Dengarkan Aku Cerita!!!!!




Aris aku putus dengan pacarku. Dia meninggalkanku disini seorang diri. Kamu pernah patah hati tidak? Aku putus dengan pacarku dan cerita padamu bukan bermaksud untuk memintamu jadi pacarku juga. Aku hanya ingin bercerita padamu saja. Kamu pasti menertawakanku karena aku berkata seperti itu. Tapi, sungguh aku hanya bosan saja kalau tak menceritakannya padamu. Aku iri denganmu yang bisa tetap percaya diri meskipun kamu itu tidak ada cakepnya sama sekali. Kamu tahu kan pacarku yang baru saja putus denganku itu gantengnya gak ketululungan. Makanya, karena dia ganteng dan kamu jelek, aku jadi heran dengan kalian para laki-laki. Kenapa dunia begitu aneh semua? Aris, aku sudah mengatakanya berulang kali kepadamu, kalau kamu itu jelek, tapi kok kayaknya banyak sekali yang mengejar-ngejarmu? Ini aku bertanya karena aku heran saja padamu Aris bukan berarti aku juga tergila-gila padamu, eeeee tapi bisa jadi sih kalau setiap hari aku bertemu denganmu dan aku bisa jatuh cinta padamu. Tapiiiiiiii........, tidak, tidak, kamu terlalu baik untukku dan aku takut nanti aku menyakitimu. Aku lebih baik menyakiti pacarku yang tampan itu daripada membuatmu sakit hati. Jadi kamu jangan jatuh cinta padaku ya!

Aris seperti biasanya hanya menanggapiku dengan cengar-cengir wajah tak berdosanya. Aris itu memanggilku Mbak dan dia itu culun tapi dia selalu menghormatiku. Aris itu umurnya jauh dibawahku, tapi aku sepertinya mulai hawatir aku akan naksir brondong. Tidak, tidak, tidak. Nanti kasihan Aris kalau harus berdampingan hidup denganku. Aku harus menggunakan otak warasku kalau aku mulai berfikir yang tidak-tidak. Aris kamu jangan terlalu baik padaku dan jangan terus mau kalau aku memintamu untuk mendengarkan curhatanku. Seharusnya kamu berani menolak dan berkata tidak padaku. Seharusnya kamu menyarankanku untuk bisa balikan lagi dengan pacarku. Tapi kamu selalu melapangkan dadamu setiap aku harus patah hati berkali-kali. Aris kamu harus belajar jadi kejam seperti pacarku sebelum-sebelumnya, supaya kamu nanti tidak dipermainkan pacarmu kalau kamu punya pacar. Kalau kamu seperti ini terus kamu hanya jadi ban serep. Kamu faham maksudku Ris?

Aris masih saja tidak banyak mengambil pusing dan hidupnya dibuat santai tenang. Aris bilang kalau dia itu senang bisa mendengarkanku bercerita. Apanya yang membuatmu senang Ris? Akulah yang ingin mendengarkan ceritamu! Bagaimana kamu bisa sanggup terus bertahan dengan hidupmu yang berbeda dari teman-temanmu yang lain? Aris adakah sesuatu yang kamu sembunyikan di hidupmu yang aku tak mengetahuinya? Bahkan aku melihatmu selalu tampak bahagia dengan senyuman polosmu itu? Benarkah kamu bahagia Aris? Aku tak pernah melihatmu menangis, apa karena kamu laki-laki sehingga pantang untukmu menangis? Aris aku tahu usiamu memang dibawahku, tapi pola pikirku mungkin masih jauh di bawahmu Aris. Aku tak mau hanya karena patah hati saja, aku mendatangimu, tapi nanti setelah siapa tahu aku balikan dengan pacarku aku akan meninggalkanmu. Aris aku mungkin tidak bisa meninggalkanmu kalau kita memiliki ikatan yang kuat, tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengikat taliku, kalau kau menyembunyikan talimu. Kenapa kau menyembunyikannya Aris? Bagaimana aku bisa memiliki ikatan antara aku dan kamu meskipun aku tahu aku akan kembali pada pacarku. Aku bukan bermaksud ingin menjadikanmu pacarku, tapi aku hanya ingin mengingatmu terus meskipun aku sedang bersama pacarku. Aku juga ingin menceritakan tentangmu pada pacarku. Karena kamulah yang selalu ada untukku kalau aku sedang dalam kesusahan. Apakah kamu akan marah dan cemburu padaku kalau aku kembali menjalin hubungan dengan pacarku? Atau mungkin apakah pacarku akan menganggapmu dan bisa menghormatimu kalau aku menceritakan tentangmu padanya? Apakah pacarku bisa mengerti dengan ikatan yang ada di  antara kita yang bukan kekasih?

Aris kamu bicaralah. Jangan hanya aku saja yang selalu bersemangat bercerita. Kapan aku bisa belajar mendengarkanmu kalau seperti ini. Aris kamu jangan bercerita soal nilai ataupun soal angka-angka, karena itu tak mempan untukku. Aku perlu memaksamu bercerita kesekaratan apa saja yang kamu alami ketika kamu menjadi berbeda? Aku masih belum bisa sanggup seperti itu Aris. Aku tahu kamu sering bercerita keanehan-keanehanmu, tapi kalau itu aku sudah terbiasa melihatmu Aneh. Aris kamu benar-benar membuatku penasaran. Bagaimana kamu menjalani hari-harimu yang panjang dengan teman-temanmu yang beragam? Aku tak ingin melihatmu yang sekarang, supaya aku tak takut untuk memulainya dan belajar darimu. 

Aris masih saja tak mau banyak berbicara. Lama-lama aku geram juga dengan Aris. Apa karena Aris tak mau berbicara itulah dia jadi terlihat semakin menarik dan memiliki aura yang luar biasa. Tapi, Aris ini tidak tahu kalau aku mengaguminya. Aris, kamu pake pelet apa ke aku sampai aku jadi seperti ini? Eeeee tidak-tidak, kan yang selalu mengganggu Aris  itu adalah aku dan kenapa aku yang menuduh Aris yang menggangguku? Memang pitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Aris tapi kamu tidak marah kan? Aku hanya bercanda padamu Ris. Aku tidak serius ketika aku berkunjung ke dinding rumahmu. Meskipun tidak jarang aku merasa tersindir dengan kata-katamu. Kadang kata-katamu juga pedas ketika kau sudah bosan mendengarkanku bercerita. Tapi, pada siapa lagi kalau aku tak bercerita padamu, makanya kamu itu spesial di hatiku. Eeeee aku harus ingat, aku tidak bisa naksir brondong, aku hanya kagum padamu saja Aris. Ini aku jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam. Makanya aku belajar merangkai kata ini buat kamu dulu, aku tak berani merangkai kata-kataku buat yang lain, nanti mereka menertawakanku. Tapiiiiiii, kalau kamu yang menertawakanku, aku tak bakal marah, bahkan kalau kamu yang menghina kata-kataku ini, aku juga tak bakal sakit hati. Jadi kamu harus banyak bercerita padaku, tapi aku tak mau kalau kamu pamer pialamu itu, nanti aku bisa jadi jengkel denganmu dan aku tak mau dekat-dekat denganmu lagi. Sembunyikan pialamu ya, kalau aku main ke rumahmu. Eeeeee, tidak, tidak itu kan hakmu, jadi terserah kamu saja deh, yang penting kamu mau mendengarkanku cerita aku sudah senang sekali.

Aku sebenarnya hari ini tidak mau cerita tentang pacarku yang baru saja putus denganku. Tapi, tidak apa-apalah Aris. Supaya kamu bisa belajar dari pengalamanku. Bagaimanapun kalau urusan pacaran aku lebih ahlinya daripada kamu. Yaaaaa jelas, kan aku menang umur banyak dari kamu. Tapi tenang, aku tak akan menjadikanmu pacar. Ini akan selalu aku ingat kalau aku main denganmu. Tapi aku masih belum bisa membuatmu berbincang-bincang denganku dan mengandai-ngandaikan kamu memikirkan sesuatu yang ada di hatimu atau di kepalamu. Apa kamu lebih pemalu daripada aku? Aku datang kepadamu karena aku melihatmu sangat percaya diri dengan wajah pas-pasanmu itu. Eeeeee apakah aku ini termasuk menghina? Tidak, tidak, tidak, ini aku sebenarnya menyanjungmu Aris! Bahkan aku hari ini ingin berbincang-bincang denganmu karena aku tidak bisa berbincang-bincang dengan diriku sendiri. Apalagi dengan pacarku yang sudah putus dari kemaren. Pacarku mana peduli denganku yang sedang patah hati ini. Aku tak mau patah hati hanya karena pacar jelek yang tak membuatku bahagia.
“Mbak kamu ini pintar, tapi.......... kamu itu suka gila mendadak jadinya kamu mendadak jadi dungu seketika itu” Aris menyampaikan ini sambil tertawa kencang sampai aku keselek permen
“kamu sudah berani menghinaku seskarang?”
“aku gak menghina mbak, aku memujimu seperti kamu memujiku mbak”
“wah kamu mulai kurangajar sama aku sekarang?”
“tadi katanya, mbak gak bakal sakit hati kalau aku yang ngomong jujur sama kamu mbak?”
“O Assssyyyyyyyyem kamu, sepertinya aku salah, sudah bilang aku kagum ke kamu”
“kamu gak kagum sama aku, tapi yang kagum sama aku jauh lebih banyak di luar sana mbak, jadi gak ngaruh kamu kagum apa gak”, Aris mulai tertawa kencang ketika mengatakan ini padaku.

Seketika itu aku menelan ludah sendiri ketika Aris sudah berkata terlalu jujur dan sepertinya aku harus menjaga jarak sebelum dia semakin kurangajar sama aku. Tapi, kalau aku menjaga jarak sama Aris, nanti aku gak punya teman buat bercerita lagi, jadi biarkan saja anjing menggongong dan Aris tetap mau jadi temanku. Ini aku apaan sih? seperti orang kesepian saja dan seperti tidak bisa hidup tanpa Aris saja. Aris kamu tidak keberatan kan? Kalau kamu suka mendengarkan orang bercerita, nanti kamu dapat banyak pahala dari tuhan. Kamu masih percaya sama pahala kan? Jadi kamu dengerin aku terus ya Aris!

*****

Zainal anak ibu kontrakan Bu Jati marah-marah pada Sasa yang tinggal bersebelahan dengannya. Sasa memutar lagu Linkin Park dan Simple Plan kencang dan sangat kencang sekali sampai satu kompleks kedengaran semua. Sasa jengkel dengan orang-orang yang tak bisa diajak kekinian dengan musik trendi dan energik. Zainal menyuruh mengecilkan musiknya ataupun kalau perlu dimatikan saja. Zainal tak menyukai musik-musik Linkin Park dan Simple Plan. Padahal Sasa sedang berduka cita atas meninggalnya vokalis Linkin Park dan menghibur dirinya dengan musik Simple Plan Perfectly Perfect. Sasa tak mengetahui kenapa Zainal membenci sekali musik itu? Padahal lagu-lagu itu telah membuat Sasa bisa terbantu melewati hari-harinya yang begitu panjang. Tapi, namanya juga soal selera musik pasti susah sekali untuk dipaksakan bisa sama disenanginya. Ketika Zainal menyuruh Sasa mengecilkan musiknya, Zainal menyerankan Sasa untuk memutar lagu yang berjudul the sounds of silence. Ketika Sasa ditegur jenis musiknya yang dianggap katrok itu, akhirnya Sasa mendengarkan musik dari Zainal  dan ternyata Sasa jatuh tertidur ngantuk. Musiknya bikin orang tak bertenaga dan hanya meratapi kesedihan saja. Sasa bukan bermaksud menghina musik itu, tapi Sasa tidak biasa mendengarkan musik yang sangat lambat dan melow yang membuat dia semakin bermalas-malasan hidup. Sasa juga tidak bermaksud untuk tidak mengapreasiasi para seniman yang telah membuat karyanya bisa didengarkan oleh orang banyak. Tapi, sesekali Zainal itu juga perlu mendengarkan musiknya Linkin Park atau Simple Plan atau jenis musik lainnya yang tak membuatnya mati sekarat. Asal jangan menyusul vokalisnya Linkin Park kembali ke alamnya yang tak tahu damai atau tidak. Sasa hanya menyarankan pada Zainal biar hidupnya semakin beragam. Zainal berani memperingatkan soal musik maka Sasa juga berani melakukan hal yang serupa juga. 

Sasa juga tahu kalau ibu Zainal sedang sakit-sakitan, tapi bukan berarti Zainal meluapkan rasa letihnya dalam merawat ibunya pada tetangganya. Sasa kerap sekali terganggu dengan teguran-teguran yang sepertinya juga berlebihan. Sasa sudah sebisa mungkin belajar menghormati untuk tidak mengganggu dan mengusik ketenangan tetangganya, tetapi Zainal itu ada saja yang dibahas, dari sandal yang tak sengaja menginjak lantai depan rumahnya, dari satu bungkus sampah plastik coklat yang terbuang meleset keluar dari bak sampah dan tertiup angin di depan rumahnya tak luput dari tegurannya, sampai urusan cipratan air jemuran yang sedikit mengenai ban motornya juga tak luput dari sindirannya. Sasa dibikin menahan emosinya meluap di kepalanya sendiri dan uring-uringan terus menghadapi tetangga kontrakannya yang sedang letih dan bosan merawat ibunya yang sakit. Ibunya itu sakit karena mau melahirkan anak lagi, makanya mungkin Zainal depresi dan kasih sayangnya akan dialihkan pada anak yang akan dilahirkan oleh ibunya. Kalau kurang kasih sayang jangan menggangu Sasa dan mengajaknya berperang terus. Seharusnya Zainal bilang pada ibunya jangan melahirkan anak lagi kalau dia tidak siap memiliki adek lagi. Apa jangan-jangan Zainal itu malas merawat anak ibunya yang akan lahir tanpa bapak itu? Sasa sempat dengar kabar bahwa Bapak Zainal telah meninggalkan keluarganya setelah mengetahui istrinya hamil, suaminya mempertanyakan kehamilan istrinya dan meragukan janin di dalam kandungan ibunya Zainal. Pantas saja, Zainal depresi berat memikul tanggungjawabnya itu. Tapi, kalau pusing dengan tugasnya itu, setidaknya Zainal bisa ramah sedikit pada Sasa yang ngontrak di sebelah rumahnya itu. Sasa itu gak bakal ngelunjak kalau ditegurnya secara baik-baik. Kalau Zainal berani menegur Sasa secara kasar dan tidak sopan, Sasa tak banyak berbicara dan langsung mengambil sandal dan dipindahkan sandal itu di wajah Zainal. Tapi tenang itu hanya perumpamaan saja kok, Sasa takut pada Zainal karena rumah yang dikontraknya itu rumah miliki ibunya, nanti malah ibunya lagi yang marah pada Sasa.

Sasa sedang tidak ingin mencari gara-gara dengan Zainal. Zainal selalu dijaga oleh ibunya. Ibunya galak sakali. Meskipun ibunya Zainal sedang mengandung padahal usianya sudah empat puluhan yang itu sangat riskan dan sangat bahaya bagi kesehatan, tapi Ibu Zainal itu hebat sekali masih mau mengandung. Semenjak ibunya mengandung di usia yang sudah tua itu, ibunya juga sama persis marah-marahnya dengan Zainal. Ibunya dulu hamil muda dan melahirkan Zainal di umur 15 tahun, dan Zainal baru punya adik lagi di usianya 25 tahun. Gila kan? Sasa juga terheran-heran dengan kejadian langka itu, tapi Sasa tak banyak bertanya pada Zainal dan ibunya. Nanti hanya memperpanjang masalah yang tak kunjung selesai. Zainal sering sekali sewot setiap kali Sasa dikunjungi teman laki-lakinya, apa jangan-jangan Zainal suka dengan Sasa? Tapi Sasa tidak mau besar kepala seperti kepalanya Zainal yang sudah sangat besar karena memikirkan ibunya yang akan melahirkan anak itu. Mungkin anaknya kembar makanya kepalanya tambah besar sebesar perut ibunya yang akan melahirkan lagi. Tapi, Sasa harus ingat Zainal itu galak dan ibunya galak dan kalau nanti punya mertua galak maka tamatlah sudah nasib Sasa di tangan orang-orang galak. Sasa pernah disiram ibunya Zainal karena Sasa tidak sengaja membuang bekas air pengharum pakaian di baknya mengenai wajah Zainal. Seharusnya Zainal bersyukur karena bisa mandi dan langsung harum tanpa dia menghabiskan sabun mandi miliki ibunya. Tapi, karena nasib Sasa tak beruntung dibalaslah oleh ibunya Zainal dengan disiram air got yang diambil di depan rumah Zainal. Saat itu hubungan menegang antara Sasa, Zainal dan ibunya. Sasa ingin pindah kontrakan setelah disiram air got oleh ibunya Zainal, tapi karena ngontrak di Jogja juga mahal, akhirnya hanya bersabar dulu menahan waktu jatah kontrakan habis dan hangkang meninggalkan Zainal dan ibunya. Sasa tidak ingin ngontrak lagi di tempat ibunya Zainal dan berada di antara orang-orang galak atau dia akan berakhir semakin menjadi  galak juga.

*****

“Aris kamu masih menunggu ceritaku? Aku belum cerita banyak hal dan kamu juga masih belum cerita banyak hal sama aku lho!!!!” Aris itu suka puisi dan aku pertama kali mengenal Aris juga diantar oleh puisi. Aku baru sadar kalau puisi itu yang mengantarkanku sampai sejauh ini aku jalan-jalan. Bahkan di awal waktu aku bertemu Aris, aku tak lagi ingat wujud puisi itu seperti apa dan bagaimana. Yang aku ingat kalau bahas puisi itu ada a-b-a-b. Entah apa itu dulu waktu sekolah aku tak terlalu suka pelajaran bahasa Indonesia. Kalau aku tak bisa menghampiri Aris, aku mengintip di dinding instagramnya yang ada puisinya. Aku suka sekali puisi-puisi Aris. Bagaimana Aris bisa membuat puisi dengan kata-kata yang bagus seperti itu ya? Tapi, kalau soal puisi aku lebih senang dengan puisi yang cover bukunya warna merah. Aku dan Aris belajar dari buku itu juga. Buku itu buku pertama kali yang kukenal sampai aku bisa berkenalan denganmu Aris. Meskipun aku lagi-lagi tak banyak faham dengan puisi-puisi di dalamnya, tapi aku paling suka dengan puisi Benih. Tapi kalau aku cerita ini jangan bilang-bilang siapa lho Aris. Aku suka kagum dengan orang-orang yang mampu membuat puisi, apalagi yang membuat puisi itu beliaunya penyabar sekali. Makanya aku berani cerita ini ke kamu Aris, karena kamu sama penyabarnya dengan beliau. Tapi, ini cerita antara aku dan kamu lho Aris yang lain tak boleh tahu, apalagi cerita ini diketahui orang yang suka menyebutku anak bandel. Aku bukan bandel, cuma mungkin benar kata-katamu Aris, aku gila. Eeee, tapi gak jadi Aris. Aku tadinya mau kagum dengan beliau lagi, tapi aku sempat mengintip ada badut yang telah menghibur beliau dan itu bukan badut yang pura-pura jadi Badut, tapi Badut benar-benar Badut Asli. Aris aku hanya berani cerita ini sama kamu. Aku tadinya mau bilang, padahal beliau itu biasanya suka Yoga kok jadi suka main sama badut sekarang? Aku gak mau kagum lagi sama beliau, meskipun beliau sudah membuat kata-kata yang indah, tapi Badut yang sedang menghampiri beliau dihina oleh beliau kemaren itu. Apa mungkin aku perlu belajar kamu hina aja terus ya Aris? Supaya aku bisa kebal dihina oleh orang lain nanti kalau aku bisa hidup berdampingan dengan orang banyak? Kamu kayaknya diapa-apain gak pernah sakit hati, Aku heran sebanarnya kamu apain hatimu itu Aris kok kamu selalu bahagia cengar-cengir terus? Aku gak mau kurangajar terus Aris makanya ini aku cerita ke kamu dan habis ini kamu bisa hina aku dan doakan aku kuat kamu hina ceritaku ini.

O ya Aris, kamu sekarang lagi jadi primadona dimana-mana ini. Nanti, kamu lupa lagi sama aku kalau namamu semakin melejit.  Nanti kalau kamu sudah tenar, kamu masih mau dengerin aku cerita lagi gak ya? Namamu yang semakin melejit membuatku semakin kerdil. Aris kamu terlalu cepat tenar dan aku terlalu cepat kandas patah hati hanya karena putus cinta. Aris gara-gara aku sering main sama kamu aku jadi ingat dengan bapakku yang galak itu. Aku heran bapakmu kok bisa baik sama kamu dan aku heran dengan bapakku kok jahat sama aku? Apa bapakku tidak mengganggapku anaknya? Apa aku sudah sangat kejam sama bapakku makanya bapakku suka murka sama aku? Aris aku capek dimarahin bapakku. Apa bapakku tidak capek memarahiku terus-terusan? Bapakku itu juga yang jadi penghalang hubunganku dengan pacarku jadi putus begini. Tapi, kalau aku menyalahkan bapakku, nanti aku tambah dihajar lagi sama bapakku. Aku mau menyalahkan diriku sendiri saja kalau begitu, karena aku telah mendewakan pacarku. Bapak maafkan aku dan jangan hajar aku lagi. Bapak sekarang aku mau belajar jadi anakn baik-baik, tapi bapak jangan terus-terusan marah. Aku gak bakal nakal kalau bapak dulu juga gak nakal. Astagfirullah aku keceplosan lagi. Maafkan saya bapak, saya sudah berjanji untuk tidak nakal lagi. Tolong jangan marahi saya lagi. Saya kapok dihukumj Bapak saya gak mau dapat hulkuman dari Bapak. Aku akan belajar jadi anak yang sopan dan nurut dengan Bapak. Insyaallah. Ya, Insyaallah.

Aris kamu jangan beritahukan ceritaku yang jelek-jelek pada siapapun, nanti riwayatku tamat sudah dihadapan orang-orang. Faham kan Aris!
Hoe......... Aris kamu masih mendengarku??????
Kamu jangan ikut-ikutan menghilang sepertiku!!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN