Saya Sudah Durhaka Mempertanyakan Kasih Sayang Ibu
Saya memang sudah nakal sekali
pada ibu saya setelah bapak meninggal. Ibu saya sering menangis karena
menghadapi beban hidup yang harus dihadapinya seorang diri. Ketika ibu sedang
dalam kesusahan, saya hanya menambah beban penderitaan ibu semakin berat dijalaninya.
Berat badan ibu saat itu langsung turun menjadi 25 kilogram selama hampir satu
tahun ditinggal Bapak. Saya yang terus menuntut ibu, adek-adek saya yang saat
itu juga sama halnya dengan saya yang tak mau mengerti perasaan ibu hanya terus
berbuat onar dan kanakalan yang tak kunjung henti-henti. Setiap ibu menangis,
saya hanya membuat air mata ibu terus menetes karena saya hanya bisa menuntut
tanpa berbuat banyak hal pada ibu. Saya tak pernah bisa berbuat baik pada ibu
dan saya tak pernah berbuat sopan dan hormat kepada ibu. Bahkan saat saya
bertengkar dengan ibu dan memilih jalan kabur dari rumah, ibu masih mengirimkan
uang jajan saya pada teman saya yang satu sekolah. Saya tak mau menerima uang
jajan pemberian dari ibu. Saya memilih meninggalkan teman saya yang dititipi uang
oleh ibu saya. Keesokan harinya, teman saya juga kembali membawakan uang jajan
saya dan menyuruh saya untuk pulang, tapi saya juga tak kunjung mau pulang juga
dan saya masih tetap tak mau menerima uang dari ibu saya lagi. Ketika saya
marah pada ibu, saya lebih memilih berlindung di bawah perlindungan nenek saja.
Saya mendapatkan uang jajan dari nenek saya dan saya mengabaikan uang jajan
pemberian ibu saya. Ketika saya tak kunjung mau pulang juga, akhirnya ibu
memilih menjemput saya di rumah nenek. Ibu meminta saya untuk pulang, tapi saya
tak mau melihat wajah ibu saya. Saat ibu berbicara pada saya, saya memalingkan
wajah saya ke lain tempat. Saat itu ibu yang meminta maaf pada saya karena
menampar saya dan bukan saya yang meminta maaf pada ibu. Ibu terus meneteskan
air matanya dan meminta saya untuk pulang, tapi saat itu saya benar-benar tidak
ingin melihat wajah ibu saya. Saya membiarkan ibu saya berbicara sendiri dengan
punggung saya. Saya membelakangi ibu dan saya tak mau melihat wajah ibu sama
sekali. Tangan ibu menyentuh punggung saya, tapi saya hanya menepisnya saja dan
saya masih saja tak mau berbicara pada ibu saya. Saya hanya cemeberut dan
merengut marah kepada ibu yang terus-terusan meneteskan air mata meminta saya
pulang. Ketika tangan ibu saya tepis dan saya tak kunjung mau pulang juga,
akhirnya ibu memilih untuk pulang dan tidak berbincang-bincang lagi dengan saya.
Ibu memilih pamitan pada nenek saya dan kembali ke rumah. Saat itu saya masih
sangat benci pada ibu dan saya sangat dendam sekali pada ibu yang sudah menampar saya. Saya tak mau lagi
tinggal bersama dengan ibu yang sangat kasar yang sebelum-sebelumnya tidak pernah
kasar sama sekali. Saya benci ibu karena sudah menampar saya dan saya tidak mau
pulang dan saya tidak mau tinggal bersama ibu lagi. Hanya benci yang ada di
dalam mata saya ketika ibu datang dan meminta saya pulang ke rumah. Sampai satu
jam saya terus merengut dan tak banyak melakukan apa-apa sampai akhirnya saya
menangis sendiri yang tiba-tiba membuat saya kangen dengan ibu dan ingin pulang
seketika itu juga. Malam itu hampir jam 9 malam, saya langsung mengemasi
barang-barang saya di tempat nenek dan saya langsung ingin pulang. Nenek saya
menyuruh saya pulang keesokan harinya, tapi saya sudah benar-benar ingin
bertemu dengan ibu saya. Saya langsung pulang ke rumah sendirian dan tak ingin
berlama-lama lagi di rumah nenek. Nenek membiarkan saya pulang sendirian dengan
menggunakan sepedah, karena jarak rumah dan rumah nenek tidak terlalu jauh
hanya sekitar 500 meter saja tidak terlalu membuat nenek hawatir. Ketika saya
tiba di rumah, kebetulan pintu rumah saat itu belum dikunci dan saya langsung
masuk ke kamar ibu. Ibu saat itu sedang berbering dan menangis di kamarnya
sendirian. Ketika saya melihat ibu saya yang sedang menangis di kamar, saya tak
bisa berkata-kata lagi. Saya langsung menghampiri ibu dan memeluknya sangat
erat dan kencang sekali sambil menangis di dekapan ibu. Saya tak bisa diam
menangis dan terus menangis. Ibu hanya mendiamkan saya dan menenangkan saya
untuk tidak menangis lagi. Ibu mengelus-ngelus kepala saya ketika saya tak bisa
diam menangis. Saya terus menangis di dekapan ibu dan saya hanya terdiam menangis
ketika saya tertidur. Saat itulah saya tidur di lengan ibu. Sebelum-sebelumnya
saya tidak pernah tidur bersama dengan ibu. Saya juga tidak pernah suka
dekat-dekat berada di samping ibu meskipun saya sedang sakit sekalipun. Malam
itu ketika saya pulang dari rumah nenek dan saya tak bisa diam menangis, hanya
dekapan ibu yang membuat saya terlelap tidur. Saya tidak berkata apa-apa ketika
saya menemui ibu. Hanya menangis dan terus menangis mengingat ibu yang menjemput saya di rumah nenek yang
tangannya saya tepis dan saya memalingkan wajah saya dari pandangan ibu dan
memunggungi ibu ketika ibu mengajak saya pulang ke rumah. Saya tidak tahu harus
berkata-kata apalagi. Saya hanya menangis terus tak henti-hentinya sampai saya
kesusahan berbicara dan kesusahan bernafas. Ibu hanya mengelus-ngelus saya dan
mengusap air mata saya yang tak juga bisa berhenti menetes. Saat itu saya
benar-benar merasa kapok berkata kasar
pada ibu. Saya juga kapok untuk terus bertengkar dengan adek saya lagi.
Tamparan ibu sangat membekas dan membuat saya takut untuk melawan ibu lagi.
Tamparan dari ibu yang membuat saya benci akhirnya tergantikan dengan pelukan
ibu. Pelukan ibu membuat saya tersadar bahwa ibu sungguh sangat-sangat sayang
dengan saya dan ibu tidaklah jahat pada saya. Saya sudah sangat kasar dan
berkata sangat jahat pada ibu dan menuduh ibu tidak sayang dengan saya yang
semuanya sungguh sangat amat salah. Saya sudah sangat jahat pada ibu dan ibu
masih membiarkan saya memeluknya terus sampai pagi hari.
***
Selalu saja seperti itu dan saya
tak kunjung berhenti nakal meskipun bapak sudah meninggal. Saya bukan meringankan
beban ibu malah menambah penderitaan ibu tak kunjung bisa berhenti. Ibu masih
menjalankan tanggungjawabnya sebagai ibu dan menjaga kami semua di rumah. Ibu
telah memberikan semua kasih sayangnya meskipun ibu sendiri sangat bersedih
hati atas kepergian bapak. Ibu tidak hanya menjadi ibu saja setelah bapak meninggal,
tetapi ibu telah menjadi bapak juga
untuk kami satu keluarga. Ibu tidak membiarkan kami mati kelaparan. Ibu
merelakan diri untuk bekerja di pasar meskipun ibu tidak pernah bekerja di luar
selama bapak masih hidup. Ibu tidak mengenal rasa malu untuk berjualan di pasar
meskipun kenalan-kenalan ibu sudah banyak orang kantoran. Sedangkan saya yang
baru kelas satu MTs saat itu sudah banyak bertingkah dan menuntut ibu melakukan
sesuatu yang di luar batas kemampuan ibu sedangkan saya juga tidak sedikitpun
bisa membanggakan ibu dengan prestasi yang unggul. Selama saya di MTs saya tidak
pernah mendapatkan peringkat lagi, apalagi untuk sekedar bisa masuk sepuluh
besar juga tak pernah saya dapatkan. Saya hanya menyusahkan orang tua dan
menyakiti ibu saya saja selama ditinggal bapak pergi. Saya hanya bisa menuntut
ibu untuk terus menuruti sesuatu yang saya inginkan tanpa memperduliukan
kondisi dan perasaan ibu yang juga sangat mengalami kesusahan dalam menjalani
hari-harinya. Saya terus saja tak kunjung sadar dan mau menurut pada ibu tanpa
perlu membantah nasehatnya sama sekali. Ibu tidak akan mungkin menampar saya
kalau saya tidak kelewat nakal karena saya sudah berani mempertanyakan kasih
sayangnya yang sepatutnya tidak saya pertanyakan hal itu pada ibu saya. Saya
sudah sangat durhaka dan kurangajar pada ibu karena meragukan kasih sayang yang
telah diberikan kepada saya. Saya sudah tidak pantas lagi disebut sebagai anak
ketika saya tidak percaya pada kebaikan yang telah diberikan oleh ibu saya
selama ini. Saya sudah sangat tidak pantas disebut sebagai anak ketika saya
sudah berani menyakiti perasaan ibu saya dan ternyata ibu yang merelakan diri
untuk meminta maaf dan bukan saya yang meminta maaf pada ibu. Saya benar-benar
anak yang tidak tahu diri dan tidak bisa mengucapkan terimakasih pada ibu saya yang
sudah kesusahan mengurus saya semenjak ditinggal Bapak. Saya sudah sangat
merepotkan ibu secara terus menerus dan
saya hanya membalasnya dengan menyakiti perasaan ibu secara berulang-ulang. Membuat
ibu menangis yang tak henti-hentinya itulah yang terus saja saya lakukan pada
ibu selama ini, sedangkan sekali saya menangis ibu langsung menghapus air mata
saya. Betapa jahatnya saya pada ibu saya yang terus saja memaafkan
kesalahan-kesalahan yang saya perbuat pada ibu saya sedangkan saya hanya bisa
membuat ibu saya bersedih dan bersedih dengan perlakuan kasar saya dan
kata-kata saya. Betapa sayang dan tulusnya ibu saya yang rela menjemput saya
yang kabur dari rumah sedangkan jelas-jelas saya yang salah dan sudah
kurangajar pada ibu saya sendiri. Betapa hawatirnya ibu pada saya ketika saya
dalam kondisi kekurangan meskipun saya sudah tinggal bersama nenek saya ketika
saya kabur dari rumah. Betapa sedihnya ibu saya saat itu ketika saya menolak
dan mangabaikan permintaan ibu untuk mengajak saya pulang ke rumah. Betapa tidak
tenangnya ibu saya ketika salah satu anaknya tidak ada disisinya dan memilih
kabur untuk tidak ada di rumah sampai-sampai ibu merelakan dirinya menjemput
saya untuk pulang ke rumah. Betapa jahatnya saya yang tak mau mengerti perasaan
ibu saya yang terus-terusan saya sakiti dan saya acuhkan. Betapa saya tidak
berperasaan saat itu ketika saya menyebut ibu saya pilih kasih dan tidak sayang
terhadap saya sementara ibu terus menangis ketika saya tidak kunjung mau pulang
juga saat itu. Betapa butanya saya saat itu tidak bisa melihat kasih sayang
yang benar-benar tidak terhitung ketika saya sudah berbuat salah dan ibu masih
membiarkan saya untuk pulang dan kembali di pelukan ibu lagi. Betapa bodohnya
saya yang terus menutup mata saya pada kasih sayang yang telah diberikan ibu
kepada saya sekalipun saya marah dan benci pada ibu saya saat itu. Kelakuan
saya yang sudah kelewat batas pada ibu masih terus saja dibalas dengan
kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh ibu masih saja tak membuat saya sadar
betapa sayanganya ibu pada saya saat itu. Benar-benar anak durhaka itulah yang
pas dan cocok untuk saya ketika saya tak kunjung bisa melihat betapa besarnya kasih
sayang yang dimiliki oleh ibu saya ketika ibu menjemput saya untuk mengajak
pulang ke rumah dan saya masih saja ragu akan kasih sayang yang diberikan oleh
ibu saya.
***
Sejak saya ditampar oleh ibu dan
kembali pulang setelah kabur dari rumah, saya jadi lebih sering pergi menemani
ibu ke pasar setiap hari minggu maupun libur sekolah dan libur lebaran. Saya
jadi lebih dekat pada ibu ketika saya ada di pasar daripada saya ada di rumah.
Ibu sering mengajak saya berbincang-bincang dan bercerita ketika pasar sedang
sepi. Tapi di kios ibu memang sepi terus dan akhirnya di tempat itu sering jadi
tempat untuk berbincang-bincang saja. Saya sering sekali bosan ada di pasar
ketika kios ibu terlalu sepi, karena ibu belum banyak memiliki pelanggan.
Ketika saya sudah mulai bosan ada di pasar, ibu lebih sering menyuruh saya
untuk main ke tempat saudara-saudara ibu yang kiosnya jauh lebih ramai dan
lebih besar. Kebetulan saudara-saudara kandung ibu banyak yang berprofesi
sebagai pedagang. Saya disuruh duduk-duduk dan memperhatikan saja oleh
saudara-saudara ibu yang kiosnya saya kunjungi. Sampai akhirnya ketika bulan romadhon,
saya disuruh ibu untuk berada di salah satu kios saudara ibu selama liburan
penuh. Saya hanya menemani ibu ketika ibu membuka kios maupun menutup kiosnya
saja. Tapi setelah membantu menata barang dagangan di kios ibu, saya dapat
tugas dari salah satu saudara ibu yang kebetulan kiosnya saat itu sedang
rame-ramenya untuk bertugas mengawasi barang dagangannya. Ketika kondisi liburan
romadhon menjelang lebaran datang, pasar saat itu rame sekali dan saya disuruh
mengawasi kalau-kalau nantinya ada penguntit mengambil barang dagangan. Tugas
saya tidak terlalu berat tetapi saya pusing ketika melihat banyaknya orang yang
berjubel antara orang yang sekedar lewat dan orang yang memang berhenti untuk
membeli barang. Ketika awal saya ikut bersama saudara saya, saya hanya diam dan
mengawasi pembeli saja, tetapi selang beberapa hari kemudian saya diajari cara
berjualan oleh saudara saya. Kebetulan kalau di pasar cara berjualannya dengan
sistem tawar menawar. Saudara saya saat itu berjualan pakaian. Pakaian-pakaian yang dijual oleh saudara saya
tidak ada harganya yang ditulis sama sekali. Disitu hanya ada kode-kode tulisan
huruf saja. Saya diberi kertas kode untuk mengetahui harga dasar barang
dagangan itu. Kertas kode itu masih saya ingat sampai sekarang. Kertas kode itu
bertuliskan “DEWAH RUNCI”. Ibu saya juga diajari oleh saudara saya untuk
membuat kode barang dagangan. Setiap pedagang biasanya memiliki kode kata yang
berbeda-beda. Kebetulan saudara saya menggunakan kode “DEWAH RUNCI” dan kode itu
sekarang sudah tidak dipergunakan lagi. Ketika awal waktu saya diberi kertas
kode itu, saya hanya bingung saja apa maksud kode kertas tersebut. Kata kunci tersebut
ternyata menunjukkan angka bilangan dari angka 1-0. D berari angka 1, E berarti
angka 2, W berarti angka 3 sampai akhirnya di huruf C sebagai tanda bilangan
angka 9 dan berakhir di huruf I yang berarti 0. Kalau kode yang ada di salah
satu cap pakaian itu bertuliskan DI itu berarti harganya bisa saja 10.000 atau
100.000, tapi kalau harga pakaian tidak mungkin harganya 10.000. Sudah pasti
harga pakian itu sekitar 100.000. Harga 100.000 itupun juga bukan merupakan
harga asli. harga itu merupakan harga dasar setelah dikalikan dua dari harga
satuan harga dasar barang tersebut. Atau lebih mudahya dari harga 100.000 itu
masih dibagi dua lagi. Jadi harga dasar pakain itu senilai 50.000. Kalau harga
barang itu ditawarkan harganya kadang bisa 80.000 atau bisa 75.000. Ketika
nanti pembeli masih menawar harga, biasanya barang akan dijual ketika barang
itu sudah dapat untung minimal 3.000 kalau pasar sedang sepi, tapi kalau pasar
sedang ramai maka laba minimal biasanya 5.000 setidaknya sudah umum di pasaran.
Saudara yang mengajarkan saya cara berdagang saat itu juga menjelaskan kepada
saya, kalau harga dasar jualannya 10.000 setidaknya labanya 1.000, kalau harga
barang dasarnya itu 20.000 setidaknya laba 2.000, kalau harga barang dasarnya
30.000 setidaknya laba 3.000 dan terus sesuai dengan nominal angka harga dasar
itu. Tapi, namanya di pasar yang masih menggunakan sistem tawar menawar maka
tak jarang juga saudara saya bisa mendapatkan untung yang berlebih dari standar
laba yang digunakan tersebut ketika pembelinya tak begitu mahir untuk menawar.
Saudara saya tidak bisa mematenkan laba untuk barang dagangannya sendiri,
karena untuk mengantisipasi pasar yang tak lagi ramai maka kebiasaan mendapatakan
laba sesuai standar juga sering sekali tidak bisa didapatkan. Hal tersebut
karena pembelinya bisa sangat mahir dalam menawar barang yang akan dibelinya,
sehingga pembeli mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal. Ketika pasar
sedang tidak stabil jumlah pembelinya maka pedagang juga tidak mau mengambil
pusing stok barang dagangan yang masih menumpuk banyak, sehingga harga berangpapun
akan dibanting harganya dari harga standar oleh saudara saya selama masih ada
sedikit laba untuk mencukupi biaya hidup dan pengganti biaya untuk orang yang
bertugas membantu menawarkan barang dagangan tersebut. Selama liburan sekolah
dan liburan romadhon saya selalu ada di tempat saudara saya itu. Ketika awal
saya belajar menjualkan barang dagangan, saya masih sering-sering lupa dan
salah, tetapi setelah terbiasa akhirnya saya menjadi sedikit hafal cara kerja
berjualan yang diterapkan oleh saudara saya dalam berdagang. Selama tiga tahun saya terus bersama saudara
saya itu. Ibu membiarkan saya terus ikut bersama saudara saya, karena lagi-lagi
dagangan ibu masih sepi dan ibu belum banyak memiliki langganan. Saat itu ibu
juga masih bisa mengatasi pembelinya sendiri dan menyuruh saya untuk tetap
bersama saudara saya. Saya selalu dapat jatah pakain dua setel dan jatah uang
jajan dari saudara saya dan kadang saya masih suka dibelikan jajan dan
camilan-camilan untuk saya bawa pulang ke rumah. Saudara yang membiarkan saya
untuk belajar berdagang saat itu adalah Pak De dan Bu De saya yang merupakan
kakak kandung ibu. Saat itu kebetulan kios milik Pak De dan Bu De saya masih
jadi primadona pasar dan ibarat orang berjualan saat itu, rejeki di tempat
saudara saya sedikit ada rejeki berlebih untuk membiarkan saya sekedar ikut
melihat-lihat bagaimana dunia pasar berkembang dan bagaimana juga dunia pasar
mengalami pasang surut. Ketika saya lebih banyak menghabiskan kehidupan saya di
pasar dan tak lagi berinteraksi serta bersinggungan dengan kehidupan di luar
pasar, saya selalu betah dan nyaman ada di pasar. Saya menjadi tahu bagaimana
hubungan antara pedagang dan pembeli, hubungan antara pedagang dengan pedagang
rumahan yang mengambil barang di pasar dan dijual lagi di kios kecil rumahan
serta saya jadi mengetahui sedikit hubungan antara pedagang dan sales-sales
penyedia barang di pasar. Saya menjadi senang karena di pasar saya belajar seni
tawar menawar dengan pembeli. Disitu saya tidak bisa cemberut terus kalau saya tidak
menginginkan pembeli yang ingin membeli barang dagangan saudara saya kabur dari
hadapan saya. Sepertinya saya merindukan pasar yang membuat saya bisa belajar
untuk murah senyum dan memperlakukan pembeli sebagai raja, meskipun kadang tak
banyak pembeli yang menyebalkan dalam menawar. Banyak sekali calon pembeli yang
menawar sangat jauh dari harga dasar pokok dan lebih parahnya lagi kalau dapat
pembeli yang telah lama memilah dan memilih barang dagangan dan membuat para
pedaganganya sibuk membolak balik dagangan ternyata barang tak jadi dibeli
karena barang tidak ada yang cocok semua. Saya harus belajar bersikap wajar dan
maklum saja ketika ada pembeli yang seperti itu, tapi dari situ juga akhirnya
saya bisa belajar untuk menahan diri saya tidak mengumpat pada pembeli yang
membuat para pedagang membuang waktunya yang harus meladeni pembeli yang
seperti itu. Tapi, di pasar itulah sepertinya ilmu sabar memang sangat saya perlukan
dalam mengahadapi jenis pembeli yang beranekaragam. Ilmu sabar wajib saya
kuasai ketika saya yang sangat pemarah harus meredam amarah saya di depan
pembeli dan kembali melupakan kebencian saya kepada pembeli yang ketepatan
kurang menyenangkan ketika saya meladeninya. Saya harus mampu melanjutkan
komunikasi saya yang ramah pada pembeli lain untuk bisa menghasilkan harga yang
disepakati antara pedagang dan pembeli. Ketika saya bisa melakukan proses tawar
menawar dengan pembeli ketika barang sudah sama-sama cocok maka itulah seni
keramahan tawar menawar yang sungguh tampak nyata membahagiakan untuk saya
ketika saya belajar berjualan di pasar. Bahkan ketika tawar menawar atas
kehidupan saya sendiri saja tak mampu saya lakukan maka pasar menjadi tempat
yang saya rindukan untuk kembali belajar bernegosiasi. Ketika saya sudah sangat
jarang ada di pasar maka ilmu tawar menawar mengingatkan saya akan pentingnya
keluwesan dalam menjalani hari-hari saya supaya tidak kaku dan tidak
marah-marah terus. Ya, pasar telah banyak mengajari saya ilmu seni sejatinya
seni yang membuat saya bisa berbaur dengan semua orang lebih ramah. Bagaimana
saya dulu bisa membenci pasar dan sangat merendahkan pasar kalau di pasar
itulah segala kebutuhan dan kecukupan bisa saya dapatkan secara cuma-cuma dari
saudara saya yang sudah lama berjualan? Bagaimana saya bisa memiliki pandangan
yang sangat buruk pada pasar sedangkan di pasar saya selalu mendapatkan
kebaikan-kebaikan yang tak terduga yang bisa saya dapatkan? Bagaimana saya bisa
tergila-gila dengan swalayan sementara di pasar sudah mencukupi kebutuhan
sehari-hari keluarga kami setiap kali
ibu harus berbelanja dengan harga yang jauh lebih murah daripada harus berbelanja
di swalayan? Bagaimana bisa dan terus saja bagaimana bisa yang akan selalu menjadi
pertanyaan yang terus menerus berulang kali tak henti-hentinya saya ajukan ketika
berhadapan dengan kasus yang serupa seperti ini tapi tak sama dengan peristiwa
tersebut.
****
Ibu sudah amat sangat benar sudah
menampar saya karena saya tidak bisa menurut pada nasehat ibu dan menuduh ibu
yang tidak-tidak. Ibu benar, saya sudah sangat jahat pada ibu dan saya juga
sudah sangat tega pada adek-adek saya yang tak bisa sama nasibnya dengan saya.
Ibu benar telah menampar saya setelah saya meragukan kasih sayang diberikan ibu
setelah ibu memberikan sesuatu yang terbaik untuk saya sedangkan saya hanya
bisa menyakiti ibu dan membuat adek-adek saya nasibnya semakin terpuruk. Ibu benar
sudah menampar saya, karena saya sudah kurangajar pada ibu dan sudah menjadi
anak durhaka pada ibu dan berani mempertanyakan kasih sayang yang telah ibu
berikan kepada saya selama ini. Ibu benar dan saya amat sangat durhaka pada ibu
karena saya tidak bisa akur dan rukun bersama adek-adek saya sendiri hanya bertengkar
berebut kasih sayang yang padahal sudah ibu berikan kepada kami semua bahkan
sudah sangat lebih bisa saya dapatkan selama ini.

Komentar
Posting Komentar