Tubuh dan Ruh





Pagi ini saya terbangun dan mencoba mencari-cari diri saya yang sesungguhnya melalui diri-diri orang lain. Saya mencari diri saya yang belum seutuhnya menyatu dengan diri saya. Bahkan saya juga masih termenung memikirkan kata pulang yang belum saya pahami. Saya pulang kemana dan dimana rumah saya? Apakah saya akan kembali pulang dengan kehidupan normal saya dan kembali dengan tugas-tugas yang sudah lama sekali saya tinggalkan? Lalu kenyamanan yang pernah saya rasakan itu apakah itu bukan tempat pulang bagi saya? Kembali ke kehidupan normal, berarti saya juga kembali pada pergulatan-pergulatan di dalam diri saya?. 

Meninggalkan ruang yang telah memberikan kehidupan baru di dalam diri saya, berarti itu bukan tempat pulang untuk saya juga?. Saya terus bertanya tak henti-hentinya mencari rumah saya yang sesungguhnya dan tempat pulang sejatinya saya?. Bagaimana saya bisa pulang ke kehidupan normal saya, kalau saya masih saja enggan membuka lembaran-lembaran kusam yang sudah tidak saya lirik sama sekali? Lalu bagaimana dengan tempat pulang yang lain yang telah lama saya tinggalkan tapi memberikan kehidupan baru di dalam diri saya? Saya kebingungan sekali memahami kepulangan yang membuat saya tak henti-hentinya bertanya pada orang lain. Tapi, orang lain juga tak memberikan jawabannya dimana tempat saya pulang yang seharusnya. Saya tidak tahu lagi dimana rumah saya yang sesungguhnya dan dimana dunia saya yang sesungguhnya. Bahkan tempat untuk pulangpun saya tak bisa mengenali dan membedakannya.

Beberapa jam dari malam hari sampai pagi hari tubuh saya benar-benar tidak berdaya untuk menghadapi dunia dan kehidupan normal apapun. Tubuh saya hanya memandangi tumpukan buku di samping kanan kirinya hanya dengan tatapan kosong dan terus bertanya apakah tempat pulangnya tubuh saya itu di dalam buku-buku itu lagi? Tubuh saya juga hanya ingin sembunyi dari dunia dan mencoba menutup matanya lagi tapi juga tak bisa memejamkan matanya lagi. Tubuh saya hanya bolak-balik resah mencari tempat pulang yang benar-benar menjadi rumahnya itu dimana? Apakah rumahnya itu berupa buku-buku yang dilihatnya sebagai rumah hantu sebelum-sebelumnya? Atau tempat pulangnya itu di rumah barunya yang telah mengembalikan senyum tawanya yang telah hilang dengan buku-buku mendamaikannya? Tubuh saya tak bisa melihat dua rumah itu menjadi rumah yang sama-sama membuat tubuhnya hidup kembali. Pulang ke rumah  yang masih dianggap horor berarti tubuh saya tak memiliki rumah lagi di tempat yang membuatnya bisa mendapatkan ketenangan?. Tubuh saya hanya membujur linglung memandang genteng-genteng di atasnya sambil bertanya-tanya. Tubuh saya benar-benar tak berdaya memahami kepulangan yang dimaksudkan itu apa dan  dimana rumah tempat tinggalnya yang sebenarnya?

Ruh saya juga tak bisa merasakan dirinya ruh dan dia terus mencari dirinya sendiri dimana dia bisa merasakan hidup? Ruh saya kehilangan arah dan dia tidak tahu rasanya marah, sedih, jengkel, kecewa, bahagia, susah, senang dan sebagainya. Ruh saya masih gentayangan, tetapi ruh saya juga masih belum tercabut di muka bumi ini. Ruh saya masih ada ruhnya tapi dia tidak tahu bagaimana dia hidup. Ruh saya ingin pulang tapi pulang kemana? Ruh saya tak ingin meninggalkan tempatnya dia mengambang. Ruh saya masih terasa berat untuk bisa berhadapan dengan ruh-ruh yang lainnya. Ruh saya masih membiarkannya hidup tapi juga tak bergerak. Ruh saya bingung dimana tempat pulangnya? Ruh saya sudah sejak lama hidup dengan cara menggebu-gebu, tetapi semakin lama ruh saya tak lagi berapi-api dan ruhnya semakin padam. Ruh saya telah kehilangan ruhnya, tapi dia masih merasakan ada ruh yang masih hidup di dalam dirinya. Ruh saya belum tahu jalan pulangnya dan juga belum berani pulang. Ruh saya tak berani pulang dengan kepercayaan diri ruhnya yang sangat rendah? Ruh saya merindukan ruhnya yang berani untuk pulang ke rumah, tapi dia sudah tak berani seperti dulu-dulu lagi. Ruh saya telah menjadi pengecut dan hanya bisa sembunyi di balik kengambangan ruhnya. Ruh saya tidak tahu bagaimana dia bisa pulang? Ruh saya beberapa hari ini sudah bisa berani dan tegar lagi di alam lainnya, tapi dia masih mengalami ketakutan di alam satunya yang harus dia hadapi? Ruh saya hanya ingin pulang dan menetap di alam yang membuatnya berani saja, tapi ruh saya belum berani menatap alam lainnya yang harus dihadapinya. Ruh saya belum sanggup pulang di alam lainnya yang membuat dirinya takut untuk tinggal di dalamnya. Lalu bagaimana ruh saya bisa pulang ke alam yang masih ditakuti olehnya? Ruh saya bisa merasakan dirinya hidup di alam lainnya dan itu dijadikan tempat pulangnya yang telah membuatnya dia kembali menjadi berani. Lalu bagaimana ruh saya bisa pulang ke tempat yang membuatnya dia takut di alam lain satunya? Ruh saya terus-terusan dilanda kebingunagan terkait tempat pulangnya itu.

Tepat disaat saya tak bisa memahami kepulangan. Di saat itulah saya dalam posisi yang sangat mengambang bimbang tidak tahu arah dan kebingungan disana sini. Tubuh saya ada di dalam kamar, tapi ruh saya belum menyatu di dalam tubuh saya. Tubuh saya kehilangan gairah dan semangat hidup. Tubuh saya hanya terdiam membisu di dalam kamar tidak melakukan apapun. Ruh saya benar-benar di dalam ambang batas menyerah tidak tahu lagi dimana dia akan pulang. Ketika tubuh saya tak berdaya dan tak bertenaga ingin pulang kemana, tiba-tiba ada ruh saya yang juga sedang terbang bebas kebingungan mencari tempat pulangnya. Di saat tubuh saya dan ruh saya saling bertatapan. Tubuh saya yang risau berubah mulai menjadi tenang ketika ada ruh yang sedang dilanda kebingungan juga. Tubuh saya memandangi ruh yang terbang seliweran di samping kanan kirinya. Tubuh saya mulai tergerak melihat ruh yang ada di dekatnya. Demikian juga dengan ruh saya yang memandangi tubuh saya yang terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Ruh saya juga tidak tega melihat ada tubuh yang kesepian dalam menghadapi hari-harinya.  Tubuh saya telah kehilangan ruhnya dan ruhnya telah kehilangan tubuh tuannya. Tubuh saya dan ruh saya saling adu tatap ketika mereka saling kebingungan mencari tempat pulang. Tubuh saya dan ruh saya sama-sama saling bertanya apakah tempat pulang yang dimaksudkan adalah tempat bertemunya tubuh dan ruh saya bisa utuh lagi? Tubuh saya memberikan tanda pada ruh saya untuk melengkapi hidupnya yang tak terarah. Demikian juga dengan ruh saya yang memberikan sinyalnya pada tubuh saya untuk bisa memaafkan kepergiannya yang telah lama dari tubuh saya. Tubuh saya mulai mengucurkan air mata dan ruh saya kembali tidak tega melihat sebagian dari dirinya menderita. Disaat itulah antara tubuh saya dan ruh saya menyatu dengan hidmatnya. 

Di detik penyatuan tubuh dan ruh saya itulah sepertinya saya sedikit memahami kepulangan. Disaat itulah saya biarakan tubuh saya dan ruh saya saling berpelukan dan menyatu lagi untuk bisa pulang ke masing-masing tempat yang semestinya. Tubuh saya kembali bangkit dan tatapan berbeda melihat dunia kembali menemani saya. Tubuh saya telah bisa kembali bercakap-cakap sendiri dengan ruhnya. Tubuh saya telah kembali berbincang-bincang pada ruhnya. Tubuh saya melepas rasa rindunya yang telah ditinggal pergi oleh ruhnya. Demikian juga dengan ruh saya yang terus memberikan siraman-siraman kehidupan sejuknya lagi pada tubuh saya yang telah lama ditinggalkannya. Kini tubuh saya dan ruh saya sudah bisa saling bertemu dan menyatu di dalam diri saya. Mereka sudah tahu tempat pulangnya dan kini mereka telah kembali ke rumah di dalam diri saya.

Hari ini tubuh saya mengajak ruhnya untuk pergi ke kampus dan ruhnya berkata pada tubuhnya untuk bisa kuat mengahadapi bacaan-bacaan yang harus diselesaikannya di ruang aquarium kumpulan tugas akhir. Tubuh saya yang masih canggung ketika berhadapan dengan bacaan-bacaan di dalam ruangan, akhirnya dihampiri lagi oleh ruhnya untuk bisa tabah dan kuat membacanya secara bertahap. Demikian juga saat tubuh saya yang mulai mengantuk ketika membaca, tiba-tiba dihampiri lagi oleh ruh saya dan kembali memberikan semangatnya lagi, “biar gak ngantuk, ayo cerita”.

Ini hasil cerita kerjasama ruh dan tubuh saya setelah pulang. Mudah-mudahan Njenengan semua disana tenang dan bisa menjalani kesibukan-kesibukannya seperti sedia kala. Terimakasih dan salam hangat dari tubuh dan ruh saya yang dulunya terpisah yang sudah banyak merepotkan Njenengan semua untuk kembali bisa menyatu dan pulang di tempat semestinya. Terimakasih sudah mengantarkan kepulangan tubuh dan ruh saya kembali menyatu di dalam diri saya. Mohon maaf sudah banyak merepotkan dan menguras seluruh tenaga Njenengan semua. Mohon maaf atas semua kelancangan dan ketidaksopanan yang telah diberikan tubuh dan ruh saya yang belum menyatu selama ini. Mohon maaf atas semua Khilaf dan dosa yang telah diperbuat oleh tubuh dan ruh saya yang terus kisruh dan membuat rusuh. Mohon maaf atas penerimaan sikap tubuh dan ruh yang terus memberontak  setiap kali  Njenengan semua berniat baik ingin menyatukan tubuh dan ruh saya utuh kembali. Terimkasih, terimakasih dan terimakasih.

Salam hormat untuk Njenengan semua disana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN