Pindah Pesantren




Hari ini Ikhsanda menuju meja sidang dan memaparkan hasil penelitiannya di hadapan dosen penguji. Ikhsanda telah banyak membantu saya ketika kami harus kuliah lapangan. Ikhsanda itulah yang selalu menjemput saya ketika kami harus mengambil data penelitian untuk tugas mini riset. Ikhsanda juga yang telah mengajak saya ke pantai parangtritis, candi ijo, taman lampion dan tempat-tempat lainnya yang ada di Jogja. Ikhsanda juga selalu mengajak saya untuk pergi ke Masjid dan mengikuti kajian keagamaan tapi lebih sering saya tolak. Ikhsanda itulah yang namanya selalu melekat di setiap jengkal tugas-tugas saya maupun sebagian perjalanan kecil untuk bersandar dan berlibur sejenak menghibur diri.

Hari ini Ikhsanda sedang sidang dan mungkin dia mempertanyakan kesetiaan saya sebagai temannya. Undangan ulang tahun darinya beberapa bulan yang lalu juga tak bisa saya penuhi. Hari ini dia sidang. Saya tak menampakkan wajah saya di hadapan dia sekedar melihat kepanikan yang harus dihadapinya ketika berhadapan dengan dosen penguji. Hari ini saya tidak tahu lagi bagaimana saya bisa bertemu dengan sebagian teman-teman saya yang ada di kampus. Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana harus mengatur kekuatan di dalam diri saya untuk sekedar mengucapkan selamat dan ikut tertawa merayakan kebahagiaan bersama Ikhsanda. Saya mungkin sudah menjadi teman yang jahat dan tidak bisa membalas budi baik dari teman yang telah menemani hari-hari saya selama ada di bangku kuliah. Mudah-mudahan  dia tetap ceria seperti biasanya setelah ujian sidangnya berlangsung. Baik ada temannya yang sekedar menungguinya di depan ruangan sidang maupun tidak ada sama sekali yang peduli pada ujian sidangnya. Mudah-mudahan dia masih percaya, akan selalu ada teman lainnya yang mendoakan setiap langkah geraknya dimanapun dia berada.

Saya tidak tahu lagi bagaimana saya bisa menyelesaikan jalan pilihan yang sudah saya ambil. Saya masih mengumpulkan tenaga untuk kembali memumunguti kertas-kertas yang sudah saya buang. Saya mungkin sudah berputus asa dan berhenti dengan pilihan saya di hari-hari sebelumnya, tapi saya masih ingin menyelesaikannya. Untuk sekarang saya tak bisa menemui dan menemani Ikhsanda dulu. Saya harus pindah dulu Ikhsanda. Saya tahu, pindah juga tidak menyelesaikan masalah. Tapi, setidaknya dengan cara saya pindah, saya bisa belajar menghargai tempat yang pernah saya singgahi sebelum-sebelumnya.

******

Setelah saya menghabiskan waktu libur semester dua menuju ke semester tiga di rumah, akhirnya saya kembali ke Madura lagi. Tempat pertama yang saya tuju bukan lagi pondok, akan tetapi kontrakan salah satu teman yang ada di cendana. Kontrakan teman baik saya yang terkadang sering singgah juga di pesantren tempat saya tinggal. Saya menjelaskan pada teman saya bahwa saya akan pindah ke pesantren baru. Sementara saya belum pamitan di pesantren awal saya, akhirnya saya menginap di tempat teman saya untuk sementara waktu.

Ketika saya menginap di kontrakan teman, saya juga menghubungi teman saya yang lain yang tinggal di pesantren mahasiswa. Saya menanyakan pada dia apakah sudah kembali ke pesantren tersebut apa belum?. Ketika teman saya yang tinggal di pesantren mahasiswa sudah kembali maka saya baru akan ke pesantren tersebut untuk menemui pengasuh pesantren. Sebelum-sebelumnya saya sudah menanyakan terkait kondisi pesantren mahasiswa yang akan saya tinggali. Peraturan di pesantren tersebut lebih fleksibel dari pada pesantren awal saya. Para santri di pesantren tersebut juga diperbolehkan mengikuti organisasi di dalam kampus. Selama tinggal di pesantren tersebut yang terpenting untuk para santri adalah bersedia sholat berjamaah, mengaji Al-Qur’an dan nurut pada pengasuh. Ketika peraturan ditaati maka segala bentuk kegiatan apapun tidak akan dilarang untuk diikuti selama itu mendapatkan izin dari pengasuh pondok. Dengan adanya peraturan itulah saya memilih untuk tinggal di pesantren mahasiswa.

Ketika teman saya yang tinggal di pesantren mahasiswa sudah kembali ke pondok, akhirnya saya pergi menemui teman saya. Saya pergi ke pesantren tersebut dan ingin menemui pengasuh pondok untuk izin tinggal di pesantren itu. Saat itu saya ditemani oleh teman saya untuk menyampaiakan keinginan saya tinggal di pesantren tersebut kepada pengasuh pondok. Saat saya ke pesantren tersebut, saya ditemui langsung oleh Bu Nyai. Saat itu, teman saya yang menjelaskan maksud kedatangan saya di pesantren tersebut pada Bu Nyai untuk membuka perbincangan kami. Sebelum saya diberi izin untuk tinggal di pesantren tersebut, Bu Nyai menanyakan alasan saya menginnginkan tinggal di pesantren tersebut apa? dan sebelumnya saya tinggal dimana? Dan latar belakang pendidikan saya apa dan ikut kegiatan apa di kampus dan ..........

Saya menjelaskan kepada Bu Nyai bahwa saya pindah dari pesantren awal karena tempatnya terlalu jauh dari kampus. Saya juga merasa agak sedikit susah apabila ingin ikut kegiatan kampus yang terkadang harus pulang malam. Kebetulan di pesantren tersebut santrinya tidak dilarang untuk pergi sekedar ikut kegiatan kampus di malam harinya. Saya melihat teman saya yang mondok di pesantren tersebut bisa kuliah sekaligus bisa ikut organisasi di dalam kampus, jadi saya ingin pindah di pesantren itu. Saya juga menjelaskan dimana saya dulu mondok dan tinggal dan semua pertanyaan dari Bu Nyai saya jawab semua. Tapi, yang jelas saya tidak menjelaskan kepada Bu Nyai kalau saya pindah pondok, karena saya bertengkar dengan salah satu santri yang ada di pesantren awal saya mondok. Bisa jadi kalau saya menjelaskan kegaduhan yang saya perbuat di pesantren awal itu, saya langsung ditolak dan tidak diperkenankan untuk tinggal di pesantren tersebut.

Ketika Bu Nyai mengetahui sedikit latar belakang saya, akhirnya Bu Nyai juga menanyakan dimana pondok awal saya tinggal dan siapa nama Kyai dan Bu Nyainya. Ketika saya menyebutkan nama pondok dan nama Kyai dan Bu Nyai di awal saya mondok, ternyata Bu Nyai di pesantren mahasiswa itu juga mengenal Bu Nyai di tempat awal saya mondok, karena dulu juga pernah satu pesantren di Jombang. Lagi-lagi saya dibuat tertegun dengan nama Jombang yang selalu tak bisa lepas saya dengar dimanapun saya melangkah meskipun saya tidak pernah tinggal di Jombang. Ketika Bu Nyai sudah mengetahui sedikit latar belakang saya maka saat itu tidak banyak lagi pertanyaan yang diajukan Bu Nyai pada saya dan saat itu saya langsung diperkenankan untuk tinggal di pesantren tersebut. Setelah saya mendapatkan izin tinggal di pesantren mahasiswa langsung dari Bu Nyainya, seketika itu saya izin pamit untuk kembali ke pesantren awal untuk mengambil barang-barang saya. Ketika saya ingin kembali ke pesantren awal saya, Bu Nyai di pesantren tersebut meminta saya untuk menyampaikan salamnya pada Bu Nyai di tempat saya mondok sebelumnya. Saya hanya berkata “enggeh” pada Bu Nyai di pesantren tersebut. Kebetulan Bu Nyai di pesantren tersebut juga lancar berbahasa jawa.

Ketika saya kembali ke pesantren awal saya, saya langsung menemui Bu Nyai dan Pak Kyai. Saya langsung menyampaikan keinginan saya untuk izin pindah di pesantren mahasiswa. Saya juga meminta maaf pada Pak Kyai dan Bu Nyai di pesantren tersebut karena sudah banyak merepotkan beliau. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Pak Kyai dan Bu Nyai karena telah banyak memberikan kelonggaran-kelonggaran peraturan yang khusus untuk saya selama saya mondok di pesantren tersebut. Saya juga menjelaskan sedikit kondisi dan situasi di pesantren mahasiswa yang akan saya tempati. Selain itu, yang terpenting saat itu adalah saya menyampaikan salam dari Bu Nyai di pondok mahasiswa pada Bu Nyai di pondok awal saya tinggal, seketika itu salamnya diterima dan beliau juga menitipkan salam baliknya pada Bu Nyai di pesantren yang nantinya akan saya tinggali. Bu Nyai di awal saya mondok juga berpesan pada saya untuk meminta nomor handphone Bu Nyai di pondok mahasiswa yang akan saya tinggali untuk dikirimkan nomornya kepada beliau. Ketika saya izin pamit pindah di pesantren mahasiswa maka Pak Kyai dan Bu Nyai juga mengizinkan saya pindah ke tempat baru tersebut. Dunia sepertinya memang mendukung saya untuk pindah pesantren juga saat itu. 

Pak Kyai dan Bu Nyai di tempat awal saya tinggal tidak banyak melarang saya untuk melakukan berbagi hal di luar pesantren. Akan tetapi, saya tidak enak dan sungkan sendiri apabila saya terus-terusan mendapatkan toleransi dari beliau sedangkan itu tidak berlaku bagi santri lainnya yang ada di pesantren tersebut. Meskipun saya sering  merasa tidak betah dan aada banyak hal aneh dengan kehidupan di pesantren, tetapi saya masih belum berani untuk melawan Pak Kyai dan Bu Nyai. Semua hal yang saya anggap tidak umum terkait kehidupan pesantren masih saja saya simpan dan tidak saya utarakan pada Pak Kyai dan Bu Nyai. Yang jelas saya mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya pada Pak Kyai dan Bu Nyai di pesantren awal saya mondok. Dari toleransi-toleransi yang diberikan kepada saya saat itulah seharusnya saya bisa merasakan kebaikan dari Pak Kyai dan Bu Nyai. Dari kelonggaran-kelonggaran yang diberikan kepada saya itulah seharusnya saya bisa merasakan berkah hidup di pesantren. Dari perlakuan yang berbeda itulah seharusnya saya bisa peka untuk terus menghormati dan ta’dzim pada Pak Kyai dan Bu Nyai dan bukan menduga-duga sesuatu yang kurang baik terhadap kehidupan di pesantren. Ya, seharusnya seperti itulah dulu dan bukan berprasangka yang tidak-tidak, tapi......... Ya, semua sudah terlanjur dan penyesalan selalu datangnya di akhir.

*****

Ketika saya sudah mendapatkan izin pindah dari pesantren tersebut saya mengemasi barang-barang saya di pondok. Saya juga pamitan dengan teman-teman lain yang ada di pesantren itu dan saya sedikit agak canggung untuk menyapa teman-teman lain yang ada di pondok itu. Tapi, saya cuek saja dan tidak ingin kembali membuat masalah dengan teman-teman santri yang lain yang ada disitu. Kebetulan ketika saya pamit untuk pindah pondok, anak dhalem yang dulu pernah bertengkar dengan saya sedang pulang ke rumahnya, jadi saya juga merasa agak aman dan tidak perlu terpancing emosi lagi untuk bertengkar kedua kalinya.

Saat saya mengemasi barang-barang saya di pondok, Mbak santri dhalem senior menghampiri saya. Mbaknya itu yang banyak bertanya tentang gambaran tempat terbaru yang akan saya tinggali seperti apa. Mbaknya itulah yang membantu saya menata barang-barang saya untuk dimasukkan di dalam kardus dan tas yang akan saya bawa. Mbak itulah yang berpesan pada saya untuk tidak lupa main lagi ke pondok dan menemuinya lagi ketika sedang libur kuliah atau sedang tidak sibuk di kampus. Mbak itulah yang dari awal saya datang ke pondok sampai saya pindah pondok yang banyak membantu saya untuk tetap bertahan dan betah di pondok. Mbak itulah yang memberikan pelukannya kepada saya ketika saya pindah dari pondok. 

Saya benar-benar kangen dengan Mbak Karmila yang telah banyak membantu saya selama ada di pesantren itu. Mbak Karmila itu juga yang sering saya buntuti ketika saya sedang tidak ada kuliah. Saya tidak banyak membantu Mbak Karmila di dapur, tapi saya lebih sering mengganggunya di dapur. Saya berani menemui Mbak Karmila di dapur ketika tidak ada Bu Nyai. Saya sedikit agak nyambung berbincang-bincang pada Mbak Karmila daripada teman-teman yang lainnya. Mungkin karena faktor usia yang tidak terpaut terlalu jauh, sehingga saya merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan Mbak Karmila. Ketika saya ada di dapur dan mencoba membantu pekerjaan Mbak Karmila, ternyata pekerjaan Mbak Karmila jadi berantakan dan saya disuruh duduk memperhatikannya saja. Mbak Karmila kerap sekali bercerita ketika saya main di dapur dan saya senang mendengarkan Mbak Karmila bercerita juga, baik itu tentang kehidupan di tempat tinggalnya maupun kehidupan di pesantren. Saya belajar banyak hal dari Mbak Karmila yang begitu sabar menjadi santri dhalem yang bertahan paling lama dibandingkan santri-santri lainnya yang ada disitu. Kadang Mbak Karmila juga penasaran dengan teman-teman saya kuliah, aktivitas saya di kampus dan kegiatan-kegiatan saya di luar pesantren. Kami sering bertukar cerita kalau ada waktu luang dan pekerjaan Mbak Karmila di dapur bisa dikerjakan sambil ngerumpi. Dapur menjadi saksi antara saya dan Mbak Karmila bisa akrab meskipun saya tidak banyak membantu Mbak Karmila di dapur.

****

Saya bisa akrab dengan Ikhsanda karena kami pernah bergabung di NGO yang sama. Di awal waktu kami gabung disitu kami menjadi relawan terlebih dahulu. Kami termasuk orang-orang yang cukup rajin datang dan berpartisipasi di NGO itu. Kami berdua sering mendapatkan tempat bertugas di wilayah yang sama. Pasar Sambilegi dekat Bandara Adi Sucipto sering menjadi tempat yang kami kunjungi untuk melihat perkembangan koprasi dan paguyuban yang berkembang di pasar tersebut. Selain menjalankan tugas dari NGO itu, saya dan Ikhsanda juga sering belanja kebutuhan dapur yang kami perlukan yang nantinya akan kami masak dan makan bersama selesai menjalankan tugas.
Seiring berjalannya waktu, kami berdua menjadi bagian pengurus dari NGO tersebut. Tapi, setelah menjalani hari-hari kami di NGO itu, kami merasa ada sesuatu yang kurang di NGO itu dan terasa ada yang ganjil yang kami rasakan. Kami sering sekali datang ke koprasi dan paguyuban di Pasar Tradisional untuk melihat perkembangan program dari NGO, tetapi ketika  para pengurus koprasi ataupun paguyuban di pasar itu mengundang kami untuk terlibat di kegiatan sosial di luar jadwal yang sudah diatur NGO, kami tidak ada yang bersedia mengikutinya. Seharusnya saya dan Ikhsanda tetap bisa bertahan di NGO itu meskipun para anggota dan pengurus yang lain banyak yang tidak sepakat dengan gagasan kami berdua untuk memenuhi undangan-undangan yang diluar jadwal NGO. Ya, mestinya kami berdua bertahan di NGO itu dan tidak keluar meninggalkan tanggungjawab yang kami emban.

*******

Ketika saya akan meninggalkan pesantren lama saya, saya jadi teringat dengan anak karang yang pernah saya ajak datang ke pesantren. Saat itu saya ikut kegiatan kakak tingkat untuk tugas magang kuliahnya yang harus mengajari anak-anak di pelabuhan yang tidak bersekolah supaya bisa belajar membaca dan menulis. Mereka yang tidak bisa sekolah memilih untuk  mengemis di kapal-kapal Verry ataupun mengemis di area dekat pelabuhan yang tempatnya dekat sekali dengan pesantren saya mondok. Mereka yang kurang beruntung bisa mengakses pendidikan formal di bangku sekolah itu akhirnya berkesempatan untuk bisa belajar di komunitas anak karang ketika sore hari. Semua peralatan alat tulis dan bacaan-bacaan sudah disediakan oleh relawan yang bersedia memberikannya di komunitas anak karang tersebut. Kebetulan yang menjadi tenaga pengajar untuk komunitas itu adalah kakak tingkat yang sedang berada di semester empat. Saat mendengar kabar itu saya langsung menghampiri kakak-kakak tingkat saya yang menjalankan tugasnya mengajar di area pelabuhan.

Saya tidak begitu tahu persis bagaimana komunitas itu mampu menjaring seluruh anak-anak yang kurang beruntung bisa belajar di bangku formal. Kebanyakan dari mereka yang tidak bisa sekolah itu karena faktor orang tua yang tidak memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan formal dan faktor kedua juga disebabkan oleh anak-anak itu tinggal di wilayah yang mayoritas tidak berpendidikan. Kebanyakan orang tua dari anak-anak yang kurang beruntung mengenyam pendidikan itu bekerja sebagai pedagang asongan, kadang ada juga yang meminta-minta, kadang ada yang berprofesi sebagai tukang semir yang ada di kapal Verry maupun di area pelabuhan. Orang tua dan anak-anak yang tidak bisa mengeyam dan merasakan pendidikan sekolah dasar sekalipun itu kebanyakan berasal dari salah satu pulau yang ada di Sampang dan bukan penduduk asli wilayah Bangkalan. 

Ketika saya ikut menemani kakak-kakak tingkat saya untuk mengajari anak-anak yang ingin belajar membaca menulis, kadang ada orang tua dari anak-anak itu yang marah-marah kepada kami. Orang tua dari salah satu anak yang kami ajari itu marah, karena waktu yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mencari uang dengan mengemis habis dipergunakan untuk belajar. Anak itu tidak diperbolehkan untuk belajar bersama kami. Anak itu menangis pada orang tuanya, tapi orang tuanya tetap menyeretnya untuk meninggalkan kerumunan kami di tengah area pelabuhan yang kami pergunakan untuk belajar bersama. Kami tidak bisa memaksakan pada semua anak maupun semua orang tua untuk merelakan anaknya bergabung di komunitas tersebut. Tapi, tidak jarang juga sebagian orang tua yang bersedia memberikan izinnya pada anak-anaknya untuk bisa belajar bersama kami. Sebagian orang tua dari anak-anak yang belajar bersama kami juga senang dengan kegiatan yang kami lakukan. Terkadang orang tua dari anak-anak itu juga mendekati kami dan anak-anaknya untuk melihat kami yang sedang belajar juga dan ingin tahu apa yang dipelajari anak-anaknya.

Saat itu saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Robert. Robert saat itu mungkin berusia sekitar 10 tahunan.  Dia sedikit nakal dan jail ketika  belajar bersama saya. Dia belajar membaca bersama saya. Dia sudah sedikit bisa membaca tapi harus sangat pelan-pelan dan harus sangat sabar menunggu dia membaca. Menulispun juga harus perlu kesabaran yang tinggi untuk bisa mengajarinya. Kadang kalau dia sudah mulai bosan, kenakalannya langsung keluar juga. Sandal saya di lempar, kadang dia menarik kerudung saya, kadang dia mengganggu teman sebelahnya. Ketika dia sudah mulai bosan dan membuat onar maka saya juga mulai berteriak-teriak saat dia kembali meninggalkan bukunya dan lari kejar-kejaran bersama teman-temannya yang lain. Kalau saya sudah mulai teriak-teriak, dia dan teman-temannya semakin tertawa terbahak-bahak melihat saya yang marah-marah. Saya harus lari juga mengejar Robert yang pasti harus saya lakukan.  Ketika saya berhasil menangkap dia, maka lehernya saya piting dengan tangan saya dan saya setengah menyeret dia dan memaksanya untuk kembali duduk diam dan belajar lagi. Meskipun tubuh saya kecil, kalau harus berhadapan dengan anak yang berusia sepuluh tahunan saya masih kuat beradu tarung kalau dia susah dikendalikan. Ketika dia sudah berkata “Ampuuuuuun” maka itu tandanya dia kembali nurut lagi dengan saya. Benar-benar butuh tenaga ekstra mengajari sebagian dari mereka untuk bisa membaca dan menulis.

 Ketika jam belajar sudah selesai, saya tidak tahu kenapa, susah rasanya untuk tidak langsung meninggalkan Robert begitu saja. Saya masih ingin di pelabuhan dan tidak ingin pulang. Beberapa kali pertemuan saya ikut di komunitas itu sudah banyak bergantian anak yang belajar bareng bersama saya, akan tetapi saya tidak tahu kenapa saya bisa senang untuk mengajari Robert. Mungkin nasib saya hampir sama dengan Robert yang nakalnya tidak ketulungan tapi masih dalam tahap batas wajar nakalnya anak-anak dan saya senang pada Robert, dia nakal, tapi dia masih mau belajar dan yang pasti dia tidak meludahi saya. Pernah ada yang belajar pada saya dan saya diludahi, saya benar-benar jijik dan tak mau dekat-dekat lagi dengan anak itu. Mungkin saya telah salah mendidiknya sehingga saya harus diludahinya. Robert berbeda dengan anak-anak lain yang masih mau nurut dengan saya meskipun saya kerap menyeret-nyeret dia ketika sudah mulai malas belajar, meskipun kadang suka sekali membuang sandal saya, tapi tidak masalah dibandingkan saya harus menghadapi teman-temanya yang lain yang masih belum bisa saya pahami polah tingkahnya. Ketika saya merasa nyaman dengan Robert, entah kenapa saat itu saya menghampiri dia yang sedang asyik bermain bersama teman-temannya.
“Robert, nanti kalau kamu pulang aku mau ikut kamu ya!” saya berbicara agak sedikit memaksa
“Ngapain mbak?” dia bertanya sambil terheran-heran dengan saya. Kebetulan Robert juga bisa bahasa Indonesia meskipun banyak campur bahasa Maduranya yang terkadang membuat saya agak susah memahaminya.
“Ya, aku pengen tahu aja dimana tempat tinggalmu”
“todus engko’ mbak” katanya dia malu
“ngapain kamu malu? Kan aku tinggal di dekat sini juga, aku tinggal di dekat TK PJKA di bawah pohon besar itu lho yang gak jauh dari sini, jadi kan kapan-kapan aku bisa main ke tempatmu, kamupun juga bisa main ke tempatku!”
“mbak ini aneh-aneh dan kurang kerjaan aja”
“Biarin kan kita tinggalnya gak terlalu jauh, masak aku gak boleh main ke tempatmu?”
“Yuuuuuu.....t lah mbak”
“ayo sekarang aja ke tempatmu nanti sekalian kamu juga ke tempatku lho ya, kan kita tetanggaan” ujarku saat itu
“Heeeede mbak ribet kedhibik” kata dia, “kamu ini ribet sendiri mbak”
“suka-suka akulah, kalau kamu gak mau nanti tak piting lagi kepalamu, mau kamu?”
“Iyut lah mbak”

Saat itu saya datang ke tempat Robert dan dia tinggal di tempat yang padat penduduk. Robert tinggal tidak jauh dari pondok saya. Rumah yang mereka tinggali sangat kecil dan sangat sempit. Di sekitaran area padat penduduk itu baunya pesing disana sini. Rumahnya bukan rumah permanen. Hanya kayu sebagi dindingnya dan untuk berlindung dari sengatan matahari dan hujan hanya menggunakan seng yang sudah berubah warnaya menjadi hitam, karena banyak karatnya.

Kebetulan orang tua Robert saat itu tidak ada di rumah, tapi saya tidak boleh masuk di dalam rumahnya. Mungkin dia malu saya melihat isi di dalam rumahnya. Saat itu saya disuruh menunggu dia di depan rumahnya. Dia bilang pada saya sebelum dia ikut ke tempat saya, dia ingin pergi mandi sebentar di samping rumahnya, setelah itu baru kami pergi ke tempat saya tinggal. Kebetulan saat itu harinya sudah sangat sore dan waktunya sudah mendekati maghrib. Saya bilang kepada Robert untuk sekalian ikut sholat dan mengaji sebentar di tempat saya tinggal. Ketika saya bilang begitu, saya tidak tahu kenapa Robert juga bersedia ikut saya ke pondok. Saat itu saya senang sekali Robert bisa tahu dimana saya tinggal dan saya tahu dimana Robert tinggal.

Selesai Robert mandi dan berpakaian ala kadarnya dengan celana panjang dan kaos yang bersih, saya sudah cukup senang melihat penampilan dia daripada sore harinya yang bajunya sudah sangat lepek, kumel dan baunya sungguh luar biasa tidak karu-karuan. Ketika saya mengajak Robert ke pondok, santri putra terheran-heran melihat saya pulang membawa anak yang tidak dikenali mereka semua. Kalau di pesantren pada umumnya mereka menggunakan sarung dan baju berkoko atau minimal berkemeja ketika mereka sedang sholat berjamaah. Mereka juga terheran-heran dengan penampilan Robert yang rambutnya agak sedikit disemir pirang. Kebetulan Robert, tidak bisa saya bawa masuk di area santri putri, akhirnya saya menitipkan Robert kepada salah satu santri putra di pondok itu. Saya berpesan kepada salah satu santri putra itu untuk menjaga Robert dengan baik sampai nanti saya selesai berjamaah dengan Bu Nyai lalu saya akan kembali menemui Robert lagi. Sebelum saya ke mushola santri putri saya bercakap-cakap dulu dengan Robert.
“Bet awas nanti kalau kamu macam-macam disini, tunggu sampai aku selesai sholat juga! nanti tak antar kamu pulang lagi” Saya berbicara pada robert tidak perlu canggung-canggung lagi dan seperti biasa mengancam dia sambil memaksanya selalu jadi andalan saya
“Yut yut Mbaaaaaak, petenang hede Mbak” dia sambil ketawa agak kencang melihat saya memperingatkan dia.
“kamu ikuti mas-mas itu nanti buat sholat berjamaah, ngerti hede!”
“Yiiiiiuuuuuuut MBAK,” dia ketawa lagi dan saya menyuruhnya untuk diam lalu saya pergi ke mushola putri. 

Ketika saya melaksanakan ibadah sholat maghrib, saya tidak tenang menjalankan sholat. Saya hanya ikut sholat maghrib dan ikut wiridan sebentar lalu saya meninggalkan mushola putri. Saat itu saya memilih sholat berjamaah di shof paling belakang dan di emperan luar mushola, sehingga saya tidak ketahuan meninggalkan wiridan oleh Bu Nyai dan tidak ikut mengaji Al-Qur’an. Saya cepat-cepat pergi ke area santri putra dan melihat Robert yang masih duduk diam di mushola ikutan wiridan. Saya menunggu Robert di dalam ruang kelas di samping mushola sampai Pak Kyai kembali ke dhalem. Saya tidak tahu apakah Robert merasa nyaman atau tidak saat itu, setidaknya dia bisa belajar juga di luar kehidupannya yang harus menghabiskan waktunya di kapal ataupun area pelabuhan. Kebetulan Robert termasuk anak yang lebih beruntung daripada yang lainnya, dia lebih memilih untuk menyemir sepatu daripada mengemis. Mungkin kurang tepat juga kalau saya menyebutnya memilih, tetapi Robert harus terpaksa menjadi penyemir karena tidak berkesempatan mengeyam pendidikan formal di sekolahan. Robert memang besar dan hidup di lingkungan yang sangat keras, tapi setidaknya dia juga memiliki kesempatan untuk bisa bersosialisasi di luar hidupnya juga. Mungkin saja santri-santri putra juga terheran-heran ada anak yang tidak dikenal singgah disitu, tapi saya berharap pada mereka semua yang ada disitu juga bisa memberikan kesempatan pada Robert untuk bersanding dengan mereka tanpa memandangnya rendah.

Ketika saya terlalu banyak berharap pada Robert maupun pada santri putra yang begitu besar angan-angan saya, saya tersadar lagi. Harapan saya itu ketinggian, setidaknya saya bisa mengenal Robert dan Robert mau terbuka dengan saya saja, saya sudah sangat beruntung bisa mengenalnya. Meskipun saya tidak tahu betul bagaimana hidup dia yang sesungguhnya, setidaknya ketika saya bertemu dia di pelabuhan ataupun di kapal, dia masih memberikan senyumannya pada saya itu sudah terasa amat cukup untuk saya. Entah nanti Robert masih bertahan di komunitas anak karang itu, entah saya yang masih ada waktu untuk datang di komunitas, entah komunitas itu akan bertahan sampai kapan yang saya sendiri saat itu tidak tahu, setidaknya bertemu dengan Robert adalah berkah untuk saya saat itu.
Angan-angan saya yang tak henti-hentinya saat menunggu Robert selesai ikut wiridan dan sedikit ikut mengaji akhirnya terbuyar sudah ketika Pak Kyai kembali ke dhalem dan santri putra berhamburan meninggalkan mushola dan kembali ke kamarnya masing-masing. Saat itu saya menghampiri Robert dan mengucapkan terimakasih pada salah satu santri putra yang menemani Robert. Saya mengantar Robert meninggalkan pondok. Ketika saya keluar dari pondok dan akan menuju gang kecil di dekat TK PJKA yang akan menuju rumahnya, Robert menolak untuk saya antar.
“Mbak, udah mbak, sampai sini aja, mbak balik aja ke phonduk!”
“Tapi Bet, ini belum sampe rumahmu?”
“Aku bisa pulang sendiri mbak, hede balik mbak, sana hede pulang ke phonduk!!”

Akhirnya dia lari meninggalkan saya di dekat TK PJKA dan dia pulang sendiri ke rumahnya. Saya akhirnya juga pulang dan menyesal tidak mengejarnya lari dan menemaninya pulang. Saya tidak tahu apakah dia pulang ke rumahnya atau kembali ke pelabuhan dan ikut kapal untuk menyemir lagi. Mudah-mudahan Robert tetap kuat dan tabah menghadapi hari-harinya dan tetap bisa melihatnya tersenyum ketika kami bertemu lagi di lain kesempatan.

Saya mengajak Robert ke pondok sebelum saya terlibat pertengkaran dengan salah satu santri putri di pondok itu. Ketika saya akan pindah dari pondok, saya kembali teringat dengan Robert. Satu-satunya teman baru saya yang paling unik yang saya ajak singgah mampir di pesantren. Hanya segelintir orang saja yang tahu dimana saya tinggal saat saya kuliah di Madura saat itu ketika saya masih berada di semester satu sampai dua. Apakah Robert masih berfikir saya masih tinggal di pondok itu juga? Apakah Robert juga masih tinggal di tempat yang sama juga? Apakah Robert juga masih mengingat saya juga? Tapi, ketika terakhir saya bertemu dengan Robert di kapal, Robert sudah tidak lagi menyemir sepatu, tetapi dia sudah berjualan pernak-pernik gelang, kalung dan potongan kuku dan dia masih menyapa saya.

Setelah saya pindah dari pesantren itu, saya juga mendengar kabar bahwa komunitas anak karang juga mulai tidak terdengar gaung suaranya lagi. Faktor menurunya peminat anak-anak yang bersedia belajar dan sekaligus relawan yang satu persatu mundur dan menyerah di komunitas anak karang itu juga semakin membuat miris nasib komunitas anak karang kandas kena hempasan ombak lautan yang lebih memilih sibuk dengan dunianya masing-masing. Termasuk saya yang memilih pindah tempat tinggal di pesantren baru dan meninggalkan pondok di dekat area pelabuhan yang dekat dengan rumah Robert juga.

******

Meskipun saya dan Ikhsanda sudah keluar dari NGO yang pernah kami tekuni saat itu, tidak membuat hubungan kami renggang untuk menyapa kembali dan mengunjungi pasar-pasar tradisional. Kami menyapa pedagang-pedagang di pasar tradisional dengan cara kami sendiri-sendiri. Kami tidak lagi seidialis ketika kami ada di NGO tersebut yang sangat menggebu-gebu menginginkan perubahan secara nyata terwujud seketika itu juga. Mungkin pemahaman kami pada NGO yang kami tekuni saat itu masih sangat minim, sehingga jalan meninggalkan NGO menjadi jalan yang selalu kami pilih ketika kami tidak cocok dengan suatu sistem dan aturan bersama yang berlaku. Kami hanya pindah dari satu tempat ke tempat berikutnya lalu tidak nyaman, pindah lagi ke lain tempat lalu tidak cocok, pindah lagi ke tempat baru berikutnya, sampai kami sendiri tidak tahu kapan kami akan bisa tinggal dan menetap.

******

Ketika saya sudah pamitan pada Pak Kyai, Bu Nyai, Mbak Karmila dan sebagian teman-teman santri yang lainya dan sedikit mengingat kenangan-kenangan selama ada di pondok, akhirnya saya dengan mantab harus pindah dari pesantren tersebut. Pindah terasa berat tetapi juga meringankan saya dari beban-beban kehidupan yang berbeda jalannya. Baik saya pindah karena pertengkaran, maupun saya pindah karena alasan lainnya yang tidak hanya berkaitan betah dan tidak betah saja, untuk saat itu pindah hanyalah satu-satunya yang perlu saya lakukan. Entah setelah kepindahan saya akan tetap menyesal dan hanya menyesal atas perbuatan-perbuatan salah yang sering saya lakukan di pesantren atau nantinya saya akan menjadi lebih baik, setidaknya dengan pindah saya masih bisa belajar menghormati pesantren tersebut dan saya tidak murka dengan kenangan pertengkaran saya di pesantren tersebut.
Saya menjadikan pesantren sebagai kehidupan kedua saya dan selalu memprioritaskan kebutuhan kuliah di atas segala-galanya. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan teman-teman santri yang ada di pondok tersebut. Mereka menjadikan pesantren sebagai tujuan utama mereka dan menjadikan pendidikan formal sebagai nomor duanya. Bahkan ketika saya menomor satukan pendidikan saya, lingkungan pesantrenpun juga mendukung saya secara penuh. Sedikitpun saya tidak pernah dilarang untuk melakukan berbagai hal di luar kehidupan pesantren. Masihkah saya akan terus menjadikan pesantren sebagai kehidupan kedua saya sedangkan saya sudah diberikan segala hal yang paling istimewa di pesantren tersebut? Masihkah saya akan terus memandang para santri  yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal setinggi saya itu hanya orang-orang yang tunduk dan patuh tanpa  pertimbangan yang penuh kematangan setelah mereka terus-terusan membiarkan saya mendapatkan perlakuan berbeda? Mereka itulah yang lebih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Bisa saja kalau mereka sudah tidak memiliki kesadaran untuk patuh dan tunduk pada peraturan di pesantren, saya tidak bisa bertahan kurang dari satu minggu. Karena, mereka bisa membedakan mana yang akan memicu pertikaian dan mana yang akan membawa kemaslahatan itulah maka mereka memberikan kebebasan dan peraturan khusus itu pada saya untuk bisa kuliah. Lalu masihkah saya akan terus memandang rendah kehidupan di pesantren dan menjadikannya kehidupan sampingan yang terus menerus di dalam hidup saya?
Tapi, kalau mungkin saja saya tidak pindah, bisa jadi cara pandang saya masih sama dan saya tidak tahu bagaimana cara menghargai tempat  dimana saya pernah tinggal dan dididik. Andaikan saya menyadari itu semua dari awal mungkin saja saya bisa meredam emosi saya untuk tidak bertengkar di pesantren. Tapi, itu sudah terlanjur dan saya telah menghancurkan keharmonisan di pesantren sehingga wajar kalau salah satu dari mereka marah pada saya. Dengan pertengkaran yang sudah saya lakukan di pesantren itu setidaknya saya bisa tahu kalau kesabaran manusia dalam memberikan kebebasan juga ada batasnya meskipun saya sudah mendapatkan perlakuan khusus dari Pak Kyai dan Bu Nyai ditempat saya tinggal saat itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN