HUKUMAN DAN SIKSAAN BAPAK
Pernahkah kalian khususnya untuk para perempuan, rambut
kesayangan kalian dipangkas habis dan digundul oleh bapak kalian sendiri?
Bagaimana perasaan kalian para perempuan di seluruh bumi ini ketika rambut
kalian digundul oleh bapak kalian sendiri meskipun kalian masih kecil dan
kalian tidak sakit leukimia yang biasanya menyebabkan rambut kalian habis? Saya
tak mau menyamakan perasaan seluruh perempuan di bumi ini bisa sama dengan
perasaan saya ketika saya masih kecil. Rambut saya pernah digundul oleh bapak
saya sendiri ketika saya masih berumur sekitar empat tahunan saat itu. Waktu
saya digundul saya baru masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Waktu kecil saya
memiliki wajah yang mungkin tidak terlalu imut, tapi setidaknya rambut yang
saya miliki di kepala saya masih membuat saya terlihat sebagai anak kecil pada
umumnya yang terkadang terlihat sedikit lucu, gemesin, tapi terkadang juga
nakal, dan bahkan kadang jengkelin meskipun lebih banyak menyebalkannya. Rambut
saya digundul bapak saya karena saya terlalu sering menangis karena bertengkar
dengan adek saya.
Saya memiliki adek ketika saya tepat berumur dua tahun dua
bulan dan adek saya langsung lahir dua sekaligus dalam jangka waktu hitungan
menit saja, alias adek saya itu kembar. Saya sedikit ingat masa kecil saya yang
tertidur di bawah kaki ibu, sedangkan tangan kanan-kiri ibu saya sibuk dengan kedua
adek saya. Kadang saya jengkel dengan ibu saya. Saya tak mau dekat-dekat lagi
dengan ibu saya lagi. Saya lebih banyak dirawat oleh kakek dan nenek angkat saya semenjak saya
memiliki dua adek sekaligus. Saya jengkel dengan bapak dan ibu saya yang sering
menitipkan saya pada saudara-saudara tirinya juga ketika kakek nenek saya
terlalu lelah dan renta merawat saya. Semenjak saya memiliki adek, saya merasa
hanya jadi anak titipan yang diasuh dan dibesarkan dari banyak sentuhan tangan
dan kasih sayang disana-sani tapi kurang kasih sayang orang tua sendiri.
Bapak saya terlalu girang memiliki anak laki-laki sekaligus
kembar. Kata orang-orang, dulu bapak saya itu tidak terlalu senang memiliki
anak perempuan lagi. Bapak saya mungkin tak menginginkan kelahiran saya setelah
saya terlahir sebagai anak perempuan. Kebetulan anak pertama bapak saya yang
sekarang menjadi kakak saya itu adalah seorang perempuan. Mungkin di kehamilan
kedua ibu saya, bapak saya menginginkan anak laki-laki tapi yang terlahir malah
anak perempuan seperti saya ini. Saya tidak tahu apakah omongan dari
orang-orang yang kerap disampaikan pada saya itu benar atau tidak, yang jelas
saya sering mendengar keterangan seperti itu. Mungkin orang-orang yang merawat
saya bisa jadi mau meracuni pikiran saya biar saya benci pada bapak saya, atau
bisa jadi ini juga menjadi salah dari bapak saya sendiri yang sering menitipkan
saya dimana-mana sehingga saya lebih percaya pada omongan orang dari pada
percaya pada perkataan bapak saya. Selain itu, bisa jadi bapak saya yang salah,
karena meminta ibu saya terus hamil supaya bisa melahirkan anak laki-laki,
sampai jarak kelahiran tidak begitu diperhatikan bapak dan ibu saya. Ya,
akhirnya saya dan adek saya terus bertengkar, entah berebut apa saja sejak
kecil yang bisa diperebutkan. Bapak juga bisa jadi tambah salah, sudah
jelas-jelas dulu ada program KB dua anak cukup masih berambisius ingin punya
anak lagi. Jadi jangan salahkan saya kalau saya nakal seperti ini. Salah Bapak
sendiri yang tidak percaya dengan program KB yang diusung di jaman Pak Harto
Berkuasa. Jadi jangan salahkan saya juga kalau saya tidak mempercayai bapak
ataupun siapapun. Bapak juga masih percaya banyak anak banyak rejeki, ini
sampai sekarang saya hanya bisa menghabiskan rejeki bapak saja. Bapak juga yang
salah kalau dipikir-pikir, kenapa saya yang menghukum diri saya sendiri setelah
Bapak mati. Saya benar-benar bersyukur Bapak mati cepat, jadi saya tidak perlu
capek-capek dimarahin Bapak. Bapak salah tapi terus saja merasa paling benar,
jadi wajar kalau saya benci Bapak karena Bapak sudah pilih kasih dan menyiksa
saya sejak kecil. Makanya Bapak kalau tidak bisa membagi kasih sayang
seharusnya tidak perlu membuat anak lagi saat itu, biar saya tidak nakal.
Ibu pernah bilang kepada saya tentang kelahiran saya. Ibu
melahirkan saya juga melahirkan daging yang ukurannya sebesar kepala saya waktu
baru lahir. Kata ibu, melahirkan saya lebih agak mudah daripada mengeluarkan
daging yang tak ada nyawanya di perutnya itu. Sakitnya lebih sakit daripada
melahirkan saya. Saya sejak lahir sepertinya sudah berbakat membawa beban
kesakitan pada ibu saya yang tak henti-hentinya. Saya tidak tahu, apakah saya
saat itu gagal menjadi kembar lalu tenaga saudara saya yang tak berwujud itu bersatu
dengan saya, makanya saya jadi nakal seperti ini. Tapi, saya tidak mau
menduga-duga dan hanya bercerita saja dan mungkin ini tidak akurat dan tidak
ada hubungannya tapi bisa jadi itulah kenapa saya jadi seperti ini. Saya masih
memikirkan daging yang keluar dari perut ibu saya setelah melahirkan saya itu
jangan-jangan yang telah menjadi hantu di hidup saya selama ini. Yaaaaaa, bisa
jadi seperti itu. Daripada saya menyiksa diri menyalahkan kenakalan yang saya
miliki sejak saya kecil. Itu hanya membuat daftar panjang kesusahan yang saya
perbuat sejak saya lahir tak kunjung ada habisnya. Sepertinya menyalahkan
daging yang keluar setelah saya lahir sebagai biang kerok masalah di dalam
hidup saya lebih menyenangkan daripada saya menyalahkan diri saya sendiri.
Yaaaaaa, itu daging juga kiriman dari Tuhan yang telah membuat ibu saya
kesakitan, jadi Tuhan telah membuat saya seperti ini. Tapi, saya takut kalau
nanti menyalahkan Tuhan karena telah membuat saya yang seperti ini. Ya sudah,
saya mau mengucapkan syukur saya pada tuhan karena saya sudah memiliki bakat
sejak saya lahir untuk membuat orang-orang yang ada di dekat saya mengalami
kesakitan. Terimakasih Tuhan atas karunia langka yang tidak bisa dimiliki oleh
orang banyak. Kalaupun saya diruqyah, itu tetap tidak akan mempan pada saya.
Karena kekuatan nyawa dari daging yang tak bernyawa yang sudah dikeluarkan ibu
saya sudah diserahkan semua pada saya sehingga saya bisa seperti ini. Jadi saya
bersyukur juga pada daging yang tidak menjadi daging bernyawa itu, sehingga
seluruh nafas dan hidupnya bisa secara penuh saya miliki dan kekuatan di tubuh
saya menjadi kekuatan yang berlipat ganda. Terimakasih Tuhan atas karunia yang
telah saya terima sampai detik ini yang membuat saya bisa kuat bertahan
menghadapi hidup ini.
****
Setiap saya ingat rambut saya digundul bapak saya, saya jadi
kembali mendemdam pada bapak saya dan saya bersyukur bapak saya mati lebih
cepat. Mungkin saya harus mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena telah
memanggil bapak saya duluan untuk kembali disisiNya lebih cepat. Seharusnya
ketika bapak mati saat itu, saya tidak perlu bersedih hati dan menangis atas
kepergian Bapak. Seharusnya saya berbahagia atas kepergian Bapak yang tak bisa
menyiksa saya lagi. Saya benar-benar sangat amat benci dan dendam kusumat
dengan bapak saya setiap saya ingat kejadian dimana rambut kesayangan saya
digundul. Sudah rambut saya digundul saya masih saja disuruh sekolah, meskipun
saya masih kecil, saya masih merasakan hal yang memalukan ketika saya harus
berbeda sendiri dengan kepala pelontos saya. Bapak saya itu keji, kejam, jahat dan semua yang
jelek-jelek ingin saya maki semua pada bapak saya. Bapak saya mungkin lupa
kalau saya itu anak perempuan. Meskipun saya nakal waktu kecil, tapi kenapa juga
harus rambut saya yang digundul sebagai hukuman kenakalan saya? Sudah digundul
masih saja disuruh sekolah? Apa saya yang gila atau bapak saya yang jauh lebih
gila? Saya berani bilang seperti ini karena bapak sudah mati, saya tidak mau
menyebut bapak saya wafat, terlalu terhormat kosakata itu untuk bapak saya. Apa
bapak saya tidak bisa mikir kalau saya anak perempuan rambutnya gundul dan
harus sekolah itu malunya seperti apa? Mungkin urat malu yang dimiliki bapak
saya benar-benar sudah mati dan bapak itu tidak memiliki rasa kemanusiaan dan
kasih sayang yang benar-benar kasih sayang yang nyata pada saya makanya Bapak
tega menggundul kepala saya. Bapak itu raja tega dan tak mengenal ampun kalau
anak laki-lakinya sedikit saya buat menangis. Makanya itu saya jadi tambah
yakin kalau bapak itu pilih kasih pada saya dan bisanya hanya menyiksa saya
tapi tidak menyiksa saudara-saudara saya yang lain. Bapak saya itu meskipun ngakunya
sedikit termasuk golongan orang terpelajar tapi bapak saya itu juga sangat bodoh
karena telah merubah anak perempuannya jadi semakin seperti anak laki-laki
dengan digundulnya rambut saya itu. Saya jadi bodoh karena bapak saya yang
telah membuat saya bodoh juga. Bagaimana saya bisa pergi ke sekolah dengan
senang dan bisa percaya diri bergaul dengan teman-teman saya kalau kepala saya
gundul? Bapak benar-benar gak mikir, gak mikir dan gak mikir. Bapak saya
kurangajar telah membuat saya memiliki kenangan yang semakin saya ingat semakin
saya terus membenci pada bapak saya yang bodoh itu. Maaaf Bapak saya bilang
seperti ini karena bapak sudah mati, jadi saya tidak takut digundulin bapak
lagi. Mudah-mudahan Bapak bahagia disana dan saya bahagia setelah menceritakan
kegundulan di rambut saya, jadi bapak bisa tenang dan saya juga damai tak murka
lagi pada Bapak yang telah membuat kepala saya pelontos waktu saya kecil.
Saya tidak ingat apa yang membuat saya dan adek saya itu
terus bertengkar. Waktu saya digundul mungkin umur saya saat itu empat tahunan
dan adek saya umurnya dua tahunan. Saya tidak tahu apa saya yang mulai duluan
mengajak adek saya bertengkar atau adek saya yang mulai mengajak bertengkar
duluan. Adek saya itu pada dasarnya juga nakal. Tapi, saya tidak tahu apakah
saya memberikan contoh yang jelek pada adek saya makanya adek saya juga nakal. Kami
sama-sama saling nakalnya tapi yang selalu dapat hukuman selalu saja saya. Meskipun
adek saya jauh lebih kecil dari saya, tapi adek saya kalau bertengkar mainnya
keroyokan dan langsung menyerbu saya secara berbarengan. Yang jelas, saya
selalu kalah duluan dan selalu menangis kencang terlebih dahulu, kalau saya
bertengkar dengan adek saya. Entah saya yang sering dijambak atau digigit atau
digerawuk atau saya dipukul adek saya, saya tidak pernah menang bertengkar
dengan dua adek saya itu. Ketika saya masih kuat membalas adek saya saat
bertengkar, tak jarang kami bertiga menangis semua. Tapi, selalu yang menangisnya
paling kencang adalah saya ketika kami menangis berbarengan karena bertengkar. Bagaimana
saya tidak menangis kencang kalau tenaga dua adek saya telah bersatu menghantam
saya yang seorang diri. Meskipun saya kakaknya yang lebih besar, tapi kalau
kekuatan dua anak laki-laki digabung, jelas saya kalah duluan dengan adek saya
itu. Tapi, adek saya itu selalu dimaklumi kalau dia nakal, tapi kalau saya
menyenggol sedikit adek saya dan membuatnya menangis, ya saya yang paling
pertama dimarahin. Sungguh miris nasib menjadi kakak yang selalu dimarahi
meskipun kalah dalam bertarung dengan adik-adiknya.
Saya tidak tahu apa karena saya sering menangis waktu bertengkar
dengan adek saya sehingga membuat bapak saya geram dengan suara saya yang tak
henti-hentinya itu makanya rambut saya digundul? Atau saya telah membuat adek
saya menangis juga sehingga bapak jengkel dengan saya dan menggundul kepala
saya? Saya dan adek saya kalau bertengkar bersama berarti kami semua nakal,
tapi bapak itu mungkin sudah pilih kasih sejak kecil. Selesai saya bertengkar
dengan adek saya dan saya hanya bisa menangis dan tak bisa berhenti diam, saya
malah diikat bapak di kursi ruang tamu. Seketika itu bapak mengambil gunting
dan memotong rambut saya sampai habis bersih gundul tak ada rambut yang sedikit
agak panjang lagi di kepala saya. Saya masih ingat betul, saya semakin tidak
bisa berhenti menangis gara-gara bapak memangkas habis rambut saya. Saya benci
dan benar-benar benci pada bapak saya yang entah kecerdasan emosionalnya itu
berapa sampai tega menghukum saya seperti itu? Sedangkan adek saya yang sudah
mengeroyok saya hanya dibiarkan berkeliaran memandangi saya begitu saja. Enak
betul dengan adek saya yang tidak dapat hukuman apa-apa padahal adek saya tidak
kalah nakalnya dengan saya. Saya semakin benci dengan bapak dan dua adek saya
itu yang tak henti-hentinya menyiksa saya sejak kecil. Laki-laki itu memang
kejam, jahat dan tidak memiliki perasaan. Saya jadi semakin membenci bapak saat
ini meskipun bapak sudah mati sejak lama setiap saya ingat digundul bapak. Kalau
saya bisa memilih mengulang masa lalu lagi, saya tidak ingin nangisan supaya
rambut saya tidak digundul bapak, tapi faktanya bapak sudah menggundul saya dan
saya belum bisa lupa sampi detik ini. Bapak sangat, sangat, sangat amat KEJAM!!!!!!
Sejak rambut saya digundul saya jadi selalu mencari alasan
untuk tidak sekolah. Saya tidak mau sekolah dan saya malu bersekolah. Tapi Bapak
selalu saja memaksa saya sekolah. Setiap hari saya hampir tidak mau bangun dari
tidur dan tidak mau mandi kalau bapak belum berangkat kerja. Tapi, Bapak itu
raja tega dan menyeret saya untuk mandi. Saya terus kabur dari Bapak dan
menghindar ada di dekat Bapak, tapi Bapak itu terus mengejar saya yang kabur
tidak mau mandi. Saya paling mahir kalau lomba balapan lari dengan bapak saya,
karena saya yang selalu menang. Bapak saya itu gemuk dan gak kuat lari, jadi
nafasnya sering mengkis-mengkis setiap ingin menangkap saya. Ibu sudah tidak
bisa mengatasi saya untuk menyuruh saya sekolah, ibu lebih sibuk dengan adek
saya yang bontot yang tak henti-hentinya rewel dan merengek menangis pada ibu.
Setiap hari saya selalu kejar-kejaran dengan Bapak hanya untuk disuruh sekolah
dan saya tidak mau sekolah dan saya benci sekolah dan yang pasti saya benci
kepala saya mernjadi gundul. Tapi, namanya Bapak saya itu tak ada
letih-letihnya menyiksa saya. Ketika saya berhasil ditangkap dan tak kunjung
mau mandi juga, saya dicelupkan di kamar mandi. Kebetulan kamar mandi di rumah
saya ukurannya besar dan kedalamannya juga lumayan. Saya didelep-delepkan bapak
di kamar mandi sampai saya glagepan tidak karu-karuan dan saya tidak bisa
menangis lagi. Kalau saya boleh memilih mati, saya ingin mati lebih cepat
ketika saya didelep-delepkan bapak di kamar mandi, supaya siksaan yang saya
dapatkan tidak terus-terusan. Kakek
angkat dan nenek angakat saya sampai marah-marah pada Bapak saya ketika saya
dicemplungkan di kamar mandi, tapi Bapak saya itu benar-benar berhati Batu
seperti namanya. Saya benar-benar membenci bapak saya yang bisa membuat saya
sesenggukan tidak berani menangis kencang lagi setelah didelep-delepkan di
kamar mandi dan membuat mata dan nafas saya merem melek mendelik hampir mati
tapi tak juga mati. Kalau saya sudah sesenggukan seperti itu, saya hanya mau
menghampiri kakek dan nenek angkat saya saja. Beliau-beliau itu yang selalu
mencegah kekejian Bapak semakin membabi buta untuk menyiksa saya. Kalau tidak
ada kakek dan nenek angkat saya, mungkin saya sudah mati dijemput ajal terlebih
dahulu, tapi itu sepertinya lebih baik daripada saya harus melawan Bapak saya
terus sepanjang hidup. Kalau saya sudah bersama kakek dan nenek angkat saya
yang membuat saya bisa diam dan tak menangis sesenggukan lagi, saya didandani
untuk mau berangkat ke sekolah, meskipun saya malu untuk sekolah, tapi kakek
dan nenek angkat saya tetap menyuruh saya sekolah daripada nanti saya tambah
dipukul Bapak saya lagi karena tidak mau sekolah. Akhirnya, saya berangkat ke
sekolah juga dan menggunakan topi dan memilih duduk paling belakang dan tak mau
banyak bermain dengan teman-teman saya yang lain. Saya amat sangat sangat benci
dengan Bapak saya yang sudah sangat kejam dan jahat menggundul rambut saya.
****
Saya sudah bosan disiksa dan dimarahi bapak saya. Sampai
akhirnya saya hampir keterusan disiksa bapak saya setiap hari dan penyiksaan
itu seperti sarapan untuk saya. Saya hampir disiksa setiap pagi hari sebelum
saya berangkat sekolah. Saya selalu saja mencari ulah, baik dari uang jajan
saya yang tidak cocok, makanan, pakaian dan banyak hal lainnya yang sering saya
buang di hadapan bapak saya. Saya tidak suka uang jajan saya dikasih uang receh
meskipun jumlahnya sama besarnya. Saya hanya mau uang lembaran kertas dan tidak
setiap hari ibu ataupun bapak saya memiliki uang kertas. Ketika uang jajan saya
berupa recehan koin, uang itu langsung saya lemparkan pada bapak saya dan saya
marah tidak mau sekolah lagi. Ketika saya sudah tidak mau sekolah lagi, bapak
langsung naik pitam dan langsung mengejar saya keliling rumah sampai dapat
menangkap saya dan mencubit dan memukul paha saya sampai saya kapok dan mau
sekolah lagi. Kalau saya sudah berseragam, bapak tidak akan mencelupkan saya
lagi di kamar mandi, tetapi saya dipukul habis-habisan di paha dan betis saya
sampai saya bilang kapok dan mau berangkat sekolah lagi. Hampir setiap saya
berangkat sekolah, saya berangkat dengan mata sembab karena capek dihajar bapak
dan saya juga capek menangis karena harus menerima hukuman dari bapak yang
lebih mirip dengan siksaan. Ya, siksaan itu lebih pas daripada hukuman. Bapak
menyiksa saya gara-gara saya tidak mau sekolah karena itu juga disebabkan
karena bapak juga telah menggundul saya dan kenapa juga saya harus manut pada
bapak yang seenaknya sendiri suka menyuruh dan memerintah saya lalu menyiksa
saya lagi? Memangnya saya lahir untuk terus disiksa bapak saja? Bapak itu
benar-benar RAJA TEGAAAAAAAA!!!!!!!
Urusan makan juga demikian. Saya
tidak suka sarapan pagi sebelum sekolah. Tubuh saya dulu suka cacingan dan
kurus kerontang dan tidak kebanyakan lemak seperti sekarang ini. Saya sering
dicekokin jamu pahit penggemuk badan, tapi jamu itu akhirnya saya semburkan di
wajah bapak saya. Saya juga hampir setiap hari membuang nasi saya di bawah
jembatan kecil di depan rumah supaya dimakan ayam, karena saya tidak cocok
dengan lauknya ataupun saya tidak bernafsu untuk makan. Pernah saya ketahuan
membuang nasi yang seharusnya saya makan. Ya kalau sudah ketahuan seperti itu,
lagi-lagi saya langsung ketakutan pada Bapak dan memilih lari dari amukan
Bapak. Cerita saya hampir setiap hari kejar-kejaran dengan Bapak,
dicelupin kamar mandi, dipukul dan selalu seperti itu setiap mau berangkat
sekolah. Sampai saya tidak bisa menghitung berapa kali kamar mandi menjadi
saksi saya sudah dicelupin disitu. Sampai akhirnya saya terbiasa bahwa bapak
saya itu memang sedang ingin olahraga dan kurang hiburan makanya untuk menghibur
dirinya dari pekerjaannya yang melelahkan itu diluapkan semua rasa letihnya
pada saya dan saya lama-lama juga kebal dan semakin tidak takut untuk melawan
bapak saya. Saya melawan bapak saya sudah menjadi hal yang biasa dan saya mulai
tidak peduli lagi saya mau nakal apa tidak yang penting saya bisa senang itu
sudah cukup dan kalaupun harus disiksa bapak lagi ya diterima saja siksaannya.
Pokonya seperti itulah hari-hari saya ketika saya malas untuk sekolah.
***
Ketika saya sudah mulai tidak malas
sekolah lagi dan rambut saya mulai terik dan saya sudah mulai bermain dengan
teman-teman saya di sekolah. Saya jadi senang ada di sekolah, karena saya bisa
membeli jajan yang banyak. Saat sekolah TK, saya biasa disuruh menabung di
kelas. Waktu itu uang tabungan yang seharusnya saya tabung di kelas, uang
itu saya pergunakan untuk jajan saya. Saat itu ada mainan yang harus didapatkan
asalkan membeli jajan yang tak bikin kenyang dan nanti dapat hadiah mainan.
Saya menghabiskan uang tabungan saya untuk bisa mendapatkan hadiah yang saya
inginkan dari membeli jajanan yang nantinya ada keterangan beruntung tidaknya saya bisa
mendapatkan hadiah. Hampir setiap hari saya beli mainan itu dan tidak ketahuan
ibu dan bapak saya. Kalau jaman dulu namanya pris-prisan atau kalau jaman sekarang itu bisa jadi mirip dengan
judi mungkin untuk ukuran orang dewasa, tapi kalau pris-prisan itu judi mainan versi anak-anak. Saya senang sekali
membeli pris-prisan supaya saya dapat
hadiah, tapi saya tidak pernah beruntung dan dapat hadiah yang bagus meskipun
saya banyak menggunakan uang tabungan dan uang jajan saya untuk membeli mainan
itu. Saya mulai senang sekolah karena saya bisa membeli mainan itu dan saya
tidak banyak menggubris pelajaran di kelas. Tapi, nasib baik kurang mendukung
saya, saya ketahuan tidak menabungkan uang yang diberikan ibu kepada saya untuk
ditabung di kelas, akhirnya ibu hanya mengadukan saya kepada Bapak saya lagi
dan nasib seperti biasanya saya disiksa bapak lagi. Seperti biasanya harus
drama dulu kejar-kejaran dengan Bapak sambil bapak teriak-teriak yang tak
henti-hentinya. Ketika saya tertangkap oleh Bapak saya, nasib buruk sudah siap
menjemput saya. Saya dicengkiwing Bapak saya lagi dan ketika
saya masih meronta dan masih sempat menggingit tangan bapak saya, bapak saya
tidak banyak bergerak dan langsung saja saya didelep-delepkan bapak lagi di
kamar mandi. Kamar mandi itu tempat petaka untuk saya seumur hidup dan saya
sudah bosan dan sudah hafal rasanya dicelupkan di kamar mandi yang begitu mudah
mencelupkan lalu mengangkatnya lagi lalu dicelupkan lagi dan seperti itu terus sampai
baru setelah saya tak berdaya maka saya dibiarkan lagi untuk hidup dengan
kenakalan-kenakalan saya yang tak tak kunjung jera dan malah lebih mahir dari
kenakalan-kenakalan sebelumnya.
Uang tabungan yang tak berani lagi
saya utak-utik akhirnya saya masih tetap saya tabungkan lagi sesuai jalannya
dan menunjukkan buku tabungan saya secara rutin pada ibu saya. Tapi, tangan
saya sudah terlalu terbiasa untuk menyelewengkan uang di tangan saya. Akhirnya
uang tabungan tetap saya tabungkan sesuai jalannya, tetapi tangan saya tidak
bisa berhenti berkeliaran ketika saya melihat ada uang menganggur yang
tergeletak di meja, di dekat TV, di dekat meja makan. Saya cepat-cepat
mengambil uang yang tergeletak sembarangan yang ada di rumah. Saya pergunakan
uang itu untuk jajan seketika itu juga tanpa bilang-bilang dan bertanya pada
bapak maupun ibu saya itu uang milik siapa. Tapi, ketika saya sudah mempunyai
kebiasaan baru seperti itu, lagi-lagi saya ketahuan Bapak ibu saya lagi. Ya,
seperti biasanya bapak tidak mengampuni saya lagi. Saya disiksa lagi dan
dipukuli lagi tapi tidak dicelupkan di kamar mandi lagi, tapi kaki dan tangan
saya diikat di tiang dapur dan saya dikunci di dapur yang kotor dan saat itu
dapurnya masih dari tanah dan saya ditinggalkan sendiri di dapur itu sampai
entah saya lupa siapa yang membukakan tali saya setiap saya diikat bapak.
Ketika saya sudah mulai suka
ketagihan uang dan sudah berkali-kali mengambil uang sembarangan, saya juga
punya kebiasaan baru. Waktu kecil saya sudah bergaya ala orang kaya yang suka
membayari teman-teman saya bermain. Waktu saya pulang sekolah, saya punya
kebiasaan mendapatkan uang jajan lagi. Kebetulan biasanya uang jajan itu
diberikan oleh ibu setelah saya pulang. Saat itu saya sudah tahu tempat
menyimpan uang jajan saya dimana, tapi ketika awal-awal saya tidak berani
mengambil uang itu karena saya masih takut dihajar oleh Bapak lagi, tapi
namanya juga saya bandel dan tidak kapok-kapok juga dalam mencuri uang, akhirnya
saya ambil uang-uang yang ada di baskom dua genggam. Saat itu saya sudah tidak
TK lagi, saya sudah masuk sekolah Dasar. Saya ajak teman-teman saya beli jajan
dan makan jajan sampai puas di kebonan tetangga. Ketika saya asyik bermain dan
makan jajan bersama teman-teman saya tiba-tiba ada suara ibu saya datang dengan
aura yang sungguh tidak menyenangkan. Mata ibu saya sungguh menyeramkan,
biasanya ibu saya jarang bertindak dan ikut campur kalau saya sedang nakal,
tapi tidak untuk saat itu. Ibu teriak sangat kencang memanggil saya dan saya
yang masih belum habis memakan jajan-jajan saya, akhirnya jajan itu saya
tinggalkan pada teman-teman saya di kebonan. Saya lari terbirit-birit setengah
ketakutan dan saya sudah ada firasat bahwa saya akan dihajar lagi dan benar
bapak sudah siap dengan seikat tali dan sabet yang ada di tangannya. Saya
langsung disergap bapak dan lagi-lagi saya diikat dan dicambuk. Kali ini saya
tidak dicelupkan di kamar mandi lagi, tapi saya diikat di bawah pohon salam
yang tumbuh di dekat pinggir jalan. Saya disabet, diciples, dicubit dan segala hukuman diberikan pada saya. Seperti
biasanya saya hanya menangis kencang dan jadi tontonan tetangga-tetangga saya.
Teman-teman saya tidak berani mendekat pada saya dan membiarkan saya dihajar
sendirian oleh bapak saya. Semenjak saya dihajar oleh bapak saya, saya jadi
kurang akur dengan teman-teman saya yang sukanya cuma makan jajan bareng dengan
saya tapi giliran saya disiksa malah menjauh. Bapak terus marah dan tak
henti-hentinya memukuli saya dan saya seperti biasanya selalu telat menyesal
setelah penyiksaan berakhir. Nasib saya selalu apes ketika saya berhasil mencuri
uang dan saya akhirnya hanya berlapang dada mendapatkan hadiah siksaan cambukan
dan dibiarkan sendirian di bawah pohon salam dengan kaki dan tangan terikat dan
saya sudah lupa siapa yang membuka ikatan itu. Saya hanya mengingat orang yang
menghukum saya itu hanya satu yaitu Bapak saya.
***
Meskipun berulang kali saya disiksa
bapak saya, saya masih belum menyerah pada uang juga. Saat itu saya mulai
belajar mengaji, sholat dan puasa. Saya hanya mau melakukan itu semua kalau
saya dapat uang. Kalau saya tidak dapat uang saya tidak mau melakukannya.
Kebetulan saya belajar mengaji pada bibi saya, tapi itu bibi tiri saya. Saya
juga disiksa oleh bibi saya itu. Paha saya selalu gosong karena dicubit setiap
saya belajar apapun pada bibi tiri saya ini. Saya tidak tahu apa bibi tiri saya
ini juga dendam kusumat dengan bapak saya dan saya yang jadi kena getahnya? Apa
karena kenakalan saya dan kebodohan saya itu sudah benar-benar di tingkat
puncak, sampai-sampai saya dihajar bibi tiri saya itu juga sudah kebal? Kenapa
juga bapak menitipkan saya pada saudara-saudara tirinya? Saya tidak mau berbaik
hati pada bibi tiri saya ini. Sekali saudara tiri akan tetap jadi saudara tiri
dan saya tidak mau melupakan itu meskipun saya harus belajar mengaji pada bibi
saya itu.
Di awal waktu saya belajar mengaji, belajar
sholat dan belajar puasa saya masih dituruti dan diberi uang oleh bibi saya
itu. Tapi, lama-kelamaan mungkin uang bibi saya itu habis dan bibi saya
geleng-geleng kepala ketika harus mengajari saya ngaji. Akhirnya lagi-lagi
bapak saya yang turun tangan menghajar saya ketika saya sudah tidak mau ngaji,
tidak mau sholat dan tidak mau puasa. Setiap saya belajar mengaji saya selalu
cemberut dan tidak ikhlas dalam belajar. Sudah berulangkali saya bilang ke
bapak bahwa saya tidak suka ngaji, sholat dan puasa. Tapi semakin saya melawan
perintah Bapak maka nasib saya berakhir tragis. Bahkan semenjak kakek dan nenek
angkat saya meninggal, saya dipindah tangankan dan dititipkan pada bibi tiri
saya yang kejamnya satu dua dengan bapak saya. Setiap saya mau berangkat ngaji
mata saya sembab karena dihajar bapak, dan setelah saya pulang ngaji mata saya
sembab karena dicubit dan diciples
bibi saya terus-terusan. Saya benci pada orang-orang yang telah mengasuh saya
yang selalu menyiksa saya sampai detik ini. Ya, sampai detik ini.
****
Tuhan apakah saya itu terlalu nakal
sampai-sampai siksaan dari banyak orang itu terus saya terima? Sampai detik ini
saya dihajar disana-sini Tuhan!!!!!! Saya capek dihajar Tuhan. Apa
jangan-jangan ini juga Tangan Tuhan yang telah menghajar saya? Tapi Tuhan juga
telah menciptakan saya yang seperti ini. Bagaimana saya bisa taubat kalau Tuhan
berulang kali memberikan kesempatan jahat bisa saya rasakan. Sejak kecil saya
nakal dan bahkan sampai besar saya juga nakal. Apa memang Tuhan menciptkan saya
supaya saya bisa menguji kesabaran manusia-manusia yang ada di dekat saya?
Tuhan saya tidak tahu teka-teki apa yang telah Tuhan atur untuk hidup saya itu
seperti apa. Saya sadar kalau saya itu nakal tapi nanti kalau Tuhan terus
menguji saya seperti itu terus, saya jadi tidak bisa merasakan rasa syukur yang
sesungguhnya.
Tuhan, saya tahu bapak saya mungkin
tidak akan menyiksa saya kalau saya tidak nakal, tapi saya sudah nakal sebelum
saya mengenali nakal itu apa. Jadi bagaimana bisa Tuhan terus menyalahkan
kenakalan yang sudah saya perbuat? Saya tahu, nanti saya akan masuk neraka
karena saya sudah membuat orang tua saya terus-terusan sengsara sejak kecil,
tapi itu bukan sepenuhnya salah saya Tuhan. Orang tua saya kasih sayangnya
tidak bisa penuh saya rasakan juga Tuhan! Saya tahu mungkin rambut saya
digundul oleh Bapak saya supaya saya tidak terus-terusan bertengkar dengan adek
saya yang nantinya hanya membuat saya mati merana di usia kecil karena
jambak-jambakan. Tapi kenapa harus menghukum saya dengan menggundul rambut
saya? Saya tahu bapak saya menghukum saya karena malas sekolah supaya saya bisa
terpelajar dan bisa berfikir, tapi kenapa harus dengan menyiksa saya yang tak
ada henti-hentinya? Saya tahu bapak saya tidak menginginkan saya jadi koruptor
ketika saya menyelewengkan uang dan mencuri uang bapak saya ketika kecil, tapi
kenapa saya harus disiksa lagi sebagai hukumannya? Tapi mungkin siksaan itulah
yang Tuhan inginkan bisa saya rasakan. Tapi kenapa saya bisa mendapatkan
kesempatan untuk terus mengulangi kejahatan dan kesalahan saya di masa lalu terus-terusan
saya ulangi sampai sekarang Tuhan? Oleh sebab itulah saya takut dengan masa
depan yang hanya akan mengulangi pola kesalahan saya di masa lalu. Kenapa itu
juga saya sekarang jadi faham kenapa di negara-nagar maju banyak orang yang tak
ingin menikah dan dan tak ingin memiliki anak. Mungkin akan hawatir melahirkan
anak semacam saya ini. Ya sepertinya saya faham sekarang.

Komentar
Posting Komentar