Akur dengan Bapak
Seiring berjalannya waktu, rasa benci saya pada bapak saya mulai memudar. Saya yang semakin tambah besar mulai tidak malas-malasan lagi untuk berangkat sekolah. Ya, meskipun masih tetap sering nakal, tapi ketika saya ada di Sekolah Dasar, saya sudah jarang dihajar Bapak lagi. Bapak hanya menghajar saya kalau saya suka mengambil uang sembarangan saja, selebihnya saya sepertinya mulai akur dengan Bapak. Waktu saya kelas satu, saya dapat peringkat ketiga di kelas, lalu peringkat dua dan lama-kelamaan saya sering dapat peringkat satu meskipun sering naik turun peringkat saya selama ada di Sekolah Dasar. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa dapat peringkat bagus di kelas, kerjaan saya di rumah dan di sekolah hanya bermain-main saja. Saya hanya menduga itu semua, karena jumlah murid di sekolah saya itu sedikit sekali. Teman satu kelas saya mungkin hanya ada sekitar 15 orang saja. Jadi itu bukan prestasi di sekolah kalau jumlah muridnya 15 dan saya hanya dapat peringkat tiga saja. Tapi dulu saya tidak begitu peduli mau dapat peringkat berapapun yang penting saya bisa sekolah dan bisa bermain maka dunia saya aman dan Bapak tidak perlu ngomel-ngomel dan menghajar saya lagi.
Waktu saya di Sekolah Dasar, bapak yang sering ngajarin saya belajar. Ibu lagi-lagi hanya sibuk dengan adek-adek saya. Saya belajar sambil tidur-tiduran dan tidak pernah serius. Kadang bapak yang membacakan buku saya dan saya hanya gelimbungan sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Bapak. Kadang kalau saya sedang tidak males dan ada PR, saya belajar sambil tengkurap dan tidak mau belajar sambil duduk lalu menjawab soal-soal di buku LKS yang langsung dikoreksi oleh Bapak. Kalau saya sudah bosan mengerjakan PR lagi, saya gelimbang-gelimbung lagi di lantai rumah. Kalau saya sudah mulai malas belajar, bapak juga yang membacakan buku saya dan saya menjawabnya tanpa saya tulis dulu, baru nanti kalau sudah tidak males lagi maka saya tulis lagi jawaban-jawaban di buku LKS saya. Ya, hari-hari saya belajar hanya seperti itu. Ketika saya belajar dengan Bapak, saya tidak pernah dipukul meskipun kalau saya menjawab soal di LKS salah-salah, yang penting saya mau belajar dan mau sekolah maka hidup saya aman. Bahkan saya sudah mulai lupa kalau saya pernah dihajar Bapak, karena Bapak tidak lagi galak ketika mengajari saya pelajaran-pelajaran sekolah. Kalau saya mengingat ini, saya malah senang belajar bersama Bapak, Bapak orangnya penyabar kalau ngajarin saya. Meskipun saya suka bermain dan suka ngewes belajar dan suka tidak menggubris bapak ketika membacakan buku saya. Seingat saya, Bapak tidak marah-marah terus seperti biasanya. Saya belajar sambil tiduran bawa bantal dibiarkan saja. Mungkin, karena saya belajarnya dari kecil sudah malas-malasan seperti itu makanya sekarang belajarnya juga malas-malasan terus.
Bapak juga hampir setiap hari bawa koran setiap pulang kerja. Kebetulan Bapak kerjanya jadi pesuruh sekolah yang ngurusin kertas-kertas dan berkasnya sekolahan. Jadi bapak itu sering bawa kertas-kertas lainnya juga setiap pulang. Bapak juga dapat jatah majalah satu bulan sekali dari tempat kerjanya. Saya lupa nama majalah itu. Tapi, majalah itu yang paling banyak memenuhi rumah. Saya tidak begitu suka membaca saat itu, saya hanya suka membolak-balik isi dari majalah dan koran yang sering dibawa Bapak. Saya pusing melihat tulisan yang berjubel dan padat dengan tulisan dan tidak ada gambarnya yang menarik. Paling kalau saya tidak faham saya tanyakan pada bapak saya. Ketika saya mulai tidak faham banyak hal, disitulah saya sepertinya belajar cerewet dari Bapak.
“Bapak itu apa?”
“Itu koran”
“Koran itu apa?”
“Koran itu isinya kabar-kabar berita”
“Kabar-kabar berita yang bagaimana?”
“Kabar berita yang sama seperti berita di TV, tapi itu ditulis”
“kenapa kok ditulis di kertas dan tidak ditulis di TV?”
“kalau di TV itu ditonton, kalau dikoran itu dibaca”
“kenapa kok dibaca dan tidak dibiarkan saja?”
“nanti kalau gak dibaca gak tahu isinya”
“memanngnya isinya apa saja?.........................................” Pertanyaan terus saya ajukan pada Bapak sampai saya capek sendiri bertanya dan disitulah akhirnya saya akan berhenti sendiri untuk bertanya lagi, karena saya sudah bingung bertanya-tanya. Tepatnya saya kehabisan pertanyaan.
Saya mulai suka bertanya-tanya pada bapak saya, meskipun sebenarnya pertanyaan saya itu banyak tidak pentingnya tapi Bapak selalu menjawab semua pertanyaan saya. Kebiasaan saya itu akhirnya juga terus berlanjut dan saya suka bertanya pada orang-orang didekat saya. Ibu biasanya yang paling tidak betah kalau saya sudah mulai bawel. Ibu langsung menyuruh saya diam kalau ibu sudah tidak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya tidak akur dengan ibu kalau bapak sedang tidak ada dan saya tidak bisa bertanya pada Bapak saat itu juga. Saya lebih suka pertanyaan saya dijawab Bapak daripada dijawab oleh siapapun. Jawaban orang-orang sering tidak membuat saya senang dan lebih banyak membuat saya malas dan jengkel bertanya lagi kalau saya sudah mulai disuruh diam. Saya sering banyak manyun kalau saya dilarang-larang untuk bertanya. Hanya Bapak yang membuat saya senang untuk terus berbincang-bincang dengan beliau. Kalau saya bersama bapak, bapak tidak pernah menyuruh saya diam. Bapak terus meladeni semua yang sering saya pertanyakan. Saya tidak tahu apakah jawaban dari Bapak saya itu benar atau salah, tapi kalau saya bertanya dan dijawab Bapak itu sudah membuat saya senang. Saya jadi akur dengan Bapak, karena Bapak selalu menemani saya berbicara.
Bapak juga sering membelikan buku cara mudah berhitung, buku agama dan majalah bobo. Tapi dasarnya saya itu pemalas dan seperti biasanya buku-buku itu hanya saya bolak-balik saja. Kalau majalah bobo saya lebih senang membuka halaman yang kadang ada cara membuat mainan yang mudah dan sederhana. Saya tidak suka membaca tapi suka bertanya dan suka bermain. Hanya itu yang saya ingat. Tapi, saya juga heran dengan guru saya di sekolah. Saya disuruh ikut lomba cerdas cermat matematika, IPA dan IPS. Padahal saya itu malas belajar. Saya hanya beruntung dari 15 murid setidaknya saya masih faham sedikit sehingga saya dapat rangking yang lebih unggul. Tapi, saya tekankan lagi, saya itu tidak suka belajar dan saya pusing setiap saya belajar dan saya belajar dengan setengah terpaksa. Ketika saya disuruh ikut lomba cerdas cermat, saya menjalankannya dengan sedikit terpaksa juga dan bapak saya yang lebih bersemangat daripada saya. Saya mulai dipaksa lagi buat belajar secara serius, tapi namanya saya juga bandel dan malas sekali dalam belajar, ya saya belajar seperti biasanya dan tak mau ambil pusing. Jelas saya gagal di lomba cerdas cermat di tingkat kecamatan. Toh, saat itu saya hanya berfikir, daripada sekolahan saya tidak ada perwakilan yang mengikuti lomba, ya saya ikut saja meskipun saya sudah tahu dari awal saya bakal kalah. Saya tidak terlalu ambil pusing menang atau kalah. Toh, saya itu juga tidak begitu senang pelajaran di sekolahan bagaimana bisa disuruh ikut lomba cerdas cermat? Saya hanya mengecewakan guru saya dan bapak saya. Tapi saya biarkan saja itu dan saya hanya cuek tanpa banyak menanggung beban kekalahan, salah siapa menyuruh saya ikut lomba? Jelas-jelas saya tidak mahir khususnya pelajaran Matematika yang membuat saya pusing. Demikian juga pelajaran IPA dan IPS yang memaksa saya harus banyak berhafalan dan saya paling benci menghafal, karena kemampuan saya menghafal pelajaran itu jelek sekali. Salah guru saya dan salah bapak saya kalau saya mau bilang atas kekalahan saya di lomba-lomba cerdas cermat itu. Orang saya tidak tertarik ikut lomba dipaksa ikut lomba. Jadi, kalah ya biasa-biasa saja, toh lomba itu hanya persyaratan supaya sekolah saya ada delegasi yang dikirim untuk lomba cerdas cermat. Yaaaaa, saya yang didelegasikan akhirnya cermat dan tidak cermat tergantung pada saya. Pada dasarnya saya ceroboh jadinya lomba cerdas cermat yang saya ikuti itu menjadi lomba yang menunjukkan pada saya betapa bodohnya saya ketika saya bersedia ikut lomba itu. Tapi, sudah terlanjur, setidaknya saya jadi tahu dari lomba yang saya ikuti kalau saya itu bodoh tetapi saya tidak merasa terpuruk dengan kebodohan saya saat itu. Miris kan? Tapiiiii, yang terpenting saat itu, setidaknya saya sudah menuruti apa kata guru saya dan bapak saya meskipun saya KALAH.
Saya juga pernah disuruh guru saya ikut lomba membaca surat-surat pendek di kecamatan. Kebetulan sekolah saya itu mungkin murid-muridnya tidak banyak memiliki bibit unggul dalam membaca Al-Quran. Kebetulan saya sedikit paling bisa membaca Al-Quran daripada teman-teman saya yang lain. Tapi kan saya membaca Al-Quran juga karena terpaksa gara-gara dipaksa Bapak. Guru saya kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Guru saya itu yang menemui Bapak saya. Jelas kalau seperti itu Bapak saya berbunga-bunga lagi kalau saya disuruh ikut lomba. Saya dibelikan kaset cara membaca Al-Quran dengan tartil yang bagus dan suara yang melengking berkelok-kelok. Saya dipaksa Bapak saya menirukan suara orang ngaji yang ada di kaset itu. Saya benar-benar mulai kembali membenci bapak saya kalau saya sudah dipaksa-paksa dan diatur-atur lagi. Saya juga sedikit jengkel dengan guru saya yang menyuruh saya ikut lomba Qiroah hanya karena nilai mata pelajaran agama saya sedikit agak bagus dan saya sedikit bisa membaca Al-Qur’an. Bapak saya kembali menjadi makhluk yang menyeramkan lagi kalau sudah mulai berambisius pada saya untuk bisa menang dan juara sana-sani. Ya, karena saya tidak mau ambil pusing akhirnya saya turuti bapak dan pura-pura mendengarkan dan menirukan bacaan-bacaan itu, tapi kan saya juga gak ikhlas, jadi ya saya tidak bisa Qiroah sampai kapanpun dan sampai sekarang. Yaaaaa, seperti biasanya saya gagal dan kalah lomba membaca Al-Qur’an. Tapi, saya biasa saja ketika saya kalah di lomba itu. Membaca Al-Quran yang seperti itu membuat saya tersiksa dan hanya akan membuat saya benci mengaji saja. Saya tidak mau ambil pusing pada Guru agama saya dan bapak saya yang begitu berharap pada saya tapi saya tidak pernah berhasil membawa pulang piala di rumah. Toh, saya ikut lomba itu lagi-lagi di sekolah saya itu muridnya sedikit sekali dan saya hanya sedikit beruntung saja gara-gara sering dipaksa Bapak dulunya belajar ngaji jadinya saya agak paling lancar membaca Al-Qur’an dibandingkan teman-teman saya yang lain. Yaaaa, lagi-lagi ketika saya membaca Al-Qur’an masih sering salah panjang pendek bacaannya.
Seumur hidup saya hanya menang lomba balapan karung, balap lari, lomba sundul air, lomba balap kelereng, lomba cabut koin dan lomba-lomba lainnya di acara Agustusan yang ada di desa. Kalau di lomba-lomba itu, saya sering dapat hadiah buku dua lusinan, pena dan pensil segepok hampir setiap tahunnya. Saya lebih mahir di lomba itu dan selalu jadi juara entah juara satu, dua dan tiga. Saya paling bangga kalau menang lomba-lomba itu. Saya berhasil mengalahkan teman-teman bermain saya ini adalah kebanggaan saya yang paling saya senangi. Saya paling senang pamer hadiah buku-buku saya pada bapak, ibu dan adek-adek saya di rumah. Kalau saya menang lomba-lomba Agustusan Bapak cuma sedikit mencibir saja, tapi saya tidak mau ambil pusing. Saya lebih pusing kalau saya kalah di lomba Agustusan. Saya labih sakit hati kalah di lomba Agustusan desa daripada saya kalah ikut lomba cerdas cermat. Harga diri saya remuk di depan teman-teman saya bermain ketika saya kalah ikut lomba Agustusan dan itu tandanya penghinaan untuk saya. Kalau saya kalah di lomba Agustusan itu tandanya saya gak bisa naik panggung dan difoto oleh panitia di desa lomba Agustusan. Saya di desa sejak kecil sudah mahir punya musuh bermain juga. Kalau musuh saya bermain itu menang dari saya itu tandanya saya tidak bisa naik panggug dan itu tandanya dia yang naik panggung. Setelah dia turun dari panggung dia melet-melet dan mencibir saya sambil memiringkan pipinya di perot-perotin. Saya benar-benar benci dengan teman saya itu. Hanya dia yang membuat saya sakit hati kalau saya kalah. Ya, hanya dia saja yang syirik dengan saya dan saya syirik dengan dia. Tapi, bapak saya tidak tahu kalau saya punya banyak musuh bermain. Kalau saya ketahuan bapak saya dan mengeluh teman-teman bermain saya yang suka nakal pada saya, saya tidak boleh bermain lagi dan disuruh di rumah saja. Jadi kalau urusan teman bermain saya selalu menyembunyikannya dari Bapak. Untung saat itu saya tidak dilarang Bapak untuk ikut lomba Agustusan meskipun Bapak sering ngomel-ngomel saya kebanyakan bermain. Tapi, kalau saya dilarang bermain, ngalamat saya bakal males belajar lagi mungkin dan akan kembali bertarung dengan Bapak.
***
Selain urusan belajar yang membuat saya akur dengan Bapak. Bapak juga paling sering mengajak saya jalan-jalan. Kebetulan bapak saat itu bantu-bantu ngurusian surat-surat salah satu jama’ah pengajian yang ada di Kabupaten. Bapak tidak hanya mengurusi surat-surat saja, tetapi hampir setiap bulan Bapak selalu keliling dari kecamatan satu ke kecamatan berikutnya untuk memberikan undangan-undangan pengajian pada koordinator jamaah di masing-masing kecamatan. Kebetulan jaman dulu Bapak hanya bisa berkomunikasi dengan telpon sekolahan dimana Bapak Bekerja. Atau kadang bapak berkomunikasi dengan teman-temannya lewat telpon dari wartel. Tapi tidak semua orang yang diundang di acara pengajian bulanan itu memiliki telpon rumah semua, akhirnya Bapak yang mengantarkan undangan-undangan pengajian itu dan saat itu saya dan kakak saya yang sering diajak untuk pergi bersama Bapak. Saya yang paling bersemangat untuk ikut menyebar undangan pengajian, karena itu tandanya saya jalan-jalan. Saya tidak terlalu suka dengan pengajiannya tapi saya paling suka jalan-jalannya. Setiap ada pengajian bulanan saya selalu diajak Bapak dan saya hanya tertidur sepanjang pengajian itu. Tapi, bapak tidak pernah memarahi saya kalau saya tertidur di pengajian itu dan saya dibiarkan tidur di pengajian itu sampai acaranya selesai. Yang terpenting saya tidak mengganggu bapak dan teman-temannya mengurus acara pengajian berjalan lancar maka saya tetap dibolehkan ikut bapak bepergian.
Bapak juga sering mengajak saya ikut jalan-jalan ketika sekolahan dimana Bapak bekerja sedang ada studi tour dan ada kursi kosong. Bapak langsung mengajak saya untuk bisa jalan-jalan lagi. Bapak kadang juga sering mengunjungi murid-murid di sekolah Bapak bekerja ketika ada kegiatan perkemahan di dekat air terjun yang ada di Gunung Wilis. Saya paling senang kalau diajak jalan-jalan di daerah pegunungan dan bertemu dengan teman-teman Bapak. Kadang kalau saya bermain dengan salah satu murid dimana Bapak bekerja, saya suka dimanja oleh mereka. Makanya saya mulai senang dan akur untuk bisa jalan-jalan bersama bapak. Kalau di rumah saya sering bertengkar dengan adek saya. Makanya kalau saya jalan-jalan tidak perlu lagi saya bertengkar dengan adek saya dan saya bisa dimanja oleh sebagian teman Bapak ataupun murid-murid di sekolah Bapak bekerja. Meskipun Bapak saya tidak memanjakan saya, kalau saya bertemu dengan teman-teman Bapak sepertinya dunia saya terasa berbeda. Meskipun setelah pulang ke rumah nantinya akan lebih sering banyak berselisih lagi dan kabur-kaburan untuk belajar, tapi setiap bapak mengajak saya jalan-jalan itu adalah berkah dalam kehidupan saya.
Saya dan kakak saya yang paling sering diajak jalan-jalan sedangkan adek saya jarang diajak keluar. Bapak tidak mengajak kedua adek saya karena adek saya hanya bisa diajak keluar kalau ibu saya ikut. Pasti akan ribet sekali mengajak adek saya yang dua-duanya jauh lebih kecil dari saya. Ketika bapak mengajak saya maka bapak bisa menjaga saya yang sudah tidak perlu banyak dibantu dijaga ibu lagi. Kalaupun bapak harus menjaga kakak saya, tugasnya tidak terlalu berat ketika harus menjaga adek saya yang jauh lebih kecil dari kakak saya maupun dari saya. Kalaupun bapak sedikit kuwalahan menjaga saya maka ada kakak saya yang usianya empat tahun di atas saya yang akan menemani saya. Akhirnya urusan adek-adek saya diserahkan semua pada ibu saya dan saya langsung diajak jalan-jalan oleh bapak. Bapak saya akan kewalahan apabila harus menjaga kedua adek saya seorang diri, karena adek saya masih suka nangisan dan tidak bisa jauh-jauh dari ibu. Ketika saya sudah diajak jalan-jalan bapak maka saya kerap lupa kalau saya memiliki adek di rumah dan saya akan selalu asyik menikmati perjalanan bersama Bapak saya.
Dari sini saya sadar sebenarnya Bapak saya itu juga sangat adil pada saya dan tidak pilih kasih. Adek saya yang malah kasihan jarang keluar rumah diajak pergi jalan-jalan Bapak. Tiba-tiba saya tersadar bahwa saya sudah jahat sekali menyebut Bapak saya pilih kasih dan adek saya lebih banyak dapat kasih sayang dari Bapak. Adek saya jarang diajak keluar dan bepergian seperti saya dan kakak saya. Sudah tak terhitung berapa kali saya diajak jalan-jalan Bapak. Saya tidak ingin menceritakan lagi jalan-jalan saya, nanti adek saya membaca ini dan dia sedih. Saya suka sekali jalan-jalan dengan bapak sedangkan adek saya hanya di rumah saja. Mungkin wajar saja adek saya suka marah pada saya, karena saya lebih banyak menghabiskan waktu saya dengan bapak sehingga waktu bapak untuk adek saya sangat sedikit dan terbatas.
***
Sejak kecil adek saya selalu benci saya dan saya selalu membenci adek saya. Kami hanya saling membenci satu sama lain. Sejak tregedi penggudulan rambut saya, saya tambah tidak mau dekat-dekat lagi dengan adek saya itu. Adek saya menyenggol saya sedikit pasti akan saya balas dan demikian juga sebaliknya. Sampai akhirnya adek saya hanya semakin cengeng dan nangisan saja dan saya sudah tidak peduli lagi dengan adek saya. Adek saya menjadi suka mengadu pada ibu dan bapak saya. Saya sudah semakin tidak punya rasa takut lagi untuk bertengkar dan bertarung dengan adek saya. Saya selalu meledek adek saya sebagai anak cengeng, nangisan, tukang ngadu, anak manja dan masih banyak olok-olokan saya berikan pada kedua adek saya ketika saya bertengkar dengan adek saya. Saya tak mau mengalah sedikitpun pada kedua adek saya sampai detik inipun.
Kadang adek saya kalau tidak bertarung dengan saya, mereka bertarung sendiri. Kepala adek saya pernah bocor karena palu-paluan. Saya senang sekali ketika adek saya terkapar karena ulahnya sendiri dan saya tidak perlu capek-capek bertengkar lagi dengan mereka dan bapak saya tidak perlu marah-marah lagi pada saya. Saat itu bapak sendiri juga salah. Bapak suka meletakkan barang-barang perabot pertukangannya di sembarang tempat. Kebetulan bapak itu memiliki pekerjaan serabutan juga, jadinya barang-barang di rumah isinya serabutan semua seperti kapal pecah. Adek saya itu suka sekali memegang palu dan akhirnya palu-paluan dengan kepala kembarannya sendiri. Untung saja saya tidak di dekat adek saya, bisa saja kepala saya yang bocor. Saya hanya bisa semakin senang ketika adek saya mulai tak banyak bertingkah lagi seteleh kepalanya bocor. Dunia itu aneh sekali. Rambut saya gundul kepala adek saya bocor. Tapi, jangan sampai kepala saya bocor karena saya girang adek saya menderita saat itu. Saya hanya senang saja, kalau adek saya sakit berarti saya dan adek saya tidak perlu bertengkar lagi. Bukan bermaksud untuk menghilangkan adek saya dan membencinya selama-lamanya.
Adek saya waktu kecil itu hanya berani nakal di rumah saja, tapi giliran di sekolah dia cengeng sekali. Kalau saya kelas tiga maka adek saya kelas satu. Waktu TK adek saya terbiasa dijaga dan ditunggu oleh ibu saya dan saya biasa dibiarkan sekolah sendiri dengan kepala pelontos saya. Giliran masuk sekolah dasar, adek saya tidak lagi ditunggu dan ditemani ibu lagi. Tapi kedua adek saya itu nangisan sekali dan penakut. Hanya diledek teman perempuannnya satu kelas langsung nangis. Saya sebagai kakak yang sedikit menguasai dunia persekolahan menghampiri teman adek saya. Saya labrak temannya yang membuat adek saya menangis. Meskipun kalau saya di rumah suka bertengkar dengan adek saya, tapi kalau di sekolah ada yang berani macam-macam dengan adek saya, langsung saya bertindak sebagai kakak yang bergaya ala orang dewasa. Ketika saya sudah ada di rumah lagi, langsung saya ledek lagi adek saya dan saya menyebut adek saya sebagai “Anak Jago Kandang” dan akhirnya seperti biasa saya bertarung lagi dengan adek saya dan kami sudah kebal saling berperang.
Adek saya jarang dimarahin oleh Bapak saya. Dalam belajarpun adek saya tidak bandel seperti saya. Adek saya lebih banyak belajar bersama ibu. Adek saya kalau bermain dengan Bapak paling kalau bapak sedang nyervis becak, nyervis motor dan nyervis barang yang bisa diservis. Adek saya lebih sering ada di samping bapak di peralatan-peralatan servis. Kalau untuk urusan belajar adek saya itu punya daya tangkap yang cepat dan tidak seperti saya yang lama sekali perlu belajar. Adek saya cepat menerima pelajaran dari guru-gurunya dan sama halnya dengan saya, adek saya sempat rajin dapat juara juga ketika sekolah. Adek saya juga banyak diajarin belajar oleh bapak secara langsung juga, tapi beda waktunya bapak lebih lama mengajari saya belajar daripada adek saya. Mungkin dari sini saya tahu kenapa adek saya terus marah pada saya. Adek saya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Bapak disamping oli, disamping jeruji becak-becak, disamping motor dan sepeda yang diservis yang harus membuatnya kotor. Sedangkan saya selalu lebih lama belajar dengan Bapak sehingga saya tidak perlu ikut kotor seperti adek saya.
Adek saya dulu tidak terlalu suka bermain dan lebih sering menghabiskan waktunya di rumah bersama ibu dan bapak. Mungkin itulah kenapa adek-adek saya tidak pernah dimarahi oleh bapak saya, karena adek saya tidak banyak bertingkah seperti saya. Kenapa saya dulu menyebut bapak saya jahat? Padahal jelas-jelas saya yang nakal. Dan kenapa juga saya iri dengan adek saya padahal saya sudah banyak dimanjakan Bapak dengan belajar bersama dan diajakin jalan kemana-kemana sedangkan adek saya hanya menjadi anak rumahan yang paling banter tempat bermainnya adalah disamping bapak yang sedang menservis barang-barang. Mungkin adek saya marah melihat saya yang bisa enak-enakan sedangkan adek saya tidak bisa menghabiskan waktunya lebih lama bersama bapak. Bagaimana saya bisa marah pada bapak, kalau bapak sudah mencoba seadil mungkin pada saya dan kedua adek saya? Bagaimana saya menyebut bapak saya kurang memberikan kasih sayangnya kalau waktunya sudah banyak dipergunakan untuk menemani saya sepanjang hari dalam belajar sedangkan adek saya tidak bisa bersama dengan bapak dengan waktu yang lebih lama. Bagaimana saya bisa menyebut adek saya kejam kalau dia telah merelakan waktu bermainnya bersama bapak dan diberikan waktunya itu untuk mengajari saya pelajaran sekolah supaya saya tidak malas-malasan belajar terus? Bagaimana saya bisa cemburu pada adek saya dan membencinya kalau ternyata adek saya yang kurang waktu kebersamaanya bersama bapak?

Komentar
Posting Komentar