu saja pelajaran saya terlewat begitu saja
di kelas yang khusus untuk para murid yang harus merelakan dirinya menjadi
siswa Sekolah Dasar.
Acara di sore hari, akhirnya selesai juga, tetapi keraguan
masih saja menghampiri saya untuk sekedar pulang ke kehidupan di luar pertemuan
sekolah dasar. Saya tahan dulu keinginan saya untuk meninggalkan area kelas dan
mencari teman yang tadi sempat berbincang-bincang, tetapi saya lupa namanya dan
lupa tak meminta nomor Hpnya. Saya hanya bolak-balik mengintip ke ruang kelas
yang sudah mulai sepi. Saya berharap dia ada disitu untuk menemani saya
berbincang-bincang. Meskipun dia membuat saya minder tapi saya jadi sedikit
tahu dunia yang amat sangat tidak saya pahami. Saya ke masjid di dekat sekolah
itu tak ada juga nampak wajahnya. Saya kembali menunggunya di ruang kelas itu
lagi, tapi tetap saja tak ada dia. Saya akhirnya memutuskan untuk ke asrama dan
mencari dia dan tetap saja masih belum terlihat dia ada disitu. Akhirnya saya
kembali ke masjid, hanya sekedar numpang duduk saja dan kembali membengongkan
diri. Masjid menjadi tempat yang paling nyaman untuk terbebas dari tegur sapa
manusia selain menjadi tempat untuk beribadah. Ketika saya sudah sangat bosan
ada di masjid terus, akhirnya saya kembali ke tempat asrama dan ternyata saya
dapati dia sedang duduk di samping kamar mandi bersama teman barunya. Kebetulan
teman barunya sangat komunikatif orangnya. Saya bisa berkenalan dan beradaptasi
dengan agak mudah dengannya. Mereka berdua asyik membahas dunia kesayangan
mereka dan saya hanya berdiam diri mematung kaku setelah selesai berkenalan. Lagi-lagi
mereka membicarakan dunia alam tak nyata yang membuat saya lemas mendadak lagi.
Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, ada asisten pak
guru yang menyapa kami untuk konfirmasi keberangkatan di kelas malam. Di awal
saya tidak tertarik berangkat bersama mereka, karena saya membawa kendaraan
sendiri, tetapi malam itu agak gerimis dan dua teman yang dari tadi sibuk dengan
dunianya berkata kepada saya untuk gabung bersama mereka saja. Akhirnya,
seketika itu juga, saya menjadi suka dan nyaman lagi bersama mereka, karena
mereka tidak menelantarkan saya sendirian mengikuti kelas malam. Tapi, seketika
itu juga, saya jengkel lagi dengan mereka, karena saya yang diajukan untuk
menemui salah satu asisten guru untuk konfirmasi ikut tidaknya kami bersama
rombongan. Lagi-lagi saya harus berinteraksi dengan orang baru dan mencari
salah satu nama asisten guru untuk konfirmasi. Saya naik ke lantai dua dan
mencari nama asisten guru yang dimaksudkan. Ketika saya ada di lantai dua, saya
melihat berjubel orang ada disitu dan dunia terasa sesak sekali melihat
kebisingan dan keramaian yang tumpah ruah ada disitu. Setelah saya
bertanya-tanya sebentar, ternyata asisten pak guru yang saya cari sedang tidak
ada disitu dan saya langsung memutuskan untuk cepat-cepat turun dan memilih
kembali duduk di dekat kamar mandi yang ada di lantai satu. Ketika saya melihat
orang berlalu lalang naik turun tangga, tiba-tiba ada asisten pak guru yang
ciri-cirinya hampir mirip disebutkan oleh teman-teman yang saya tanyai di
lantai dua dan sayapun langsung menghampirinya untuk konfirmasi. Seketika itu
juga daftar list kenalan saya bertambah setelah enggan berkenalan dan malas
berinteraksi. Meskipun interaksi saya dengan asisten pak guru berlangsung
secara sepintas, tapi saya masih mengingat betapa canggungnya saya hanya
sekedar untuk konfirmasi gabung bersama rombongan untuk menuju kelas malam.
Urusan konfirmasi sudah beres dan kamipun juga sudah tidak
kepikiran lagi untuk urusan keberangkatan kami ke kelas malam. Kami terus
melanjutkan perbincangan kami di samping kamar mandi lantai satu sampai mobil
yang akan mengantarkan kami tiba di asrama. Ketika mobil tiba di asrama, saya
sempat merubah pikiran saya untuk kembali menggunakan motor yang saya bawa,
supaya malam selesai kelas berlangsung, saya bisa pulang ke kosan dan tidak
perlu balik lagi ke asrama hanya sekedar mengambil motor. Lagi-lagi dua teman
yang ada di samping saya menyarankan untuk gabung saja bersama mereka supaya
lebih akrab. Akhirnya saya kembali menarik kunci motor dan memasukkanya di
dalam tas dan langsung dengan cepat bergabung dengan mereka lagi untuk menuju
lokasi kelas malam dan saya masih saja tetap berdiam diri memperhatikan
teman-teman yang saling berbincang-bincang dan saya lebih sibuk melamun.
Sebenarnya saya lebih suka memperhatikan mas-mas yang mengemudikan mobil yang
kami tumpangi dari pada harus mendengarkan teman-teman di belakang tempat duduk
saya yang terus berbincang-bincang. Tetapi, lagi-lagi saya terasa sangat kikuk
untuk memulai perbincangan, dan akhirnya saya hanya duduk terdiam melihat
jalanan Jogja saja. Saya juga merasa segan hanya untuk berbasa-basi dan
bercanda ringan seperti teman-teman lainnya yang bisa tertawa dan mengobrol
bebas. Perjalanan yang jarak tempuhnya sangat dekat menjadi terasa sangat
lama, ketika saya hanya menghabiskan waktu berdiam terus-menerus di dalam mobil
tanpa banyak berkata-kata. Saya hanya menjawab sesuatu yang ditanyakan oleh orang
lain tetapi tidak balik bertanya pada orang-orang di sekitar saya. Mungkin
inilah yang membuat mereka enggan menanyakan sesuatu lagi pada saya ketika saya
juga enggan untuk menanyai mereka. Ketika kami sudah tiba di lokasi kelas
malam, saya mencoba untuk menghampiri mas-mas yang tadi mengemudikan mobil yang
kami tumpangi dan saya mengucapkan terimakasih padanya. Disitulah saya bertegur
sapa lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, meskipun saya lupa
berkenalan dengan mas itu, tapi untuk wajahnya dan perawakan badannya yang
tinggi besar masih saya ingat sampai sekarang.
Ketika kelas malam akan dimulai, lagi-lagi Pak Guru
memberikan pelajaran singkatnya kepada kami. Dan saya harus belajar untuk bisa
menyesuaikan diri untuk berbaur dengan teman-teman yang ada disana dan menjadi
siswa SD lagi. Ketika kelas malam berlangsung, mata saya kembali berbinar-binar
ketika melihat sang pejuang dan pahlawan keterpururukan dunia kamuflase hadir
disitu. Mungkin beliau agak sedikit kaget melihat saya yang awalnya tak ingin
menelisik dunia kamuflase kembali datang lagi menemui beliau. Kata “militan”
menjadi kata pertama yang saya dengar dari beliau ketika saya berjabat tangan
dan menyapa beliau. Itu pertemuan
keempat saya dengan beliau setelah tiga kali lebih memilih untuk mengambil
sikap berjarak dengan pejuang dan tidak ingin mudah percaya begitu saja dengan
apa yang menjadi perjuangan beliau. Saya baru
berani menampakkan diri dengan beliau setelah pertemuan ketiga, itupun aura dan hawa pertemuan kami
terasa sangat tidak menyenangkan sekali, karena saya diingatkan lagi dengan
alam nyata saya yang sedang ingin saya istirahatkan sementara waktu itu. Tapi,
ketika pertemuan ke empat dengan beliau yang saya ikuti di sekolah dasar, saya
benar-benar agak susah berkata-kata lagi, karena saya sudah cukup bahagia
melihat beliau ada disitu dan mendampingi kami.
Ketika saya sudah mulai beradaptasi dan bisa sedikit agak nyaman duduk bersanding
dengan teman-teman lainya yang tadinya terasa aneh dan berubah menjadi
menyenangkan, tiba-tiba teman saya dari alam saya yang lain menghubungi saya
dan mengatakan pada saya kalau dia juga mengikuti kelas yang saya ikuti tapi
bukan sebagai murid SD, tetapi mungkin sebatas sebagai pengamat yang sedang
ingin mengamati, atau sebatas ingin menghibur dirinya yang sedang kesepian dan
akhirnya saya tidak mau menduga-duganya lagi. Saya tidak peduli lagi dengan kepentingan
teman saya datang di acara tersebut itu untuk apa, yang terpenting dia sudah bersedia
menemani saya di acara tersebut. Ketika dia menghubungi saya, yang jelas dia mungkin
lebih kesepian dari pada saya yang sudah memiliki teman duluan disitu. Dia
duduk menyendiri di belakang acara yang tengah dilangsungkan, dan akhirnya saya
memutuskan untuk menghapirinya. Saya mengajaknya untuk bersedia duduk di tempat
awal saya duduk, karena saya bisa berkonsentrasi penuh di tempat duduk awal
saya untuk mendapatkan siraman ruhani melalui pengajian malam yang diadakan
oleh Pak Guru yang menyarankan muridnya untuk menjadi murid kelas dasar dulu. Kalau
saja, saya terus-terusan menemani dia di belakang acara nanti saya akan lebih
banyak mengumpat lagi pada teman saya yang datangnya agak telat dan tidak dari
awal memberikan kabar kepada saya kalau dia mau datang. Konsentrasi saya
terkadang juga buyar ketika teman saya yang duduk di samping saya nyeletuk
menggunakan kajian ilmu pengamatannya kepada saya dan seketika itu juga
sepertinya saya menyesal sudah mengajaknya untuk menemani saya supaya tidak
kesepian. Tapi bagaimanapun saya mengucapkan terimakasih padanya, setidaknya
saya masih memeliki teman, baik di alam yang sedang saya istirahatkan maupun
alam yang sedang saya pelajari sekarang ini.
Selesai kelas malam dilangsungkan, akhirnya kami kembali ke
asrama penginapan. Setibanya di asrama saya memutuskan untuk pulang ke
kontrakan, lagi-lagi dua teman saya yang suka duduk-duduk di samping kamar
mandi melarang saya untuk pulang, karena terlalu malam dan menyarankan saya
untuk istirahat di asrama saja. Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat di
asrama juga, karena di luar juga masih gerimis dan sayapun lupa membawa jas hujan. Saya masih saja
menempel pada dua teman saya ini dan enggan untuk istirahat di atas. Merekapun
mungkin merasa risih, karena saya yang tak kunjung membiarkanya untuk isirahat
di tempat kami berbincang-bincang. Kalau saya boleh memilih, mending saya tidur
di bawah saja daripada harus tidur di atas dan menemukan teman baru dan kembali
bercakap-cakap lagi. Kenalan lagi dan lagi itu membuat saya letih saja untuk
berbasa-basi lagi. Tapi, bagaimanapun saya harus mengumpulkan tenaga lagi untuk
sekolah besok paginya. Sayapun memutuskan untuk naik ke atas dan berpisah
sejanak dari dua teman saya itu dan membiarkan mereka tidur berdua di bawah,
karena tidak mungkin saya tidur bersama orang-orang yang bukan sejenis dengan
saya.
Mau tidak mau, suka tidak suka saya naik ke lantai dua. Saya
memutuskan untuk menemui seseorang yang di siang hari sempat tegur sapa dengan
saya tapi saya tak banyak menghabiskan waktu bersamanya. Saya menuju kamar
pojokan dan permisi pada penghuni kamar tersebut untuk gabung istirahat, tapi
di kamar tersebut sudah sangat sesak kebanyakan orang. Akhirnya saya memilih
duduk di luar dan melihat ada teman yang masih bertahan begadang untuk melukis
dan juga berbincang-bincang. Karena saya penasaran dengan lukisan yang
dibuatnya, saya mendekatinya dan melihat-lihat dan mulai berbincang-bincang
dengan dia. Disitu, dia sudah berbincang-bincang dengan teman yang lainnya,
tapi saya masih penasaran dengan lukisan yang dibuatnya, akhirnya kamipun
begadang untuk sekedar mendengarkan kisah-kisah hidup dari salah satu teman
pelukis itu yang sangat bersemangat bercerita. Tapi saya lebih bersemangat mendengarkan
pelukis itu yang bercerita perjalanannya sampai dia menyukai dunia seni rupa
dan kisah-kisah hidup lainnya. Demi mendengarkan cerita itu saya sampai rela
menghabiskan minyak kayu putih untuk mencegah tubuh saya tidak oleng karena
begadang. Saya sudah benar-benar tidak kuat menahan kantuk saya tapi tetap saja
saya tak bisa tidur disitu, karena sebagian teman-teman masih berbincang-bincang
sampai pukul 02.00 pagi. Akhirnya saya
memutuskan pindah ke ruangan yang masih ada tempat yang tak terlalu bising
tetapi masih ada tempat untuk kepala dan tubuh saya bisa istirahat sejenak. Ya,
saya istirahat di ruangan yang tak perlu permisi lagi pada penghuni kamarnya
yang sudah terkapar duluan, meskipun orang-orang yang tertidur di dalamnya
berdesak-desakan, setidaknya saya bisa terhindar dari suara-suara yang membuat
saya susah tertidur.
Ketika saya terbangun di waktu adzan subuh berkumandang, saya
memutuskan untuk pulang ke kontrakan dan saya tak perlu pamitan lagi pada
teman-teman, kerena mereka masih sedikit yang sudah terjaga. Setiba saya di
kontrakan saya memilih tidur sejenak dan memejamkan mata tapi sungguh itu tidak
bisa membuat saya tidur nyenyak, karena saya hawatir kebablasan tertidur sampai
siang hari kalau saya lanjutkan tidur saya. Ketika saya masih malas untuk
beranjak dari tempat tidur, teman saya yang sudah mencatat nomor telpon saya
menghubungi saya dan sayapun jadi bersemangat lagi untuk datang ke kelas yang
lokasinya berbeda dari lokasi hari pertama. Sekolah di hari kedua menjadi hal
yang lebih menyenangkan lagi, karena saya sudah memiliki teman dan itu sudah
sangat lebih dari cukup.
Ketika saya asyik memiliki teman baru dan saya juga merasa
nyaman mendengarkan pelajaran dari pak guru-bu guru yang lain, tiba-tiba salah
satu teman harus kembali ke daerah asalnya dan sayapun jadi merasa sedih,
karena kami baru merasa nyaman untuk berbincang-bincang, tiba-tiba salah satu
dari kami sudah harus pulang duluan menginggalkan acara. Akhirnya di jam
istirahat saya menemaninya ke stasiun dan membiarkan dia kembali pulang ke
daerah asalnya. Dia juga menyarankan kepada saya untuk gemar membaca dan
menulis supaya bisa bertemu lagi di
kemudian hari kalau masih memungkinkan. Dalam hati saya cuma berkata, “saya
datang ke sekolah ini untuk terapi dan bukan untuk belajar menulis, karena saya
hanya ingin menulis hal lain yang saat ini sedang saya tanggalkan”. Tapi saya
tak menjelaskan panjang lebar kondisi yang saya alami, dan seperti biasa saya
cuma terdiam saja mendengarkan nasehatnya itu disampaikan kepada saya.
Selesai mengantarkan satu teman ke stasiun, maka masih ada
satu teman lagi yang bisa saya ajak bincang-bincang dan syukurlah dia masih
bertahan untuk berbincang-bincang dengan saya. Di hari kedua saya sekolah,
semua terasa menyenangkan. Materi apapun yang disampaikan tak terasa berat
seperti hari pertama saya sekolah. Tapi sungguh menyebalkan sekolahan itu,
kenapa jangka waktu belajarnya sangat sebentar saja, itu artinya saya juga
harus berpisah lagi dengan teman yang sudah terlanjur akrab dengan saya. Saya
tidak begitu lagi merisaukan teman-teman saya yang begitu antusias untuk
bertanya ini-itu dan ingin menulis begini-begitu, saya lebih risau lagi kalau
mereka cepat-cepat kembali ke daerah asalnya. Itu tandanya saya juga harus
kembali ke alam nyata saya yang masih horor dan nampak menyuramkan itu. Saya
masih belum siap kembali ke dunia nyata saya dan kembali semakin menjadi orang misterius di
dunia saya sebelum-sebelumnya. Saya tidak ingin sekolah itu berakhir secara
cepat.
Hari semakin sore dan menunjukkan tanda-tanda akan ada
sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di sore harinya. Sore hari itu tanda
sekolah kami sudah selesai dan saya tidak peduli lagi saya mau jadi anak SD,
SMP, SMA atau apapun ketika saya sudah mulai nyaman memiliki teman akrab. Tapi
Pak guru yang di hari pertama telah memberikan sambutan dan pelajaran umum di
sekolah, beliau telah kembali memberikan sambutan penutup. Saya tidak suka itu. Saya
ingin tinggal kelas dan saya tidak ingin lulus dari sekolah itu saja, supaya
saya tetap betah dan memiliki teman, meskipun baru dua saja yang yang membuat
saya nyaman ada disitu. Tapi bagaimana saya berkeinginan untuk tinggal di kelas
sementara teman-teman saya pada naik kelas?.

Komentar
Posting Komentar