Selamat Jalan Bapak




Bapak meninggal ketika saya kelas Enam SD. Sebelum bapak meninggal saya kembali bertengkar lagi dengan Bapak. Sudah lama sekali sejak saya sering dihajar gara-gara mencuri uang di rumah sampai saya kelas enam jarang terjadi perselisihan yang hebat antara saya dan Bapak. Saat saya ada di kelas enam, saya masih mengikuti kegiatan pramuka di sekolah. Bapak tidak terlalu suka ketika saya ikut kegiatan pramuka. Ketika saya ikut kegiatan pramuka itu tandanya saya harus membolos sekolah di Madrasah Diniyah. Bapak menyekolahkan saya di dua tempat. Pagi hari di sekolah umum dan sore harinya di Madrasah Diniyah. 

Saat saya kelas enam SD, saya sudah aktif di kegiatan pramuka untuk kategori penggalang. Saat itu pramuka di sekolah saya masih baru-barunya dirintis. Saya senang sekali di kegiatan pramuka. Dulu kegiatan pramuka diselenggarakan setiap hari Jum’at. Di awal waktu, saya diperbolehkan ikut kegiatan pramuka. Bapak mengizinkan saya karena semua teman-teman saya juga ikut kegiatan pramuka. Saya sangat aktif di kegiatan pramuka. Pembina saya juga sangat senang dengan saya. Sampai di pertengahan latihan pramuka, ada undangan perkemahan di tingkat kecamatan selama tiga hari. Pembina saya meminta saya untuk jadi pimpinan sangga di pramuka. Saya dengan sangat riang gembira bersedia jadi pimpinan sangga tanpa terlebih dahulu izin kepada Bapak dan Ibu saya di rumah. Saya sudah sangat yakin, bapak akan memberikan izinnya ketika saya ditunjuk jadi pimpinan sangga. Saya sangat yakin sekali, karena di kegiatan-kegiatan sekolah sebelumnya ketika ada gerak jalan saya selalu diperbolehkan untuk ikut juga meskipun hanya bertugas di belakang jadi peniup peluit. Kalau saya  jadi pimpinan sangga pasti bapak juga bisa senang dan bangga pada saya, karena sangat jarang dan sangat langka sekali saya mendapatkan kesempatan itu.

Ketika saya pulang ke rumah dan menyampaikan kabar yang membuat saya bahagia saat itu. Ternyata bapak langsung menolak dan melarang saya untuk ikut kegiatan perkemahan di kecamatan. Ketika saya meminta izin dan ditolak Bapak, di awal waktu saya hanya berfikir mungkin cara penyampaian saya yang salah pada Bapak. Akhirnya keesokan harinya, saya meminta izin lagi pada Bapak dan memintanya dengan cara yang lebih baik, tapi Bapak masih tidak memberikan izin kepada saya untuk ikut berkemah. Saat itu saya bingung, karena saya sudah terlanjur bilang setuju pada pembina pramuka dan guru saya di sekolah bahwa saya bersedia jadi pimpinan sangga. Karena saya tak kunjung dapat izin dari Bapak, akhirya saya meminta izin dari Bapak sambil merengek dan memaksa Bapak supaya saya boleh ikut berkemah. Tapi Bapak tidak kunjung memberikan izinnya kepada saya. Saya marah pada Bapak ketika Bapak tidak memberikan izinnya kepada saya untuk ikut kemah. Saya membanting pintu dan jendela kamar saya di hadapan Bapak. Bapak saat itu tidak mencubit saya dan tidak memukul saya sedikitpun. Bapak hanya diam dan meninggalkan saya di kamar sendirian. Saya terus marah dan tidak mau menyapa Bapak sama sekali.

Ketika Bapak tidak memberikan izinnya, saya ganti merengek pada ibu dan saya biasanya jarang merengek pada ibu. Tapi, ibu tidak berani berbuat apapun dan hanya menyuruh saya untuk mendengarkan kata Bapak. Ketika ibu juga tidak bisa membantu saya mendapatkan izin dari Bapak, saya hanya merengek dan menangis di kamar saja. Saya membuang boneka saya yang dibelikan oleh Bapak. Saya sudah terlanjur malu berkata pada pembina dan guru saya di sekolah bahwa saya bersedia menjadi pimpinan sangga. Tapi, Bapak tidak memperdulikan keinginan saya untuk ikut pramuka. Bapak menyuruh saya untuk tetap sekolah di Madrasah Diniyah. Bapak tidak suka kalau saya keseringan membolos di sekolah Diniyah. Sedangkan saya tidak begitu suka Sekolah Diniyah. Murid di Sekolah Diniyah hanya lima orang saja dan yang sering masuk hanya tiga orang saja. Disitu saya juga yang paling kecil sendiri. Teman-teman saya di Sekolah Diniyah banyak yang sudah MTs. Kalau saya ikut kemah tiga hari, saya hanya akan membolos dua hari saja, karena perkemahan itu diadakan pada hari Jum’at-Minggu. Toh, saya tidak begitu faham dengan pelajaran di Sekolah Diniyah yang harus belajar bahasa Arab, fiqih, aqidah akhlak dan lain sebagainya yang semua pelajarannya menggunkan buku bertulisan Arab dan harus dima’nai dengan arab pegol jawa. Kalau saya ada PR di Madrasah Diniyah saya selalu menyontek pada teman-teman saya di kelas, karena saya tidak faham pelajarannya sama sekali. Saya hanya ikut-ikutan mendengarkan saja dan memahami sebisa mungkin yang bisa saya pahami, tapi saya benar-benar pusing belajar di Madrasah Diniyah, pelajarannya sangat sulit saya pahami. Saya lebih senang ikut kegiatan pramuka daripada harus sekolah di Madrasah Diniyah. Tapi, Bapak tetap tidak memberikan izin kepada saya untuk mengikuti kemah. Meskipun saya sudah merengek menangis dan membanting pintu dan jendela berulang kali. Bapak hanya mendiamkan saya dan tak banyak berbicara ataupun memarahi saya lagi.
Ketika izin tidak juga diberikan oleh Bapak, akhirnya saya menyampaikan kepada pembina saya dan guru saya di sekolah. Bahkan saya merengek pada pembina saya untuk memintakan izin saya supaya bisa ikut kemah. Kebetulan pembina saya juga sudah akrab dengan Bapak dan bersedia membantu saya untuk memintakan izin pada Bapak, tetapi usaha yang dilakukan pembina saya tetap tidak berhasil. Akhirnya pembina saya meminta saya untuk merelakan tidak menjadi pimpinan sangga dan tidak mengikuti perkemahan. Pembina pramuka saya akhirnya memilih teman saya yang lain untuk jadi pimpinan sangga. Setelah pembina saya berkata seperti itu, saya tambah marah kepada Bapak saya. Saya tak kunjung berhenti menangis setiap saya melihat teman-teman saya berangkat latihan pramuka untuk persiapan kemah sedangkan saya harus berangkat sekolah di Madrasah Diniyah. Saya pergi ke sekolah Diniyah tidak perlu dihajar lagi seperti awal waktu saya harus sekolah. Saya hanya berangkat ke Sekolah sambil menatap benci wajah bapak saya yang tak memberikan izin kepada saya untuk ikut kegiatan pramuka. Latihan pramuka berlangsung sekitar dua mingguan sebelum perkemahan dilakukan. Sekolahan saya dan rumah saya hanya bersebelahan dan berbatas tembok dan sedikit pembatas pagar kebun saja. Sekolahan saya letaknya tepat dibelakang rumah saya. Ketika saya berangkat sekolah Diniyah yang jaraknya hampir sekitar 500 M dari rumah, saya selalu melewati bangunan Sekolah Dasar dimana saya sekolah pagi harinya. Disitu saya melihat teman-teman saya latihan berbaris, latihan memainkan tongkat, tali-temali, tenda dan masih banyak hal lainnya. Saya hanya berangkat ke sekolah Diniyah sambil iri melihat teman-teman saya latihan. Demikian juga ketika saya pulang dari Diniyah dan melihat teman-teman saya juga pulang dari latihan pramuka, saya selalu menangis di kamar dan hampir setiap hari saya membanting pintu kamar. Saya masih berharap kepada Bapak untuk memberikan izinnya kepada saya mengikuti perkemahan. Kalau saya tidak bisa lagi jadi pimpinan sangga setidaknya saya jadi anggota biasa dan yang terpenting saya bisa ikut kemah. Tapi, Bapak terus saja membiarkan saya menangis dan tetap bersikukuh menyuruh saya untuk tidak membolos lagi di Madrasah Diniyah. Saya ikut pramuka juga hanya sementara saja dan kesempatan saya bisa berkemah itu juga tidak selamanya saya dapatkan, apalagi kesempatan saya untuk menjadi pimpinan sangga. Bapak tetap bersikukuh untuk menyuruh saya sekolah di Madrasah Diniyah. Hampir selama dua minggu mata saya terus menahan tangis melihat teman-teman saya yang terus latihan pramuka yang bisa saya dengar dari rumah kalau saya pulang lebih awal dari madrasah. Saya tak begitu lagi senang bermain, karena teman-teman bermain saya yang satu sekolah sedang sibuk latihan pramuka dan saya hanya sibuk melihat iri mereka semua. Saya hanya menangis di kamar saja. Setiap saya berpapasan dengan bapak, saya selalu membuang wajah saya dari Bapak. Bapak hanya diam saja dan membiarkan saya terus membanting pintu. Saya tidak tahu, kenapa bapak terus saja membiarkan saya membanting pintu padahal biasanya kalau saya sedikit kasar, bapak akan langsung membentak saya. Tidak sedikitpun bapak main tangan lagi ketika saya bersikap sangat kasar pada Bapak. Saat itu saya juga tidak mau ikut lagi dengan bapak di pengajian rutin bulanan yang kerap saya ikuti sekaligus saya bisa jalan-jalan bersama Bapak. Saya tidak mau ikut dengan Bapak dan saya masih saja diam-diaman marah kepada Bapak. Sampai akhirnya tangis saya benar-benar semakin menjadi ketika teman-teman saya berangkat kemah pramuka sambil menyanyikan yel-yel yang sangat kencang dan bisa saya dengar dari rumah. Saat itu saya tak mau melakukan apa-apa dan saya tak membanting apa-apa lagi, saya hanya di kamar  dan menangis sesenggukan di bawah bantal, sampai akhirnya Bapak menghampiri saya di kamar untuk mengajak saya keluar jalan-jalan dan membelikan jajan di swalayan. Ketika Bapak mencoba membuat saya diam, Bapak juga merencanakan perjalanan berlibur ketika saya nanti lulus Sekolah Dasar. Bapak berencana untuk mengajak saya ke Madura kalau nanti saya lulus dapat juara dan rangking satu. Akhirnya saya mau keluar diajak jalan-jalan Bapak lagi setelah mendengar rencana Bapak.  Bapak terus mengajak saya jalan-jalan dan keliling sekitar tempat saya tinggal selama teman-teman saya berkemah, tapi saya masih saja terkadang menangis mendadak ketika ingat teman-teman saya yang sedang berkemah. Bapak terus membelikan saya banyak makanan yang enak-enak selama teman-teman saya kemah. Saya tak begitu semangat memilih jajan di swalayan. Semua jajan yang memilih Bapak. Ketika saya mengingat teman-teman saya berkemah, saya mendadak menangis lagi dan mendadak benci bapak lagi. Tapi, Bapak tak sedikitpun marah kepada saya ketika saya terus-terusan marah dan uring-uringan pada Bapak. Sampai akhirnya saya capek sendiri marah dan hanya menikmati waktu jalan-jalan saya dengan Bapak yang tak begitu membuat saya senang dan tak kunjung membuat saya lupa pada teman-teman saya yang sedang berkemah. Saya hanya bermalas-malasan dan tak banyak berbicara ketika bapak mencoba sebisa mungkin menghibur saya untuk bisa menikmati jalan-jalan saya bersama Bapak.

Pada hari Sabtu, saya masih datang ke sekolah meskipun tidak ada pelajaran di kelas, karena teman-teman saya satu kelas ikut kemah, kecuali saya dan satu teman saya yang sama-sama tidak dibolehkan ikut kemah. Kami hanya melihat adek-adek kelas belajar di kelasnya. Saya hanya duduk sambil bermalas-malasan di bangku kelas sambil membolak-balik buku yang tak saya baca. Saya merasa bosan sekali ada di sekolahan, karena untuk kelas 5, 6 tidak ada pelajaran. Saya semakin tambah benci dan marah kepada Bapak saya yang tak membolehkan saya ikut kemah, ketika saya tidak memiliki kesibukan sama sekali di kelas. Hanya berkeliaran di sekolah dan saya juga tak mau belajar sendiri dan tak ingin belajar. Hanya marah dan terus marah pada Bapak. Ketika saya ada di sekolah, ada guru adek tingkat yang menghampiri saya dan menyarankan saya untuk mengunjungi teman-teman saya berkemah di Kecamatan, seketika itu juga saya tambah benci lagi pada Bapak saya. Saya hanya terdiam saja ketika guru tersebut menghampiri saya. Saya hanya berkata pada diri saya sendiri, “bagaimana saya bisa mendatangi teman-teman saya berkemah dan mengunjungi teman-teman saya kalau itu hanya akan membuat saya semakin sedih dan semakin membuat saya iri pada teman-teman saya yang lain?”. Akhirnya saya hanya membenci bapak dan kembali pulang dengan uring-uringan lagi. Sore harinya di hari Sabtu saya masih tetap ikut sekolah Diniyah dengan malas-malasan. Pulang dari sekolah saya kembali ke kamar dan menangis lagi ingat teman-teman saya yang sedang berkemah. Bapak lagi yang kembali terus meminta saya untuk berhenti menangis. Bapak terus saja mengajak saya jalan-jalan lagi setiap saya pulang dari Madrasah. Bapak mengajak saya menemui salah satu guru madrasah Diniyah yang juga menjadi sahabat Bapak. Bapak dan guru saya tidak terlalu setuju dan kurang begitu suka dengan kegiatan pramuka yang dilakukan pada Hari Jum’at. Saya hanya terdiam saja mendengarkan perbincangan Bapak dan salah satu guru di Madrasah saya. Beliau menjelaskan kegiatan itu hanya membuat Madrasah Diniyah semakin mati dan muridnya akan semakin habis meninggalkan madrasah. Murid di Madrasah Diniyah sudah semakin sedikit, keluh salah satu guru saya di Madrasah Diniyah. Lalu, bapak hanya mengamini dan melarang saya untuk meninggalkan Madarasah Diniyah supaya tidak semakin habis muridnya.

Saya tak berani banyak membantah pada Bapak ketika saya ada di hadapan orang lain meskipun saya tidak senang pada bapak yang telah melarang saya untuk kemah. Toh, apa hubungannya kemah yang hanya tiga hari dan tak satupun dari teman-teman saya yang satu kelas juga tak ada yang bersekolah di Madrasah Diniyah itu?  Kenapa harus menyalahkan pramuka yang jadwalnya ada di Hari Jum’at? Toh, ada dan tidak adanya pramuka di sekolah saya juga tak membuat anak-anak lain mau sekolah di Madrasah Diniyah itu? Murid-murid di Madrasah Diniyah itu juga rata-rata muridnya bukan berasal dari murid saya sekolah? Lalu kenapa menyalahkan pramuka di sekolah saya? Itu terus yang saya lawan dari Bapak ketika saya tidak diperbolehkan Bapak untuk mengikuti kemah meskipun saya sudah diajak menemui salah satu guru di Madrasah Diniyah, saya sudah diajak berjalan-jalan, berebelanja makanan dan jajanan yang tak henti-hentinya diberikan kepada saya dan bahkan Bapak juga sudah menjanjikan liburan saya sebagai gantinya karena saya tidak bisa ikut berkemah bersama teman-teman saya yang lain. Hanya terus marah dan marah kepada Bapak yang saya berikan. Bapak tak sedikitpun menghukum saya ketika saya berontak pada Bapak saat saya dilarang ikut kemah.

Sejak saat itu saya kembali membenci Bapak dan saya kembali kurang akur lagi dengan Bapak. Saya hanya benci dan benci pada Bapak. Saya hanya menjalani hari-hari saya selayaknya hari-hari biasanya saja sampai hari dimana bapak telah benar-benar pergi meninggalkan saya selama-lamanya. Hari dimana tidak ada tanda-tanda pada Bapak akan pergi meninggalkan saya selama-lamanya. Hari dimana Bapak telah menghukum saya karena telah banyak membuat Bapak kalangkabut memberikan yang terbaik untuk saya tapi saya tidak bisa menghargainya. Bapak benar-benar tidak menghukum saya ketika saya sudah lama tidak memberontak, tetapi ketika saya mulai memberontak paling keras, bapak menghukum saya dengan cara yang paling jahat. Bapak meninggalkan saya tepat saat saya dua minggu harus menghadapi ujian. Saya terbiasa belajar bersama Bapak. Meskipun saya sudah melawan Bapak dan membanting pintu berulang kali ketika saya dilarang ikut kemah, bapak masih saja terus mangajari saya belajar. Tapi ketika dua minggu Bapak sakit saya semakin malas untuk belajar. Apalagi ketika Bapak meninggal tepat dua minggu sebelum saya ujian. Saya kembali dihantam ingatan ketika saya melawan bapak dan bapak tak sedikitpun memarahi saya dan memberikan hukuman kepada saya. Bapak telah menghukum saya dengan meninggalkan saya selama-lamanya. Saya hanya terus mengingat ketika saya terakhir marah-marah pada bapak tapi Bapak tak marah sedikitpun pada saya. Saya hanya terus mengingat itu dan kenapa saya tak bisa sedikitpun bisa nurut pada Bapak dan mendengarkan Bapak tanpa membantahnya sama sekali? Bahkan saat Bapak telah pergi selama-lamanya, saya juga gagal dapat juara dan dapat peringkat satu. Bapak menghukum saya terlalu kejam dengan meninggalkan saya selama-lamanya karena saya tidak pernah mendengarkan kata-kata Bapak. Maafkan saya yang sudah kasar dan kejam pada Bapak sebelum Bapak pergi meninggalkan saya. Kenapa saya tidak bisa berhenti untuk tidak melawan Bapak meskipun Bapak sudah menjelaskan alasan Bapak melarang saya ikut berkemah saat itu? Kenapa saya terus melawan Bapak dan tak sedikitpun mendengarkan nasehat dari Bapak untuk belajar yang rajin dan belajar agama juga? Kenapa saya terus mengisi hari-hari saya dengan berselisih faham dengan Bapak sampai Bapak benar-benar pergi selama-lamanya? Kenapa bapak tidak menghukum saya dengan memukul saya lagi saat itu? Kenapa bapak membiarkan saya terus membanting pintu? Dan kenapa malah Bapak mendiamkan saya yang menangis tersedu-sedu ketika saya tidak bisa mengikuti kemah? Kenapa bapak tidak memukul saya ketika saya melawan Bapak dan membuang boneka yang telah Bapak belikan untuk saya? Kenapa bapak malah menjanjikan saya berlibur ketika Bapak akan pergi meninggalkan saya? Kenapa Bapak tidak menghukum saya yang sudah kurangajar berulangkali membanting pintu dengan cara mengikat tangan saya lagi? Kenapa Bapak malah pergi selama-lamanya untuk menghukum saya yang terus nakal dan tak kunjung henti membuat Bapak maupun yang lainnya kalangkabut mengurus saya? Maafkan saya Bapak yang sudah tidak nurut dan patuh pada perintah Bapak. Bagaimana saya menebus dosa-dosa saya pada Bapak atas kesalahan-kesalahan saya pada Bapak? Maafakan saya Bapak sebelum bapak meninggal sudah membuat Bapak kecewa yang tak ada henti-hentinya. Maafkan saya yang tidak bisa berbakti pada Bapak dan hanya membuat Bapak kesusahan membesarkan saya. Maafkan saya yang terus saja membawa kekalalahan dan tak bisa membuat Bapak Bangga pada saya. Maafkan saya Bapak sebelum Bapak pergi selama-lamanya, saya telah membuat Bapak kecewa pada saya. Maafkan saya yang malas belajar dan tak kunjung menurut pada Bapak meskipun saya sudah menyesalinya berulangkali. Maafkan saya yang telah bermalas-malasan untuk sekolah dan maafkan saya yang berulangkali tak kunjung bisa pintar dan cerdas dalam belajar Bapak. Maafkan saya yang tak kunjung mau belajar agama dan malah membenci ajaran-ajaran yang diajarkan kepada saya Bapak. Bapak sudah menghukum saya dengan cara pergi selama-selamanya. Sampai kapan hukuman ini saya terima dan saya bisa ikhlas menerima hukuman Bapak dan saya merelakan hukuman dari Bapak bisa saya terima dengan lapang dada.

***

Semakin saya besar, semakin bapak tidak banyak melarang-larang saya dan marah-marah lagi pada saya, tetapi hari dimana saya kembali melawan Bapak karena saya ingin berkemah itulah yang semakin saya tak bisa melupakan Bapak. Tenaga bapak sepertinya memang sudah habis. Bapak sering mengkonsumsi obat dari dokter. Bapak hanya makan pisang yang belum menguning untuk direbus. Selain itu bapak hanya makan kentang saja. Bapak hanya makan nasi jagung yang lauknya sangat dibatasi. Semua makanan dan minuman untuk Bapak disendirikan. Bapak ada gangguan lambung, darah tingginya juga tidak stabil dan Bapak juga rentan terkena diabetes. Bapak menjaga ketat makannya untuk menjaga kesehatannya bisa stabil. Meskipun demikian, bapak masih beraktivitas dan bekerja seperti biasa-biasanya. Bapak juga masih berkebun dan masih gemar mengotak-atik becak untuk diservis. Wajah Bapak yang tak terlihat ada tanda-tanda kematian itulah yang membuat saya semakin tidak bisa melupakan Bapak.  Saya hanya berfikir sakit yang diderita bapak hanya sakit-sakit yang biasa dan lumrah pada orang-orang. Bapak tidak pernah sakit parah dan tidak pernah opname. Tapi saat itu, bapak hampir dua minggu tidak masuk kerja. Satu minggu masih rawat jalan dan masih ada di rumah. Tapi setelah bapak muntah-muntah yang tak kunjung reda, akhirnya bapak dibawa ke rumah sakit. Bapak ada di rumah sakit sekitar 5 harian. Saya tidak berfikir Bapak akan pergi secepat itu. Bapak memang sudah sakit sejak lama tapi tidak pernah keluar masuk rumah sakit berulangkali. Sekali bapak masuk rumah sakit, sekali itu juga Bapak telah pergi meninggalkan kami semua yang ada di rumah. Bapak hanya sakit dua minggu lalu pergi selama-lamanya. Bapak meninggal karena serangan Jantung pada akhirnya. Sakit yang tak kami duga-duga telah menjemput bapak pulang menghadap Sang Pencipta begitu cepat. 

Saya diajak salah satu saudara saya untuk ke rumah sakit di hari ke dua bapak opname. Ibu dan paman yang menunggu Bapak di rumah sakit mengatakan bahwa tiga hari lagi bapak kemungkinan sudah boleh pulang. Saya melihat bapak yang ada di rumah sakit juga masih bercanda dengan saudara-saudara saya lain yang sedang berkunjung. Saya merasa biasa-biasa saja ke rumah sakit, karena bapak hanya sakit kekurangan cairan saja kata orang-orang. Saya juga percaya-percaya saja kalau bapak  tidak sakit parah, karena bapak juga masih ketawa-ketawa ketika kami satu rombongan datang menemui Bapak. Saya juga pulang dari rumah sakit dengan biasa-bisaa saja karena tidak ada yang perlu dihawatirkan. Kakak saya, saya dan adek-adek saya tidak dibolehkan ikut menginap di rumah sakit. Kami harus sekolah dan kami hanya nurut pada Bapak dan Ibu. Kami dititipkan pada nenek yang ada di rumah untuk menjaga kami. 

Saya dan adek saya hanya bermain saja selama Bapak ada di rumah sakit. Kami menunggu Bapak dan Ibu kembali ke rumah lagi terasa sangat lama. Selama ibu menunggu bapak di rumah sakit, tak sedikitpun ibu meninggalkan Bapak sehingga kami tak bisa bertemu dengan ibu juga di rumah. Paman yang sering riwa-riwi untuk mengurusi kebutuhan Bapak maupun kebutuhan ibu untuk sekedar mengambilkan pakaian ganti atau kebutuhan-kebutuhan lainnya. Kami di rumah biasa dicukupi segala-galanya oleh ibu. Ketika ibu sibuk menjaga Bapak kami di rumah terlunta-lunta. Kami biasa dimanja dan segala macam kebutuhan selalu disiapkan ibu. Ketika Bapak sakit dan ibu tak ada di rumah, nasib kami terlunta-lunta meskipun ada nenek kami di rumah yang menemani. Kami tak terlalu akur dengan nenek. Kami merasa banyak tidak cocoknya, tapi kami harus nurut dengan nenek selama bapak dan ibu tidak di rumah. Akhirnya kami hanya menjalani hari-hari kami di rumah dengan sedikit menahan rasa tidak nyaman dijaga oleh nenek. Kami tak terbiasa tinggal bersama nenek dan hanya mengunjungi nenek di rumahnya kalau Bapak mengajak kami berkunjung ke rumah nenek. Keberadaan nenek yang mendadak harus menemani kami membuat kami tidak merasa betah ada di rumah, karena kami merasa nenek yang menjaga kami itu bukan seperti nenek kami. Nenek seperti orang lain bagi kami dan kami tak terbiasa dengan nenek ada di sisi kami. Tapi, karena kondisi di rumah tidak ada yang menjaga kami ketika Bapak dan Ibu sedang di rumah sakit maka nenek kami yang tidak kami senangi itulah yang menjaga kami. Kami akhirnya dengan terpaksa menurut pada Bapak dan Ibu untuk dijaga dan dirawat nenek kami di rumah.

Siang itu saya pulang sekolah dan melihat nenek saya yang menangis, saya hanya bingung saja. Saya tanya ke orang-orang, mereka tidak banyak menjawab dan saya semakin tambah bingung melihat nenek saya yang menangis semakin menjadi. Ketika nenek saya menangis semakin kencang, saya diungsikan di rumah kakek saya oleh bibi saya. Di rumah kakek itulah saya dibisikkan bahwa saya harus belajar bersabar karena bapak saya sudah meninggal. Seketika itu juga saya langsung lemas tak bertenaga dan hanya memeluk bibi saya dan tak henti-hentinya menangis. Saya tidak tahu lagi, adek saya ada dimana. Adek saya tidak mau pulang ke rumah ketika di rumah banyak orang. Adek saya pergi main layangan bersama teman-temannya. Adek saya benar-benar tidak mau pulang sampai kerumunan orang-orang di rumah mulai sepi. Saya tidak tahu apakah adek saya menangis saat itu atau menyembunyikan tangisannya dibalik layang-layang yang dimainkannya saya benar-benar melupakan adek saya ketika bapak pulang dari rumah sakit dan harus dimakamkan. Bapak saat itu benar-benar pulang setelah tiga hari sesuai dengan apa yang saya dengar dari ibu dan paman saya, akan tetapi Bapak pulang ke rumah dengan kondisi yang tak bernyawa lagi. Saya meminta pada bibi saya untuk melihat wajah bapak sebelum dimakamkan. Saya masih mengingat wajah bapak yang gemuk yang terbujur kaku di ruang tamu. Wajah dimana saya pernah membanting pintu dihadapan bapak karena saya marah pada bapak yang tidak menuruti keinginan saya. Wajah dimana ketika saya marah pada bapak dan mengabaikan pandangan Bapak ketika menatap saya. Wajah dimana Bapak yang ingin memberikan kehidupan terbaik untuk saya yang terus saja tidak bisa saya terima. Wajah dimana Bapak hanya terdiam dan tak marah sekalipun ketika saya berani melawan Bapak. Wajah Bapak benar-benar telah diam dan tak bergerak sama sekali. Wajah Bapak yang lelah menasehati saya berulangkali tidak saya dengarkan telah benar-benar istirahat untuk selama-lamanya. Wajah Bapak yang benar-benar sudah tidak sanggup lagi menghadapi saya yang tak kunjung berhenti nakal juga akhirnya telah membeku kaku. Wajah Bapak yang telah pasrah membiarkan saya untuk lepas bebas tanpa membuat bapak semakin pusing memikirkan saya semakin membuat bapak yakin untuk menghadap-Nya. Wajah Bapak yang penuh derita saat saya bersikap kasar pada Bapak telah membuat Bapak benar-benar rela pergi meninggalkan saya yang tak kunjung bisa hormat pada Bapak. Maafkan saya Bapak. Maafkan saya yang sudah kasar pada Bapak dan tidak bisa berbakti pada Bapak. Hanya kata maaf yang tak cukup-cukupnya saya ucapkan pada Bapak ketika saya tak kunjung bisa berhenti nakal dan kasar pada Bapak. Meskipun Bapak telah pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya saya juga tak jera berbuat kasar pada yang lain. Mungkin inilah jalan yang terbaik untuk bapak dengan cara meninggalkan saya selama-lamanya dan menghukum saya dengan cara paling adil atas kenakalan-kenakalan yang saya perbuat pada bapak.  

***

Tidak seharusanya saya melawan Bapak dan tidak menuruti nasehat dari Bapak. Tidak seharusnya saya mempertanyakan kebaikan dari Bapak. Tidak seharusnya saya bersikap kasar pada Bapak. Tidak seharusnya saya membantak bapak. Tidak seharusnya saya terus-terusan membanting pintu dan jendela dan membuang boneka dari Bapak. Tidak seharusnya dan tidak seharusnya saja yang terus bisa saya ucapkan sampai sekarang ini tanpa saya memperbaiki sikap-sikap saya yang kasar pada Bapak.

Bapak maafakan saya yang tidak mempercayai nasehat dari Bapak untuk terus sekolah di Madrasah Diniyah. Bahkan ketika kepergian bapak  yang selama-lamanya, bapak masih memberikan janji-janji hadiah dari bapak yang terus saya pertanyakan masih bisa bapak jawab dengan cara-cara yang tak saya duga. Meskipun Bapak telah menghukum saya dengan meninggalkan saya selama-lamanya dan saya tak kunjung dapat prestasi apa-apa, bapak masih saja memberikan hadiah-hadiah itu pada saya. Bapak telah memberikan segala-galanya. Dari guru sekolah Diniyah itulah saya mendapatkan hadiah yang bapak janjikan meskipun saya tidak berprestasi. Maafkan saya Bapak. Maafkan saya yang sudah sangat kasar dan berulang kali hanya membuat Bapak sedih memikirkan kenakalan saya yang tak kunjung selesai. Maafkan saya Bapak. Maafkan saya yang terus tidak percaya pada bapak dan melawan Bapak. Maafkan saya yang terus menentang nasehat dari Bapak dan tak mau merelakan keinginan saya kandas begitu saja. Maafkan saya bapak. Maafkan saya yang tak kunjung bisa menjadi anak yang berbakti pada bapak. Mudah-mudahan Bapak benar-benar tenang disana tidak perlu memikirkan saya yang terus-terusan nakal ini Bapak. Bapak saya telah rela menjalani hukuman dari Bapak dengan cara meninggalkan saya selama-lamanya dan saya tidak ingin lagi mempertanyakan hukuman dari Bapak lagi. Hukuman inilah yang terbaik untuk saya sehingga bapak bisa tenang menghadap sisi-Nya. Semoga bapak bahagia menghadap-Nya dan saya bisa ikhlas menerima hukuman dari Bapak. Selamat jalan Bapak. Semoga saya bisa bertemu lagi dengan Bapak setelah saya terbebas dari hukuman yang telah bapak berikan kepada saya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berguru pada Pemabuk

Nenek Teladan Saya

PEMABUK HINA YANG DIHINAKAN