Saya Benci Ibu
Sejak Bapak meninggal, saya tidak
bisa memberontak lagi pada Bapak. Saya hanya sedih sebentar saja ketika Bapak
meninggal, setelah itu saya kembali nakal seperti saya yang biasanya. Setelah
Bapak meninggal maka ibulah yang sering saya lawan. Saat bapak masih hidup,
saya terbiasa diajak jalan-jalan dan dibelikan makanan di swalayan. Tapi, ketika
bapak sudah tidak lagi bersama kami, semua kebiasaan berubah total. Saya tidak
mau kebiasaan saya yang sudah biasa diberikan oleh Bapak hilang begitu saja.
Semenjak Bapak meninggal, ibu sudah tidak mau lagi pergi ke swalayan. Saat itu
ibu hanya di rumah saja tidak keluar kemana-mana. Sebelum bapak meninggal, ibu
tidak bekerja di luar sama sekali, karena ibu selalu menjaga kami di rumah dan selalu
mencukupi kebutuhan kami baik dari makanan, mencuci pakaian dan membersihkan
rumah, semua dilakukan oleh ibu.
Ketika Bapak meninggal, ibu juga
masih di rumah saja sampai masa iddahnya berakhir. Ibu hanya sering dikunjungi
saudara-saudara lainnya saja dan tidak pergi kemana-mana. Tapi, ibu hanya
menangis terus selama ditinggal bapak. Saya tidak mau dekat-dekat dengan ibu.
Saya hanya kembali sekolah seperti biasanya sampai saya selesai ujian. Saat
saya selesai ujian, di sekolah ada rekreasi. Waktu rekreasi dulu-dulunya ketika
masih ada bapak, saya selalu membawa bekal makanan dan camilan yang banyak.
Saat itu, saya meminta ibu untuk menemani saya ke swalayan, tapi ibu tidak mau
menuruti permintaan saya sama sekali. Ibu hanya menyuruh saya untuk membeli
jajanan di toko dekat rumah saja, tapi saya tidak mau dan saya tidak suka,
karena pilihan camilannya sedikit. Saya tetap memaksa ibu untuk menemani saya
membeli camilan di swalayan, tapi ibu malah memberi saya uang dan menyuruh saya
pergi dengan paman saya. Saya tidak suka pergi dengan orang lain, tapi karena
saya juga tidak mau beli camilan di toko dekat rumah, akhirnya saya meminta
paman saya untuk menemani saya ke swalayan, tapi paman saya tidak mau membawa
motor bapak di rumah. Paman saya membonceng saya menggunakan sepeda tuanya ke
swalayan, saya malu dibonceng paman saya ke swalayan dengan menggunakan
sepedah, akhirnya dari situ saya membenci ibu yang tak mau menemani saya untuk
pergi berbelanja. Saya memang diberikan uang oleh ibu, tapi saya malu keluar
dengan paman saya yang penampilannya kurang begitu pas untuk masuk swalayan.
Saya mulai membenci ibu, karena kebiasaan saya dengan Bapak ketika berbelanja
di swalayan harus digantikan oleh paman saya yang mungkin sangat jarang atau
bahkan tidak pernah masuk ke swalayan. Saya benar-benar malu ketika pergi ke
swalayan bersama paman saya. Ketika saya pulang ke rumah dan mendapatkan jajan,
saya hanya melihat ibu dengan wajah sinis saya yang tak akur dengan ibu. Saya
hanya cemberut dan jengkel dengan ibu saya yang tak mau menemani saya. Saya
akan lebih senang apabila ditemani ibu ketika berbelanja daripada saya harus
berbelanja dengan paman saya. Tapi, semenjak bapak meninggal, ibu benar-benar
tidak mau menemani saya sedikitpun untuk pergi ke swalayan dan saya selalu merengek
pada ibu ketika camilan di rumah habis untuk segera membelinya di swalayan lagi.
Tapi, semakin hari dan semakin lama bapak telah pergi dari kami, kebiasaan
menyetok makananan dan camilan di rumah juga tidak ada lagi. Hanya ada makanan
dan lauk pauk yang tak begitu enak dan selezat ketika masih ada Bapak. Di rumah
kami, dulu-dulunya selalu ada stok makanan dan camilan yang tak kunjung habis,
karena bapak selalu mencukupi kebutuhan makan dan jajan kami selalu terpenuhi,
meskipun bapak tidak ikut memakan makanan yang dibelikan untuk kami. Saya juga
membenci ibu, karena semenjak bapak meninggal ibu tidak pernah lagi membuat
kue-kue yang selalu biasa memenuhi meja makan. Semua telah berubah total. Saya
hanya marah-marah pada ibu, ketika pulang sekolah makananannya banyak tidak
enaknya. Saya memaksa ibu untuk membuatkan saya kue-kue lagi seperti biasanya
yang tak luput tersedia di meja makan seperti sedia kala ketika ada bapak. Tapi,
ibu benar-benar tidak pernah membuat kue lagi semenjak bapak meninggal dan saya
selalu membenci ibu, karena hanya disebabkan bapak meninggal saja urusan perut yang
biasanya selalu tercukupi dan terpenuhi oleh ibu tidak lagi juga dituruti oleh
ibu. Ketika bapak dulu belum meninggal, ibu selalu menyediakan dan
menghidangkan makanan yang lezat dan kue-kue yang enak tanpa kami memintanya
sedikitpun, tapi gara-gara bapak meninggal semua kebiasaan berubah total. Saya
yang dulunya jarang uring-uringan dan marah pada ibu, akhirnya setelah bapak
meninggal saya tak kunjung berhenti marah pada ibu yang telah merubah semua
kebiasaan kami di rumah. Kalau saya sedang benar-benar marah dengan ibu dan
ingin pergi ke swalayan, ibu langsung menyuruh saya untuk pergi dengan paman
saya, tapi saya tidak mau pergi dengan paman saya lagi ketika saya ingin
berebelanja di swalayan. Saya hanya ingin pergi ke swalayan kalau ditemani ibu
seperti bapak yang dulu selalu menemani saya berbelanja di swalayan. Tapi, ibu
tetap dengan pendiriannya dan hanya membiarkan saya terus marah karena ibu tidak
mau menuruti saya untuk pergi ke swalayan.
Ibu selalu saja menangis setiap
kali dikunjungi saudara-saudaranya. Tapi, saya tidak mau tahu ibu mau menangis
atau tidak dan yang terpenting adalah kebiasaan saya dengan Bapak dan kebiasaan
ibu yang sebelum-sebelumnya tidak boleh berubah sedikitpun. Saya tidak mau dan
saya sangat, sangat, sangat tidak suka dengan perubahan kehidupan yang semuanya
harus berubah drastis ketika hanya ada satu orang saja yang meninggal. Ada dan
tidak adanya bapak lagi di rumah itu seharusnya tidak harus membawa perubahan
sedikitpun yang ada di rumah. Semua fasilitas dan kenyamanan dari Bapak harus
tetap saya dapatkan dan tidak boleh satupun yang berubah. Semua kebiasaan yang
telah diberikan oleh Bapak kepada saya tidak boleh hilang sedikitpun. Semua
harus sama, baik ada bapak maupun tanpa ada bapak maka segala bentuk kecukupan kehidupan
harus dipenuhi juga oleh ibu. Tapi, ibu benar-benar tidak mau menuruti semua
keinginan saya bisa sama dan tidak berubah sedikitpun. Ibu hanya menangis dan
menangis tak kunjung henti. Saya tahu uang yang dimiliki ibu saya juga masih
cukup untuk mencukupi saya sekedar untuk berbelanja, tapi ibu selalu saja
menolak keinginanan saya. Saya tahu ibu masih dapat uang dari teman kantor
bapak yang sering berkunjung ke rumah, saya juga tahu meskipun bapak sudah
meninggal ibu masih dapat uang yang jumlahnya juga lumayan, jadi tidak ada
alasan sedikitpun untuk saya menurut pada nasehat ibu. Saya juga tahu betul,
usaha sampingan bapak yang berupa penyewaan becak yang ada di rumah saat itu
juga masih menghasilkan uang, saya juga tahu bahwa uang bagi hasil sawah milik
bapak juga masih cukup untuk sekedar saya bisa membeli jajan dan camilan di
swalayan, tapi ibu tidak sedikitpun mau menemani saya ke swalayan. Ibu hanya
memberikan uang setiap saya merengek meminta jalan-jalan ke swalayan, tapi saya
hanya mau pergi kalau saya ditemani ibu, saya tidak mau ditemani oleh siapapun.
Di awal waktu setiap saya merengek untuk pergi ke swalayan, saya selalu diberi
uang dan disuruh pergi dengan paman saya, tetapi lama-kelamaan ibu mengatakan
kepada saya bahwa ibu sudah tidak memiliki uang lagi. Tapi saya tetap tidak
percaya pada kata-kata ibu dan tetap memaksa ibu saya untuk mencukupi kebutuhan
saya yang sama seperti ketika ada bapak. Saat bapak sudah meninggal, saya tahu
betul bahwa kekayaan bapak juga jumlahnya lumayan. Setelah bapak meninggal,
saya dulu sempat ikut mendengarkan orang-orang di rumah sibuk menghitung harta
warisan yang dimiliki bapak. Meskipun saat itu saya hanya mendengarkan saja dan
masih belum begitu faham betul, saya yakin keluarga saya tidak akan miskin
dengan harta yang ditinggalkan oleh bapak. Jadi saya tetap bersikukuh bahwa ada
dan tidak ada bapak maka semua harus sama dan tidak ada sedikitpun yang berubah
di hidup saya dan yang berubah hanya satu yaitu bapak telah meninggal duluan
dan selebihnya kekayaaan bapak masih cukup untuk menghidupi kami.
Ketika masa iddah ibu sudah
selesai, ibu memutuskan untuk jualan di kios pasar yang sudah tidak
dipergunakan oleh kakek saya yang juga merupakan bapak dari ibu saya.
Saudara-saydara ibu yang lainnya menyarankan ibu saya untu berjualan dan
menggunakan kios yang sudah tidak dipergunakan lagi oleh kakek saya. Saat masa
iddah ibu selesai, saya juga sudah masuk kelas satu Madrasah Tsanawiyah Negeri
yang ada di dekat rumah. Saat itu saya masuk ke kelas unggulan. Saya tidak
begitu suka dengan pekerjaan ibu yang berjualan di pasar. Saya benci pasar.
Baunya pesing, tempatnya kotor dan orang-orangnya bukan termasuk orang-orang
terpelejar seperti teman-teman bapak yang selalu berdandan rapi dan bersih. Saya
malu ibu berjualan di pasar. Ibu selalu menyuruh saya untuk menemani ibu pergi
ke pasar setiap hari minggu. Ibu tahu kalau saya suka jalan-jalan, tapi ibu
telah mengajak jalan-jalan saya di pasar yang tak begitu saya senangi. Saya
terbiasa diajak jalan-jalan oleh bapak di tempat wisata, bukan di pasar. Saya
tidak suka pasar dan saya hanya suka pergi ke pasar kalau hanya untuk keperluan
lebaran saja dan itupun juga terpaksa pergi ke pasar, karena bapak dan ibu
lebih memilih untuk membelikan baju di tempat saudara-saudara ibu yang sudah
sangat lama berjualan di pasar. Saya pergi ke pasar hanya untuk membeli pakaian
saja di pasar dan selebihnya ibu tidak perlu berjualan di pasar. Ibu tidak
pantas ada di pasar. Pasar bukan tempat yang cocok untuk keluarga kami. Saya
tidak suka ibu berjualan di pasar. Tapi, ibu akhirnya memilih berjualan di
pasar dan saya benar-benar benci pada ibu yang berjualan di pasar. Kehidupan
berubah total semenjak ibu memilih berjualan di pasar. Kehidupan yang telah
benar-benar berbeda dari kehidupan sebelum-sebelumnya yang mapan tiba-tiba
harus berhadapan dengan kebiasaan baru yang sangat bertolak belakang dengan
pekerjaan bapak sebelumnya. Ibu berjualan di pasar dengan barang dagangan yang
benar-benar jelek membuat saya terlihat dan nampak sangat miskin. Saya tidak
suka terlihat miskin. Saya malu ibu berjualan di pasar. Teman-teman dekat saya
di kelas unggulan saat itu, rata-rata anak dari guru-guru dan kalaupun tidak
guru minimal mereka anak pengusaha yang cukup mapan untuk ukuran orang-orang di
desa. Saya melihat pekerjaan ibu yang di awal waktu berjualan sisa-sisa barang
milik kakek saya yang berupa timba, panci dan perabot-perabot gerabah sungguh
membuat saya semakin minder ada di kelas. Saya membenci pekerjaan ibu yang
memilih berjualan di pasar. Saya benci ibu tidak bisa bekerja seperti bapak
maupun seperti pekerjaan-pekerjaan orang tua teman-teman saya di kelas unggulan
yang rata-rata mapan. Saya benci dengan pekerjaan ibu yang memilih berjualan di
pasar dan tidak bekerja di kantor. Saya benci ibu mengajak saya ke pasar dan
bukan jalan-jalan ke tempat wisata. Saya benci pasar dan tidak suka pasar dan
saya malu ada di pasar. Tapi, ibu selalu menyuruh saya untuk menemani ibu
berjualan di pasar setiap saya libur sekolah. Saya benci sekali dengan
pekerjaan ibu di pasar yang harus setiap hari membuka menutup kiosnya lalu
mengeluarkan dagangan ibu dan memasukkannya lagi ke dalam kios. Setiap hari seperti
itu. Barang-barang yang dijual ibu membuat saya keringetan dan bau dekil, karena
barang-baraang dagangan ibu lumayan berat untuk diangkat dan ditata di depan
kios. Saya hanya cemberut saja ketika diajak ibu ke pasar. Saya membantu
mengangkat barang-barang dagangan ibu sambil tidak ikhlas. Saya hanya memasang
wajah cemberut saja ketika saya ada di pasar. Ibu hanya membiarkan saya
cemberut dan diam di samping barang-barang dagangan yang dijual ibu. Saya
benar-benar malu apabila ada salah satu kerabat atau teman bapak yang mampir ke
pasar dan melihat dagangan ibu. Bahkan kalau saya mengetahui ada salah satu
teman saya yang ke pasar dan lewat kios di depan ibu, saya memilih untuk
sembunyi dan tidak menampakkan wajah saya pada teman saya itu. Dagangan ibu
sungguh sangat miris dan memprihatinkan. Saya sering bilang kepada ibu untuk
berjualan di toko saja dan tidak usah berjualan di pasar yang kotor dan baunya
tidak sedap yang sering tumpah ruah di pasar. Tapi, ibu lagi-lagi selalu
berkata bahwa tidak ada uang untuk membeli toko dan uangnya sudah habis
dipergunakan untuk saya dan saudara-saudara saya yang lain untuk sekolah. Selalu
seperti itu yang saya dengar dari ibu dan saya benar-benar membenci pekerjaan
ibu yang memilih berjualan di pasar. Saya malu dan malu pada teman saya yang
ada di kelas. Saya juga jengkel dengan pekerjaan ibu yang sangat jauh berbeda
sekali dengan pekerjaan bapak. Saya juga tidak hanya malu pada pekerjaan yang
dipilih oleh ibu untuk berjualan di pasar, tapi saya juga benci makanan yang
ada di rumah yang dibawa ibu dari pasar. Saya benar-benar tidak menyukai jajan
yang dibelikan oleh ibu di pasar. Jajan yang dibeli ibu tidak enak dan lidah
saya tidak terbiasa dengan jajanan pasar. Saya membenci makanan apapun yang
dibawa ibu dari pasar. Saya terus marah dan tidak cocok dengan makanan yang
dibelikan ibu. Saya membenci semua kehidupan saya yang berubah semenjak ibu
berjualan di pasar dan kenapa ibu memilih berjualan di pasar dan tidak bekerja
di kantor dan kenapa orang-orang di pasar hidupnya serba serabutan dan sembarangan
dan penampilannya hanya kumel semua? Kenapa ibu memilih bekerja di pasar dan
kenapa semua keehidupan jadi berubah semua? Saya hanya benci perubahan dan
kebiasaaan saya yang sebelum-sebelumnya telah berubah semua dan saya telah
menjadi miskin sejak ibu berjualan dan saya tidak suka menjadi miskin. Saya
jadi kembali membenci bapak yang telah meninggalkan saya yang telah membuat
hidup saya jadi miskin. Saya tidak suka bapak pergi dan semua usaha sampingan
bapak juga tidak ada yang mengurus lagi sehingga becak-becak sewaan yang dulu
dikelola bapak juga telah habis dijual dan tak tersisa satu becakpun yang bisa
disewakan. Saya juga benci pada bapak yang telah meninggalkan kami kolam ikan
gurami yang akhirnya gurami itu mati sia-sia karena diracun orang. Semua harta
kekayaan bapak satu persatu habis dan saya harus menerima kenyataan bahwa saya
telah menjadi miskin dan ibu saya hanya berjualan gerabah barang-barang jelek
yang membuat saya malu bergaul di kelas bersama teman-teman saya di kelas
unggulan. Saya juga mulai benci sekolah di kelas unggulan yang tak juga membuat
saya unggul dan pintar. Kelas itu hanya semakin membuat saya tertekan ada di
kelas yang rata-rata orangtuanya berkecukupan di kelas unggulan itu. Saya benci
sekolah dan saya membenci pekerjaan ibu. Saya tidak betah ada di rumah dan saya
tidak betah ada di sekolah dan saya ingin menyusul bapak pergi saja ketika saya
telah berubah menjadi miskin. Saya tidak suka miskin dan saya malu menjadi
orang miskin.
Saya hanya terus marah pada ibu ketika
banyak yang tidak cocok dan tidak sesuai dengan harapan yang saya inginkan.
Saya juga kembali sering bertengkar lagi dengan adek-adek saya hanya untuk
kembali berebut makanan yang biasanya jadi pemicu kami bertengkar. Saya tidak
pernah mau mengalah pada adek-adek saya dan ibu selalu memperingatkan saya
ketika saya terus tidak mau megalah dengan adek-adek saya. Ibu paling marah
dengan saya kalau saya meladeni adek-adek saya untuk berkelahi. Ibu selalu
meminta saya untuk mengalah dan tidak terus-terusan berkelahi dengan adek saya,
tetapi saya sering tidak mau mendengarkan permintaan ibu. Ibu selalu pusing
ketika melihat saya yang terus-terusan bertengkar dengan adek saya ataupun
kadang adek saya bertengkar sendiri dengan kembarannya. Setiap ibu memarahi
saya, saya selalu membantah ibu saya dan selalu mengeles mencari alasan
pembelaan untuk pembenaran saya sendiri, sedikitpun saya tidak mau mendengar
nasehat ibu. Sampai ketika saat itu saya benar-benar sedang jengkel dengan
adek-adek saya, ibu memanggil saya ke ruang makan. Ibu memarahi saya yang terus
saja tidak mau mengalah pada adek saya, sampai akhirnya saya langsung
mengatakan bahwa ibu selalu pilih kasih dan tidak sayang dengan saya dan selalu
membela adek-adek saya dan saya benci ibu yang sudah pilih kasih pada saya.
Ketika itu ibu langsung menampar saya untuk pertamakalinya dan saya langsung
marah pada ibu dan membuang makanan yang jadi rebutan saya dan adek saya dan
saya langsung mengemasi sebagian baju-baju saya untuk saya bawa pergi ke tempat
nenek. Hanya nenek yang saya ingat ketika saya benci dengan ibu saya. Hanya
nenek yang membuat saya cocok dengan nenek ketika saya tidak cocok dengan ibu.
Hanya nenek yang bisa saya ingat setelah bapak pergi meninggalkan saya. Hanya
nenek yang bisa memberikan kasih sayangnya pada saya setelah bapak sudah tidak
ada lagi. Saya marah pada ibu dan saya meninggalkan rumah pergi ke tempat nenek
yang jaraknya juga tidak terlalu jauh. Saya memilih menemui nenek dan
mengadukan pada nenek atas tamparan yang telah diberikan ibu pada saya. Saya
benci ibu dan ibu sudah jahat pada saya karena telah menampar saya. Nenek saya hanya
mendiamkan saya dan menenagkan saya saja dan tidak melakukan apapun. Saya terus
saja menangis karena ditampar ibu. Ibu tidak pernah kasar dan tidak pernah main
tangan. Tapi, ibu sudah menampar saya gara-gara adek saya dan adek saya lagi.
Saya kembali membenci adek saya lagi dan saya benci memiliki dua adek
sekaligus. Saya benci pada ibu yang sudah menampar saya gara-gara adek saya
itu. Saya benci pada ibu yang sudah pilih kasih pada saya. Saya benci ibu yang
selalu menuruti apa maunya adek saya, tetapi giliran saya yang meminta apa-apa
tidak pernah dituruti. Ibu selalu tidak bisa menolak ketika adek-adek saya
meminta dibelikan mainan mahal, giliran saya hanya ingin pergi ditemani ke
swalayan saya tidak pernah dituruti sedikitpun, malah saya diajak ke pasar.
Saya benci ibu yang sudah pilih kasih pada saya. Adek meminta mobil mainan
remot kontrol yang saat itu masih lumayan mahal juga harganya juga, tetapi adek
saya tetap dibelikan satu-satu dengan jenis model mainan remot kontrol terbaru.
Adek meminta mainan playstasion juga langsung dituruti, sedangkan saya hanya
meminta ditemani jalan-jalan ke swalayan tidak sekalipun dituruti oleh ibu.
Saya benci ibu dan saya tidak suka ibu sudah pilih kasih pada saya. Ibu sudah
menyuruh saya untuk ikut ke pasar dan menemani ibu berjualan tetap saya penuhi
permintaan dari ibu, sedangkan dua adek saya disuruh di rumah saja selalu
dituruti keinginannya. Saya benci ibu dan saya benci ada di pasar. Ibu pilih
kasih dan hanya kata pilih kasih yang selalu ada di kepala saya ketika ibu
untuk pertama kalinya menampar saya. Saya benci ibu dan sangat-sangat membenci
ibu yang sudah menampar saya dan hanya pilih kasih pada saya. Saya benci ibu
dan tidak mau tinggal lagi bersama ibu. Saya hanya ingin tinggal bersama nenek
dan tidak mau melihat ibu yang sudah pilih kasih pada saya. Saya benci ibu yang
sudah menampar saya dan saya benci tinggal di rumah lagi. Saya tidak betah ada
di rumah dan saya sudah bosan bertengkar dengan adek saya dan saya sudah bosan
dimarahi ibu. Ibu sudah kejam pada saya. Ibu hanya menampar saya dan tidak
menampar adek saya. Saya benci ibu yang sudah pilih kasih.

Komentar
Posting Komentar