Kesombongan dan Kematian



Aku tak tahu kenapa aku bisa sangat sombong? Padahal tidak ada yang bisa disombongkan. Pintar juga tidak, cantik juga tidak, kaya apalagi, prestasi bahkan tak ada sama sekali. Kenapa juga aku bisa berani kurangajar dan tidak tahu diri dalam berkata-kata? Padahal aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki kemampuan apapun. Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Bahkan pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri saja banyak yang kutepis dan kulawan. Aku tak mau menerima jawaban yang memang benar-benar jawaban yang selama ini terus kupertanyakan. Aku hanya menyangkal dan terus mengingkari semua jalan hidup yang seharusnya kuterima dan kusyukri atas semua kelimpahan yang telah diberikan padaku. Tapi, aku  masih saja terus tak berucap terimakasih. Aku masih saja mencari penghidupan yang lebih dan lebih lagi. Aku selalu menginginkan hal-hal baru lainnya yang tak ada habis-habisnya. Aku tak ingin berhenti pada capaian-capaianku untuk membuat diriku bisa bertahan semakin kokoh, kuat, tangguh dan tak terhancurkan.
 
Aku masih saja enggan mengakui kalau aku sombong?. Sombong itulah yang dari kemaren-kemaren membantuku untuk menyelesaikan persoalan-persoalanku. Aku bisa selamat oleh sombong dan bisa celaka oleh sombong juga. Aku menutup diriku dengan kesombongan yang kumiliki supaya aku bisa aman menjalani hari-hariku tanpa ancaman yang mengusik ketenanganku. Kesombongan telah banyak membantuku menghajar orang-orang yang kurasa sangat perlu dibantai. Tapi kesombongan yang kumiliki di awal waktu sebagai benteng pertahananku berubah menjadi senjata untuk membunuh orang. Aku telah banyak merusak hidup orang dengan kesombongan yang kumiliki. Kesombongan yang kufungsikan untuk keamananku berubah menjadi kesombongan yang sangat keji untuk menindas orang. Aku telah salah menjadikan kesombongan sebagai penopang tubuhku tetap berdiri tegak tanpa ada yang bisa merobohkanku. Kesombongan yang telah kupelihara kuat-kuat kini  tak tahu lagi kemana dia pergi. Apakah dia mati? Apakah dia masih sekarat dan akan selamat? Apakah dia hanya jinak sementara? Apakah dia masih sembunyi di kesunyian yang menghampirinya?

Aku telah kehilangan kesombonganku yang entah ada dimana dia berada saat ini. Apakah aku akan sanggup menjalani hari-hariku tanpa kesombongan yang selalu menjadi temeng hidupku? Apakah aku masih bisa segarang dulu melawan musuh-musuhku yang tak lain adalah diriku sendiri? Lalu bagaimana nasibku di kehidupan-kehidupan berikutnya tanpa kebringasan yang selalu waspada dan setia di sampingku? Apakah aku bisa bertahan menghadapi hari-hariku tanpa mereka semua. Apakah aku mendadak menjadi orang yang sangat pesimis dan memasrahkan hidupku begitu saja pada alam? Aku tak mau seperti itu juga. Tapi, alam telah membuatku lemah beberapa hari ini. Aku benci alam yang tak bisa diajak berkompromi. Alam tak membiarkanku tetap gersit melawan semua yang menjadi keinginanku. Aku tak tahu lagi apakah aku harus pasrah dan mengaku kalah? Aku benci kekalahan dan kekalahan itu telah menghancurkan hidupku. Bahkan sesudah kalahpun aku masih saja melawan dan tak terima kalau aku kalah. Aku terus saja menuntut keadilan yang tak berpihak padaku. Tuntutan tak terpenuhi masih saja aku menghadang jalan dan menantang kemenangan. Tantangan tak digubris, masih saja aku berani melakukan pengrusakan. Masih belum puas merusak aku tak segan untuk melakukan penganiyayaan dan bahkan bisa saja aku melakukan pembunuhan.

Semua nampak suram dan aku tak mau seperti itu terus. Hidupku sudah sangat kelam dan aku tak mau terus-terusan seperti itu. Aku memilih mengutuk diriku sendiri untuk tinggal selamanya di ruangan gelap dan sunyi. Sekian lama aku menyendiri, aku masih bisa bertahan dengan gelap dan berteman dengannya. Aku tak ingin terus merusak hidup manusia lain. Jalan pengasingan dari hingar  bingar manusia menjadi jalan yang lebih baik kupilih daripada aku terus-menerus membiarkan diriku lepas kendali menghajar manusia tanpa habis-habisnya. Aku tak ingin berkelahi terus. Aku ingin berhenti bertengkar dengan manusia. Sembunyi di tempat gelap dan sunyi membuatku merasa lebih nyaman untuk bisa berlindung dan menutupi diriku dari manusia lain yang telah kurusak hidupnya. Sudah banyak hidup manusia yang tak terhitung jumlahnya yang telah kusiksa dan kuaniyaya. Di puncak penganiyaanku, aku menganiyaya diriku sendiri sebagai hukuman yang memang pantas untukku. Tapi, kini aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku yang terus menganiyaya diriku sendiri juga tak menyelesaikan masalah yang telah kubuat. Menganiyaya diriku sendiri hanya semakin memperumit dunia kelamku yang tiada habisnya. Aku tak ingin terus-terusan mengutuk diriku tinggal selamanya sampai aku mati di ruangan gelap itu.

Aku membutuhkan sedikit cahaya untuk bisa keluar dari ruang gelap gulita yang sudah kupilih sendiri. Tapi, aku sudah terlanjur meninggalkan semua lilin dan membuang alat penerang apapun. Aku tak ingin hanya duduk diam meringkuk di pojok kegelapan yang sudah kukunci sendiri. Aku telah mengunci ruang yang ada di dalam diriku sendiri dan membuang kuncinya sekalian untuk membuatku bisa terasing dari manusia. Aku telah sembunyi di kegelapan setelah berulang kali aku merusak hidup manusia lain yang tak ada habis-habisnya. Kini aku ingin keluar dari ruangan itu dan menemui orang-orang yang nasibnya telah kurusak dan memohon maaf pada mereka. Aku tak ingin terus-terusan sembunyi di ruang gelap dan pengap yang membuat nafasku sesak. Beberapa hari ini aku mendengar suara manusia menghampiri, tapi suaraku sudah sangat lemah sekali untuk berteriak meminta tolong. Tubuhku juga sudah sangat tak bertenaga untuk menggedor-gedor pintu yang telah kukunci sendiri. Bahkan untuk merangkak dan meraba-raba mencari kunci yang telah kubuang sendiri juga tak dapat kulakukan. Ruangan sudah gelap gulita dan kini tinggal menunggu mataku benar-benar menyatu terlelap bersama kegelapan. Detak jantungku masih bisa kudengar dan kurasakan, akan tetapi kesunyian yang semakin melekat membuat telingaku perlahan mulai tak bisa mendengarkannya lagi. Hanya ada sedikit yang bisa kurasakan dari detak jantungku masih berdegup pelan dan pelaaaan sekali. Kini degup jantungku mulai melambat. Aku mulai dilanda kehawatiran dan ketakutan yang kuat akan kematian yang harus kuhadapi. Aku masih ingin hidup di saat-saat kematian telah menjemputku. Apakah masih ada kesempatan untukku bertahan hidup dan selamat dari kematian? Apakah di luar ruangan gelap ini ada manusia yang menyadari keberadaan manusia yang sedang sekarat di dalamnya? Apakah di luar ruangan gelap ini ada manusia lain yang bisa mendengarkan jeritanku yang tak bisa menjerit lagi? Apakah di luar ruangan gelap ini ada manusia lain yang bisa mendobrak pintu kegelapan dan mengeluarkan manusia yang masih ingin melihat cahaya terang di luarnya? Tolong selamatkan aku dari kematian ini. Aku masih hidup, dan aku masih ingin hidup. Aku ingin keluar dari ruangan gelap ini tapi aku belum bisa menemukan kunci yang sudah kubuang sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN