Kau yang Berkaos Putih Berubah jadi Abu-Abu





Aku pernah melihatmu di saat aku ingin kembali pulang ke kehidupan normalku. Aku tak tahu siapa kamu sebelum-sebelumnya, hanya saja teman yang baru kukenal selama tiga hari, sering menyebutkan namamu, dan aku sangat risih mendengar namamu disebut berulang kali. Aku cuma membatin saja “apa spesialnya orang ini sampai-sampai namanya tak henti-hentinya disebutkan oleh nama-nama kaum hawa, bahkan kaum adampun juga menyebutkan namamu?”. Tapi, di beberapa percakapan yang kami lakukan saat itu, aku cuma sebatas sebagai pendengar saja, karena aku benar-benar tak mengenalmu. Namamu kadang disanjung, kadang juga dicela, sehingga aku sebagai pendengar cuma terheran-heran yang tak terlalu ingin tahu hidupmu lebih lanjut dan membiarkan namamu terngiang-ngiang di telingaku begitu saja.

Aku cuma tahu sepintas tentangmu dan mungkin dua kali saja aku ingat itu, kamu yang duduk di kursi samping orang-orang yang ingin mengetahui duniamu, dan kedua kalinya aku bertemu denganmu ketika aku ingin berpamitan dengan orang-orang yang masih ingin singgah lebih lama di tempat peristirahatan. Aku ingat betul kaos oblong berbaju putih itu yang kau kenakan di saat aku ingin kembali ke duniaku di luar duniamu. Di saat aku ingin pulang, aku sudah mengetahui namamu kalau kamu memiliki dunia yang unik, tapi aku masih saja bersikukuh untuk tak ingin mengenalmu lebih jauh lagi, karena aku belum pernah mendengar tausiyahmu dan hanya mendengarnya dari orang lain saja dan aku tak ingin meninggalkan figur yang kukagumi hanya karena mengenalmu sepintas saja, apalagi itu hanya dari penjelasan orang lain. Akhirnya namamu hanya menjadi nama yang biasa saja di telingaku dan membiarkan namamu pergi seiring kepergian orang-orang di dunia yang kupikir tak nyata dan hanya sementara saja ini.

Seiring kepergian orang-orang yang mengagumimu sekaligus mungkin juga iri denganmu, akhirnya aku memutuskan untuk menelusurimu di dunia maya, ya itupun juga sepintas saja. Yang kuingat dari sebagian kata-katamu seperti kesombongan dan sebagian menunjukkan duniamu yang sudah hampir mirip sindrom populisme dan sindrom artis semata. Lagi-lagi aku merasa tak nyaman dengan bahasa-bahasa yang biasa di duniamu tapi sungguh tak biasa di duniaku. Kubaca-baca lagi postinganmu dan kucoba mencari sebagian kata-kata yang mungkin masih bisa membuatku tidak terjebak dengan sebagian bahasamu, akhirnya aku menemukan bahasa yang sangat kusukai dari pernyataanmu yang membuat hidup jadi tentram dan damai di kala itu. Tapi lagi-lagi aku tak bisa dengan mudah untuk memasukkan di daftar list orang-orang yang mungkin perlu digali dan dipelajari ilmunya, sementara di dunia nyata sedikitpun aku belum pernah berkomunikasi denganmu.

Akhirnya aku memutuskan untuk sebatas mengikutimu secara umum saja, akan tetapi lagi-lagi namamu disebut-sebut lagi oleh salah satu teman, ketika dia telah kembali pulang ke daerah asalnya. Aku lebih mengaguminya daripada aku mengangumimu, tapi dia mungkin mengagumimu sehingga aku disarankan untuk berkenalan dengan duniamu, tapi aku masih saja menyakinkan dia bahwa aku lebih senang bisa mempelajari darinya saja, sampai akhirnya  kami hanya menghabiskan waktu untuk membahasmu saja. Tidak hanya beberapa teman saja yang menyebut namamu, tapi  pihak-pihak yang memberikan pandangan pemikiran baru yang lebih luas lagi, berulang kali juga menyebut namamu dan membuatku semakin penasaran dengan duniamu yang masih saja membuatku ingat kata-katamu yang sedikit meninggi juga. Aku jengkel sekali, kenapa namamu kerap sekali kubaca dan kudengar dari orang-orang, sementara aku masih saja tak mengenalmu dari sisi lain yang mungkin bisa sama atau hampir serupa dengan orang-orang lain yang memandangmu.

Di awal waktu, aka hanya ingin sebatas mengikuti akunmu, siapa tahu jadi sumber inspirasi di lain hari, tapi setelah aku mengikutimu ternyata hal yang kuingat hanyalah sisi abu-abumu, sedangkan sisi putihmu aku melupakannya. Dari situlah kehidupan mungkin telah berubah dan aku terlalu banyak membaca sisi keruhmu, tetapi sisi jernihmu benar-benar kuabaikan. Betapa cepatnya lidahku menghinamu secara rendah hanya karena aku cuma mengingat sisi gelapmu saja, sementara aku tak melihat sisi terangmu yang sudah kututupi sendiri dengan sisi gelapku.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN