TAK AKAN PERNAH MELUPAKAN
Mori yang baru datang di Jogja belum banyak memiliki teman.
Mori hanya mengenal tiga seniornya di masa kuliah S-1 yang mengambil kuliah S-2
di Jogja. Itupun hubungan Mori masih belum begitu akrab dengan senior-seniornya.
Mori di awal waktu hanya sebatas numpang istirahat menginap selama masa
pendaftaran dan masa menunggu pengumuman diterima tidaknya di kampus
harapannya. Selain senior yang dikenalnya, Mori juga masih memiliki dua teman
lagi. Dua temannya itulah yang paling membuat Mori bisa bercerita apa saja.
Mori bisa akrab dengan dua temannya yang ada di Jogja itu, karena pernah hidup
berdampingan di tempat awal Mori bekerja. Temannya yang dianggap sebagai teman
selama ada di Jogja itu di awal waktu bukan sebagai teman selama di tempat
kerjanya. Satu temannya sebagai patner kerjanya yang kedudukannya jauh di atas
Mori. Satu temannya itu sebagai klien yang setia menggunakan jasa di tempat
Mori bekerja. Tempat Mori pernah bekerja itu kantor pusatnya ada di Jogja,
sehingga patner kerjanya juga sering bolak-bolik bertugas di pusat maupun di
kantor anak cabangnya. Sedangkan klien yang sempat akrab dengan Mori sudah
melanjutkan kuliah S-2nya duluan di Jogja. Sehingga, ketika Mori ada di Jogja,
Mori selalu mengontak dua temannya itu kalau ada apa-apa dan tak banyak
bercerita pada seniornya yang sekedar untuk menumpang istirahat.
Kedua teman Mori itu hanya bisa ditemui di Jogja pada hari
Sabtu Minggu saja. Satu temannya yang dulu pernah jadi patner kerjanya selalu
sibuk pada hari senin sampai jum’at. Sedangkan satu temannya yang dulu pernah
jadi kliennya itu hanya ada di Jogja Jum’at Malam sampai Minggu Malam saja. Mori
belum banyak kenalan dan belum banyak mengetahui Jogja. Mori awalnya tak ingin
melibatkan teman-temannya untuk berurusan dengan tugas yang harus diselesaikan
dari Pamannya untuk membantu Anggoro. Tapi, Mori sudah tidak tahan lagi ketika desakan
dari Pamannya terus menghampiri. Tidak hanya urusan pendaftaran kuliah saja
yang harus diselesaikan oleh Mori terkait kehidupan Anggoro. Urusan yang berkaitan
dengan tempat tinggal, kendaraan dan perintilan-perintilan tugas kecil lainnya
juga harus dikerjakan oleh Mori. Bulan-bulan Juli sampai bulan Agustus 2015 itu
benar-benar menjadi bulan yang mencekam untuk masa-masa pendaftaran kuliah Mori
dan kuliah Anggoro. Mori tak terlalu mengambil pusing untuk urusan pendaftaran
kuliahnya sendiri, tetapi yang membuatnya berat untuk melangkah adalah tugas
mengurus pendaftaran kuliah Anggoro yang harus melibatkan dirinya dan teman
dekatnya untuk bisa membantunya.
Mori hanya mengenal satu temannya laki-laki untuk dimintai
tolong menampung Anggoro untuk tinggal di tempatnya. Temannya Mori yang
dimintai tolong adalah patner kerjanya di kantor tempat Mori dulu pernah
bekerja. Mori meminta tolong pada Haris yang dulu menjadi rekan kerjanya untuk
menampung Anggoro. Haris bersedia memberikan tempatnya untuk ditinggali
Anggoro. Mori juga merasa lebih nyaman kalau Anggoro tinggal dulu sementara
disitu, karena Mori sudah kenal lumayan akrab dengan Haris. Mori percaya betul
pada Haris supaya bisa membantu Anggoro untuk dicarikan guru privat ini-itu.
Mori juga tidak serta merta meminta tolong pada Haris begitu saja. Ketika Mori
dapat uang yang luamayan cukup dari pamannya
untuk mengurusi Anggoro, Mori ganti memberikan uang dari pamannya itu pada
Haris. Mori tak bisa tinggal lama-lama di Jogja, karena Mori harus bolak balik
ke rumahnya untuk menyelesaikan kewajiban yang lainnya. Semua urusan di Jogja
dan urusan Anggoro dipasrahkan pada Haris. Sampai urusan pembelian kendaraan
sepeda motor semua ditangani oleh Haris. Mori hanya komunikasi via handphone
baik pada Haris, Anggoro dan pamannya.
Mori tak banyak mengetahui Jogja, tapi Mori dituntut oleh
pamannya untuk melakukan banyak hal, sedangkan sebagian konsentrasi dan tenaga Mori
harus bisa dibaginya untuk urusannya di rumah juga. Mori tak bisa tinggal lama
di Jogja tapi juga tak bisa tinggal lama di rumahnya. Paman Diro tak mau tahu
apa saja yang dikerjakan oleh Mori di kampung halamannya. Yang diinginkan Paman
Diro hanyalah hasil dan urusan Anggoro beres. Mori hanya bisa meminta tolong pada
satu-satunya teman laki-laki yang dikenalnya di Jogja. Hanya Harislah yang
dikenal oleh Mori dan berpeluang untuk bisa membantu Anggoro secara penuh.
Haris sudah tinggal lama di Jogja hampir 9 tahunan, sehingga kenalan dan relasi
yang dimiliki pasti sudah sangat luas. Mori terus bercerita keluh kesah yang
harus dihadapi untuk menyelesaikan urusan dengan pamannya. Mori didesak
pamannya dan Mori hanya bisa merengek meminta tolong pada temannya yang sudah
tinggal lama di Jogja itu. Meskipun, Mori sudah faham betul dengan kesibukan yang
dimiliki Haris, Mori tetap memaksakan kepada Haris untuk bisa membantunya.
Haris di awal waktu tak mau ambil pusing dan membiarkan Mori
begitu saja. Tapi, Mori sudah tidak bisa berfikir lagi di kondisi yang harus
membuat konsentrasinya terpecah antara urusannya di rumah dan urusannya dengan
pamannya. Haris akhirnya tak tega melihat Mori yang terus-terusan memohon
padanya. Mori tak bisa meminta tolong pada senior-senioranya karena dia juga
tak begitu akrab. Mori juga tak bisa meminta tolong pada teman akrab satunya
yang dulu pernah jadi klien di tempat kerjanya, karena dia juga tak banyak
mengetahui kondisi seluk beluk urusan dunia kelam yang ada di Jogja.
Mori hanya bercerita dan meluapkan segala unek-unek
kejengkelan dan kekesalannya yang harus ditanggungnya pada Haris. Segala urusan
calo, tempat tinggal dan kendaraan semuanya tak luput dari bantuan dari Haris.
Mori sebenarnya tak ingin melibatkan kejahatan yang harus dilakukannya dengan
melibatkan temannya. Hanya Harislah yang menjadi tempat Mori untuk meminta
tolong ketika kondisinya terjebak. Mori
tak ingin menceritakannya pada siapapun. Mori berfikir, itu semua memang
kesalahan yang memang harus ditanggungnya sendiri. Di saat-saat masa
menegangkan untuk melanjutkan praktek percaloan yang ditinggalkan oleh Mori,
Harislah yang jadi sasaran empuk kemarahan calo. Harispun saat itu juga tidak
dipercaya oleh Paman Diro. Mori kenal calo itu dari Haris dan Haris mendapatkan
calo itu dari temannya yang lain. Paman Mori selalu menolak untuk bisa
berkomunikasi sendiri dengan calo yang harus mengurusi Anggoro. Mori dan Harislah
yang harus berkubangan dan berurusan dengan comberan-comberan percaloan. Mau
tidak mau dan suka tidak suka Harislah yang selalu kena getah atas tindakan
Mori yang bodoh itu. Mori tak ingin melibatkan Haris terlibat pada kasus
percaloan untuk memasukkan Anggoro di kampus yang diinginkan Paman Diro. Tapi,
Mori telah melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan Anggoro yang nasibnya
terlunta-lunta. Mori tak memikirkan nasib Haris yang telah banyak membantu
Anggoro. Mori yang tak bertanggungjawab membuat Haris berada di posisi yang
sangat sulit. Mori mematikan handphonnya dan tak mau dihubungi lagi oleh
siapapun. Paman Anggoro tak mau membayar karena bukan Mori yang memberikan
uangnya pada calo itu sendiri. Haris terus digertak oleh calo itu, karena
Harislah yang menjadi salah satu pintu pembuka Anggoro bisa masuk ke perguruan
tinggi yang diharapkan. Dengan keterlibatan Haris pada kasus Anggoro, Haris tak
lagi menjadi Haris yang dulu pernah dikenal oleh Mori di tempat kerjanya lagi.
Haris marah besar dengan Mori. Haris sangat kecewa berat dengan kelakuan yang
dilakukan oleh Mori. Kata-kata Haris berubah menjadi sangat kasar setelah Mori
meninggalkannya pergi. Mori menyadari kesalahan yang telah dibuatnya itu, tapi
Haris masih belum bisa menerima tindakan yang tak bertanggungjawab yang
dilakukan oleh Mori.
Mori benar-benar menyesal telah melibatkan temannya itu pada
praktek percaloan yang harus dihadapinya itu. Bukan hanya hubungannya dengan
pamannya saja yang berantakan tapi hubungan dengan teman yang dulu pernah jadi
rekan kerjanya menjadi memburuk. Mori benar-benar meminta maaf pada temannya
itu, tapi tak ingin meminta maaf pada pamannya. Di awal waktu Haris tak
membalas pesan dan tak mau mengangkat telpon dari Mori dan juga tak mau ditemui
oleh Mori, tapi lama-kelamaan Haris membuka pintu maaf pada Mori meskipun
hubungan yang terjalin tidak seharmonis sebelum-sebelumnya. Meskipun Haris
marah pada Mori, Haris masih membiarkan Anggoro tinggal di kosannya sampai
benar-benar Haris mendapatakan kosan yang diinginkan oleh Anggoro. Mori telah
meninggalkan kenangan yang buruk di hidup Haris yang telah banyak membantunya.
Mori selalu tidak ingat dengan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan oleh
Haris padanya. Mori telah membuat luka yang sangat dalam di dalam hidup Haris.
Permohonan maaf tidak cukup menebus kesalahan yang dilakukan
Mori. Bahkan uangpun juga tidak bisa menebus kesalahan yang telah diperbuat
oleh Mori. Meskipun Haris memaafkan Mori, di dalam diri Haris masih ada dendam
yang belum hilang. Sampai kapanpun nama Haris tak akan bisa lupa dari hidup
Mori. Mori telah membuat hidup Haris kesusahan dan menderita atas perbuatan
yang dilakukan oleh Mori. Sampai kapanpun Mori tak akan memaafkan dirinya dan
ia akan selalu mengingat Haris selamanya dan selamanya.

Komentar
Posting Komentar