MANUSIA HAUS DARAH



Mori bekerja di sebuah perusahaan kecil yang ada di darah sekitar sungai Brantas setelah dia lulus kuliah S-1. Mori sempat bercita-cita ingin melanjutkan kuliahnya lagi. Tapi, dia masih memendam keinginannya untuk lanjut kuliah. Dia memilih untuk bekerja terlebih dahulu. Sesekali dia juga mengintip internet untuk mencari peluang mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Tapi, secara kemampuan dia masih sangat jauh dari kata “layak” untuk bisa mendapatkan beasiswa. Ada banyak syarat yang harus dia penuhi untuk mendapatkan beasiswa. Mori sadar diri dengan kemampuan yang dimilikinya, akhiranya Dia belajar untuk bersabar dan menjalani hari-harinya di tempat kerjanya. Di tengah kesibukannya bekerja tiba-tiba Mori menerima telpon dari salah satu kerabatnya yang seorang bisnisman yang juga mulai merambahkan sayapnya ke dunia perpolitikan sepertinya.
“kamu masih tetap bekerja di tempat yang tak menjanjikan apa-apa di masa depanmu?”
“Saya masih perlu belajar untuk mendapatkan uang sendiri dulu man, biar gak minta uang terus sama ibu dan paman”
“kalau kamu mau, tak modalin buka toko biar masa depanmu itu jelas, biar kamu gak ikut orang terus, kerja ikut orang itu gak bakal bikin kamu cepet kaya!”
“enggak man, saya gak berbakat kalau usaha, saya tak kerja dulu, soalnya disini saya juga mau nyari beasiswa buat kuliah lagi”
“terus kalau kamu kuliah lagi mau jadi apa? Mau jadi pegawai? Mau jadi pejabat? Atau kamu mau terus kuliah?”
“pokoknya saya cuma mau kuliah man, tapi nanti dulu, saya mau cari beasiswa sambil kerja yang bisa tak kerjain man!”
“kamu ini dibilangin kok susah, disaranin buat belajar jadi pengusaha kok nolak terus”

Mori tetap saja mengabaikan saran pamannya. Mori tetap bekerja dan sesekali mencoba beasiswa yang ada untuk dicobanya. Tapi, lagi-lagi dia terlalu cepat untuk mengejar beasiswa yang masih belum rejekinya itu. Dia masih perlu banyak belajar dan menabung uangnya untuk dipergunakannya sekedar ikutan tes. Tiga bulan setelah mori bekerja, ada info beasiswa dan dia mencoba memaksakan dirinya untuk mendaftar, tapi lagi-lagi dia gagal. Dia memendam lagi keinginannya untuk bisa lanjut kuliah. Dia kembali bekerja dan mencoba untuk bertahan menjalankan pekerjaan yang dipilihnya itu. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja, tiba-tiba Paman Diro menelponnya lagi,
“kamu masih kerja ikut orang?”
“ia man, sudah terlanjur nyemplung jadi sekalian berenang”
“lha keinginanmu buat kuliah gimana?”
“masih tetep sama lah man kalau itu. Cuma kemaren masih gagal ikutan test, mau nyoba lain kali”
“gini ya mor, pamanmu ini kan duitnya gak kurang-kurang, kalau cuma bayarin SPPmu buat kuliah lagi itu lebih dari cukup, tapi apa gak sebaiknya uangnya buat modal kamu bisa usaha sendiri?”
“enggak man, aku maunya kuliah, sekarang ini aku masih mau nyari beasiswa dulu.”
“Yo wes nek kamu masih pengen kuliah nanti tak kuliahin.”
“Aku mau nyari beasiswa dulu man, aku gak mau ngerepotin paman terus”
“ini kan jadi kewajibanku bantuin kamu biar kamu nantinya mapan juga”

Mori terdiam ketika mendengarkan pamanya bilang seperti itu. Dia terus mengingat cita-cita yang ingin terus dikejarnya itu. Mori terus memikirkan kata-kata pamannya yang bersedia membiayai dia kuliah lagi. Dia berfikir saat itu, "jalan untuk dia kuliah memang tidak dari beasiswa dari pemerintah, tapi jalan beasiswa dari pamannya yang sudah terlanjur kaya raya duluan juga perlu dipertimbangkan." MorI mulai sedikit enggan bekerja lagi dan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menyiapkan segala test dan persiapan mendaftar kuliah lagi. Pekerjaanya ditinggalkan begitu saja untuk sekedar bisa lanjut kuliah. MorI pulang dan pamitan ke ibunya untuk bisa melanjutkan kuliah lagi. Ibunya seketika terheran-heran mendengar anaknya begitu cepat untuk mewujudkan keinginannya kuliah lagi.
“Mor, kamu kok secepat itu mau kuliah lagi, sudah syukur alhamdulillah kamu itu bisa kuliah sampe S-1, kok sekarang kamu ninggalin pekerjaanmu terus mau kuliah lagi? Kamu mau bayar paka apa?”
“Ada paman bu yang bersedia nguliahin aku”
“kamu kok seneng ngandalin orang lain buat nguliahin kamu to Mor?”
“lha gimana to bu’? Aku nyari beasiswa juga belum dapat-dapat ini bu’? Ini aku dah telat kuliah dua tahun setelah aku lulus juga lho bu’?, Aku kerja juga gini-gini aja bu’? ibu kan tahu aku sukanya kuliah bu’?”
“tapi Mor, dikuliahin orang itu berat lho tanggungjawabnya, kan gak semuanya nanti dibiyayain juga sama pamanmu to????”
“udah bu, pokoknya aku mau kuliah, ya mau kuliah, aku gak mau yang lain, paman kan sudah berbaik hati mau nguliahain aku, masak aku tolak bu’?”
Yo wes nek karepmu ngono kuwi”

Mori berbekal sedikit sisa gaji yang dimilikinya akhirnya dia memilih berangkat dengan nekat mendaftar kuliah S-2. Mori takut kalau meminta uang terlebih dahulu ke pamannya. Akhirnya dia cuma berani menelpon ibunya dan meminta ibunya untuk mengirimkan uang padanya. Ibunya hanya mengelus dada melihat polah tingkah anaknya yang memaksa untuk dikuliahkan S-2 lagi.

Ketika bersamaan Mori mengurusi pendaftaran ujian masuk S-2, tiba-tiba pamannya menelpon lagi dan menanyakan kabar persiapan testnya itu lagi. Mori dengan senang hati mengangkat telpon masuk dari pamannya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di luar tanah Jawa.
“Mor sekarang kamu udah daftar kuliah lagi?"
“ia man
"Buat biaya-biaya yang musti kamu bayar nanti tinggal kabarin saja”

MorI masih saja enggan menyampaikan biaya-biaya pendaftaran kuliah. Akhirnya pamannya sendiri mengirimkan uang sekenanya pada Mori lewat nomor rekening yang biasa dipergunakan Mori untuk mengambil uangnya. Mori sebelum-sebelumnya sudah biasa mendapatkan uang dari pamannya itu semenjak dia kuliah S-1 sesuai kebutuhan yang diperlukannya. Semenjak Mori mulai mengurus persiapan S-2nya, pamannya lebih banyak memngirimkan uang dengan nominal yang cukup banyak .
“Mor aku sudah transfer uang di rekeningmu buat ganti biaya pendaftaranmu”
“Ia man terimakasih”
“Mor tapi ini aku sedikit agak repot kalau harus ke Jawa buat ngurusin Anggoro kuliah, yo mbok minta tolong urusin kuliahnya dia biar dia mau kuliah di kedokteran!”
“Dia mau kuliah di apa Man?”
“Dia tak suruh kuliah kedokteran Mor, aku pengen bangun rumah sakit, biar dia itu nanti yang mengurus rumah sakit yang mau kubangun Mor. Tapi......, gini Mor, Anggoro ini anakknya waktu SMA IPS, tapi aku pengen dia masuk kedokteran, tolong carikan aku kampus buat Anggoro!”
“Man, bukannya kalau kedokteran itu dari jurusan IPA?”
“Tetanggaku di Perantauan ini ada Mor yang kuliah kedokteran dari Jurusan IPS”
“Ia man nanti coba tak cari-cari info dulu”

Dalam hati Mori Berkata “kalau tetangganya ada, kenapa aku yang disuruh nyari???”. Mori masih saja menurut dengan pamannya itu. Hitung-hitung, pamanya itulah yang  sudah mau menguliahkannya lagi. Sebisa mungkin Mori membantu pamannya itu untuk mewujudkan harapannya. Akan tetapi, selalu saja ada alang melintang. Anggoro secara kemampuan juga pas-pasan. Anggoro yang merupakan anak Paman Diro itu juga tak begitu tertarik dengan dunia kedokteran. Dia lebih senang memodivikasi kendaraan daripada harus bersentuhan dengan manusia. Akan tetapi keinginan Bapak dan Anak yang berbeda membuat hubungan mereka tidak harmonis. Paman Diro kerap sekali dianggap oleh Anggoro telalu memaksakan kehendaknya pada anaknya. Sedangkan, Paman Diro kerap sekali menganggap anaknya tidak bisa diandalakan dan tidak bisa manut dan nurut pada orang tua. Paman Diro selalu menghubungi Mori untuk bisa menjelaskan pada Anggoro supaya bisa menurut pada Bapaknya. Sedangkan Anggoro selalu menolak dan melampiaskan kemarahan pada Mori ketika keinginannya tak didengarkan oleh Bapaknya. Mori benar-benar dalam sumur buaya harus terlibat perselisihan antara hubungan antara Bapak dan anak. Mori akhirnya menjelaskan pada pamannya, “bahwa itu sungguh tidak mungkin bisa memaksakan keinginan besar dari bapaknya yang tidak diamini oleh anaknya” dan Mori angkat tangan pada kasus pertama.

Mori lagi-lagi mendapatkan tugas baru dari pamannya untuk membujuk rayu Anggoro bisa kuliah di jurusan arsitek, tapi lagi-lagi hanya perdebatan yang selalu ada diantara dua orang yang sudah terlanjur tidak akur itu. Mori hanya menahan nafasnya untuk tidak semakin memperparah keadaan. Tidak berhenti disitu saja, lagi-lagi pamannya menelpon untuk mencarikan anaknya kampus yang bagus. Anaknya yang gagal di test awal kampus idamannya itu juga malas-malasan untuk mencari kampus lain yang dikehendakinya, karena pasti akan bertentangan dengan keinginan bapaknya. Anggoro mengabaikan begitu saja permintaan-permintaan bapaknya. Akhirnya, Paman Diro menelpon Mori lagi untuk membantu Anggoro tetap bisa lanjut kuliah di tempat yang tak terlalu jelek tapi juga tak terlalu bagus. Dia test lagi, dan lagi-lagi dia gagal. Mori kalangkabut memikirkan cara bagaimana Anggoro bisa diterima di tempat tersebut. Akhirnya Mori menyarankan Anggoro untuk ambil les privat, tapi dia hanya datang satu kali saja dan pertemuan-pertemuan berikutnya diabaikan begitu saja oleh dia. Pamannya menelpon Mori untuk terus mencarikan kampus buat anaknya itu. Mori bilang pada pamanya, “sudah biar dia kuliah dimanapun saja yang penting dia diterima dan bisa belajar”. Tapi pamannya sungguh sangat luar biasa keras kepalanya. Dia masih menginginkan anaknya diterima di tempat yang tak begitu bagus tapi tak begitu jelek. Mori tetap saja menyuruh Anggoro untuk bisa rajin belajar dan tekun mengerjakan soal-soal persiapan test supaya bapaknya juga senang, anaknya juga bisa diterima di tempat yang diinginkan. Tapi Anggoro ini juga malasnya minta ampun dalam belajar, jadi wajar saja kalau dia gagal test.

Bapaknya Anggoro masih saja belum terima kalau anaknya itu gagal di tempat yang diinginkanya. Akhirnya Mori ditelpon lagi oleh pamanya yang sibuk di dunianya sendiri.
“Mor, kamu carikan orang supaya Anggoro bisa diterima kuliah ya!!”
“Cari orang gimana man?”
“Cari calo buat masukin Anggoro di kampus yang kumau”
“Aku gak ada kenalan Man kayak gituan”
Tulung temen Mor, kasihan Anggoro kalau dia tidak bisa kuliah tahun ini”
“Man, aku gak tahu siapa yang mau kumintai tolong Man”
“Aku bener-bener minta tolong Mor, ini waktunya sudah mepet, nanti Anggoro gak kebagian kampus”

Mori sungguh bingung menolak permintaan pamannya yang terasa sangat berat. Ketika dia panik menghadapi permintaan pamannya itu, Dia menghampiri salah satu temannya dan menceritkan kondisi tertekannya itu. Temannya itu membantu Mori mencarikan orang-orang yang jadi calo masuk kampus. Akhirnya dapat juga calo yang bersedia membantunya untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang tak wajar dari manusia. Selama masa-masa panas itu, pamannya terus menelpon dan menanyakan kabar terbaru. Mori terus didesak untuk segera menuntaskan pekerjaannya mengantarkan Anggoro di kampus yang dikehendaki oleh Bapaknya. Mori mendapatkan satu nomor kontak calo, dia memberikan nomor tesebut pada pamannya. Tapi, pamannya tidak mau mengurusi anaknya dengan Calo dan akhirnya Mori lah yang terlibat di dalamnya. Calo itu meminta uang 21 juta, dengan uang muka 5 juta. Sisa uangnya dibayar ketika menjelang test dilangusngkan. Waktu dijanjikan oleh calo untuk test adalah dua minggu dari pembayaran uang muka. Waktu dua minggu menghadapi test yang sudah dijanjikan si calo, akhirnya nomor calo tak bisa dihiubungi lagi dan uang 5 juta raib dibawa pergi calo itu. Akhirnya Anggoro gagal test masuk kampus yang diinginkan bapaknya juga.

Tidak menyerah sampai disitu saja, Mori masih ditelpon pamannya untuk mencarikan Anggoro calo yang lainnya. Lagi-lagi kalau sudah seperti ini, dia datang menghampiri temannya dan dia lupa kalau dia memiliki Tuhan. Temannya lagi-lagi mencarikan calo untuk Mori. Temannya mendapatkan calo baru lagi, tapi tarifnya beda dengan tarif awal, tarif dari calo kedua senilai 40 juta. Pamannya tetap tidak menyerah dengan nominal yang sebesar itu dibuang begitu saja kepada orang yang tak dikenalnya sama sekali. Pamannya meminta Mori untuk menemui calo itu. Pamannya hawatir kena tipu lagi. Mori yang ditemani temannya itu menemui calo itu dan sempat berbincang-bincang bersama dengan Anggoro untuk menjelaskan prosedur pembayaran dan prosedur test yang harus diikuti.

Ketika pertemuan sudah dilangsungakan, keesokan harinya Mori mematikan handpone dan membiarkan Anggoro dan bapaknya menyelesaikan sendiri pekerjaanya. Mori sudah tidak sanggup lagi meneruskannya. Mori membiarkan sepupunya terlunta-lunta dengan jalan yang ditempuh bapaknya. Bapaknya Anggoro tak henti-hentinya mengurungkan niatnya untuk tidak membayar calo demi kuliah. Test dilangsungkan satu hari setelah pertemuan diadakan. Mori sudah tidak mau ikut campur dengan urusan calo. Mori memilih pulang meninggalkan nasib sepupunya yang sedang akan mengikuti test dan dibantu calo untuk bisa masuk di kampus yang dia inginkan dan bapaknya senangi. Mori pergi tak bertanggungjawab mengakhiri sesuatu yang sudah diawalinya dan kembali pulang ke rumah. Mori sudah melangkah sangat jauh untuk membantu pamannya mendapatkan calo dan memasukkan anaknya di kampus yang diinginkannya. Hubungan Mori dan pamannya menjadi pecah, ketika Mori meninggalkan Anggoro begitu saja di hari-harinya sebelum test. Uang pembayaran pada calo langsung diurus sendiri oleh Anggoro dan bapaknya.

Selama masa menghilangnya Mori dari pamannya itu, di saat bersamaan juga hasil pengumuman kuliah S-2nya diterima juga. Mori kebingungan bukan kepalang. Di saat Mori sedang panik, ibunya itu yang menjadi sasaran kebringasan Mori.
“Bu’, aku keterima S-2, tapi ibu tahu kan, paman sudah marah besar karena anaknya tak tinggalin begitu saja, Bu’, tolong jual tanah yang dari bapak bu, aku ndak tahu lagi harus gimana ini bu’???”
“kamu ini kalau bicara lak mesti ngawur, itu tanah gak gampang bisa dapetinnya, kok kamu seenaknya sendiri minta tanahnya dijual”
“lha gimana ini bu’, pembayaran SPP dan biaya hidup disana juga gak murah bu’???”
“dipikir sambil jalan, gak usah grusah-grusuh. Makanya, kan sudah dari awal ibu peringatkan jangan mudah gampang tergiur sama iming-iming dari siapapun termasuk pamanmu sendiri, kayak gini ibu juga kan yang repot”

Mori cuma terdiam saja dan sudah tidak bisa mikir apa-apa lagi. Permasalahan yang dibuatnya semakin menumpuk dan ulah yang dibuatnya tak kunjung-kunjung selesai. Ibunya masih tetap tidak membiarkan tanah yang telah dimilikinya dijual begitu saja. Ibu Mori memilih selembar kertas dititipkan di Bank dan ditukar dengan rupiah untuk bisa membuat anaknya bisa tetap lanjut kuliah. Ketika surat bangunan usaha sudah terlanjur parkir di Bank dan pembayaran SPP sudah dilakukan, tiba-tiba Paman Diro menelpon Mori lagi. Mori enggan mengangkatnya di awal waktu. Tapi, dia melihat ibunya yang kalang kabut mengurusi pembayaran kuliahnya, akhirnya Mori mengangkat panggilan telpon itu.
“Mor, gimana kabar pendaftran kuliahmu?”
“Sudah keterima man”
“Oh, keterima? Tak fikir sudah tidak ada harapan keterima juga, gimana pembayarannya?”
“sudah dibayarin ibu”
“habis ini tak transfer nanti buat mengganti uangnya ibumu”

Mori cuma diam saja dan belum bisa bercakap-cakap banyak dengan pamannya itu. Janji dari pamannya untuk dikuliahkan sudah dipenuhi dan seiring berjalannya waktu hubungan Mori dan pamannya membaik lagi. Mori mendapat tugas baru lagi untuk sering mengawasi gerak-gerik Anggoro. Anggoro sering bohong dan menipu bapaknya untuk meminta uang. Anggoropun juga sering kena tipu orang, karena kebodohan yang dibuatnya sendiri. Dan Anggoro dimata-matai juga oleh orang-orang yang bodoh juga. Semua menjadi dungu kalau sudah tidak bisa membedakan antara ditipu dan tidak. Mori kerap sekali ditipu oleh Anggoro. Mori menjadi mata-mata pamannya untuk melaporkan gerak-gerik anaknya yang sudah mulai mahir menipu. Dan bodohnya paman Diro  itu, Dia memilih Mori sebagai mata-mata yang bodoh dan mudah sekali ditipu oleh orang. Mereka semua sama-sama bodoh bisa percaya pada orang-orang bodoh.

Tugas Mori tidak hanya menjadi mata-mata Anggoro. Tugas barunya memantau anak kedua pamannya yang sekolah di tanah jawa.  Tugasnya itu membantu mengantarkan anaknya bisa masuk IPA supaya lagi-lagi anaknya bisa masuk kedokteran. Tapi anak-anak paman Diro bakatnya mungkin tidak menjadi dokter, anaknya tidak ada yang tertarik menjadi dokter. Anaknya dipaksa untuk pintar padahal anaknya memiliki bakat lain. Paman Diro tidak suka anaknya tidak pintar seperti dokter. Mori, jengkel dengan kehendak paman Diro yang seenak udel menyuruh anaknya begini-begitu. Mori sendiri belum bisa lepas dan belum siap melepaskan cengkeraman Paman Diro yang telah membantunya kuliah. Lagi-lagi Mori yang selalu jadi incaran Paman Diro untuk memaksakan kehendaknya bisa diterima oleh anak-anaknya. Mori tak kuasa menolak tapi juga tak berani untuk melawan. Mori hanya melakukan perintah dan tak kuasa memberikan perintah balik ketika bayang-bayang jasa di matanya tak kunjung hilang.

Anaknya Paman Diro melihat Mori sudah seperti musuh yang ingin ditikamnya. Anak keduanya hanya terdiam setiap bapaknya meminta begini dan begitu. Dia lebih parah tidak punya arah. Dia menjadi pemalas yang tak banyak bicara. Dia yang tak memberontak tapi juga tak bahagia dengan diamnya itu. Anak kedua paman Diro tidak banyak bicara ketika disuruh begini dan begitu. Dia tetap menjalankan kehendak bapaknya untuk mengikuti arahannya. Lagi-lagi yang sering mendapatkan mandat untuk menyuruh anak keduanya melakukan ini itu adalah Mori. Mori selalu saja nurut dan tak berani melawan pamannya yang lagi-lagi telah membiayai dia kuliah. Dia ingat jasa baik pamanya. Dia takut akan durhaka apabila melawan keinginan pamannya. Dia terus saja menyuruh anak keduanya untuk bisa rajin belajar, tapi dia tetap saja mempunyai dunia sendiri yang tak dipahami bapaknya maupun dipahami Mori.

Mori yang selalu menuruti kehendak pamannya tiba-tiba mulai mengambil jarak ketika anak-anaknya sudah tidak lagi nyaman dengan kehadiranya. Mori mulai acuh tak acuh pada hidup Anggoro dan adiknya. Mori lagi-lagi gagal mengantarkan anak kedua paman Diro bisa mencapai keinginan yang diharapkan orang tuanya. Mori meninggalkan anak keduanya begitu saja terlantar dan terpuruk dengan capaian dan usaha yang tak juga dicapai anak itu. Berbagai usaha untuk les, kelas tambahan, waktu liburan yang dibatasi dan semua hidupnya sudah diperketat untuk bisa belajar dengan serius masih saja tak tercapai. Upaya yang dilakukan untuk membuat anak itu bisa pintar di bidang pelajaran umum  gagal dijalankan. Anak kedua paman Diro tidak bisa menerima berbagai pelajaran dengan lancar. Dia hanya sibuk dengan diamnya yang tak diam. Mori hanya terdiam membatu dan tak ingin mendengarkan lagi suara Paman Diro yang terus menghampirinya. Anak kedua Paman Diro akhirnya gagal masuk kelas IPA. Dia bahkan juga gagal naik kelas. Dia ingin pindah sekolah, tetapi Paman Diro masih saja menginginkan anak keduanya sekolah di tempat yang menurut Paman Diro berkualitas tetapi tidak menurut anaknya. Paman Diro masih saja memohon pada Mori untuk bisa merayu anak keduanya mau menerima permintaan Paman Diro ketika anaknya gagal naik kelas. Mori cuma membatin dan berkata “MATAMU ITU TAK MELIHAT KALAU ANAKMU ITU MENANGIS KARENA GAGAL NAIK KELAS”. Tapi penjelasan apapun dari Mori itu akan sia-sia ketika disampaikan pada pamannya. Mori hanya membiarkan anak pamannya itu pulang dan kembali bertemu dengan bapaknya di luar tanah jawa. Mori berharap pada pamannya dan sepupunya itu bisa saling berbicara dan saling memahami keinginan masing-masing dari mereka bisa terpenuhi, meskipun terlihat masih agak sangat ganjil dan mustahil bisa terwujud semudah itu.

Paman Diro punya standar kebahagiaan yang berbeda dengan anak-anaknya. Paman Diro tidak menginginkan anak-anaknya terjebak dalam keterpurukan dan kemiskinan. Segala upaya dan usaha dilakukan Paman Diro untuk bisa mengatur anak-anaknya. Akan tetapi, usaha-usaha yang dilakukan Paman Diro hanya mencekik anak-anaknya saja. Paman Diro hanya semakin mempercepat kematian anak-anaknya. Anggoro yang sudah mahir menipu kini juga sudah menjadi jagoan untuk membodohi Mori ataupun Bapaknya ataupun orang-orang yang dirasa merugikan hidupnya. Anak kedua Paman Diro hanya terdiam pasrah menjalani hari-hari keterpurukannya yang semakin hari semakin parah, sehingga apapun yang dikatakan oleh Paman Diro maupun Mori tetap dijalaninya dengan kegagalan-kegalan yang menyertainya juga. Bantuan Paman Diro pada Mori untuk kuliah menjadi bantuan yang tak sekedar bantuan saja. Mori harus memenuhi kehendak-kehendak di luar batas kemampuannya untuk menjalankan perintah dan mandat dari pamannya. Mori selalu tercukupi kebutuhan kuliahnya, tetapi dia gagal menjadi mahasiswa yang didamba-dambakannya. Mereka telah menjadi manusia yang haus akan darah-darah segar terus bisa menghidupinya. Mereka tak segan meminum darah segar itu meskipun harus membunuh nadi-nadi kehidupan manusia lain. Itulah mereka manusia yang selalu merasa kurang dan hidupnya tak pernah merasa cukup.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN