Pesantren Vs Harapan
Bulan April 2017 menjadi bulan pertama kalinya saya berani melangkahkan
kaki saya di pesantren. Sebelum-sebelumnya saya tidak berani kembali ke
pesantren memberikan kabar kehidupan terbaru saya. Bahkan untuk sekedar
menelpon dan mengirimkan pesan menanyakan kabar Pak Kyai dan Bu Nyai tidak saya
lakukan juga. Semua akses media sosial yang bersinggungan dengan kehidupan saya
di pesantren sebagian sudah saya sembunyikan. Bahkan pertemanan di sosial media
saya batasi sekiranya ada junior yang terdeteksi di profilnya yang satu
pesantren dengan saya. Saya juga mengabaikan konfirmasi pertemanan dengan salah
satu putra Bu Nyai yang aktif di sosial media. Saya tidak ingin kehidupan baru
saya terbaca dan terdeteksi oleh mereka semua di pesantren. Sebagian
kenangan-kenangan di pesantren juga banyak yang saya sembunyikan pengaturannya
supaya tidak banyak teman baru saya yang mengetahui siapa saya sebelum saya
diterima di jenjang kuliah S-2.
Semenjak saya diterima kuliah di jenjang S-2 saya tidak
pernah lagi menghampiri pesantren dan berkunjung di pesantren lagi. Bahkan saya
tidak berani menyampaikan kepada Pak Kyai dan Bu Nyai bahwa saya melanjutkan
kuliah lagi. Sebelum saya kuliah S-2, saya masih sering sowan dan berkunjung di pesantren. Tapi, semenjak saya S-2, saya
merasa kehidupan di masa lalu tidak perlu saya kenang lagi dan saya harus bisa
bertahan dengan pilihan saya untuk mampu bertahan di bangku kuliah. Saya harus mampu
menjadi sosok yang baru dan berbeda dengan sosok saya yang sebelum-sebelumnya.
Setiap ada adek tingkat yang ada di pesantren menanyakan kabar saya, banyak
yang saya sembunyikan segala aktivitas saya dan saya tutup-tutupi pilihan hidup
terbaru saya. Saya menutup rapat-rapat dunia saya yang ada di pesantren
semenjak saya kuliah S-2 supaya teman-teman di lingkungan terbaru saya tidak
mengetahui identitas saya sebelum-sebelumnya.
Selama hampir dua tahun saya menghilang dan tak memberikan
kabar sama sekali pada Pak Kyai dan Bu Nyai, akhirnya di bulan April 2017
itulah saya mencoba memberanikan diri lagi untuk mampir di pesantren. Saat itu
saya juga ragu apakah saya masih berani untuk menemui Pak Kyai dan Bu Nyai lagi
setelah sekian lama saya menghilang dari pesantren. Saat itupun saya juga berpikir
berulang kali pantas tidaknya saya bisa sekedar mampir ke pondok sedangkan saya
sudah meniatkan ke Madura untuk mengikuti acara lain. Saya juga dilanda rasa
bersalah yang sangat besar karena kehidupan saya sudah sangat jauh berbeda
dengan kehidupan saya yang sebelum-sebelumnya yang ada di pesantren membuat
saya semakin segan untuk sekedar singgah dan menemui Pak Kyai dan Bu Nyai. Ketakutan-ketakutan
dalam diri saya terus menumpuk untuk berani menemui Pak Kyai dan Bu Nyai di
pondok. Setelah keraguan yang banyak menghampiri, akhirnya saya putuskan untuk
berani mendatangi pesantren lagi.
Ketika saya datang di pesantren, Bu Nyai adalah orang pertama
yang ingin saya temui. Saya dilanda rasa cemas, gugup, panik yang sangat besar
ketika menginjakkan kaki saya lagi di pesantren. Saat itu saya tiba di pesantren
sekitar pukul tiga sore. Bu Nyai masih sholat di kamar beliau. Saya menunggu Bu
Nyai sampai selesai sholat dulu di samping ruang tamu. Kebetulan saat itu Bu
Nyai tidak sedang mengimami sholat ashar dan memilih sholat sendiri di
kamarnya. Saya diberitahu oleh salah satu santri yang kebetulan saat itu tidak
sedang sholat bahwa Bu Nyai tidak mengimami berjamaah karena beliau akan
bepergian ke Surabaya sesudah sholat ashar. Saya agak merasa hawatir ketika
mendengar Bu Nyai akan bepergian. Saya hawatir akan mengganggu waktunya Bu Nyai
untuk bepergian sekaligus saya hawatir nantinya tidak bisa bertemu dengan Bu
Nyai di pesantren karena Bu Nyai sudah harus segera pergi ke Surabaya. Tapi,
saya biarkan saja rasa hawatir itu sampai Bu Nyai benar-benar selesai sholat
ashar dan keluar dari kamarnya.
Setelah saya menunggu Bu Nyai selesai sholat ashar dan keluar
dari kamar beliau, akhirnya saya menghampiri Bu Nyai di depan kamar beliau
seperti kebiasaan saya di tahun sebelum-sebelumnya yang lebih banyak berbincang-bincang
dengan Bu Nyai di depan kamar beliau. Saat Bu Nyai membuka pintu kamarnya, saya
langsung sungkem sambil duduk
setengah berdiri dan menjadikan lutut saya sebagai tumpuan saya berpijak di
lantai. Ketika saya sungkem, Bu Nyai tidak menerima tangannya untuk bisa saya
salami. Bu Nyai memalingkan wajah beliau dari saya dan langsung berkata, “siapa
ini yang datang ke pondok?” sambil berkata dengan sinisnya kepada saya. Seketika
itu saya tidak bisa berkata-kata banyak lagi dan hanya terdiam menunduk. Saya
diam sangat lama sambil mendengarkan Bu Nyai menyampaikan rasa kecewanya yang
sangat dalam pada saya, “kemana saja selama ini? Anak yang hilang masih bisa
pulang? Kamu masih ingat sama pondok?........”. Saya terus menunduk dan tidak
berani menatap mata beliau sama sekali. Saya hanya diam dan teruuuuus diam dan
duduk lemas mendapati Bu Nyai tidak berkenan tangannya saya salami. Ketika saya
sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dan Bu Nyai mulai tak banyak berbicara
lagi, saat itulah Bu Nyai mengulurkan tangannya untuk berkenan saya salami
lagi.
Ketika tangan Bu Nyai masih mau saya salami maka besar
kemungkinan bagi saya untuk mendapatkan maaf dari Bu Nyai. Setelah Bu Nyai
berkenan menerima sungkeman saya akhirnya Bu Nyai banyak menanyakan kabar saya dan
kuliah saya. Saya tidak menyampaikan sedikitpun kabar kuliah S-2
saya sedikitpun kepada Bu Nyai tetapi Bu Nyai mendapatkan kabar itu dari teman
saya yang lain yang sering ke pesantren.
Sekuat apapun saya menutupi kehidupan baru saya maka seketika itu juga saya
hancur dengan kehidupan baru yang saya pilih. Berulang kali saya menyampaikan
kepada teman-teman dekat saya yang tahu dengan kehidupan baru saya untuk tidak
memberikan kabar sedikitpun ke pesantren tetap saja mereka menyampaikan
kabar-kabar saya pada Bu Nyai. Saat itu Bu Nyai lebih berkali lipat kecewa
ketika mendengar saya yang kuliah lagi tetapi bukan mendapatkan kabar dari saya
sendiri tetapi dari teman saya yang tidak mondok tetapi masih sering
bersilaturahmi ke pesantren. Saat itu Bu Nyai hanya tersenyum getir menyampaikan
rasa kecewanya pada saya, tetapi beliau masih saja menanyakan kehidupan saya
terkait tempat tinggal dan biaya kuliah dan sebagainya. Saat itu saya
benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata banyak lagi dan hanya menjawab
sedikit pertanyaan Bu Nyai dengan tidak menjelaskan kondisi detail yang saya
alami setelah meninggalkan pesantren. Saya hanya banyak diam dan masih menutupi
kesalahan-kesalahan yang sudah saya perbuat yang banyak menerjang aturan agama di
depan Bu Nyai supaya Bu Nyai tidak semakin kecewa dengan saya. Tetapi Bu Nyai
tidak bisa ditipu dan dibohongi, semakin saya membohongi beliau maka semakin terbongkar
kesalahan-kesalahan yang saya perbuat selama ini. Bu Nyai tidak banyak
berbicara lagi dan hanya terdiam memandangi saya yang sudah sangat jauh dari
kehidupan saya yang sebelum-sebelumnya.
Ketika kondisi saya yang sangat berantakan saat datang ke
pesantren, Bu Nyai masih berlapang dada menerima kedatangan saya. Bu Nyai masih
mengenalkan saya kepada santrinya yang lain dengan bangganya. Beliau masih
memandang saya sama persisnya ketika sebelum saya meninggalkan pesantren. Saya
hanya terdiam malu dengan candaan Bu Nyai. Saya tahu betul itu adalah sindiran
yang selalu menjadi andalan Bu Nyai untuk saya bisa menyadari kesalahan yang
saya lakukan atas kekacauan kehidupan yang saya jalani. Ketika kehidupan saya
sudah sangat jauh dari kehidupan pesantren, Bu Nyai masih saja menanyakan
rencana-rencana dan cita-cita kedepan yang saya miliki. Lagi-lagi saya tak
banyak berbicara dan tak banyak menjawab atas semua pertanyaan-pertanyaan Bu
Nyai. Saya hanya banyak berkelit dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan itu semua dan menjawab sekenanya saja. Bahkan ketika saya
banyak berkelit menjawab, Bu Nyai masih saja memberikan pendapatnya kepada saya
untuk melakukan ini-itu supaya masa depan saya bisa jelas dan terarah. Tapi,
lagi-lagi saya hanya terdiam dan tak banyak menjawab ketika sudah membahas
urusan masa depan yang saya sendiri belum tahu nasibnya. Bu Nyai hanya
geleng-geleng kepala dan mulai memberikan senyumnya kepada saya, ketika saya
enggan dan segan untuk membahas urusan masa depan. Bahkan urusan jodohpun tak
luput dibahas oleh Bu Nyai tapi lagi-lagi saya hanya hanya menjawabnya dengan
ketawa yang sudah mulai berani agak kencang, karena itu pertanyaan yang sangat
tambah buram di mata saya. Bu Nyai semakin curiga dan hawatir ketika saya hanya
menjawabnya dengan ketawa. Beliau sampai-sampai juga bersedia mencarikan jodoh
untuk saya kalau saya tak kunjung menikah juga. Dari obrolan-obrolan itu
akhirnya saya sudah benar-benar lega Bu Nyai sudah tidak marah lagi dengan saya
dan Bu Nyai masih membuka pintunya untuk saya bisa sekedar mampir dan singgah
di pesantren selama saya ada di Madura.
Ketika perbincangan saya dengan Bu Nyai yang hampir berlangsung
hampir sekitar empat puluh lima menitan sore itu, akhirnya Bu Nyai baru
berangkat ke Surabaya setelah suasana perbincangan kami benar-benar mencair. Saya
sudah mulai agak tenang dan demikian juga dengan Bu Nyai yang sudah tidak marah
lagi dengan saya. Ketika Bu Nyai harus pergi ke Surabaya bersama pak Kyai dan
putranya maka Bu Nyai menyuruh para santri yang lainnya untuk meladeni
kebutuhan saya ketika saya ada di Pesantren, baik dari urusan makan dan minuman
serta urusana kamar untuk tempat istirahat saya. Ketika Bu Nyai akan berangkat
ke Surabaya, Bu Nyai juga menanyakan kepada saya untuk menginap tidaknya saya
di pesantren, tetapi saat itu saya memilih tidak menginap di pesantren. Ketika
saya tidak menginap di pesantren maka Bu Nyai meminta saya untuk datang lagi ke
pasantreen keesokan harinya dan saya mengiyakan permintaan Bu Nyai.
Malam harinya saya mengikuti acara yang membawa saya untuk
bisa berani kembali ke Madura lagi setelah lama meninggalkan Madura. Awalnya
saya juga ragu untuk mengikuti acara tersebut dan saya hawatir akan
membangkitkan kenangan-kenangan yang tidak saya harapkan menghampiri saya lagi.
Tapi, dari acara itulah saya juga mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya
karena telah mengantarkan saya kembali untuk mengunjungi pesantren dimana saya
pernah dididik ilmu agama disitu. Hanya pesantren yang saya ingat ketika saya
ingin memahami kehidupan yang benar-benar kehidupan saya sendiri ketika saya
mengikuti acara di malam tersebut. Disitulah saya benar-benar bisa merasakan
kehidupan baru lagi setelah lama saya menutup diri dengan kehidupan masa lalu
saya di Madura. Saya kembali bisa merasakan kasih sayang yang melimpah yang
pernah singgah di hati saya ketika saya tinggal di Madura setelah lama tak
ingin ada rasa di dalam hati saya untuk bisa mencapai harapan-harapan yang saya
harapkan.
Ketika acara yang saya ikuti sudah selesai, pagi harinya saya
kembali lagi ke pesantren dan menemui Bu Nyai dan kembali berbincang-bincang
dengan Bu Nyai. Disitulah perbincangan yang semakin membuat saya mempertanyakan
jalan hidup yang sudah saya pilih terus menghantui saya. Tetapi semua itu masih
mampu saya pendam dan saya tutupi dari Bu Nyai. Saya masih bersikukuh bahwa
jalan hidup saya sudah umum dan lumrah dijalani oleh mahasiswa yang sedang menempuh
jenjang pendidikan S-2 sehingga saya tidak begitu membuat hidup saya semakin
rumit. Demikian juga dengan penampilan dan gaya hidup saya yang mulai banyak
berubah juga saya tutupi di depan Bu Nyai. Saya sudah semakin mahir berkelit
dan menjawab pertanyaan Bu Nyai yang banyak saya jawab dengan tidak jujur. Kembali
menemui Bu Nyai, berarti semua kehidupan saya yang baru secara tiba-tiba harus
kembali saya benturkan dengan kehidupan lama saya yang sangat bertolak belakang
membuat saya semakin membuat bingung atas hidup yang saya jalani. Kepala saya
seperti dihantam dengan batu keras untuk mengingatkan siapa saya sesungguhnya.
Tetapi, saat itu saya masih bersikukuh bahwa hidup saya baik-baik saja dan saya
hanya lelah akan tugas akhir saya yang tak kunjung selesai juga. Akhirnya saya
memutuskan untuk pulang setelah beberapa urusan di Madura selesai dan urusan di
pesantren untuk menjalin silaturahmi selesai juga.
***
Setelah saya berhasil kembali ke Madura, saya sedikit
memiliki harapan baru lagi untuk bisa kemabli percaya diri lagi dengan
kehidupan yang lebih baik nantinya di Madura. Akhirnya saya menjalin
silaturahmi lagi dengan adek-adek tingkat saya yang satu komunitas dengan saya
di kampus saya S-1. Satu bulan kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk kembali
ke Madura dengan harapan kehidupan yang lebih berwarna lagi. Saya kembali ke Madura
tetapi saya tidak mengingat pesantren sama sekali. Saya di Madura tidak singgah
sama sekali di pesantren. Selama tiga hari dua malam saya hanya menghabiskan
waktu saya di komunitas yang mengantarkan saya untuk bisa memiliki
harapan-harapan yang nampak menjanjikan untuk masa depan saya. Saya
menghabiskan waktu sepanjang malam dengan berbincang panjang lebar terkait
kajian yang saya tekuni dan saya perdalami.
Ketika saya berusaha membebaskan diri saya dari pesantren
seketika itu juga saya dihantui dengan kehidupan di pesantren. Ketika saya menghadiri
acara di komunitas saya di S-1, saya memilih menginap di tempat adek tingkat
dan tak mampir di pesantren, karena saya ingin totalitas bersama teman-teman
komunitas itu. Ketika saya menggebu-gebu di komunitas itu maka seketika itu
saya terus mematikan rasa saya untuk sekedar mengingat pesantren. Pesantren
menjadi tempat yang tak nampak menyenangkan ketika saya harus dihadapkan dengan
banyaknya aturan yang sangat ketat, sedangkan dunia yang harus saya hadapi
adalah dunia yang membuat saya perlu bisa melepas semua belenggu agama yang menghampiri
saya. Sejak saya mendapatkan kesempatan untuk bisa semakin dekat dengan dunia-dunia
yang saya pelajari seketika itu saya semakin jauh dari saya yang pernah ada di
pesantren.
Saya membawa kebiasaan kehidupan baru saya untuk menyebarkan
semangat menggapai cita-cita dan harapan-harapan pada adek tingkat saya untuk
terus mengejar dan mengejar sesuatu yang mereka inginkan, tetapi saya menyampingkan
nilai-nilai dan batas kemampuan yang mereka miliki. Kalau mereka punya
cita-cita ya harus dikejar apapun itu caranya itulah yang selalu saya
gaung-gaungkan pada mereka. Saya masih memaksakan faham-faham yang begitu
memaksakan diri untuk terus mengejar semua bentuk ketertinggalan yang ada di
daerah untuk bisa unggul dan maju kepada adek-adek tingkat saya. Saya menjadi yang
paling berambisius untuk menularkan apa yang saya pelajari bisa dipelajari juga
oleh adek-adek tingkat saya di komunitas yang saya ikuti.
Selama dua malam saya bisa menghabiskan waktu saya untuk
berbincang-bincang di warung kopi sampai menjelang pagi, tetapi saya tak
sedikitpun mau mengingat pesantren saya. Setiap saya bertemu dengan junior saya
di komunitas tersebut, saya selalu menanyakan kepada junior-junior saya, ada
yang tinggalnya di pesantren? Ketika tidak ada yang berasal dari pesantren
seketika itu juga saya lega. Ketika saya mengahabiskan waktu saya di warung
kopi, seketika itu juga saya menanyakan pada teman-teman di komunitas itu,
apakah dari beberapa wajah di warung kopi tersebut ada yang terlihat
teridenfikasi sebagai anak pesantren? Kalau saya bertemu dengan salah satu junior
yang tinggal di pesantren, terpaksa saya memohon pada junior saya untuk bisa
saya ajak berkompromi untuk tidak memberitakan kabar kedatangan saya di Madura
pada orang-orang di pesantren. Saya enggan berurusan lagi dengan pesantren yang
mengatur jam malam, mengatur jadwal sholat, mengatur jadwal mengaji dan
mengatur cara berpakaian dan masih banyak sekali mengatur kehidupan yang
membuat kita menekan kebebasan yang kita miliki. Semua nampak sangat membatasi
langkah gerak saya bisa melebarkan saya pada dunia yang saya gila-gilai saat
itu. Hanya itulah yang saya ingat ketika saya sedang sibuk dengan dunia yang
saya tekuni.
Ketika saya sudah mulai banyak berbicara maka seketika itu
juga kebodohan saya nampak semua. Apa yang saya sampaikan akhirnya hanyalah
menjadi obrolan tanpa arah dan tanpa tujuan yang jelas dan hanya membawa mereka
untuk dekat ke jurang kesesatan yang semakin nampak nyata ketika apa yang terus
saya sampaikan meniadakan agama di dalam perbincangan kami. Saya ingin terbebas
dari agama tapi saya sendiri masih merasa ketar-ketir dihantui dengan kehidupan
saya di pesantren, sehingga apa yang sampaikan hanya sekedar gaya-gayaan atas
kajian yang saya pelajari. Mereka seolah tertegun dengan apa yang saya sampaikan
melalui kajian yang sedang saya pelajari, sementara di dalam diri saya juga masih
banyak kekosongan dan keruwetan pikiran
yang saling berbenturan antara satu pikiran dengan pikiran yang lain, antara
satu kehidupan dengan kehidupan yang lain. Saya seolah menjadi inspirator untuk
junior-junior saya sedangkan disisi lain saya menjadi seorang yang murtad dari
kehidupan saya di pesantren.
Ternyata urusan saya dengan pesantren bukan hanya berbicara
masalah yang berkaitan dengan silaturahmi dan sowan saja yang mampu membuat
batin dan pikiran saya menjadi tenang, akan tetapi urusan pesantren jauh lebih
pelik lagi dari urusan yang tidak nampak secara kasat mata. Urusan di luar yang
tak bersinggungan langsung dengan pesantren membuat saya terus dihantui dengan
nama pesantren. Kehidupan di pesantren seolah membuat saya tidak bisa bergerak
bebas bersinggungan dengan kehidupan di luar pesantren yang harus melepas
belenggu agama. Semakin saya berusaha untuk menuju harapan-harapan saya,
semakin saya terjatuh oleh harapan saya yang terus saya kejar. Sampai akhirnya
saya kembali meninggalkan nama pesantren dan kembali di kehidupan baru yang
saya pilih lagi masih juga tak membuat saya bisa menggapai sesuatu yang saya
kejar-kejar. Saya kembali disibukkan di luar kehidupan pesantren dengan urusan
yang membuat saya terus mengejar sesuatu yang perlu saya selesaikan ternyata
juga tak kunjung bisa saya selesaikan ketika batin dan pikiran saya tak
mendapatkan kedamaian antara keduanya. Ketika urusan saya lancar di satu jalan
ternyata jalan satunya mengalami penyumbatan. Dan ketika penyumbatan satu jalan
tidak mampu saya selesaikan ternyata satu jalan berikutnya juga mengalami
penyumbatan sehingga kedua jalan kehidupan saya mengalami penyumbatan semua.

Komentar
Posting Komentar