Keheranan dan Perselisihan di Pesantren
Gadis yang tidak mau mondok ketika diterima di bangku kuliah
itu adalah saya sendiri. Saya selalu menolak untuk tinggal di pondok. Tapi,
karena saya masih takut pada Kyai saya di rumah akhirnya saya bersedia mondok
juga. Ketika saya mondok dengan terpaksa menjalani hari-hari saya di pesantren,
saya selalu banyak mengeluh dengan kehidupan yang ada di pesantren. Setiap saya
pulang dari pesantren selalu saja saya merengek untuk keluar dari pondok,
tetapi izin keluar dari pesantren tidak pernah bisa saya dapatkan dari Ibu saya
maupun dari Kyai saya yang ada di rumah. Saya masih mencoba bertahan untuk menjalani
hari-hari saya bertahan di pesantren, tapi saya menjalaninya dengan tidak
suka-rela, sehingga banyak sekali pemahaman saya tentang pesantren menjadi
pemahaman yang salah kaprah semua.
Ketika saya ada di pesantren ada banyak tradisi yang menurut
saya sangat berlebihan. Saya harus jalan dengan lutut dan terkadang sambil
duduk ketika ada Bu Nyai sedang duduk di depan kami. Saya tidak terbiasa jalan
dengan timik-timik dan sangat pelan.
Urusan jalanpun memiliki banyak tata krama dan itu sungguh sangat merepotkan
bagi saya. Saya terus bertanya-tanya, kenapa mereka semua yang mondok di
pesantren itu tidak jalan sambil agak jongkok dan menunduk saja kalau ada Bu
Nyai yang jaraknya sekitar lima meter dari kami? Jaraknya itu juga tak terlalu
dekat dan tak terlalu jauh dan ini membuat ribet saja dalam urusan jalan yang
hampir jalan setengah ngesot padahal jarak lima meter itu tidak terlalu dekat.
Betapa ribetnya tinggal di pesantren sampai urusan jalan saja banyak sekali
aturannya. Saya harus membiasakan diri untuk mengikuti kebiasaan para santri
yang ada di pesantren itu. Saya selalu mengeluh terkait kesopanan yang menurut
saya terlalu berlebihan yang ada di pesantren itu. Saya jadi berfikir kehidupan
di pesantren juga tak kalah jauh berbeda dengan konsep di kerajaan yang begitu
meninggikan raja. Kyai dan Bu Nyai seperti disanjung-sanjung dan dihormati
secara berlebihan di mata saya ketika saya tinggal di pesantren untuk pertama
kalinya saat itu.
Urusan jalan yang lainnya juga harus saya ikuti dari
teman-teman santri lain yang ada di pesantren tersebut. Ketika ada Bu Nyai
lewat di jalan dan berpapasan dengan kami, kamipun juga harus berhenti terlebih
dahulu dan membiarkan Bu Nyai lewat terlebih dahulu. Padahal kalau dikalkulasi
jalan yang ada itu cukup lebar dan Bu Nyai bisa lewat dan sebagian dari kami
juga bisa lewat, sehingga kami bisa sama-sama tetap jalan dan bisa menyapa Bu Nyai
juga ketika kami berpapasan di jalan. Tapi, mereka memilih berhenti dan saya
akhirnya ikut berhenti juga meskipun dalam perhitungan saya seharusnya saya
tetap jalan terus saja. Tapi, saya tidak bisa terus berjalan karena lagi-lagi
saya harus mengikuti tradisi yang ada di pesantren itu. Meskipun saya belum
terbiasa dengan tindak-tunduk yang ada di pesantren itu, akhirnya saya coba
sekuat mungkin untuk tidak membuat kekacauan di pesantren dan memilih mengikuti
kebiasaaan di pesantren tersebut. Sesuatu yang bertolak belakang dengan
kebiasaan saya hanya saya biarkan saja dan lebih memilih jalan aman tidak
mencari perkara di pesantren. Meskipun saya sering merasa tidak betah di
pesantren, setidaknya saya tidak berulah dan berbuat keonaran dan tetap belajar
cara hidup di pesantren.
Hal yang aneh menurut saya ketika pertama kali saya ada di
pesantren juga terkait dengan salaman. Ketika bersalaman di pesantren kami
tidak hanya bersalaman dengan Bu Nyai saja tetapi dengan putrinya Bu Nyai yang
saat itu anaknya sepantaran dengan saya juga. Kamipun juga bersalaman dengan
anak Bu Nyai yang masih kecil yang saat itu masih kelas satu SD. Saya tidak
masalah apabila saya harus bersalaman dengan Bu Nyai dan sekaligus mencium
tangan Bu Nyai, tetapi ketika saya bersalaman dengan putrinya Bu Nyai yang
sepantaran dengan saya dan harus mencium tangan putrinya Bu Nyai, maka saya
tidak mau melakukannya saat itu. Para santri yang lainnya selalu bersalaman
dengan putrinya Bu Nyai dan juga anaknya yang masih kecil dengan cara mencium
tangannya juga, tetapi saya benar-benar tidak melakukannya disitu. Saya
memiliki gengsi yang tinggi ketika saya harus bersalaman dengan anak yang
sepantaran dengan saya ataupun dengan anaknya Bu Nyai yang masih kecil, apapun
itu alasannya saya tidak mau melakukannya. Bersyukurnya juga tangan neng (putri Bu Nyai) yang saya salami segera melepaskannya tangannya ketika saya
bersalaman dengannya, sehingga saya tidak perlu memaksakan diri untuk
bersalaman sambil mencium tangannya. Ketika saya melihat teman-teman santri
yang lainnya, lagi-lagi saya bertanya-tanya apa mereka benar-benar menyanjung
kehormatan Nyai dan bahkan keturuanannya untuk terus dipuja dan diagungkan tanpa
melihat usia sekalipun. Mereka selalu berpedoman pada keistimewaan keturuan
Kyai dan Nyai sebagai satu-satunya penghormatan yang memang pantas diberikan
pada beliau yang sudah mengembangkan pesantren dan sudah mendidik ilmu agama
pada mereka. Saya masih belum mau memahami pemahaman mereka yang selalu
mengagung-agungkan keturunan Nyai tanpa melihat usia dan kapabilitas yang belum
bisa saya rasakan saat itu. Tetapi, lagi-lagi saya tak berani menyampaikannya
pada para santri dan hanya membiarkan mereka menyalami keturunan Bu Nyai dengan
cara mereka sendiri dan saya dengan cara saya sendiri.
Di pesantren, saya lebih sering berbincang-bincang dengan
anak-anak santri dhalem. Saya tidur
bersama anak-anak santri dhalem. Anak-anak santri dhalem lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengabdi dan
membantu kebutuhan keluarga Kyai daripada mengaji di pesantren. Anak-anak
santri dhalem hanya mengaji ketika
pekerjaan-pekerjaan yang mereka lakukan sudah selesai. Di pesantren itu ada
empat santri dhalem yang membantu menyelesaikan pekerjaan Bu Nyai. Dua santri
dhalem bertugas di rumah Pak Kyai dan Bu Nyai dan dua santri dhalem bertugas di
tempat kakak Pak Kyai yang tempatnya juga bersebelahan dengan tempat para
santri istirahat di pesantren itu.
Di awal waktu ketika saya mengetahui kegiatan mereka, saya
melihat anak dhalem juga tidak
berbeda jauh dengan pembantu rumah tangga. Mereka merelakan dirinya untuk
mengurus kebutuhan Bu Nyai tanpa dibayar dan hanya diganti dengan makanan dan
minuman yang diberikan secara bebas oleh Bu Nyai. Dari situ saya melihat
sepertinya menjadi pembantu masih mendingan daripada harus menjadi anak dhalem yang harus banyak bekerja di
dapur, rumah dan urusan-urusan lain yang tak dibayar. Bahkan saya melihat
kehidupan di Pesantren itu tak kalah menindasanya dengan kehidupan-kehidupan
penjajahan seperti sistem romusa. Mungkin bedanya kalau kerja romusa itu
dipaksa, tetapi kalu kerja anak dhalem
di pesantren itu tanpa dipaksakan dan dikerjakan dengan suka rela. Dari urusan
memasak, mencuci, mengepel, menyetrika semuanya dikerjakan oleh santri dhalem,
tetapi mereka tidak banyak mengeluh melakukan itu. Saya terheran-heren dengan
mereka yang bersedia untuk menjadi anak dhalem dan mengabdi pada Pak Kyai dan
Bu Nyai di pesantren dengan tanpa imbalan berupa uang. Tapi lagi-lagi saya
hanya terheran-heran saja dengan kehidupan di pesantren yang sepertinya mengangung-agungkan kerelaan
terus menerus untuk diajarkan kepada para santrinya yang masih belum juga saya
pahami saat itu. Saya hanya terus memendam keheranan saya dan tidak berani menyampaikannya
pada para santri lainya yang ada di pesantren tersebut.
Semenjak keheranan saya semakin bertambah banyak saat saya
menjalani hari-hari saya di pesantren dan saya tak kunjung paham dengan dunia
pesantren yang menurut saya sangat mengekang maka saya semakin tidak betah
tinggal lama di pesantren. Semua yang saya pahami di pesantren hanya bertolak
belakang dengan kehidupan saya yang umum saya jalani di kehidupan
sebelum-sebelumnya. Semua aturan dan etika di pesantren membuat saya jengkel
sendiri ketika orang lain bisa melakukannya secara wajar dan saya menjadi yang
paling tidak bisa menerima aturan itu berlaku untuk saya. Saat itu saya berfiki
sistem di pesantren itu juga tidak beda jauh dengan sistem-sitem yang hanya
memandang satu figur sebagai satu-satunya panutan dan teladan yang terus disanjung-sanjung.
Para santri rela tidak dibayar melakukan apapun hanya ingin mendapatkan berkah
dan ridho dari Kyai. Dari situ saya terus menduga bahwa di pesantren itu
hanyalah bagian penindasan-penindasan yang berubah menjadi penindasan yang
halus dan tak terlihat saja. Bagaimana mereka bisa patuh begitu saja pada Kyai
dan Bu Nyai tanpa harus dipaksa sekalipun? Tapi, saat itu saya hanya memendam
saja semua keheranan-keheranan saya atas kehidupan di pesantren yang belum bisa
saya pahami.
Ketika saya terus memupuk rasa heran saya terhadap dunia
pesantren, tiba-tiba saat itu ada salah satu santri anak dhalem yang juga bercerita dan curhat kepada saya. Ketika dia cerita
tentang rasa letih dan capeknya menjadi anak dhalem dan dia mulai banyak
mengeluh dengan tugas yang harus dia jalani, langsung saat itu saya berikan
solusi untuk keluar dari pesantren. Sejak anak dhalem itu bercerita pada saya
maka segala unek-unek saya dan keheranan saya di pesantren saya utarakan juga.
Saya merasa memiliki teman yang sepertinya tidak begitu sepakat dengan
kehidupan di pesantren dengan aturannya yang begitu banyak mengatur kehidupan
para santrinya. Ketika saya menyampaikan keluh-kesah saya tentang kehidupan di
pesantren dan menyuruh anak dhalem itu untuk berhenti dari tugasnya dan keluar
dari pesantren, seketika itu juga dia tersinggung dengan perkataan saya.
Ketika anak dhalem yang
tidak terima dengan perkataan saya, seketika itu juga anak dhalem itulah yang menyuruh saya untuk segera enyah dan keluar dari
pesantren tersebut. Ketika dia yang ganti menyuruh saya keluar ketika itu juga
dia mengorek keburukan-keburukan saya selama ada di pesantren dari urusan
paling sederhana sampai urusan kuliah saya dan semua keisitimewaan yang saya
dapatkan dari pesantren tersebut. Bahkan anak dhalem itu sudah berani
menghakimi saya atas tindakan saya yang terkadang harus menginap di kosan teman
ketika saya tidak bisa pulang ke pondok. Dia juga menghakimi tindakan saya yang
beberapa kali saya harus pulang malam dari kampus sehingga saya tidak mengikuti
kegiatan mengaji di malam hari. Banyak hal yang dia korek dari
toleransi-toleransi yang diberikan Bu Nyai kepada saya. Ketika dia terus
mengorek tindakan saya yang tidak umum dilakukan oleh santri disitu, seketika
itu juga saya naik pitam dan berkata pada anak dhalem yang banyak mengeluh atas
kehidupan yang dilajaninya itu juga tidak kalah kurangajarnya dengan saya.
Bagaimana dia bisa menjadi anak dhalem kalau dia terus saja mengeluh? Jadi
kenapa menyalahkan saya yang memberikan solusi setelah dia mengeluh kepada saya
atas tugas yang harus dikerjakannya. Bagaimana saya bisa memandang pesantren
itu menjadi tempat yang penuh berkah kalau santrinya juga tidak ikhlas dengan
pekerjaannya? Seketika itu juga banyak kejengkelan-kejengkelan saya pada pesantren
saya utarakan kepada mereka. Saya jadi menyesal mau mendengarkan anak dhalem yang bercerita pada saya dan ikut
campur memberikan solusi atas keluh kesahnya yang harus meladeni Bu Nyai. Dia
juga sudah kurangajar pada saya karena sudah berani menghakimi tindakan saya
yang sepertinya tak menjadi masalah di mata Bu Nyai tetapi menjadi masalah di
mata anak dhalem itu.
Saya masih saja melawan anak dhalem itu, karena dia juga
banyak mengeluh atas tugas yang harus dikerjakannya, tetapi ketika dia semakin saya lawan kata-katanya, seketika itu
juga banyak anak pondok yang lainnya yang menjadi membela dia dan menyalahkan
saya atas ucapan saya yang memandang rendah para santri yang ada di pondok
tersebut. Mereka menilai tindakan saya sudah terlalu berlebihan ketika lidah
saya dengan gampangnya untuk menyuruh anak dhalem itu keluar dari pondok dan
berhenti menjadi anak dhalem. Saya
merasa posisi saya aman dan anak dhalem
itulah yang salah karena banyak mengeluh pada saya. Kalau tidak ingin capek ya
jangan jadi anak dhalem selalu terus saja ungkapkan itu. Saya terus melawan
kata-kata mereka dan saya tidak salah dengan sikap saya yang seperti itu.
Ketika saya bersikukuh saya tidak salah, seketika itu juga, anak dhalem itu semakin menjadi mengatakan
rasa jengkelnya kepada saya dan menganggap saya paling sombong dan paling benar
sendiri di antara santri-santri yang lainnya.
Saya juga masih melawan anak dhalem yang tadinya banyak
mengeluh pada saya itu juga tidak kalah banyak melakukan kesalahan dengan saya. Lalu apa salahnya kalau saya
menyuruh anak itu untuk mengakhiri penderitaan dengan cara keluar dari
pesantren dan berhenti menjadi anak dhalem? Lalu kenapa juga dia terus menangis
dan bercerita pada saya atas rasa letih tubuh dan batinnya dalam menjalankan
tugasnya? Dia curhat dan saya berikan jawabannya, kenapa jadi pada tidak terima
dengan jawaban yang sudah saya berikan. Ketika perkataaan saya melesat kepada anak
dhalem itu, seketika itu saya langsung dimusuhi juga oleh santri-santri yang
lainnya. Saya tidak bisa mengontrol diri saya untuk bisa menghormati kehidupan
di pesantren dan seketika itu juga anak dhalem itu terus menyebut saya yang
tidak tahu etika, adab dan sopan santun hidup di pesantren. Ketika anak dhalem
itu terus menyalahkan perkataan saya yang telah menyinggunggnya, dia yang
terus-terusan menyuruh saya untuk segera pindah dari pesantren. Ketika saya
sudah salah menyampaikan sesuatu yang bukan pada tempanya, mereka semua menjadi
tidak nyaman dengan keberadaan saya di pesantren. Ketika saya sudah tidak
memiliki teman yang sependapat lagi dengan saya seketika itu juga saya ingin
pulang dan ingin keluar dari pesantren dan tidak ingin lama-lama lagi ada di
pesantren tersebut.
Kebetulan saat itu Pak Kyai dan Bu Nyai sedang tidak ada di
pesantren ketika kami sedang bertengkar sehingga saya tidak bisa langsung
pamitan untuk pulang. Kalaupun beliau ada di pesantren mungkin saya sudah
langsung diusir dari pesantren karena saya hanya membawa pengaruh buruk untuk
para santri yang ada di pesantren tersebut. Saya sudah tidak tahu lagi
bagaimana saya bisa memperbaiki hubungan saya yang sudah tidak harmonis lagi
dengan para santri yang ada di pesantren tersebut. Sebagian santri di pesantren
tersebut sudah memusuhi saya atas perkataan saya yang tidak tepat untuk saya
lontarkan pada salah satu santri dhalem di pesantren tersebut. Tetapi, saat
saya sedang bertengkar dengan salah satu santri
dhalem yang di awal waktu mengeluh kepada saya, tiba-tiba ada salah satu
santri abdi dhalem senior yang usianya satu tahun di atas saya. Mbak itulah
satu-satunya yang menenangkan saya dan memahami kondisi saya yang belum banyak
memahami kehidupan di pesantren. Mbak itulah yang masih saya ingat sampai
sekarang ketika saya sudah benar-benar tidak betah ada di pesantren. Mbak itulah
satu-satunya yang menjelaskan anak dhalem yang memusuhi saya itu juga kondisinya
masih labil menjalankan tugasnya yang baru diembannya. Mbak itulah yang membuat
saya masih percaya kalau santri dhalem itu bukan lagi orang-orang yang
derajatnya rendah seperti pembantu. Mbak itulah yang membuka mata saya bahwa
pengabdian dan kerelaan dari orang-orang yang sudah mengikhlaskan hidupnya
untuk pesantren itu masih ada. Mbak itulah yang mengajari saya bahwa santri
dhalem itu adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang lapang dan kesabaran yang
sangat tinggi. Mbak itulah yang telah menyadarkan saya bahwa santri dhalem itu
adalah orang-orang pilihan dan tidak semua orang bisa menjadi santri dhalem.
Mbak itulah yang membuat saya bisa belajar untuk menghormati pilihan setiap
orang untuk merelakan dirinya menjadi santri dhalem. Hormat saya untuk Mbak
santri dhalem di pesantren tersebut yang masih bersedia memberikan pemahaman
kecil suatu bentuk pengabdian yang ada di pesantren itu meskipun saya sudah
salah memandang kehidupan di pesantren.
Saat itu saya berada di semester dua akhir dan saya sudah
selesai ujian akhir juga ketika saya bertengkar dengan salah satu santri Dhalem. Setelah saya bertengkar dengan
salah satu santri dhalem, saya lebih
banyak memilih diam dan tak banyak bercakap-cakap lagi dengan para santri yang
ada disana. Kalaupun saya bercakap-cakap saya hanya berani bercakap-cakap
dengan Mbak Santri Dhalem yang di
awal waktu menenangkan saya. Satu hari terasa sangat lama, ketika saya harus
menunggu Pak Kyai dan Bu Nyai kembali ke pesantren. Meskipun Mbak Santri Dhalem sudah menenangkan saya dan
menamani saya setelah saya bertengkar, saya hanya ingin pulang ke rumah dan
saya tidak ingin lama-lama lagi ada di pesantren itu. Tidurpun saya juga tidak
nyaman, karena saya tidur dengan para santri dhalem. Anak santri dhalem yang
bertangkar dengan saya memilih tidur di lain tempat, mungkin dia sudah tidak
ingin lagi melihat saya. Saya juga sudah tidak berani lagi untuk bercanda
dengan para santri yang lainnya, saya lebih banyak terdiam di dalam kamar dan
tak ikut lagi berjamaah dan mengaji Al-Quran dan mengaji kitab bersama ustadz
ustazah. Saya hanya ingin pulang dan pulang ke rumah, bertemu dengan ibu dan
tidak ingin lagi lama-lama ada di pesantren tersebut.
Keesokan harinya setelah Bu Nyai ada di pesantren saya
langsung izin pamit pulang dan belum mengutarakan keinginan saya untuk keluar
dari pesantren. Dalam waktu satu tahun selama saya tinggal di pesantren
tersebut saya memang sudah berencana untuk pindah ke tempat yang lebih dekat. Saya
sudah menemukan pesantren mahasiswa yang ada di dekat kampus. Rencananya kalau
saya pindah dan masih belum dibolehkan untuk tinggal di kos-kosan maka saya
akan pindah di pesantren mahasiswa tersebut. Saat hubungan saya sudah benar-benar
tidak lagi harmonis dengan para santri yang ada di pondok tersebut saya
benar-benar tidak ada pilihan lain untuk tidak keluar dari pesantren tersebut.
Saya sudah merasa tidak nyaman dan tidak enak sendiri dengan peraturan yang ada
di pesantren tersebut. Saya juga tidak tahu lagi bagaimana saya bisa
berkomunikasi secara baik lagi pada para santri di pondok tersebut setelah saya
bertengkar. Semua kesalahan yang sudah saya lakukan di pesantren itu membuat
saya semakin tidak tahan untuk terus-terusan bertahan tinggal disitu. Meskipun
masih ada Mbak Santri Dhalem yang
memahami kondisi saya yang belum bisa beradaptasi di pesantren itu dan
menyarankan saya untuk bisa bersabar betah ada di pesantren tersebut, tapi saya
sudah terlanjur malu bertengkar dengan salah satu santri dhalem yang ada disitu
dan saya tidak cukup berani untuk bertahan lebih lama bisa terus beradaptasi di
pesantren tersebut. Akhirnya saya pulang ke rumah dan pamitan pada Bu Nyai
tanpa menjelaskan pertengkaran yang sudah saya lakukan di pesantren tersebut.
Ketika saya pulang ke rumah dan bertemu dengan ibu, saya
benar-benar menjelaskan kepada ibu saya bahwa saya sudah tidak bisa lagi
tinggal di pesantren tersebut. Saya tidak tahu lagi bagaimana saya harus
bersikap ramah dengan para santri yang sudah terlanjur bermusuhan dengan saya.
Kalau saya tetap memaksakan tinggal di pesantren tersebut itu tidak akan baik
untuk saya dan tidak akan baik juga pada santri yang tidak terima atas
perkataan saya di pesantren tersebut. Saya terus memohon pada ibu saya untuk
mengizinkan saya keluar dari pesantren tersebut. Saya tidak akan tinggal di
kos-kosan dan akan memilih tinggal di pesantren mahasiswa yang tempatnya tidak
terlalu jauh dari kampus juga. Saya juga memohon izin pada Kyai saya yang ada
di rumah untuk pindah dari pesantren awal saya mondok. Saya tidak menjelaskan
kepada beliau atas pertengkaran yang saya lakukan di pesantren tersebut. Saya
hanya menjelaskan kepindahan saya di pesantren yang akan saya tempati nantinya
adalah pesantren mahasiswa yang akan membuat saya lebih mudah untuk mengerjakan
tugas-tugas kuliah saya di pesantren tersebut bersama teman-teman mahasiswa
lainnya. Akhirnya Kyai saya yang ada di rumah mengizinkan saya untuk pindah di
pesantren mahasiswa ketika saya berada di semester tiga.

Komentar
Posting Komentar