GADIS BERPENDIDIKAN TAK INGIN DI PESANTREN


Di Madura, ada seorang gadis yang baru pertama kali mengunjunginya. Dia baru tamat aliyah atau setara dengan SMA. Dia datang sendirian dan berniat untuk menuntut ilmu di salah satu Universitas yang masih belum terkenal saat itu. Dia juga harus menemui seseorang yang dia tidak tahu alamatnya. Dia hanya diberi bekal satu nama orang yang harus ditemuinya selain urusan kuliah yang akan Dia mulai. Bekal itu didapatkan dari sahabat ayah gadis itu. 

Sebelum gadis itu menuju Madura dan meninggalkan rumahnya. Dia menemui sahabat ayahnya untuk mendapatkan arahan dan saran. Beliau biasa dipanggil dengan nama Pak Sujud. Pak Sujud merupakan salah satu guru dan orang tua pengganti dari gadis yang sudah ditinggal pergi ayahnya. Pak Sujud berasal dari Madura, tetapi setelah menikah, Beliau menetap di desa yang sama dengan ayah sahabat gadis itu. Beliau pernah mondok di Jombang dan menjadi pendidik di Jombang juga.

Mendengar kabar tentang kuliah anak sahabatnya itu, Pak Sujud langsung teringat nama salah satu teman di pesantrennya Jombang yang sudah kembali ke Madura. Tapi Beliau tidak memiliki nomor Handphone salah satu temannya itu. Beliau hanya ingat namanya saja, bahkan alamat lengkapnya juga  tidak dimiliki. Beliau menjelaskan pada anak sahabatnya itu untuk tetap yakin bisa menemukan nama yang harus Dia temui ketika ada di Madura. Nama yang harus Dia temui adalah Pak Manaf. 

Setelah mendapatkan arahan dan restu dari orang tua dan sahabat ayah gadis yang baru lulus SMA itu, Dia pergi ke Madura sendirian. Dia bisa mendapatkan alamat universitasnya melalui internet, tetapi untuk alamat yang tak ada alamatnya Dia masih kebingungan. Dia sudah bertekad untuk merantau dan menuntut ilmu di tanah garam dengan segala konsekuensi yang harus dihadapinya. Dia berangkat sendiri menuju Surabaya menggunakan bis umum dan lanjut ganti bis lagi di Surabaya menuju Madura dengan bis Akas. Ketika bis itu berhenti di Pelabuhan Tanjung Perak untuk mengantri antrian masuk kapal ferry, bis itu tidak langsung berangkat dan masuk kapal, tetapi bis itu masih saja menunggu penumpangnya bisa sedikit bertambah lagi. Perjalanan jadi terasa sangat lama. Dia masih belum mengetahui, kalau untuk menuju alamat univesitasnya itu bisa memilih transportasi yang lebih cepat dan tidak harus selalu menggunakan bis Akas. Lelah dia menunggu di dalam bis, akhirnya bis itu dinyalakan juga untuk masuk kapal ferry. Dia belum berani keluar dari bis dan turun melihat pemandangan di luar. Dia  hawatrir  ditinggal bis yang Dia tumpangi. Setelah kapal ferry berhenti di pelabuhan Ujung Kamal, bis itu keluar meninggalkan kapal ferry dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, dia hanya melihat tumbuh-tumbuhan dan bangunan-bangunan rumah yang tidak begitu padat. Madura di mata gadis itu, di awal waktu juga terlihat sepi seperti di desanya, bedanya di Madura terasa agak gersang dan panas. Ketika Dia asyik melihat pemandangan sepanjang jalan di Madura, tiba-tiba kernet memecahkan lamunannya, “Mbak ini sudah sampai di kampus yang mau dituju, nanti tinggal naik becak saja”. Setelah ada suara dari kernet yang menghampirinya, diapun berdiri dan turun dari bis, “ternyata kampusnya tidak jauh-jauh sekali dan dekat juga kalau dari pelabuhan atau dari Surabaya” ucap dia pada dirinya sendiri.

Awal menginjakkan kakinya di tanah Madura, gadis itu teringat dengan ayahnya yang pernah ingin mengajak Dia ke Madura usai lulus Sekolah Dasar untuk berlibur. Dia selalu berbicara sendiri kalau mengingat ayahnya, “sekarang aku ke Madura sendiri, tapi bukan untuk berlibur”. Ketika perasaannya sudah mulai tidak karu-karuan, dia terus saja melangkahkan kakinya untuk tidak bersedih hati dan tetap melanjutkan tujuannya datang di Madura, “aku tidak takut dan aku harus tetap kuliah” hanya itu saja yang ada di dalam pikirannya untuk membunuh kehawatirannya.

Setelah gadis itu turun dari bis, dia naik becak untuk menuju kampusnya. Dia sedikit bertanya-tanya pada tukang becak terkait kos-kosan.
“pak kalau kos disini, sekitar berapa harganya?”
“kalau disini sekitar 100 ribu, 150 ribu mbak, agak mahal paling 200an, mau cari kos mbak?”
“masih tanya-tanya saja dulu kok pak.
“baru pertama kali kesini mbak?
“ia pak”

Ketika gadis itu selesai menanyakan kos-kosan dan menikmati suasana Madura di atas becak, tiba-tiba Dia teringat saran dari Pak Sujud untuk mencari nama Pak Manaf yang merupakan Kyai di Madura. Gadis itu bertanya-tanya lagi pada bapak yang mengayuh becaknya untuk menanyakan nama Pak Manaf,
“Maaf pak, mau tanya lagi, mungkin bapak kenal dengan nama Kyai Manaf pak?”
“Kyai Manaf yang dekat pelabuhan bukan Mbak?, kalau disitu ada yang namanya Kyai Manaf yang punya pondok mbak.”
“Tempatnya dari sini jauh tidak pak kira-kira?”
“Ya, lumayan mbak. Sekitaran 7 kilometeran, nanti bisa naik taksi di tampat mbaknya pas turun dari bis tadi. Bilang ke sopir taksinya kalau mau ke arah Kamal. Nanti bilang suruh nurunin di pondoknya Kyai Manaf”
“Taksi yang mana ya pak? Kok tadi sepertinya saya gak melihat ada taksi di jalan raya pak?”
“taksi mobil angkutan yang mobil cerry itu lho mbak”
“oh, itu disini nyebutnya taksi pak?”
“iya mbak”
Gadis itu tertawa. Bapak yang mengayuh becaknya juga tertawa, ketika melihat gadis itu bingung terheran-heran dengan istilah taksi yang dipergunakan di Madura. Ketika perbincangan sekilas telah selesai, bapak yang mengayuh becak tadi menghentikan becaknya dan berkata pada gadis itu,
“Mbak ini sudah sampai di kampusnya, mbaknya langsung masuk saja ke dalam”
“Ia pak terimakasih”

Gadis itu akhirnya masuk area kampus dan mencari salah satu gedung untuk melakukan daftar ulang. Gadis itu sudah menyiapkan berkas-berkas yang harus dipasrahkan kepada petugas yang ada di kampus. Urusan administrasi tidak begitu diambil pusing olehnya. Dia terus mengingat nama Kyai Manaf yang harus ditemuinya sesuai amanah dari Pak Sujud. Selesai melakukan daftar ulang, istirahat sejenak, makan dan sholat di dalam kampus, akhirnya gadis itu cepat-cepat kembali melanjutkan perjalananya untuk mencari alamat Kyai Manaf. Dia kembali naik becak menuju jalan utama dan pindah naik angkutan untuk menuju Kamal dan mengikuti petunjuk dari Bapak yang mengantarkannya ke kampus dengan becak tadi. Setelah dia naik angkutan dan bertanya-tanya pada sopir angkutan yang ditumpanginya, akhirnya dia diturunkan di tempat yang katanya ada pondoknya. Dia diturunkan di dekat polsek Kamal. Dia menanyakan nama Kyai Manaf pada orang-orang dan ternyata tempatnya masih agak jauh hampir satu kilo meter lagi. Akhirnya, Dia memutuskan untuk jalan kaki dan bisa lebih mudah bertanya-tanya pada orang-orang.

Setelah berjalan kaki dan bertanya sana-sini, akhirnya Dia menemukan juga alamat Kyai Manaf. Tempatnya agak masuk sedikit dari jalan raya. Tempat itu sangat dekat dengan pelabuhan Ujung Kamal. Setelah bertemu Kyai Manaf dan istrinya, gadis itu menjelaskan maksud kedatangannya dan langsung menelpon Pak Sujud. Gadis itu memberikan Hpnya pada Kyai Manaf supaya bisa berbincang-bincang dengan Pak Sujud. Pak Sujud dan Kyai Manaf saling berbincang-bincang menggunakan Bahasa Madura melalui telpon yang dibawa gadis tersebut. Gadis itu diam mendengarkan obrolan yang kurang begitu difahaminya. 

Selesai obrolan antara Kyai Manaf dan Pak Sujud, gadis itu diminta untuk menyimpan nomor HP Kyai Manaf dan juga istrinya. Beliau menyarankan kepada gadis itu untuk istirahat dan kembali ke daerah asalnya keesokan harinya dulu. Harinya sudah terlalu sore untuk pulang ke daerah asalnya dan hawatir akan terlalu malam tiba di daerah asalnya. Istri Kyai Manaf mengajak gadis itu ke ruang makan khusus tamu di pondok tersebut dan menyediakan makanan untuknya, sampai dia pulang. Selesai makan, istri Kyai Manaf meminta salah satu santrinya untuk menemani gadis itu selama ada di pondok. Santri yang ada di pondok itu sangat sopan dan ramah-ramah. Mereka kerap penasaran dengan orang baru yang datang di pondoknya. Perbincangan-perbincangan ringan antara gadis itu dan santri-santri di pondok Kyai Manaf juga berlangsung menyenangkan sampai gadis itu pulang keesokan harinya.

Hari sudah berganti dan gadis itu pamit kepada Kyai Manaf dan istrinya untuk kembali ke daerah asalnya pagi hari itu. Setelah gadis itu pamitan dan pulang ke rumahnya, Dia berbincang-bincang pada ibunya.
“Bu’ pondoknya jauh dari kampus, jaraknya hampir kurang 7 kilometer Bu’, apa saya tak tinggal di kos aja bu’?”
“Tanya saja dulu ke Pak Sujud!”
“Kalau tanya ke Beliau pasti gak dibolehin to bu’?”
“Lha itu kamu sudah faham”
“Tapi kan jauh bu’ tempatnya?”
“Kamu lak biasa jalan kaki tiga sampe empat harian gak pulang-pulang to?”
“Kan beda bu’, itu cuma satu tahunan sekali dua kali saja kalau ada penempuhan di pramuka Bu’. Belum lagi nanti kalau ke kampusnya naik angkot kan habis banyak uangnya? saya tak tinggal di kos aja ya bu’ yang dekat-dekat kampus nanti kan gak boros buat naik angkot?”
“Kamu kan tiap hari juga naik sepedah ke sekolah dulu-dulunya?”
“Ya kan beda bu’ udah kuliah masa’ sama kayak masih sekolah? mikirnya kan beda anatara kuliah sama sekolah? udah gitu jalannya di Madura gak datar lho bu’, jalanya agak sedikit naik turun juga?” nanti capek duluan gak fokus kuliahnya gimana?
“Kamu niat kuliah atau mau males-malesan?”
“Kuliah Bu’”
“Ya udah dijalanin seperti kamu sekolah”
“Ia bu’”

Dengan wajah kusut dan kumel akhirnya gadis itu bersedia untuk mondok juga. Gadis itu mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke pondok dan beberapa keperluan kuliahnya. Sebelum dia berangkat ke Madura lagi, dia menemui Pak Sujud. Beliau selalu memberikan nasehat-nasehatnya untuk bisa tekun belajar dan bisa belajar hidup di pondok juga. Gadis itu hanya terdiam mendengarkan bekal nasehat yang diterimanya dari Pak Sujud. Pak Sujud melepaskan kepergian anak sahabatnya itu untuk bisa belajar di tempat Kyai Manaf. Lagi-lagi Pak Sujud menelpon Pak Manaf untuk menitipkan anak sahabatnya pada Kyai Manaf.

Gadis itu akhirnya kembali lagi ke Madura. Dia ditemani kakak iparnya untuk membantu membawa barang bawaanya. Kakak iparnya itu juga yang mewakili keluarganya untuk menitipkan dia di pondok dan bertemu dengan Kyai Manaf. Setelah bertemu dengan Kyai Manaf dan meletakkan barang-barang yang dibawa dari rumah, gadis itu ditinggal sebentar oleh kakak iparnya ke Surabaya. Kakak iparnya juga baru pertama kali ke Madura. Kakak iparnya masih ada tugas untuk membelikan sepedah adiknya itu. Dia belum ada pandangan tempat untuk mendapatkan sepedah di Madura, sehingga dia memilih membelikan sepedah di Surabaya. Keesokan harinya kakak ipar gadis itu datang lagi ke Madura bersama saudaranya untuk membawa sepedah yang dibelinya. Selesai mengantarkan sepedah yang baru dibelikan untuk gadis itu, akhirnya, kakak iparnya pamit pulang dan meninggalkannya di pondok dan memberikan nasehatnya untuk menjaga dirinya baik-baik di pondok. Ketika kakak iparnya sudah pamitan dan pergi meninggalkan gadis itu, mata gadis itu berkaca-kaca dan kembali dia diam sejenak.

Kakak ipar gadis itu sudah pulang dan dia sudah tidak lagi berkumpul bersama dengan ibu dan saudara-saudaranya yang lain. Dia belajar beradaptasi di lingkungan baru yang ada di pondok pesantren. Dia belum terbiasa untuk masak sendiri. Dia juga belum terbiasa hidup di pesantren. Dia belajar beradaptasi dan berteman dengan teman-temannya yang lain yang ada di pesantren.

Pesantren yang ditempati gadis itu tidak terlalu besar, bahkan mungkin sangat kecil. Jumlah santri yang ada disitu kurang lebih ada sekitar 50an santri yang terdiri sekitar 35an santri putri dan 15an santri putra saja. Lantai di pesantren itu tidak semuanya berkeramik, tetapi ada juga yang masih sebagian ruangannya yang masih berubin warna abu-abu kecoklatan, bahkan mushola dan beberapa ruangan khusus santri putra masih terbuat dari kayu. Di pesantren itu, para santrinya tidak ada yang tidur menggunakan kasur. Kasur hanya disediakan di kamar ustadz dan ustadzah saja. Para santri yang tidur sebagian hanya beralaskan selimut atau sarung saja. Di pesantren itu, mereka memasak sendiri dan membentuk kelompok masak untuk bergantian piket memasak. Para santrinya juga tidak ada yang menggunakan magikom untuk menanak nasi, mereka setiap hari meliwet nasi. Mereka juga tidak menggunakan LPG untuk memasak, tetapi mereka memilih untuk memasak masakan dengan menggunakan kompor yang masih menggunakan minyak tanah. Mereka sebagian yang mondok disitu baru lulus SD dan memilih sekolah paket B untuk mendapatkan ijazah setara SMP. Di pesantren itu hanya ada satu santri yang sekolah di luar pondok dan bersekolah di SMA Negeri yang ada di Kamal. Selain itu, ada satu tambahan santri baru yang baru datang ke pondok itu untuk menempuh jenjang pendidikannya sampai jenjang perguruan tinggi negeri yang ada di Madura. Mereka juga memiliki seragam khusus yang dipergunakan untuk ngaji dan sekolah di pondok. Mereka juga tidak boleh membawa handphone.

Kegiatan di pasantren, pagi, berjamaah subuh dan lanjut mengaji Al-Quran bersama Kyai Manaf untuk santri putra dan untuk santri putri bersama Bu Nyai Manaf. Sekitar pukul 7 ada sholat dhuha berjamaah dan dilanjut membaca beberapa surat-surat yang dibaca dan dipimpin oleh Pak Kyai dan Bu Nyai. Selesai sholat dhuha, ada sekolah mengaji kitab kuning bersama ustadz ustadzah di dalam kelas. Siang harinya istirahat dan dilanjut pelajaran sekolah paket B sekitar pukul 14.00 sore sampai pukul 16.00. Jadwal rutin berikutnya yaitu sholat berjamaah lalu santri bebersih diri. Kegiatan berikutnya sholat magrib berjamaah lalu ngaji Al-Qur’an lagi sampai isya’ bersama Pak Kyai untuk santri putra dan bersama Bu Nyai untuk santri putri. Selesai isya masih ada kegiatan mengaji kitab kuning lagi sampai pukul 21.30an bersama ustadz dan ustadzah yang ada di pesantren.

Jadwal-jadwal dan aturan-aturan yang ada di pesantren itu berlaku untuk santri yang tidak mengambil pendidikannya di luar pondok, sehingga jadwal gadis itu sedikit ditoleransi. Aturan yang diperuntukkan gadis itu juga sedikit berbeda dengan santri-santri yang lainnya. Gadis itu hanya sering mengikuti sholat subuh dan sholat maghrib dan sholat isya’ berjamaah saja, karena untuk waktu-waktu yang lainnya kadang dia masih ada di kampus dan belum pulang ke pondok . Dia juga ikut mengaji Al-Qur’an bersama Bu Nyai. Dia juga masih sempat ikut belajar kitab kuning bersama ustadz ustadzah di dalam kelas. Dia dibebaskan mengenakan pakaian berseragam yang ada di pondok. Dia juga dibebaskan untuk membawa ponsel dan menggunakan ponsel yang dimilikinya secara bijak. Akan tetapi kebebasan yang dimiliki gadis itu ternyata kadang menjadi hal yang sedikit dipermasalahkan oleh beberapa sebagian santri yang ada disana.
“Kalau saya jadi seperti mbak, enak ya? Bisa keluar tanpa harus izin-izin yang ribet, bisa bebas pake baju yang mbak mau dan dandan sesuai keinginan Mbak, Mbak juga bisa keluar pondok setiap hari, bisa ketemu orang-orang di luar pondok, bahkan mbak juga dibolehin bawa HP sendiri?”
“kamu kan juga enak, setiap bulan kamu bisa ditengokin orang tuamu dua kali. Rumahmu kan gak jauh kayak rumahku. Kalau baju, kan emang kuliah sudah gak pake seragam lagi, dulu waktu sekolah aku juga pake seragam kok’, ini aja aku kalau di pondok kelihatan paling beda sendiri, tapi kalau sudah di kampus aku yang paling aneh, karena wajahku sudah kumus-kumus dan penuh keringat. Kalau HP kan memang perlu untuk info dari temen-temen satu kuliahan dan aku juga perlu memberikan kabar keluarga di rumah. Dulu waktu aku masih sekolah juga belum dibolehin make HP, masa’ kamu masih iri sama aku? Nanti kamu kan ada waktunya juga bisa melakukan seperti yang kulakukan sekarang ini”
“iya deh mbak kalau begitu”

Itu tadi perbincangan yang sering menjadi obrolan yang diulang-ulang antara santri yang fokus belajar di pondok dengan gadis yang juga harus kuliah untuk memahami pengetahuan umum. Gadis itu juga banyak belajar dari santri-santri yang ada disana. Santri-santri yang ada disana rata-rata usianya masih dibawah gadis itu, tapi sudah bisa mandiri dan saling memahami satu santri dengan santri yang lainnya. Gadis itu juga tidak terbiasa masak, sehingga dia kerap sekali bingung untuk sekedar memasak nasi dan lauk pauknya. Kadang nasi yang dimasaknya sendiri gosong dan lauk pauknya tidak karu-karuan rasanya sehingga masakan yang telah dimasak gadis itu tidak enak untuk dimakan. Akhirnya, teman santri lainnya itulah yang kerap sekali menawarkan bantuan untuk makan bersama mereka ketika masakan yang dimasaknya sendiri tak berhasil dia masak. Gadis itu juga kerap bingung menggunakan kompor yang nyala apinya tidak bisa normal, sehingga dia membongkar sumbu-sumbu itu untuk bisa menghasilkan nyala api yang pas. Lagi-lagi yang membantu menarik sumbu-sumbu yang ujungnya hitam dan bawahnya bau minyak tanah, yaaaa sebagian santri yang ada disana. Bahkan urusan ngepel dan menguras kamar mandi saja, gadis itu kerap sekali tidak becus melakukannya, lagi-lagi santri-santri itulah yang lebih mahir melakukannya dan lebih peka menjaga kebersihan yang ada di pesantren. Gadis itu menjadi gadis yang paling tinggi pendidikannya di pesantren tapi paling bodoh sendiri ketika dihadapkan dengan kebiasaaan bertahan hidup di pesantren yang kondisinya serba terbatas tetapi tetap dilaluinya dengan kesabaran dan keihklasan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN