Aku Tidak Tahu Lagi


Kamu ini selalu membuatku semakin tak bisa berkata-kata lagi. Kamu tak hanya ada dua saja. Kamu ada tiga, empat, lima dan tak terhitung lagi. Kamu memintaku untuk mengerti kamu yang ada banyak. Sedangkan aku sendiri tak bisa mengerti aku ada dimana. Bagaimana aku bisa memahamimu kalau aku tak faham dengan diriku sendiri.

Kadang kamu kasar, kadang kamu kejam, kadang kamu baik, kadang kamu lembut dan masih banyak kadang lainnya yang semuanya hanya selalu kadang-kadang saja dan kadang-kadangmu selalu tak terduga.

Kamu jahat aku ketakutan. Kamu baik aku kejam. Kamu lembut aku kasar. Selalu saja seperti itu dan aku tak kunjung bisa memahamimu juga. Aku paham seketika, tapi kamu sudah menjadi kamu yang lain dan aku kembali tak memahamimu lagi. Terus seperti itu dan ini semakin membuatku tidak memiliki tenaga lagi sekedar untuk energi memahami diriku sendiri sampai akhirnya aku kelelahan memahami dirimu yang juga sudah menjadi kamu yang lain.

Kamu memiliki pemahaman yang sangat dalam dan aku hanya memahamimu dengan sangat dangkal. Kamu memahami sesuatu dengan sangat cepat dan aku memahaminya dengan sangat lambat. Bagaimana aku bisa memahamimu sesuai dengan yang kamu harapkan? Sedangkan semua pemahamanku terhadap dirimu selalu keteteran berantakan.

Kamu membuatku selalu merasa bersalah karena aku terus saja tak bisa mengerti dirimu yang mencoba memberikan pemahaman kepadaku dengan jalan yang tak kuketahui sedangkan kamu mengetahuinya. Itu sungguh membuatku ingin terus marah padamu karena aku tak kunjung faham untuk bisa mengerti dirimu.

Bahkan setelah matahari terbit aku masih saja tak kunjung faham. Aku malah menyalahkanmu dan kembali menuduhmu yang tidak-tidak lagi. Bahkan kamu hanya membiarkanku terus menerus memiliki pemahaman yang salah. Sampai akhirnya aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi setelah aku tersesat jauh dalam memahamimu. Aku sudah salah memahamimu. Lagi-lagi hanya kesalahan yang selalu kuperbuat yang tak henti-hentinya kulakukan padamu. Matahari yang masih terbit dini hari juga tak membuatku tersadar juga kalau aku salah dan sudah benar-benar salah yang kelewat batas. Bahkan aku tak berani untuk meminta maaf atas kesalahanku yang sudah salah memahamimu. Kini matahari benar-benar sudah sangat menyengat dan aku baru menuliskan ini. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana di siang yang panas dan riuh ini aku bisa merasakan sunyi dan sepi yang sudah kubiarkan kesempatan di malam itu terlewat begitu saja. Selalu saja malam nan sunyi, sepi, hening dan tenang itu tak bisa kupergunakan waktuku secara baik. Selalu saja aku bermalas-malasan sembunyi di balik selimutku untuk menghindari kesunyian. Kini sudah siang panas menyengat dan matahari semakin meninggi baru bisa kusesali itu. Sudah tak terhitung juga aku hanya bisa menyesal dan menyesal telah salah memahamimu. Kini aku sudah tidak tahu lagi apa yang bisa kuperbuat untuk menebus kesalahan-kesalahanku padamu yang tak henti-hentinya kulakukan. Aku sudah tidak tahu lagi dan benar-benar tidak faham caranya bagaimana aku bisa memahamimu. Aku tidak tahu dan aku menjadi tak ingin tahu lagi ketika aku tak kunjung tahu kalau aku benar-benar salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN